Minggu, 29 Januari 2012

JANJI ANNISA : #3 Sebuah Mimpi Aneh

3
SEBUAH MIMPI ANEH
           
 
Keringat bercucuran di kening Anissa. Napasnya hampir habis. Ia berlari dengan kaki terpincang-pincang. Tak peduli darah terus merembes dari luka di telapak kakinya. Anissa terus berlari. Hanya ada satu dalam pikirannya, jangan sampai binatang itu menerkam dan memakannya.
            Gua itu... ia harus segera sampai ke gua itu.
            Setelah sepakat untuk menunda ekspedisi ke gua bersama teman-temannya tadi sore, Anissa awalnya mengikuti langkah keempat temannya menuruni bukit. Tetapi ketika hendak menyeberangi sungai ia sendiri membelokkan arah langkahnya ke jalan setapak lain yang penuh semak belukar. Ia sendirian menyusuri jalan itu dengan satu keinginan untuk bisa mencapai gua itu. Anissa penasaran sekali dengan cerita seputar gua itu. Cerita yang menyeramkan, juga cerita lain yang menyenangkan.
            Siang pun berganti senja. Anissa masih belum juga mendekati gua itu. Ternyata jalan yang dilalui tidak semudah yang ia bayangkan. Selain licin dan banyak semak berduri, Anissa juga harus melompati aliran sungai kecil dan bibir jurang yang curam. Sesekali ia tergelincir dan hampir terjatuh ke dalam jurang. Tidak bisa dibayangkan bagaimana jadinya kalau sampai ia jatuh ke sana.
            Anissa hanya ingin membuktikan bahwa dalam keadaan terluka pun ia bisa berhasil menuju gua itu. Ini akan menjadi kebanggaan tersendiri buat Anissa ketika teman-temannya pulang karena takut kemalaman, ia sendirian yang bisa mencapai gua itu.
            Tapi di tengah jalan, ketika Anissa menyeret kaki kirinya yang terluka, sepasang mata hijau menyala menatapnya dari kejauhan. Tidak terlalu jauh sebenarnya, apalagi dengan sekali lompat siempunya mata api itu bisa kapan saja berdiri di depan Anissa. Anissa mendengar dengkuran halus seperti suara kambing qurban yang pasrah menghadapi kematiannya.
Bulu kuduk Anissa tiba-tiba berdiri. Membayangkan darah mengucur di belahan leher binatang qurban membuat Anissa merinding sekaligus mual. Tetapi apa yang dihadapinya kali ini tidak nampak di depan matanya. Hanya sebuah suara, dan gerakan-gerakan dedaunan tersibak sesuatu. Mungkin angin, tapi mungkin juga yang lain.
Semakin Anissa mempercepat langkahnya suara itu semakin terdengar jelas. Dengkuran itu malah semakin membuat Anissa yakin sesuatu yang hidup tengah mengikutinya. Seekor binatang mungkin sedang mengincarnya. Harimau kah? Atau seekor beruang yang besar. Mungkinkah ada kingkong di bukit ini?
Dugaan Anissa ternyata benar, seekor harimau dengan ekor yang tebal dengan awas menatapnya. Mungkin ia mencium bau amis darah Anissa. Menyadari hal itu Anissa mulai berlari. Ranting-ranting pohon yang menghalangi jalannya ia sikut. Anissa berhasil memungut sebatang ranting yang kuat sehingga dengan ranting itu ia bisa membabat rumput liar dan cabang pohon kecil yang menghalangi pandangannya.
Tapi langkah binatang itu lebih cepat dari perhitungannya. Anissa nyaris diterkam kalau saja ia tidak tergelincir dan jatuh ke dalam jurang.
Anissa berteriak sekeras-kerasnya, sehingga ibu yang menungguinya sedari tadi terlonjak kaget.
“Istighfar, Nis…. Istighfar…” ibu berbisik ke kuping Anissa.
“Coba ganti kompresnya, Bu,” saran ayah.
Ridwan datang membawa air dingin dalam baskom kecil dengan handuk bersih di dalamnya. Ridwan juga menemani ibu menunggu Anissa adiknya, kalau-kalau ia dibutuhkan untuk mengambilkan sesuatu yang diperlukan.
Ibu mengganti handuk kompresan di kening Anissa dengan handuk dingin yang baru. Ia kelihatan cemas sekali.
“Apa kata dokter, Bu?” bisik ayah.
“Mungkin karena luka di kakinya yang banyak mengeluarkan darah. Untung tadi dokter menyuntikkan obat anti tetanus, kalau tidak ibu tidak tahu lukanya akan separah apa.” Jawab ibu sambil menyeka air yang menetes di matanya.
Ridwan menggenggam tangan ibu. “Biar Ridwan yang jagain Nissa ya, Bu. Ibu istirahat saja.”
“Kenapa Anissa masih membandel ya, Bu,” keluh ayah. Sedikit kecewa dengan tingkah Anissa sekaligus bingung mesti bagaimana menasehati anak perempuannya yang satu itu. Ayah tidak mau terlalu keras pada Anissa, tetapi dampaknya malah seperti ini.
“Ibu juga tidak tahu. Kata teman-temannya mereka tidak pernah memaksa Anissa untuk ikut. Tapi Anissa sendiri yang bersikeras. Malah mereka bilang kita sudah mengizinkan Anissa.”
“Ayah tidak tahu kalau Anissa mau pergi ke bukit itu.” desah ayah tidak habis pikir kenapa bisa-bisanya Anissa berbohong seperti itu, padahal tidak ada yang memberi contoh perbuatan tidak baik itu di keluarganya.
“Sudahlah, Yah. Yang penting Anissa tidak kenapa-napa,” hibur ibu.
“Kakinya luka dan bisa terkena tetanus, dan sekarang ia panas dan mengigau, ibu bilang ia tidak kenapa-napa?” ayah berusaha menahan emosinya. Emosi sedih sekaligus khawatir.
Ibu mulai menangis. Ia tidak bisa membayangkan kejadian yang lebih buruk yang mungkin menimpa anaknya. Anissa masih kecil, tapi kelakuannya sudah membuat ibu ketakutan setengah mati. Ya Allah, sembuhkanlah anak hamba, doa ibu.
            Ayah pun meninggalkan ibu untuk menunaikan sholat sunnat supaya Anissa lekas sembuh.
*
            Hari Senin Anissa terpaksa tidak berangkat sekolah. Kakinya masih sakit, dan kepalanya terasa pusing. Ia berusaha mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Apakah ia benar terpisah dari teman-temanya dan melanjutkan ekspedisi seorang diri? Apakah benar ia dikejar harimau ketika hendak menuju gua itu? Apakah benar ia terjatuh ke dalam jurang dan selamat dari kejaran binatang buas itu?
            Apakah semua itu hanya mimpi? Sebuah mimpi aneh yang terjadi karena Anissa terlalu lelah bermain, atau dikarenakan luka di kakinya yang menyebabkan badannya panas? Apakah mimpi itu memiliki makna tertentu? Apakah ini balasan untuk Anak yang pergi tanpa sepengetahuan orang tuanya, dan bahkan berbohong atas nama mereka? Anissa terlalu pusing untuk memikirkan semua itu.
Yang jelas, teman-teman Anissa pun ikut merasa bersalah. Andrian, Doni, Edo dan Mayang berkali-kali berkunjung ke rumah Anissa untuk melihat kondisi temannya itu. Tetapi ibu meminta mereka untuk kembali lagi nanti kalau Anissa sudah membaik.
“Memangnya kalian pergi ke mana sih?” Tanya Ridwan pada Doni dan teman-temannya.
Doni tidak menjawab. Yang lain pun tidak berani angkat bicara. Mereka merasa malu atas kejadian ini.
“Kalian tahu, Anissa itu masih kecil, sangat berbahaya pergi ke tempat asing tanpa didampingi orang dewasa. Dan kalian juga masih anak-anak kan?” lanjut Ridwan. Gaya bicara Ridwan sudah bukan seperti anak kelas enam SD lagi.
“Dan Kamu Andrian, Kamu kan anak paling besar diantara kawan-kawanmu itu. Semestinya memberi contoh yang baik dan menjaga mereka, bukan malah mengajak mereka bermain yang tidak-tidak. Lebih baik belajar, bukankah sebentar lagi kita ujian nasional?” Ridwan berusaha menahan emosi supaya tidak tampak marah di depan teman-teman Anissa.
“Tapi semua ini juga salahku. Aku tidak bisa menjaga adikku dengan baik. Aku tidak bisa menjadi teman bermain yang menyenangkan. Sedangkan dengan kalian sepertinya Anissa merasa senang dan bebas.” Setitik air mata menetes di pipi Ridwan. Untuk apa ia merasa malu menangis di depan Andrian dan teman-teman Anissa. Ridwan hanya ingin mereka tahu kalau Ridwan juga menyayangi Anissa.
Diam-diam Andrian merasa malu dengan kedewasaan Ridwan. Ia pun sama sudah kelas enam, tapi ia masih merasa seperti anak-anak yang tidak berpikir terlalu jauh dalam melakukan sesuatu.
Sejenak suasana tampak sepi. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Kami pergi ke bukit di desa sebelah,” akhirnya Mayang memecah keheningan itu.
Ridwan menarik napas, benar juga, pikirnya. Ia memang sudah menduga waktu melihat luka di kaki Anissa. Ia jadi teringat waktu mengikuti pelantikan anggota PMR di sekolahnya. Pelantikan itu diadakan di bukit batu itu. Salah seorang anggota PMR yang dilantik terluka waktu menyeberangi sungai besar. Kakinya tergores ranting patah runcing yang hanyut di sungai. Lukanya menganga dan cukup parah. Ia bahkan tidak bisa masuk sekolah lebih dari tiga hari.
Bukit itu bisa dibilang masih asli. Hutannya lebat dengan tumbuhan-tumbuhan tua yang langka. Mungkin di sana banyak juga binatang buas seperti dalam mimpi Anissa. Ridwan jadi khawatir kalau membayangkan Anissa dan teman-temannya pergi ke sana. Untung saja Anissa tidak hanyut ke sungai dan terbawa arus yang cukup deras itu.
“Anissa terpeleset, dan kakinya berdarah,” balas Edo.
Ridwan menganggukkan kepala. Itu sudah jelas. Luka di kaki Anissa menampakkan ada benda tajam yang mengiris kulitnya. Tapi Ridwan tidak habis pikir kenapa Anissa tiba-tiba mengigau dan menjerit-jerit setelah pulang ke rumah.
            “Eh, kalian sudah datang, masuk yuk,” tiba-tiba ibu muncul dari dalam rumah dan menyuruh teman-teman Anissa masuk. Tadi siang ibu menyuruh teman-teman Anissa untuk pulang dulu dan datang kembali sore ini.
            Setelah ibu memberi nasehat supaya anak-anak tidak bermain terlalu jauh, apalagi ke tempat-tempat yang berbahaya, teman-teman Anissa diperbolehkan masuk ke kamar Anissa.
            Kamar Anissa berukuran tiga kali empat meter. Tempat tidur Anissa terbuat dari besi yang dicat mengkilat. Kasur empuknya dilapisi kain seprai motif bunga matahari yang senada dengan warna dinding kamarnya. Di atas meja belajar Anissa terdapat komputer dengan monitor warna pink dan abu-abu, persis sama dengan warna keyboard dan mousenya. Buku-buku pelajaran berderet rapi. Ibu yang merapikannya karena sepulang sekolah Anissa biasanya langsung pergi lagi bermain.
            Di samping tempat tidur Anissa terdapat meja kecil yang merupakan rak buku. Koleksi buku Anissa kebanyakan komik Naruto, conan dan komik olahraga. Komik terbaru yang Anissa beli minggu lalu adalah Naruto edisi 43.
            Edo, Doni, Andrian dan Mayang takjub melihat isi kamar Anissa. Rapi. Tapi pasti yang merapikan ini semua bukan Anissa, begitu kompakan isi kepala teman-teman Anissa menduga. Untung Anissa mempunyai ibu yang baik dan pengertian. Sabar dan sangat menyayangi anak-anaknya. Padahal Anissa termasuk anak yang susah diatur.
            “Kamu kenapa, Nis? Perasan kemarin cuma luka di kaki doang,” celetuk Edo sambil menyomot kue brownies yang disuguhkan ibu.
            “Iya nih.. dengar-dengar dari Kak Ridwan, Kamu teriak-teriak kayak orang kesurupan ya…” timpal Mayang.
            “Aku cuma mimpi.. mimpi seram banget. Tapi anehnya koq mimpi itu seperti nyata banget. Aku sampai terengah-engah dibuatnya.” Jawab Anissa sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding kamar. Ia mengganjal punggungnya dengan bantal yang empuk.
            “Seram gimana, Nis?” Doni antusias mendengarkan cerita Anissa.
            “Aku dikejar harimau waktu aku mau ke goa itu. Kalian tahu, pas mau nyeberang sungai waktu mau pulang itu aku balik lagi dan penasaran ingin pergi ke gua itu. Lalu aku ke sana. Di tengah jalan aku dibuntuti sesuatu?”
            “Suku kanibal?” potong Doni sambil membayangkan film-film horror yang sering ia tonton.
            “Harimau besar dengan taring tajam dan liur membasahi mulutnya yang lapar. Siap menerkam kapanpun kita lengah. Aku lari terbirit-birit begitu tahu harimau itu sudah ada di belakangku.” lanjut Anissa.
            “Dasar mimpi, waktu itu kan Kamu pingsan, Nis,” ucap Andrian yang tidak begitu suka mendengar cerita tentang mimpi-mimpi seram.
            “Kita semua juga tahu, Bang…. Tapi selama Anissa pingsan itu apa yang terjadi kan cuma Anissa yang merasakan. Makanya sekarang kita dengerin kelanjutan ceritanya. Seru nih,” protes Mayang.
            Anissa pun melanjutkan ceritanya. Ia lalu minta pendapat teman-temannya apakah rencana mereka untuk pergi ke gua itu lain kali dibatalkan saja?
            “Iya sih, mimpi Kamu itu pertanda buruk. Kalau sampai kita jadi ke sana, bisa tamat kita, the end…” tukas Edo.
            “Ah dasar penakut Kamu, Do. Itu kan cuma mimpi. Mimpi itu kata orang tua kembangnya tidur. Justru sekarang ini saatnya buat kita menepis perasaan takut kita, gara-gara mimpi itu.” Doni tidak setuju.
            “Ini memang tantangan besar buat kita. Tapi…. gimana kalau di sana beneran ada harimaunya?” Mayang jadi ragu.
            “Itu kan cuma bukit biasa. Mana ada binatang buas di sana. Kita harus ke sana,” Anissa meyakinkan teman-temannya.
            Perasaan ragu, takut, bersemangat, ingin membuktikan sesuatu, berkecamuk dalam masing-masing benak anak-anak itu. Apalagi Anissa jiwa petualangannya terpancing, dan ia ingin segera sembuh supaya nanti bisa pergi lagi ke bukit itu.
*

Lihat Cerita sebelumnya :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar