Minggu, 30 Desember 2012

BADUT CINTAKU



Orang bilang Cinta itu buta. Tak peduli seberapa jelek orang yang kita cintai, di mata kita selalu tampak sempurna. Hidung pesek bukan jelek, tetapi unik. Mata belo kayak ikan koki  begitu indah dipandang. Bibir manyun seperti pantat ayam kelihatan sexy dan menggairahkan. Semua kekurangan si dia,  tampak berbeda di mata orang yang sedang jatuh cinta. Kalau sudah begitu, buat apa kita repot-repot belajar hypnotis dari Romy Rafael . Toh si dia pasti bertekuk lutut di depan mata tanpa harus diminta.          
                Tapi bagaimana mungkin orang lain bisa jatuh cinta kalau kita tidak berusaha menebar aroma cinta itu pada mereka. Makanya, cewek ramah biasanya menjadi perhatian cowok-cowok. Cowok tidak perlu lagi diajarin apa itu inner beauty karena itu adalah jawaban standard cowok saat ditanya type cewek apa yang mereka sukai. Tentu saja setelah predikat ‘cantik’ lengkap dengan cirri-ciri  fisiknya mereka sebutkan di awal. Puihh.. ujung-ujungnya tetep aja ke fisik. Wajah, body, model rambut, pakaian, cara jalan, cara ngomong, Cuma ciri-ciri yang dimiliki cewek-cewek sekaliber model yang pasti menarik perhatian cowok.
                “Hai cantik….,” seorang cowok melintas di depan mataku dengan seringai : ‘cewek kita dangdutan yuk’-nya. Oekkk!!!
                Kebanyakan cowok memang mengejar cewek cantik sekaligus punya yang namanya inner bauty tadi. Nah Kalau cewek punya inner beauty, cowok punya apa ya? Inner handsome gitu? Maksa banget kayaknya. Tapi whatever istilahya, aku gak peduli.  Sama seperti cowok-cowok yang mengejar cewek cantik luar dalam, aku juga boleh dong mencari cowok dengan type yang tidak jauh berbeda dengan standard cowok-cowok dalam memilih cewek : ganteng, macho, tapi punya inner handsome.
                Wah, istilah inner handsome ini terkesan mengada-ada. Tapi okelah : jujur, bertanggung jawab, baik dan perhatian. Tidak pernah ingkar janji, penyayang sama keluarga, cepat mengambil keputusan, wah banyak juga ya daftarnya. Apa ada cowok kayak gitu?
                Sambil terus berfikir begitu, aku menyisir rambutku yang sejak dua tahun terakhir ini aku biarkan panjang terurai. Beruntung rambutku lurus selurus-lurusnya tanpa harus repot-repot dicatok setiap hari. Teman-teman di kampusku sampai dengan hari ini masih saja belum percaya kalau aku hanya shampoan biasa seperti yang ada di iklan-iklan itu. Creambath dua minggu sekali sih iya, itu wajib aku lakukan supaya rambutku tidak  lepek. Tapi itu tidak harus dilakukan di salon koq. Jadi kalau dibilang cewek tuh boros, tidak juga. Dari tempatku duduk di bawah pohon tua ini, sesekali aku melihat dari sela-sela pagar kawat di kejauhan cowok-cowok lagi main basket. Ada Ardy yang aku kenal sejak SMA, Biyan anak terbaik Fekon dan Mario, rival mereka dalam three on three dari Fakultas Ilmu Sosial.
                Ketiga cowok itu belakangan ini menjadi sebagian dari cowok-cowok yang masuk dalam daftar pencarian pasangan pendamping wisudaku nanti. Aku memang pernah punya cowok, tapi hubungi kami baru saja putus. Tidak perlu aku ceritakan kenapa kami bubaran. Yang jelas aku sudah bosan dengan sikapnya yang arogan dan sepertinya terlalu melecehkan cewek. Aku kembali memperhatikan mereka. Keringat bercucuran di kening Biyan. Ardy masih bisa melakukan shoot di tengah nafasnya yang sudah ngos-ngosan. Sementara Mario masih kelihatan bugar. Tidak tahu apa yang ia biasa ia makan sampai se-cool itu. Seperti ia tahu aku membicarakannya dalam hati, ia melirik ke arahku dan melambaikan tangannya sebelum kemudian berhasil merebut bola dari tangan pemain lain yang sedang melakukan dribble. Senyum puas menghias wajahnya yang putih.
                “Hai cewek, “ sebuah suara cempreng mengagetkan aku. Inge, sahabat dekatku, langsung  duduk di samping aku sambil mengeluarkan jajanan khas anak kost kehabisan bekel. Bakwan goreng sama pisang molen.
                “Masih makan yang begituan, Nge?” delikku, “ Nggak sehat tuh.” Aku memang pernah mengingatkan Inge untuk mengurangi makan gorengan yang djual di jalan depan menuju kampus. Bukan apa-apa, aku pernah melihat si abang tukang gorengan mencampurkan sesuatu ke minyak dalam wajan penggorengannya. Sudah minyaknya seperti tidak diganti berhari-hari, ditambah serbuk apa nggak jelas diaduk dengan minyak itu.
                “Gue lagi bokek nih. Elo lagi kayak yang nggak pernah makan aja,” kilah Inge.
                “Gue juga suka kali, Nge. Tapi buatan nyokap di rumah yang minyaknya tuh non kolesterol. Lagian tidak banyak-banyak dan dijadiin hoby kayak Lo gitu.” Semburku. Emang gitu sih gaya bicaraku sama Inge. Cewek tomboy ini sudah aku kenal sejak SMP kali. Kami berdua pernah satu kelas dan lumayan akrab. Lepas SMP kami sekolah di SMU berbeda. Nah di kampus ini kami dipertemukan kembali, dan menjadi jauh lebih akrab dibanding dulu.
                “Iya Miss Perfect. Perasaan Lo tuh calon sarjana ekonomi deh, bukan calon dokter atau ahli gizi gitu,” tetep aja ia mendebat omonganku. “Eh Lo tahu gak, May, kenapa si Gilang putus sama Neysa?”
                Aku menggeleng kepala. Tidak tahu, sekaligus heran, bisa dengan cepat Inge mengganti topik pembicaraan kami. Atau jangan-jangan ia memang sengaja menghampiriku untuk menceritakan ini semua.
                “Tuh cowok memergoki si Neysa selingkuh!” mata Inge sampai melotot untuk menegaskan atau mungkin memaksa aku untuk kaget.
                “Oh, ya?” balasku cuek. Sumpah. Ini adalah bahan obrolan yang paling tidak aku  sukai, yang selalu Inge bawa di saat aku sama sekali tidak mau denger gossip apapun. Cukup infotainment di televisi yang bikin otakku kurang gizi saja, tidak perlu aku denger dalam kehidupan nyata di sekitarku. Tapi makhluk ini paling bisa memaksa aku untuk tidak lepas dari berita yang ia bawa. Sekonyol apapun itu.
                Inge menbibir kecewa saat melihat sikapku yang cuek. Tapi sedetik kemudian ia kembali mengganti chanel beritanya dengan berita lain yang tidak kalah ngebeteinnya. “Pasti yang ini Lo belum tahu deh, Ayu lagi ngedeketin Mario!. Iya! Ayu yang kemaren dapet beasiswa ke Canada itu.” Serunya berapi-api.
                “Maksud Loh?” aku tidak begitu jelas kenapa berita tentang Ayu, harus masuk dalam daftar info yang harus aku dengar, seolah tuh cewek adalah seseorang yang menjadi sainganku dalam sebuah kompetisi.
                “Gini deh, gue ganti subjeknya ya, biar Lo connect, MARIO, gebetan Lo, sekarang ini,lagi dideketin sama cewek lain. Ya si Ayu itu!” Inge menghabiskan potongan terakhir pisang molennya. Ia melemparkan bungkus makanan itu sembarangan, lalu memungutnya begitu melihat mataku mau copot.
                “Wah,gue ada saingan dong,” aku sengaja membuat nada suaraku seperti sedang ketakutan. Padahal masa bodoh juga kali ya, mau dideketin si Ayu  kek, dikejar-kejar cewek sekampus juga aku sama sekali tidak perduli. Aku hanya kagum doang sama Mario. Selain macho, cowok itu kelihatan tidak pernah macam-macam di kampus. Jago basket, IPKnya juga di atas rata-rata. Khusus untuk yang satu ini aku emang meminta bantuan jasa teman dekatnya Mario untuk ngasi bocoran nilai-nilainya. Niat banget ya, hehe. Tapi kenapa begitu dengar ada cewek lain yang berusaha mengejar Mario, koq perasaanku biasa-biasa aja ya.
                “Emang Lo, nggak beneran suka sama tuh cowok. Koq reaksi Lo biasa-biasa aja?” Inge pintar juga membaca pikiran orang lain. Mungkin karena udah terlalu dekat dengan aku kali ya.
                “Iya sih, gue lagi bingung nih Nge. Gue emang suka sama beberapa cowok di kampus kita ini. Maksud gue, suka, ya, bukan cinta. Lo bisa bedain kan? Dan gue emang lagi nyari pasangan bukan cuma buat jadi pendamping wisudaan nanti. Tapi, Lo tau kan gue udah ngejomblo sejak kapan. Jadi gue lagi cari cowok yang gue harepin bisa jadi pendamping gue buat jangka panjang.” Jawabku membuat Inge melongo.
                “Gila, baru kali gue denger omongan Lo panjang. Bergizi, non kolesterol, kayak gini,” ledek Inge. Ia kali ini berhasil melempar gulungan kertas bekas gorengan ke bak sampah yang jaraknya sekitar 2 meter dari bangku kayu tempat kami duduk. Aku memberinya tisu, dan ia mengelap mulutnya cepat-cepat. Dasar cewek tomboy!
                “Gue serius Nge. Lo tahu kan di Ardy. Gue kenal dia sejak SMU. Emang sih belum pernah sekelas. Tapi kami sering lirik-lirikan secara tidak sengaja. Dan itu bikin jantung gue deg-degan. Kalau aja gue tidak pernah jadian sama Erlangga, mungkin gue bisa deketin dia dan mastiin apa arti pandangan dan senyuman dia itu.”
                “Busyet, cewek jaman sekarang, nggak ada malu-malunya ya nyatain perasaan suka sama cowok. Dengan berbagai cara lagi, ada yang terang-terangan kayak si Ayu, ada juga yang malu-malu kucing tapi melakukan agresi juga kayak Lo. Tau deh Bu Kartini bakalan senang atau sedih ya kalo perempuan jaman sekarang tuh mengartikan emansipasi secara berlebihan.”
                “Pake bawa-bawa RA Kartini segala. Emang Lo nggak pernah suka sama cowok?” semprotku. Pipi Inge mendadak merah. “Gue tahu koq, siapa cowok yang lagi Lo deketin. Gue kan juga sering denger gosip-gosip tentang Lo,” pancingku.
                “Jangan bilang Lo pernah denger juga kalau gue sedang deketin Pak Sam?” bisik Inge.
                “Oow, jadi beneran Lo lagi pedekate sama Pembantu Dekan Satu kita?” tembakku membuat Inge nyaris tidak  berkutik. Padahal sumpah, tadi tuh aku asal ngomong aja.  “Terus, apa kata Ibu Kita Kartini?” ledekku.
                Inge mencubit pinggangku, lalu kami tertawa terpingkal-pingkal bersama. Siang itu aku mencoba mengusir satu persatu perasaan sukaku sama cowok-cowok setelah mendengar pengakuan Inge tentang pedekatenya dengan Pak Sam. Dia bilang, Pak Sam itu type cowok yang sangat bertanggung jawab.Baik dan pengertian. Penyayang, dan sangat menghormati wanita. Salut aku sama Inge. Cewek tomboy sahabatku itu ternyata sedang jatuh cinta beneran, sama cowok yang usianya beda jauh banget. Tapi, itulah, love is blind.
                Malamnya aku merenung. Mengingat pendapat Inge sahabatku tentang Ardy, yang tiada lain adalah sahabatnya Erlangga, mantan cowokku. Apa yang Erlangga bakal pikirkan kalau aku memilih Ardy menjadi pendamping wisudaku nanti. Mungkin Erlangga akan mengira kalau hubunganku dengannya kemarin-kemarin hanya menjadi jembatan supaya aku bisa ketemu dengan Ardy, yang saat itu sedang menjalin hubungan dengan Shinta, temannya Erlangga juga. Dan aku tidak sepenuhnya mencintai Erlangga, tetapi Ardy lah cowok yang singgah di hatiku.  Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya cowok itu melihat aku jadian sama Ardy, terlepas hubunganku putus dengannya juga gara-gara dia sendiri yang over protektif.
                Aku tahu, nobody’s perfect, tetapi sakit rasanya mendengar dan melihat sendiri secara langsung dari mulut Erlangga yang sedang membangga-banggakan dirinya karena menjadi cowok seorang calon Putri Indonesia. Tapi kemudian membeberkan kalo ternyata si calon putri terkenal itu juga punya sisi kelemahannya sebagai cewek, yang kemudian menjadi bahan tawaan cowok-cowok yang senang menanggap ocehan Erlangga sore itu.  Aku juga tahu kalau Erlangga bercanda menjadikan aku sebagai bahan taruhan buat siapa aja yang bisa menjadi pengganti dirinya nanti kalau putus dengan aku. Tapi tetap aja sakit banget rasanya diperlakukan seperti itu.              Menjadi bulan-bulanan cowok-cowok di kampus tidak masalah bagiku, tetapi perlakuan Erlangga seperti itu lebih menyebalkan.
                Akhirnya aku putus beneran dengan Erlangga. Dengan ataupun tanpa persetujuan dia. Aku terus menghindar. Dan Erlangga seperti juga saat pertama berusaha mendapatkan cintaku, terus mengejar dan berkali-kali meminta maaf atas perlakuannya padaku. Sejujurnya aku sudah memaafkannya. Tetapi aku tidak mau terjebak dalam kesalahan yang sama. Bukan aku tidak mau memberikannya kesempatan kedua, tetapi buat apa, toh type cowok seperti Erlangga akan terus bersikap seperti itu. Malah bisa menjadi-jadi dia karena ternyata bisa menaklukkan hati sang putri dengan mudah.
                Dan beginilah aku sekarang. Orang bilang akulah si High Quality Jomblo sejati. Dengan performance dan catatan prestasiku yang lumayan banyak, cowok semakin enggan mendekatiku. ‘Hanya cowok-cowok ambisius aja yang senang mengejar cewek-cewek super kayak Lo’ begitu kata Inge. Entah sedang memberikan spirit atau malah menjatuhkan semangatku buat dapat cowok lagi.
                “Lo, mesti pasang target, dan kriteria yang sepadan dengan Lo,” Inge pernah memberiku ceramah. Perasaan tidak ada deh teori relationship yang mengajarkan hal seperti itu.
                Tapi, aku turuti saja saran Inge. Aku pasang target cowok mana aja yang dalam sebulan ini bisa aku deketin, tentu saja dengan cara yang tidak sepulgar Ayu, tentuin kriteria cowok yang kata Inge ‘sepadan’ dengan aku, meskipun aku sendiri punya definisi berbeda dengan kata yang sama yang Inge maksud. Beberapa cowok masuk dalam daftar yang sedang aku seleksi. Dan tinggal tiga cowok yang aku lihat di lapangan basket itulah seleksi terakhirku.
                Tetapi kendala baru kemudian muncul. Mahkluk genit yang bernama Ayu yang dengan pedenya mencoba menarik simpati Mario, lalu Ardy yang belakangan ini baru aku ngeh, kurang sensitive terhadap perasaan cewek, dan Byan digosipin gay gara-gara selalu nolak jalan sama cewek. Duh padahal Cuma ketiga cowok itu harapan terakhirku. Untung ada Inge dengan team suksenya yang bisa memburu berita paling akurat, tajam dan terpercaya. Kalah deh infotainment atau liputan 6 yang ada di tv swasta itu. Kalau sudah buntu begini aku gak tahu harus bagaimana lagi.

*

                Siang ini, aku benar-benar malas makan. Minum jus alpukat tanpa gula atau makan es krim buah-buahan menjadi kebiasaanku kalau lagi tidak mood seperti ini. Dan aku memang sedang menikmati es krim rasa strawberry coklat, saat  Inge tiba-tiba datang dengan katalog supermarket yang sudah ditandai di sana sini dengan centangan spidol warna hitam.
                “Anterin gue ke supermarket yuk, Cin,” rajuk Inge. “Nyokap gue nyuruh belanja bulanan nih.”
                “Lah, emang si bibi ke mana, Non?” aku malah balik nanya, pertanda untuk urusan yang satu ini pun aku bad mood.
                “Dia nganterin nyokap ke arisannya Tante Widya. Ayo dong, entar gue traktir es kirim deh. Oh ya lagi ada promo tuh, difoto bareng badut, Lo kan, suka meluk-meluk tuh badut es krim,” lanjut Inge membuat mataku tiba-tiba cling-cling begitu mendengar es krim dan nama badut disebut-sebut.
                Aku emang suka banget dengan badut, terutama badut es krim yang gendut, lucu dan kalo dipeluk tuh hangat banget. Terakhir aku ketemu tuh badut perasaan sebulan yang lalu deh, di supermarket dekat dengan kampusku. Waktu itu lagi ada promo produk baru, dan aku beli beberapa potong es krim supaya bisa difoto bareng dengan tuh badut dan dapet hadiah vcd pula. Waktu kecil, setiap perayaan ulang tahunku, papa selalu mengundang badut untuk meramaikan suasana pesta ultahku. Makanya kesan senang tuh selalu aku dapat kalau ketemu dengan badut. Malah beranjak gede sedikit aku pengen punya pacar seorang badut. Gila, ya..
                Setelah mengantar Inge membeli semua kebutuhan dapurnya, ia menepati janji dengan membelikan aku es krim. Hemh.. yummy… Ini kali kedua aku ketemu badut yang sama dengan yang pernah aku temuin di tempat lain. Dan aku pun bergaya sama hebohnya waktu difoto bareng maskot es krim kesukaanku itu. Si badut tanpa mengenal lelah melayani pembeli yang ingin difoto dengannya. Hebat tuh badut, dari dulu selalu kelihatan riang gembira. Tapi apa orang di dalam boneka besar itu bisa merasakan kegembiraan yang aku atau para penyuka es krim itu rasakan?
                “Eh, Nge, tuh badut kasian juga ya, setiap hari nggak ada cape-capenya say hello, nyalamin pembeli, difoto, ditarik-tarik anak kecil? Kalo gue sih udah bĂȘte setengah mati, kali. Udah gitu pasti panas kan pake kostum kayak gitu,” ujarku sambil menikmati sisa es krimku. Seolah mendengar apa yang aku bicarakan dengan Inge, tuh badut dari kejauhan dadah-dadah gitu ke arahku. Aku membalasnya dengan senyuman dan dadah-dadahan juga. Hihi norak ya..
                “Lo tanya aja sama Galih,” jawab Inge cuek. “Anak Majalah Kampus itu, Lo kan pernah diwawancarai sama dia waktu edisi Hari Lingkungan Hidup itu,” lanjutnya tanpa ekspresi.
                “Kenapa gue mesti nanya sama dia, emang dia pernah wawancara sama tuh badut juga, gitu?” tanyaku bingung.
                “Emang Lo belum tahu?” selidik Inge bikin aku tambah bingung. “ Tuh isi boneka gede itu siapa? Ya si Galih itu lah di dalamnya,” lanjutnya.
                “Hah? Si Galih, wartawan kampus itu jadi badut? Serius Lo? Waduh gue udah gaya macem-macem lagi tadi,” aku jadi malu sendiri dengan gaya-gaya norakku bareng badut es krim di depan kamera si mas fotografer tadi.
                “Kirain gue udah tahu, Lo, May. Makanya Lo akrab-akraban gitu sama dia.”
                “Ah, rese, Lo, Nge, nggak ngasi tau gue dari kemaren-kemaren.  Gue kan jadi malu nih,” aku beneran jadi malu dan nggak enak hati, meluk-meluk si Galih, sebagai badut tadi. Padahal waktu wawancara untuk majalah kampus itu aku jaimnya setengah mati. Bukan apa-apa, rentetan pertanyaan Galih yang brilian sebanding dengan pertanyaan-pertanyaan juri waktu aku ikut beberapa beauty competition. Dan aku nyaris dibuat bego karena menjawab pertanyaan-pertanyaan sambil gelagapan. Dan tentu saja bukan cuma itu, pesona wartawan kampus itu hilangnya lumayan lama dari benakku.
                “Ya udah, kepalang tanggung, kita samperin aja yuk ke kos-kosannya ntar sore. Sekalian deh Lo bilang kalo Lo baru tahu Galih jadi maskot es krim, gimana?”
                Tidak ada pilihan lain, akhirnya aku menyetujui saran Inge. Maka sore itu juga aku sama Inge datang ke kos-kosannya Galih.
                Waktu aku sama Inge datang, Galih kebetulan lagi keluar beli makanan atau apa. Dan temennya yang kebetulan lagi nongkrong di halaman depan kamarnya, nyuruh aku sama Inge untuk nunggu di dalam aja. Kamar ko Galih terdiri dari dua ruangan. Jadi sebelum masuk ke kamar tidur ada sebuah ruangan yang bisa dipakai sebagai ruang tamu gitu. Aku dan Inge pun masuk ke ruang bagian depan itu.
Begitu masuk, aku melihat di dinding-dinding ruangan tamu itu berjejer foto-foto hasil jepretan Galih. Gila, keren-keren banget. Selain gambar-gambar unik, juga ada foto foto wajah, orang, lingkungan, pemandangan alam, yang semuanya itu kelihatan seperti sebuah karya seni professional dan bukan foto-foto jepretan biasa.  Di dinding lain aku juga melihat foto Galih dengan kostum badut yang bagian kepalanya dilepas sehingga aku yakin kalau isi badut itu adalah beneran Galih. Kepala Galih yang kecil menyembul di atas kostum badut yang besar itu sambil tersenyum. Senyum yang manis, bisikku dalam hati. Tampak tulus dan tidak ada mengada-ada.
                Lalu aku melihat foto-foto lain yang dipajang khusus di atas sebuah meja di bagian pojok ruangan. Foto-foto yang dibingkai dengan berbagai ukuran itu ditata rapi menghadap kursi mungil yang mengapit meja itu.  Foto-foto yang membuat jantungku berdetak tak menentu. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi wajah Inge kalau melihat foto-foto itu.
                “Lo, udah kenal lama ya sama, dia?” bisik Inge sambil menyikut pinggangku. Matanya tidak lepas dari bingkai foto-foto itu. Foto-foto yang tiada lain dan tiada bukan adalah foto-foto aku dengan berbagai gaya dari beberapa angle berbeda. Tetapi herannya aku sendiri tidak tahu di mana dan kapan gambar-gambar itu diambil. Kecuali foto aku dengan seorang badut di depan mobil es krim yang dipajang di tengah-tengah meja.
                Aku tidak menjawab. Kepalaku menggeleng lemah, antara senang, kesal dan marah. Bagaimana mungkin ada foto-foto aku yang dipajang di sembarang tempat secara pribadi. Aku yang bukan artis, selebriti  atau orang terkenal untuk apa orang memajang foto-fotoku di tempat tinggalnya.
                Aku mau mengajak Inge untuk keluar dari kos-kosan Galih, saat tiba-tiba Galih sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah melongo seperti leihat hantu di siang bolong.
                “Ow, ada tamu ya… sorry gue gak tau kalo ada yang datang,” ucapnya agak gelagapan.
                Aku tidak menjawab, dengan spontan aku menarik tangan Inge dan keluar dari kos-kosan Galih tanpa mengucapkan satu katapun. Aku bingung kenapa aku melakukan hal itu. Masuk ke kos-kosan galin tanpa izin, lalu negoloyor pergi juga tanpa ngomong apa-apa. Aku hanya tidak habis pikir kenapa foto-fotoku ada di tempat Galih. Apa Galih sengaja mencuri-curi untuk memfoto aku lalu memamerkannya di situ, atau siapa tahu dia juga menyebarkannya di tempat lain, tanpa sepengetahuan aku.
                “May. May, tunggu, “ Galih menyusul aku dan Inge. “Sorry, gue… gue…. “ Seperti nya dia sadar betul kenapa aku tiba-tiba keluar dan menghindari dia setelah melihat apa yang ada di ruangan koskosan barusan.
                “Kenapa? Kenapa ada banyak foto gue di kos-kosan Lo, dan gue gak tahu itu sama sekali?” aku langsung to the point. Galih tampak tak siap dengan pertanyaanku yang tiba-tiba. “ kapan Lo curi-curi foto gue? Perasaan gue Cuma difoto sekali waktu wawancara majalah kampus itu kan?”
                “Iya, gue minta maaf, May. Gue gak berani minta… gue takut.. gue malu…” jawab Galih tertunduk.
                “Iya tapi kenapa?” tanyaku lagi.
                “Ada Erlangga, dan cowok-cowok lain yang membuat gue gak berani deketin Lo, May,” jawabnya lirih.
                “Iya tapi kenapa?” ulangku.
                “Karena.. karena gue suka sama Lo, May, tapi gue gak tahu gimana caranya gue ngungkapin perasaan gue ini,” bisiknya.
                Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sama sekali speechless. Yang terbayang berkelebat di kepalaku ialah saat-saat pertama aku mengenal Galih waktu wawancara untuk edisi khusus majalah kampus beberapa bulan lalu. Galih emang kelihatan nervous, tapi aku pikir itu hal biasa. Lalu saat-saat aku berfoto dengan seorang badut lucu yang selalu riang gembira. Lalu kenapa aku selalu merasa nyaman kalau dipeluk badut es krim itu? Apa karena bahan kostumnya yang lembut, atau ada seeorang yang memiliki perasaan khusus di dalamnya? Kenapa begitu aku tahu badut itu adalah Galih aku malah langsung merasa tidak nyaman lalu kemudian bergegas menemuinya sekedar untuk memastikan kebenaran itu.
                Perlahan perasaan marah dan benci karena foto-fotoku terpampang berjajar di meja kos-kosan Galih berangsur sirna. Lambat laun perasaan hangat menjalar ke dalam tubuhku begitu mendengar pengakuan Galih tadi.           
                “Karena apa, Galih?” aku ingin dia mengulang perkataannya dengan jelas.
                “Karena, karena gue sayang sama Lo, May. Bukan karena Lo orang yang hebat dan terkenal, bukan karena Lo cantik dan baik hati saja, May. Tapi karena Lo emang beda. Beda dengan cewek manapun yang pernah gue kenal. Gue minta maaf kalau Lo gak suka cara gue yang kampungan ini. Gue rela jadi badut demi melihat Lo happy. Gue nggak apa-apa kepanasan dan sesak berada dalam boneka maskot es krim kesukaan Lo, asal bisa difoto bareng Lo dan melihat Lo ketawa. Maafin gue, ya, May,” Galih meninggalkan aku dan Inge yang masih belum percaya dengan apa yang aku dengar barusan.
                Aku terperangah dan membiarkan Galih pergi. Karena aku pun butuh waktu untuk bisa mencerna semua yang Galih ungkapkan dengan jujur barusan. Inge menarik tanganku dan meninggalkan tempat itu tanpa berkata apa-apa. Aku baru tahu kalau Inge pun terperangah menyaksikan reality show yang bener-bener reality tadi. Awalnya sempat terpikir ini adalah akal-akalan Inge doang.
                “Bisa direwind nggak ya adegan tadi? “ bisiknya nakal. “Coba tadi gue rekam ya, gue masukin youtube, bisa heboh tuh masyarakat sekampus,” lanjutnya jahil.
                Aku hanya tersenyum. Bahkan sampai di dalam kamarku pada malam harinya aku masih mencoba mengingat setiap kata yang Galih ucapkan tadi. Rasanya aku tidak ingin tidur, takut senyum ini hilang pas bangun nanti. Aku pun meraih handphone-ku mencoba mencari-cari apa masih ada nomor Galih di phonebook-ku. Begitu ketemu nomornya, aku langsung mengetik sms : ‘Hai, sorry ya tadi gue rada emosi, jadi nggak denger deh apa yang Lo omongin. Besok bisa ulangi nggak yang tadi Lo omongin sama gue?’ dan send…
                Aku berharap apa yang aku dengar tadi bisa aku dengar lagi besok pagi, sehingga aku bisa terus tersenyum sepanjang hari. Cape juga nyari cinta ke mana-mana. Padahal sebenarnya cinta itu tak kasat mata, kalau kita jeli dan peka merasakannya. Thanks Galih, Badut Cintaku.


*


Selasa, 25 Desember 2012

6 Antologi buat proyek "Here After Saving 2

 Judul : Jantung untuk Naya
Penulis : Nenny Makmun, Ana Widiawati J., Ruspensi Daesusi, dkk
Penerbit : deKa Publishing
ISBN 978-602-17198-7-9
Tebal : vi + 79 hlm.; 13 x 19 cm
Harga : Rp. 26.000,- (belum termasuk ongkir)
Harga Kontributor : Rp. 20.800,- (belum termasuk ongkir)


Kutipan cerita :
Sudah berakhir sekarang. Sisa hidup Naya dihabiskan untuk meratapi kesalahannya. Kenyataan lebih pahit siap menghujam Naya. Kecelakaan mobil yang dialami Naya membuat jantungnya bermasalah. Harapan hidup tidak mencapai puluhan persen. Jalan satu-satunya adalah mencari pendonor yang dengan ikhlas memberikan jantungnya untuk Naya. Ya! Ayah yang di sakitinya selama ini adalah sang pendonor itu. (Jantung untuk Naya – Ana Widiawati J.)

Astaghfirullah… Degup jantung Roni terpacu. Jempol kaki kanannya terasa ngilu. Ginjal! Ah, Ya Allah. Wajah lucu Sisil, berganti wajah manja Reina, bermain-main di pelupuk matanya. Lalu berkelebat wajah Dedi. Ya Allah, Engkau telah memberikan sepasang ginjal untuk kami. Gratis! Dan Engkau menempatkan pada posisi terbaik dalam tatanan begitu rupa di dalam tubuh. Namun, kenapa kami mencurinya demi 40 juta? Begitu hina dan bodohnya telah menyia-nyiakan karuniaMu. (Malam Ini Juga Harus Berhenti – Ruspensi Daesusi)

Kontributor :
Ana Widiawati | Anggun Sugiarti | Anung D'Lizta | Asep Fauzi Sastra | Bondan Al-Bakasiy | Dedul Faithful | Indana Lazulfa | Mariatul Kibtiah | Kamiluddin Azis | Ken Hanggara | Nai Azura | Najma Hannan | Nenny Makmun | NuraRisala Kerinduan | Nurul Kartikaningsih | Raudina Famella | Ruspeni Daesusi | Sarviany Tiacoly | Shintany | Titi Haryati Abbas | Yeyen Rulyan

***


 Judul : Sepanjang Rel Kereta
Penulis : Nenny Makmun, Paresma Elvigro, Greeny Vheey, dkk
Penerbit : deKa Publishing
ISBN 978-602-7915-00-8
Tebal : vi + 139 hlm hlm.; 13 x 19 cm
Harga : Rp. 34.000,- (belum termasuk ongkir)
Harga Kontributor : Rp. 27.200,- (belum termasuk ongkir)


Kutipan cerita :
Tidak pernah terpikir mempunyai belasan sahabat seperti saudara, bahkan lebih dekat daripada saudara sendiri. Seperti menemukan permata yang terkungkung dalam kerang di dasar samudera terdalam. Nyaris tidak ada celah yang membuat kami menutup diri, membenci dan bercerai. Rutin mengingatkan serta mengevaluasi kelebihan juga kekurangan, itulah kuncinya. (Sitti Hajar Nomor 8- Paresma Elvigro)

Awalnya keadaan Wina baik-baik saja setelah operasi, aku sangat senang sekali. Kami memutuskan untuk menjadi sahabat selamanya yang tak terpisahkan oleh jarak dan waktu namun seminggu kemudian takdir berkata lain, Tuhan memanggil Wina dalam damai. Kini aku merasakan kehilangan Wina yang selama ini selalu ada untukku, sahabatku yang berharga. Berlianku yang menghilang tapi kasihnya akan tetap terpatri di hatiku sepanjang hidupku. (Sahabatku Berlianku yang Hilang- Greeny Vheey)

Kontributor:
Andik Chefasa | Angger Minerva | Anung D'Lizta | Ariny NH | Aulia Saad | Aulia Zafla | Berta | Bondan Al-Bakasiy | Chinglai Li | Dedul Faithful | Finda Rahmadaniati | Fris Casanty | Ghiyatsableng | Gluck Fraulein | Greeny Vheey | Heru Patria | Ida Afraa | Indana Lazulfa | Jkusa |
Kamiluddin Azis | | Ken Hanggara | Maesaroh PaliyoSya | Nenny Makmun | Paramitha Kiky | Paresma Elvigro | Rahel Simbolon | Rasha Noor Azizah | Resha T. Novia | Sandza | Shintany | Surya Enzo | Vanya | Vina V. Katerwilson | Vinny Erika Putri | Wita Rosmalia | Yuna Pradita | Yuni Retnowati | Zulzilah Arth

 Judul : Keajaiban Bersyukur
Penulis : Nenny Makmun, Clara Rosalina, Atji TS Baruwati, dkk
Penerbit : deKa Publishing
ISBN 978-602-17198-4-8
Tebal : vii+182 hlm.; 13 x 19 cm
Harga : Rp. 38.000,- (belum termasuk ongkir)
Harga kontributor : Rp. 30.400,- (belum termasuk ongkir)

Kutipan cerita :
Orang tuaku bingung bagaimana caranya agar mereka masih bisa menghidupi keluarga ini dan menyekolahkan aku dan kedua adikku. Namun ternyata karena alasan ekonomilah yang kerap menjadi pokok permasalahan keluargaku ini. Aku pun bahkan sempat berniat ingin mengakhiri hidup hidupku dengan cara bunuh diri karena tidak kuat lagi melihat orang tuaku selalu bertengkar di depanku dan kedua adikku... (Hikmah di Balik Bersyukur ~ Clara Rosalina)

Masih teringat dalam pikiranku, tidak terasa waktu demi waktu terus berjalan, sudah delapan belas tahun yang lalu aku memang menderita sakit infeksi payudara. Menurut hasil pemeriksaan medis aku harus menjalani operasi, tetapi ibuku tidak mengijinkan aku untuk melakukan operasi, karena menurut pemikiran ibuku sehabis operasi pasti masih ada operasi lanjutan atau operasi berikutnya. Sehingga aku harus melakukan pengobatan herbal yaitu dengan cara minum air rebusan herbal, dan dibantu pengobatan pemijatan atau refleksi... (Aku Bersimpuh, Bersujud ke Hadirat-Mu ~ Atji TS Baruwati)


Kontributor :
Akbar Zidny |Ananda Ratna | Anggita Nurindah Kusuma | Anik Wikantari | Anung D’Lizta | Arinda Shafa | Arphy Noor | Askar Marlindo | Atjie TS Baruwati | Bondan Al-Bakasiy | Bo Lin’s Bio | Clara Rosalina | Dedul Faithful | Dias |Dunar Rizky | Dyah Kirei | Egi Trialogi | Es Ef Em| Farah Maulida | Gluck Fraulein | Grace Merry Putri Sabira | Hady Kristian | Heru Patria |
Kamiluddin Azis | | Marjan Anura | M. Syamsul Qulub | Mulyoto M | Nazlah Khairina | Naelil Sastra | Nenny Makmun | Neyna Minaff | Niam At-Majha | NoorSalim Hs | Novelia Indri Susanti | NuraRisala Kerinduan | Nuribu | Nur Rokhmanita | Phie | Rena Tan | Rifkaza | Rohmatin Nur Dhuha | Rosidah Albana | Sarviany Tiacoly | Sawaluddin Sembiring | Muhammad Rifqi Saifudin | Shintany | Suparno | Uchi Chotimi | Vanya | Yani Syand | Yuni Retnowati | Zsania Senja


 Judul : Berbagi Abi
Penulis : Nenny Makmun, Ilene Huwaida, Yuni Retnowati, dkk
Penerbit : deKa Publishing
ISBN 978-602-17198-5-5
Tebal : vi+96 hlm.; 13 x 19 cm
Harga : Rp. 28.000,- (belum termasuk ongkir)
Harga : Rp. 22.400,- (belum termasuk ongkir)


Kutipan cerita :
Aku memiliki seorang abi, beliau sangat menyayangiku dan bunda, namun pada suatu saat semua ini harus terjadi. Abi meminta izinku untuk menikah lagi dengan bundaku yang dulu. Aku hanya tak habis pikir bagaimana bisa abi ingin menikah dengan wanita seperti ini. (Berbagi Abi - Ilene Huwaida)

Meski begitu, aku merasa bahagia setiap teringat wajah cerah anak-anak yatim di Panti Asuhan itu. Bahkan seminggu setelah itu, ketika aku harus kembali dilarika ke rumah sakit karena penyumbatan pembuluh vena di kaki kiriku yang membuatku tak bisa bergerak, aku tetap bisa tersenyum dengan mengingat senyum mereka. (Senyum Mereka Adalah Kebahagiaanku - Yuni Retnowati)

Ada hal yang sederhana tapi membuat bahagia dan ada hal spektakuler hanya menjadi sia-sia atau hanya cerita belaka (Nenny Makmun)


Kontributor :
Ananda Ratna | Anung D’Lizta | Asni Ahmad Sueb | Bondan Al-Bakasiy | Choihawon | Dedul Faithful | Du Wee | Fuatuttaqwiyah El-Adiba | Gemintang Halimatussa’diah | Gluck Fraulein | Heru Patria | Ilene Huwaida | Jkusa |
Kamiluddin Azis | | Kezia Margaretha | Maulida Abdilah Alfaruqy | Narko Lean | Nenny Makmun | NuraRisala Kerinduan | Rena Tan | Repita Hadi | Sarviany Tiacoly |
Suparno | Tomy M. Saragih | Yuni Retnowati

***

 Judul : Kesetiaan Hati Sang Bintang
Penulis : Nenny Makmun, Gemintang Halimatussa'diah, Muhammad Zuhri, dkk
Penerbit : deKa Publishing
ISBN 978-602-17198-9-3
Tebal : vi+112 hlm.; 13 x 19 cm
Harga : Rp. 30.000,- (belum termasuk ongkir)
Harga Kontributor : Rp. 24.000,- (belum termasuk ongkir)


Kutipan cerita :
Tidak cukup sampai di situ, perasaan Haura lebih terasa kian teraduk-teraduk ketika ia mengetahui kedatangan Bintang adalah untuk melamar dirinya. Kaget, tak percaya, bahagia, bersyukur, semua campur aduk dirasakan hatinya. Sosok pria yang diperebutkan banyak gadis itu, kini malah memintanya untuk menjadi istrinya! Ia bahkan tak berani memikirkan hal seindah itu! (Kesetiaan Hati Sang Bintang - Gemintang Halimatussa’diah)

Gadis itulah yang memetamorfosis kehidupan Izul, Enam huruf yang mengajaknya pada enam keimanan terhadap sang pencipta. “Yakinlah, apapun yang terjadi kepada kita nanti merupakan keputusan terbaik dari Allah. Dengan cara seperti inilah saya menjaga kemurniannya, tidak ada yang perlu kita takuti, keputusan Allah tidak akan menyakiti” kalimat itulah yang menyihir kematian hati menjadi hidup... (Senja di Penghujung Rajab - Muhammad Zuhri Anshari Putra)


Kontributor :
Achmad A. Arifin | Ami ChipoChipo | Anik Wikantari | Anung D'Lizta | Dedul Faithful | Dhee Tha | Ferawati | Gemintang Halimatussa’diah | Gluck Fraulein | Hilda Febrina |
Kamiluddin Azis | | Ken Hanggara | Luluk Kristianingsih | Muhammad Zuhri Anshari | Musni Wulandari | Mutiq Jujazki | Naelil | Nenny Makmun | Novelia Indri Susanti | NuraRisala Kerinduan | Rahel Simbolon | Rere Z | Resha T. Novia | Ria Hidayah | Rosidah Al Bana | Sarviany Tiacoly | Shintany | Vina V Katerwilson | Vinny Erika Putri | Rescue Iffah | Wingless Angel | Yeyen Rulyan | Zahrotun Nafisah | Zhazha Aprilia

***


Judul : Surat Kecil untuk Ibu
Penulis : Nenny Makmun, Jkusa, Cantika Diptra, dkk
Penerbit : deKa Publishing
ISBN 978-602-17198-6-2
Tebal : vi + 156 hlm. ; 13 x 19 cm
Harga : Rp. 36.000,- (belum termasuk ongkir)
Harga Kontributor : Rp. 28.800,- (belum termasuk ongkir)

Kutipan cerita :
Habis sudah airmata ibu Ersa. Penyesalan selalu datang terlambat. Seandainya saja ia tidak menitipkan Ersa, pasti Ersa sedang berbahagia saat ini. Ah, andai saja, aku kehilangan anak tanpa pernah menyapanya (Surat Kecil Untuk Ibu – Jkusa)

Lagu Dance with My Father dari Celine Dion terus terdengar dari ponselnya. Aku tahu bagaimana perasaannya sekarang ini. Aku tahu, aku juga sama sepertinya, rindu dengan halaman rumah. Rindu dengan ayah dan ibu. (Malaikat Surga – Joshua Ivan Winaldy)

Langkah kakiku pun semakin menjauh, sebuah batu nisan yang tetap terdiam di sana. Di bawah batang bunga kamboja yang telah tinggi dua meter. Bunganya jatuh tepat di atas gundukan tanah, lalu mulai layu. Rasanya tak ingin kumenjauh dari sosok ayah, tapi dunia kami telah berbeda. Ayah akan lebih tenang di alamnya.(Bunga Tulip Untuk Ayah – Cantika Diptra)


Kontributor :
Achmad A. Arifin | Aira Arsitha | Amalis Sofi’ah | Ami ChipoChipo | Aninda Wardani | Anung D'Lizta | Arphy Noor | Asni Ahmad Sueb | Atjie TS Baruwati | Aulia Saad | Ayu Pardede | Cantika Diptra | Dedul Faithful | Dhea Raditya | Finda Rahmadaniati | Gemintang Halimatussa’diah | Ghiyatsableng | Gluck Fraulein | Hasan Ar-Rezky | Heru Patria | Izzatul Millah | Jkusa | Joshua Ivan Winaldy |
Kamiluddin Azis | | Ken Hanggara | Leni Sundari | Liana Damia | Naelil | Nenny Makmun | Nur Fillah | Patz | Rama Hasan | Ria Hidayah | Rohmatin Nur Dhuha | Saffa Al Lina | Sarviany Tiacoly | Shintany | Tisa Monita | Vanya Saraswati | Vina V. Katerwilson | Vinny Erika Putri | Zaheen

***

[CARA PEMESANAN]
Kirim SMS ke 083879804181 atau inbox DeKa Publisher atau invite pin BB 31577AE8 :)
Kami akan mengirimkan total yang harus dibayar serta pemberitahuan nomor rekening.

Sabtu, 22 Desember 2012

KEBISUAN CINTA IBU



KEBISUAN CINTA IBU


Bebas! Ingin sekali  aku berteriak sekuat tenggorokanku mampu. Tetapi sipir berkumis tebal itu masih saja menunjukkan taringnya.  Meski kakiku sudah melewati batas  ‘waktu dan tempat’ yang selama lebih dari dua puluh tahun ini mengurungku, mata tajam itu tetap saja menghunus, menorehkan dendam yang tidak akan pernah mengikis di hatiku.
            Dua puluh tahun enam bulan aku dibuai rasa takut, marah, sepi, rindu dan putus asa. Kenapa hukum ini begitu bodoh, hingga karena aku bisu, mereka bisa dengan mudah menjebloskanku ke dalam penjara atas tuduhan yang tidak pernah aku lakukan. Atau aku yang memang bodoh, hingga karena kebodohanku itu, aku tidak pandai bersilat lidah untuk mengalahkan kecurangan yang sudah direkayasa. Uang mungkin lebih identik dengan kepintaran, kecerdikan dan kepiawaian merangkai argumen. Hukum hanyalah sebuah episode dalam skenario yang mudah diubah dengan rupiah.
            Hari ini aku mencoba meniti kembali pematang hatiku yang hampir roboh tersapu waktu, terinjak beban yang melebihi kapasitasnya. Dan hanya ada satu yang bisa membangun semua itu menjadi utuh kembali, atau setidaknya membentuk pondasi yang lebih kokoh. Ialah sebuah cinta dan kepercayaan dari seorang ibu.
            Ya, hanya ibu yang percaya kalau aku tidak sebejat itu. Merenggut nyawa manusia layaknya hewan untuk dimangsa, memperkosa dan membuangnya begitu saja seolah menuntaskan hajat itu  hanyalah sebuah kebutuhan belaka. Sungguh, aku tidak ada daya untuk melakukan itu. Menatap mata berair saja aku tidak sanggup, bagaimana bisa aku menyaksikan darah menggenang di hadapanku. Dan hanya ibu yang percaya semua itu.
             “Berdoalah, Anakku. Hanya kepada Tuhan kita sanggup berserah. Bukan kepada manusia. Bukan kepada hukum, ataupun pada mereka yang percaya kalau Kau pelakunya, “ Ibu menguatkan hatiku yang rontok seketika itu.     
             “Kebenaran hanya milik Tuhan yang Maha Melihat. Ini bukan saja cobaan dan ujian untuk kita, tetapi juga teguran atas semua salah dan dosa yang mungkin tidak kita sadari.” Setitik air mata bergulir menelusuri gurat lelah wajah Ibu. Mungkin lebih banyak tangis sudah ibu tumpahkan di tengah malam dalam pengaduannya kepada Tuhan.  Tapi bagiku  setetes air mata saja adalah derita yang Ibu tanggung karena semua kebodohanku.  Lalu seulas senyum dan bening mata ibu yang penuh cinta  itu membuatku percaya kalau Ibu percaya.
            Dengan petuah Ibu aku semakin kuat. Walaupun ayah tidak sanggup menanggung malu, dan lebih memilih berdiri di antara lilitan tali yang ia percaya sanggup mengusir semua ketidakadilan ini, aku tetap berusaha kuat. Karena Ibu pun selalu kuat.
            Kebenaran akan ditunjukkan pada waktunya kelak.
            Aku menatap kembali bangsal itu dari kejauhan. Bangunan yang terhalang dinding tinggi dengan kawat berduri di atasnya. Dunia tak terjamah dari pandanganku di dalam sana. Hanya ada sekelompok manusia dengan beribu aturan yang memisahkannya dari kehidupan normal, - atau justru begitulah definisi kehidupan normal adanya di dalam sana. Bangsal tempat aku merenung saat malam menusuk perih, saat kesendirian menarikku mundur pada masa ketika adrenalin remajaku menggila. Masa, ketika aku selalu mengabaikan Ibu.
            Tapi hari ini aku bebas. Dan aku ingin pulang untuk memeluk Ibu dan bersimpuh mencium kedua telapak kakinya. Ingin kurebahkan segala kepasrahan agar ia mau memaafkanku.
*
            Langkahku terhenti saat seorang perempuan renta mengibaskan tangan ke arahku, mencoba menahanku supaya tetap berdiri di pijakan terakhir. Itu bukan Ibu, karena Ibu pasti sedang menungguku dengan kerinduan yang membuncah, lalu memelukku dengan cium dan air mata bahagia. Tapi itu memang ibu. Hanya saja, kenapa gurat wajahnya seolah tidak sedang mengharap aku kembali. Mengapa tatapnya mengiba agar aku pergi jauh saja, sejauh yang aku bisa.
            Pasti ada penjelasan yang masuk nalarku karenanya. Atau mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk aku kembali. Puluhan orang ternyata sudah menunggu kedatanganku. Berita di televisi mungkin penyebab mereka ingin menyambutku. Tidak, mana mungkin mantan narapidana seperti aku disambut bak pejuang menang perang. Aku yakin, mereka hanya ingin menonton sekuel drama dengan berjudul ‘seorang pembunuh pulang kampung’. Atau mereka hanya ingin mencemooh, merajam, bahkan mungkin melampiaskan kebencian yang selama ini terpendam dengan cara-cara yang aku tidak bisa menduganya.
             Sebuah lemparan batu mendarat di kepalaku. Bentuk ketidak-terdugaanku, di hari pertama aku menghirup udara bebas. Langkahku mendadak terhuyung karenanya. Darah segar mengalir tanpa bisa aku bendung. Aku tersandung langkahku sendiri.
            Ibu menjerit seraya berhambur memelukku. Tetapi ia pun tidak kuasa berbuat apa. Matanya menumpahkan kesedihan yang dalam. Rasa takut, cinta, dan iba. Aku tidak tahu hukuman jenis apa ini. Kalau hanya sebongkah batu bisa membuatku jatuh, apa gunanya dua puluh tahun merenung dan mengumpulkan kekuatan dalam penjara. Aku berdiri memapah Ibu yang juga ikut terluka. Berlindung dari amukan orang-orang yang entah dari mana datangnya.
            Kutatap satu persatu mata orang-orang yang ada di sekelilingku dengan kebencian yang tidak terukur dalamnya. Hingga mataku beradu dengan mata gelap itu. Mata gelap milik seorang lelaki yang selama ini mengantarkanku keluar masuk jeruji dengan raut tanpa ekspresi. Lelaki yang tidak pernah bicara  selain hanya memanggil namaku dengan sentak sengaunya. Mata itu yang selalu menohokku dalam diam dan menjadi mimpi burukku setiap waktu.
            Bahkan di tengah kekacauan ini mestinya lelaki yang hari ini tidak memakai seragam kebanggannya bertindak. Kecuali kalau ia sendirilah justru yang menciptakan ketidakberesan ini. Ya... seperti kebenaran yang terungkap dengan sendirinya, melalui mulut yang tidak pernah mengucapkan satu patah kata pun di depanku. Sedangkan aku tidak tuli untuk mendengar apa yang pernah ia bicarakan dengan beberapa petugas penjaga penjara.
            “Kita bisa membereskannya.” Sebuah keputusan bulat sudah disepakati oleh pemilik mata elang itu dengan sipir penjara berkumis lebat serta dua orang petugas lain yang kemudian menyalaminya. Mereka tersenyum seolah sebuah kemenangan telah diraihnya.
            Aku tidak bisu. Tapi aku selalu membisu karena untuk apa aku bersuara jika tidak ada yang pernah mau mendengar. Aku tidak bisu, hanya saja menunggu waktu untuk bicara. Dan demi Ibu aku tidak ingin selamanya tersingkirkan.
            Aku berdiri dan melepas pelukan Ibu meskipun ia tak menginginkannya. Kuseret sisa langkahku hingga mataku beradu pandang dengan matanya. Aku tidak bisu, hingga mulut ini tidak berhenti berteriak memaparkan kebenaran.
             “Petugas sialan, untuk apa Kau beri makan anak istrimu dari uang hasil sogokan? Kenapa kau tutupi kebenaran yang sudah lama sekali kau tahu, sementara orang lain menderita begitu lama?”
            Amarahku melayang di mukanya. Tinjuku mendarat di setiap lekuk tubuhnya yang gempal. Lelaki itu tersungkur dengan muka nanar. Aku tidak tahu kenapa ia tidak membalas serangan bertubi-tubiku.
             “Lihat Ibu, lihat semua…. “ aku mengedarkan pandanganku pada orang-orang yang beringsut mundur. “Lelaki ini menutupi kebenaran yang ia tahu sejak lama. Ia melindungi anak seorang pejabat penting yang telah membunuh perempuan itu, lalu dengan kejinya membiarkan aku menanggung semua perbuatan bangsat itu. Aku dijadikannya kambing hitam yang dungu.Tinjuku kembali mendarat ke perutnya. Lalu aku tarik kerah kemeja lelaki itu dan aku hadapkan pada Ibu, “Lihat… Ibuku menderita karena anaknya dipenjara dan hampir dihukum mati. Kau sudah merenggut pelukan Ibu dariku,” teriakku sambil melemparkan lelaki itu ke tanah. Dadaku sesak oleh air mata yang tiada henti mengalir.
            Ibu merangkulku dan berbisik di sela tangisnya, “Ibu sudah tahu, Nak… sudahlah, yang penting sekarang kamu pulang. Peluk Ibu, Nak… Ibu hanya ingin mendekapmu. Sudahlah, relakan saja…” tangis Ibu meledak di antara senyum bahagia yang mengembang di wajahnya.
            Dadaku bergemuruh karena amarah yang memuncak. Ibu ternyata sama bisunya dengan aku. Ibu bahkan merelakan semua kebejatan dan  ketidakdilan ini demi hidupku. Aku yakin sebuah tekanan membuat Ibu memilih diam dan menerima semuanya.
            Sebuah kekuatan setan yang mendorongku untuk menarik tubuh lelaki itu dan melawan ketidakadilan ini. Aku menghujani tubuh itu dengan pukulan yang tiada henti. Lelaki itu tersungkur, lalu bangkit untuk menerima kembali hantaman emosiku, kemudian terjatuh dan aku tarik kembali dengan sebelah tanganku. Ia sama sekali tidak menunjukkan perlawanan, padahal selama ini ialah yang paling berkuasa dalam hidupku.
               Tiba-tiba dada ini terasa panas. Napasku berubah sesak dan pandanganku mendadak jadi pudar. Sayup-sayup kudengar Ibu berteriak dan menghambur ke arahku. Tubuhnya yang ringkih bahkan memaksaku tetap terjaga. Lalu saat aku berusaha bangkit, sebuah letusan kembali terdengar, tetapi kali ini aku tidak merasakan panas yang sama seperti beberapa detik yang lalu.
            Ibu terjatuh ke dalam pelukanku. Sepucuk senapan memuntahkan timah panas dan menghujam jantungnya. Darah merembes dari balik kebaya lusuhnya bersatu dengan darahku yang tak sanggup kutahan. Ibu melindungiku dari tembakan kedua dan membiarkan dirinya menerima kekalahan yang selama ini ia pendam. Ibu lalu membisu, dan aku melemas kaku.
*
            Kutatap mata gelap yang kini membiru. Ada rasa takut di sana. Galau, perih tidak terperi. Tapi itu belum seberapa dibanding semua  pengorbanan Ibu. Dan aku tahu bagaimana lelaki dengan sorot mata licik itu bisa menebusnya. Aku tahu, dan ia akan segera membayarnya.

*

Ibu Dalam Kehidupanku



Judul : Ibu Dalam Kehidupanku
Pengarang : M Dede Firman dkk
Ukuran : 14 cm x 20 cm
Tebal : v + 185 hlm
Harga : 45.000

CARA PEMESANAN :
Ketik: KI# NAMA LENGKAP # ALAMAT LENGKAP # JUMLAH # NO TELP
Kirim ke : 082333535560
Nanti Anda akan mendapatkan SMS No.Rek dan jumlah yang harus dibayarkan.

Sinopsis :

Ibu, kasihmu tiada batas.
Betapa lancangnya diriku,
yang berprasangka buruk padamu.
Betapa tak tahu terima kasihnya aku,
yang mencap dirimu tak menyayangiku.
Hanya karena satu permintaanku tak kau turuti,
karena keegoisanku yang semakin menjadi.
Ibu, maafkan segala kesalahanku.
Aku anak yang tak tahu membalas budimu.
Padahal kasihmu tak pernah hilang untukku.
Kasihmu seperti kuku yang akan selalu tumbuh,
Walau terpotong berkali-kali karena salahku.
Ibu, biarkan aku membasuh kakimu.
Biarkan aku menjagamu sampai masa tuamu.
Walau itu tak sebanding dengan pengorbananku untukku.
Walau itu tak akan bisa menghapuus rasa bersalahku padamu
Ibu, aku akan berbakti padamu.
Sampai akhir hayatku.

Anisa Ae

Kontributor :
Elisa Koraag, Cantika Diptra, Mulyoto JJ, Nenny Makmun, Risa Mutia, Fuatuttaqwiyah El- Adiba, Bondan Al-Bakasiy, Titi Haryati Abbas, Yumeina Ryuri, Hudha Abdul Rohman, Aditya D. Sugiarso, Umi Sasya, Asep Fauzi Sastra, Nura Risala Kerinduan, Marlina Latif, Pelangi Putih, Asni Ahmad Sueb, Marjan Anura, Afifah Haryanti, Cumil CH, Cantika Zee, Mei Rizqiana, Yusrotun Kharimah, Achmad Arifin, Afif Arundina Raniyatushafa’, Zahara Putri, Noey Ismii, Kamiluddin Azis, Sandza, Eisya Shiraz, HW Prakoso


Cerpenku berjudul : Sebutir Beras Segenggam Cinta Ummi

Jumat, 30 November 2012

KARIB



K A R I B

Aku urung melangkah. Kakiku mendadak berat saat berdiri di depan pagar besi yang menjulang. Rumah itu terlalu besar, jauh dari bayanganku sebelumnya. Bentuk bangunan semi kuno dipadu desain modern membuat rumah itu tampak anggun dan megah. Kalau aku diizinkan masuk melalui pagar kokoh ini, aku masih harus berjalan beberapa ratus meter lagi untuk sampai ke halaman utama rumah itu. Tapi -sekali lagi- aku ragu.  Apakah alamat rumah ini benar seperti yang tertulis dalam kertas kecil yang sedari tadi kupegang. Satu-satunya harapanku tertulis dalam secarik kecil yang sejak beberapa minggu terakhir kusimpan dengan baik.
            Seorang lelaki berkumis dan berseragam keamanan putih beremblem aneka instansi menatapku sambil menyentuh ujung topinya. Seolah ia sedang memberi hormat pada atasannya. Sikap aneh untuk ukuran satpam penjaga rumah mewah. Seharusnya ia waspada dan curiga dengan kehadiranku. Laki-laki dengan kemeja kusut, celana model sepuluh tahun lalu dan topi belel, celingak-celinguk seperti maling sedang mencari celah aman untuk masuk ke rumah yang ia jaga. Tapi ia malah memberiku bonus senyum.
            “Selamat pagi, Pak. Silakan masuk,” sapanya  ramah sambil membuka pintu pagar melalui sebuah alat yang ia pencet dari meja pos kerjanya. “Bapak sudah ditunggu.”
            Aku pun melangkahkan kaki dengan ragu. Sudah ditunggu? Apa benar begitu? Seperti orang penting saja aku ini. Hatiku mendadak ciut membayangkan siapa pemilik rumah sangat besar nan megah ini. Sepanjang jalan kecil menuju pintu rumah megah itu, tak henti aku berdecak kagum. Keindahan arsitektur, perpaduan antara gaya eropa dan timur tengah, dikelilingi hutan kecil dengan berbagai jenis pohon yang tumbuh melebihi tinggi rumah bertingkat tiga yang anggun itu.  Rumah unik di sebuah bukit di daerah Cisarua Bogor.
            “Ari Sanjaya…” pekik seorang lelaki yang menghambur keluar dari dalam rumah, membuyarkan kemelut di kepalaku. Kini ia berdiri di puncak anak tangga, persis di depan salah satu tiang penyangga rumahnya. Senyum dari raut yang sulit dilupakan itu mengembang menyambut kehadiranku. Seperti menyambut calon besan saat upacara lamaran. Begitu sumringah dan bahagia.
            Mataku seketika membelalak. Benar ternyata, aku tidak salah alamat. Dan lagi-lagi benar, aku nyaris linglung saking tidak percaya saat mengetahui dengan pasti siapa pemilik rumah gedong dengan taman luas yang sangat indah ini. “Joko?” mulutku menganga, menampakkan kedunguan yang sudah sangat dikenal Joko sejak belasan tahun silam.
            Tawa kami berderai. Kami berpelukan sambil meloncat-loncat seperti anak kecil yang berhasil memenangkan permainan galah. Permainan masa kecil kami yang tidak pernah kami lewatkan setiap sore menjelang maghrib tiba. Joko menepuk-nepuk punggungku penuh semangat. Aku nyaris batuk dibuatnya. Tapi aku bahagia bisa bertemu Joko lagi setelah lebih dari enam belas tahun  tahun lamanya lost contact.
            “Kamu kok jadi kurus, Ri?” Joko menilik-nilik penampilanku dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Ya ampun, kamu diet atau kehabisan bahan makanan sih?” candanya membuat dadaku tiba-tiba sesak. Hatiku perih mendengar candaan lama yang selalu aku lontarkan pada Joko ketika masih kurus dan miskin. Joko menarik pundakku dan membawaku ke sebuah ruangan bernuansa abu-abu dengan dinding penuh mozaik berwarna warni yang setiap beberapa menit sekali tampak memancarkan cahaya.
            “Kita makan dulu,” Joko menarik kursi dan mempersilakan aku duduk. Dua orang pelayan dengan pakaian khusus koki bercelemek menyuguhkan berbagai makanan. Mereka bolak-balik membawa jenis masakan berbeda dan menatanya di atas meja makan yang besar. Mereka juga menyajikan minuman dingin di gelas Kristal yang ada di depanku. Tersenyum ramah lalu kembali menghilang. Aku berasa dilayani di sebuah hotel berbintang lima di Jakarta.
            “Ayo dimakan, Ri, jangan sungkan,” ucap Joko ketika dilihatnya aku belum juga menggerakkan tanganku untuk meraih makanan-makanan lezat yang tersaji di atas meja. Karena aku masih diam, Joko lalu berdiri dan mengisi piringku dengan sesendok nasi dan menunjuk-nunjuk lauk pauk supaya aku memutuskan lauk mana yang harus ia ambil. Aku memilih ayam goreng berwarna coklat muda dengan bumbu khas Priangan, kesukaanku. Joko memilih bagian dada, yang -ia tahu persis itu- juga kesukaanku.
            “Sekarang sibuk apa, Ri?” kembali Joko bertanya. Dan lagi-lagi aku tidak memiliki sebuah jawaban basa-basi untuk memenuhi pertanyaan itu. Aku masih diam. Diam tanpa benak apapun. Tanpa tendensi apapun. Aku hanya tidak tahu harus berkata apa. Menjawab apa. Kehidupan begitu mudah berubah. Orang yang dulu miskin kini bisa kaya raya seperti Joko. Dan orang yang dulu kaya raya, bisa bangkrut seperti yang dialami keluargaku. Orang yang dulunya jongos sekarang bisa menjadi bos. Begitupun sebaliknya, dulu aku bos, sekarang malah mengemis pekerjaan pada orang yang dulu menjadi pembantu rumah tangga di keluargaku.
            “Nambah, Ri!”
            Joko tidak berubah. Masih ramah, bersahabat. Ia sama sekali tidak pernah merasa bahwa dirinya anak kacung, dan aku anak bos. Kami yang bersahabat sejak kecil tidak mengenal status sosial seperti itu. Kami bersahabat layaknya dua anak laki-laki berteman dan bersahabat. Tidak ada anak kacung. Tidak ada anak bos. Tapi sikap Joko yang selalu melayaniku itu lebih karena ia memang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Aku yakin Joko tidak pernah menempatkan dirinya sebagai orang kelas bawah yang harus selalu hormat dan manut pada mereka yang kaya, terlebih yang mempekerjakan mereka dan mengayomi hidupnya.
            “Dulu, sejak Bapak dan Ibu berhenti kerja di rumah Pak Pram, di rumahmu, kehidupan kami sangat.. jauh dari sejahtera. Masih lebih bagus tinggal di rumah kecil di belakang gudang rumahmu, Ri. Kami sempat hidup terlunta-lunta, bahkan beberapa bulan kami masuk panti karena kena razia gepeng.” Meskipun aku jelas menunggu momen saat Joko mau bercerita tanpa pernah kuminta, tapi hati ini mendadak berontak. Kupingku sama sekali tidak ingin mendengar. Kesedihan perlahan merambat menuju jantungku, setelah menelusuri paru-paru dan membuatnya sesak. Mengalahkan rasa bangga yang sejak tadi menyelimuti diri ini. Tapi takjub yang terbentuk justru semakin tebal.
            “Tapi, kamu bisa lihat sekarang. Ah.. nanti saja aku cerita, kalau kamu sudah mau makan, hehe. Itu pun kalau kamu mau dengar ceritaku, dan kamu juga mau bercerita tentang kehidupanmu yang tiba-tiba lenyap ditelan bumi.” Joko menusukkan garfunya ke dalam mangkuk salad yang beberapa saat lalu diantarkan perempuan muda bercelemek putih tadi. Mengunyah buah-buahan segar itu perlahan, tetapi  matanya tetap mengarah padaku. Seolah menunggu jawaban, atau kesanggupanku memenuhi permintaannya: makan, mendengarkan success story-nya, dan bercerita mengenai hidupku sejak kami tidak pernah bertemu lagi itu.
            Alih-alih mulai makan, aku malah melemparkan pandanganku pada sebuah lukisan yang tergantung di dinding abu-abu itu. Aku kenal betul gambar itu. Dulu aku dan Joko pernah berfoto di sekitar tempat pembuangan akhir. Saat itu aku mendapat tugas dari guru bahasaku untuk membuat sebuah tulisan tentang kehidupan anak-anak di Bantar Gebang. Joko yang mengusulkannya padaku untuk terjun langsung ke TPA. Meskipun aku sangat jijik, tapi Joko mendesak, dan akhirnya aku pergi juga ke sana. Melalui sebuah kamera analog aku menyuruh seorang pemulung memoto kami dengan background bukit sampah menjulang. Itu foto terakhir sebelum aku dan Joko berpisah. Rupanya Joko masih menyimpan foto itu dan bahkan membuatkannya sebuah lukisan besar yang ditempel di dinding rumahnya. Rumah megahnya.
            “Kamu masih ingat?” keheningan di kepalaku pecah mendengar tanya Joko.
            “Tentu saja,” akhirnya keluar juga suara dari mulutku.
            Joko tiba-tiba terkekeh. “Kirain kamu jadi gagu, Ri.” Celetuknya asal.
            Begitulah Joko. Ia tidak pernah membuat batas apakah ia pantas bicara seperti itu padaku atau tidak. Bapakku pasti akan marah besar jika melihat atau mendengar Joko berbuat kurang sopan padaku. Ia kan anak pembantu, sangat tidak sopan mengajak anak majikan becanda, begitu kata Bapak. Apalagi bernada meledek, yang padahal aku tahu pasti itu bukan sebuah ledekan, melainkan lelucon belaka. Aku tahu, Bapak punya pendapat lain tentang kehidupan orang-orang yang kurang beruntung yang karenanya mereka bersedia menjadi pembantu atau bahkan merendahkan diri di hadapan orang berduit. Apalagi banyak yang karena desakan ekonomi, mereka melakukan tindakan pencurian dan perampokan seperti yang pernah Bapak alami.
            Suatu waktu mobil yang membawa Bapak menuju kantornya di bilangan Semanggi dihadang beberapa motor. Penumpang motor itu lalu memaksa sopir kami membuka jendela, dan meskipun ia sudah menurutinya tetap saja bogem mentah mendarat di pipi Pak Karim, bapak Joko. Bapakku juga ditarik paksa keluar dari mobil. Jam tangan Bapak dipreteli. Tas kerja Bapak dirampas. Di dalam tas itu terdapat uang puluhan juta yang baru Bapak tarik dari bank. Entah dari mana perampok itu tahu kalau tas itu berisi uang banyak. Uang itu sedianya akan dijadikan sebagai uang muka pembebasan tanah di daerah pinggiran Jakarta yang akan Bapak jadikan sebuah supermarket besar. Bapak memiliki banyak bisnis di bidang retail. Supermarket, restauran, club malam, juga taman rekreasi di luar kota. Semua Bapak kelola dengan usaha keras lebih dari sepuluh tahun lamanya.           
            Beberapa minggu kemudian Bapak  melihat orang-orang yang merampok Bapak tempo hari sedang bermain kartu di sebuah kios rokok pinggir jalan. Bapak pun  melaporkannya pada polisi. Akhirnya mereka masuk bui. Bapak masih menyimpan dendam pada mereka yang telah merenggut jerih payah Bapak. Merenggut waktu dan mencuri keringat kerja kerasnya.  Kejadian ini membuat persepsi Bapak terhadap kemiskinan semakin negatif. Menurut Bapak, kemiskinan itu tercipta bukan karena sebuah kondisi ekonomi secara makro. Faktor internal individu seperti motivasi dan keinginan untuk maju merupakan modal yang telah disepelekan oleh orang-orang yang kemudian jatuh miskin. Miskin itu bukan nasib, tetapi lebih merupakan sebuah pilihan. Mereka tidak mau bekerja keras, dan karenanya mereka miskin. Mereka telah memilih kemiskinan itu.
            Gap yang tercipta antara si kaya dan si miskin, menurut Bapak tetap harus dipelihara. Orang miskin tetap harus sopan kepada orang yang secara materi lebih daripada mereka, supaya mereka tahu kalau hidup ini punya harga. Bahwa mereka harus membayar pilihan hidup mereka itu dengan cara-cara yang diterapkan oleh orang kaya, adalah wajar. Bapak tidak akan dengan mudah memberi uang sebelum seseorang bekerja padanya terlebih dahulu. Karenanya kerapkali Bapak dicap sebagai orang kaya yang pelit. Ungenerous.
            Aku sebenarnya tidak terlalu sependapat dengan Bapak. Bagiku, sebagai manusia derajat hidup kita sama di mata Tuhan. Kaya ataupun miskin hanyalah bentuk kasih sayang Tuhan yang harus disyukuri. Dengan melimpah harta Tuhan berharap manusia bisa berbagi kepada sesama. Dan dengan kondisi yang serba kekurangan Tuhan memberi pahala melalui kesabaran dan ketabahan hatinya. Miskin bukan berarti tidak bisa berbuat baik. Banyak hal yang bisa dilakukan orang miskin untuk menimba pahala Tuhan. Orang miskin pun masih bisa berbagi dengan caranya sendiri, asalkan ikhlas dan hanya mengharap ridlo-Nya. Tuhan hanya akan mengajak orang baik saja ke surganya yang indah. Dan menendang mereka yang tidak sayang pada Tuhan dan menyia-nyiakan karunianya ke neraka yang membara.
            Aku takut Bapak mendapat murka-Nya. Kesombongan Bapak melebihi apapun. Ia tidak mau bergaul dengan sembarang orang, terutama dari kalangan bawah. Aku tahu, kekayaan yang Bapak dapatkan bukanlah dengan cara mudah. Perlu belasan mungkun puluhan tahun untuk bisa menjadi seperti ini. Tapi hati kecilku juga berontak saat Bapak memperlakukan Pak Karim, Joko dan ibunya dengan seenaknya. Mereka sudah mengabdikan diri lebih dari dua puluh tahun lamanya, bahkan sebelum Bapak menikah dengan Ibu, Pak Karim sudah menjadi supir Kakek. Pak Karim mendapat jodohnya setelah nenekku mempertemukannya dengan pembantu rumah tangga salah seorang kerabatnya. Pernikahan Pak Karim hanya selisih beberapa minggu sebelum pernikahan Bapak dan Ibu. Lalu Nenek  meminta Pak Karim dan istrinya mengurus keluarga kecil Bapak dan pindah dari rumah Nenek di utara ke bagian selatan Jakarta.
            Bersama Ibu, Bapak merintis banyak usaha. Selain melanjutkan beberapa bisnis yang sebelumnya digeluti Kakek, Bapak juga membuka usaha baru. Ilmu yang ia dapat dari hasil sekolah di luar negeri ia terapkan di Indonesia. Dan Bapak menjadi orang yang berhasil hanya dalam kurun waktu beberapa tahun saja. Tetapi tabiat Bapak, seperti yang pernah aku dengar dari Kakek, memang sudah begitu sejak kecil. Terbiasa hidup enak, membuatnya tidak bisa berempati terhadap kerasnya kehidupan orang lain yang kurang beruntung. Ia kerapkali berbuat kasar pada para pembantu rumah tangganya.   Tak terkecuali pada Pak Karim dan Joko.
            “Kita ke balkon, Ri. Ada sesuatu yang mau aku tunjukkan padamu.”
            Aku mengikuti langkah Joko menuju sebuah balkon. Aku jadi ingat bagaimana kami menghabiskan waktu sepulang sekolah di atas balkon. Bermain layangan, mengerjakan PR, bahkan tidur siang di bawah terik matahari di sebuah rumah kardus yang kami buat sendiri.
            “Lihat, pemandangannya bagus kan?”
            Aku melepas retina mataku jauh ke depan sana. Sejauh mata ini memandang pohon teh terhampar seperti permadani hijau yang lembut. Hawa sejuk membelai mukaku yang tirus termakan kesedihan. Aku menghirup udara kebebasan di sini. Begitu damai.
            “Aku tahu apa yang sudah menimpa keluargamu. Aku turut prihatin dan berduka cita. Pak Pram sebenarnya orang baik. Tapi kenapa hidupnya bisa berakhir seperti itu,” desah Joko. Aku melihat kilat kesungguhan di matanya. Kesedihan yang menggenang, dan rasa kehilangan yang sama seperti yang aku rasakan.
            Kematian Bapak, pengusaha kaya yang mendadak bangkrut setelah terkena krisis moneter tahun 1998 lalu, ditambah kecurangan yang dilakukan beberapa koleganya, banyak diliput media. Bapak meninggal akibat stress berat. Bunuh diri menjadi pilihan terakhirnya. Hutang-hutang yang menggunung selama ia menjalankan bisnisnya menjadi satu-satunya warisan yang Ibu dan aku dapatkan.
            “Cukup, Joko. Itu semua masa lalu. Bapak sudah membayar keangkuhannya dengan caranya sendiri. “
            “Joko memeluk pundakku dengan tangan kirinya. Mencoba mengembalikan keteguhan hatiku yang telah hancur berkeping-keping. Aku yakin Joko mengetahui lebih banyak hal dari yang bisa aku duga tentang kehidupan kami setelah ia dan Bapaknya terpaksa diberhentikan bekerja.
            Joko lahir pada tahun yang sama dengan kelahiranku. Bahkan kami lahir dalam minggu yang sama, selang beberapa hari saja. Joko lahir hari Senin, dan aku hari Kamis. Joko lahir oleh bidan di sebuah klinik bersalin dengan biaya ditanggung oleh Nenek, sedangkan aku lahir di sebuah rumah sakit ternama. Kami tumbuh dalam satu atap dan tempat bermain yang sama. Bedanya hanya di tempat makan dan tempat tidur saja. Tapi masa kecil kami lewati bersama karena selain mengasuh Joko, Bu Karim  juga mengasuhku. Ibu terlalu sibuk mengurus bisnis Bapak di tempat lain.
            Karena tumbuh bersama, aku merasa bahwa Joko adalah satu-satunya orang yang paling mengerti aku. Saat aku marah Joko tahu dia harus berbuat apa. Saat aku sedih Joko selalu menunjukkan perannya sebagai seorang sahabat. Meskipun kadang Joko –mungkin untuk menuruti perintah orangtuanya- agak sungkan padaku, bahkan tampak seperti melakukan pelayanan akan apapun kebutuhanku, tapi aku sudah menganggapnya sebagai sahabat dan bukan anak pembantu seperti yang Bapak minta. Bahkan sampai kami sama-sama masuk sekolah dasar persahabatan itu masih berlanjut. Hingga akhirnya perpisahan itu terjadi. Aku tidak tahu kemana perginya Joko setelah itu. Bapak tidak pernah memberitahuku bahkan ia melarangku berhubungan lagi dengan anak pembantunya itu. Entahlah apa alasannya.
            Dan hidupku benar-benar hancur setelah Bapak bunuh diri akibat beban pikiran yang menderanya bertubi-tubi. Krisis moneter yang melanda negeri ini sejak beberapa tahun sebelum itu telah membuatnya benar-benar goyah. Aku dan Ibu kemudian menjadi korban karena semua harta peninggalan Bapak yang sudah tinggal sedikit itu disita oleh petugas bank dan beberapa investor. Tak tahan selalu disalahkah oleh Nenek dan Kakek sebagai penyebab kematian Bapak, Ibu dan aku pergi menjauh. Aku terpaksa pindah sekolah dari sebuah SMU favorit ke sekolah biasa yang biayanya terjangkau. Bahkan di tahun kedua Ibu menyerah. Aku tidak bisa memaksakan diri untuk terus berjuang. Mentalku sudah jatuh sejak lama. Bahkan mental itu rasanya tak pernah ada karena  Bapak tidak pernah menularkan mental wirausaha dan kerja kerasnya padaku. Yang diberikannya adalah segala kemudahan, seolah itu akan kekal adanya. Jadilah aku penambah beban pemerintah dengan status baru : pengangguran. Kalaupun mendapatkan pekerjaan paling banter aku jadi kenek bus atau tukang parkir. Aku bekerja serabutan. Apapun demi memenuhi kebutuhan perutku dan Ibu. Tanpa bekal ijazah SMU -apalagi perguruan tinggi-, aku terlunta-lunta di tanah kelahiranku sendiri. Tidak ada yang bisa membantu. Semua orang sepertinya menganggap layak bagi kami untuk merasakan penderitaan ini.
            Berbeda denganku, Joko malah memiliki semangat baru sejak keluar dari kehidupan kami. Meskipun ia bersekolah di sekolah biasa, tetapi kecerdasannya mengantarkan ia ke sekolah lanjutan dengan beasiswa. Bahkan selepas SMU ia masih bisa kuliah sambil bekerja. Setelah lulus ia mengelola bisnis sampah dan barang bekas, mendaur ulangnya menjadi barang baru yang lebih berguna. Bahkan beberapa hasil produksinya sudah diekspor ke manca negara. Aku membaca keberhasilan Joko ini di sebuah majalah bisnis yang aku temukan di tempat sampah saat aku memungut dus-dus bekas untuk dijual. Di usianya yang masih muda Joko Purwono menjadi salah seorang pengusaha sukses di Indonesia. Aku tersenyum saat melihat foto Joko dan judul besar tentang kesuksesannya terpampang di majalah edisi beberapa tahun silam itu. Joko sahabat karibku, kalau Tuhan mengizinkan pasti kita akan dipertemukan kembali. Dan rupanya Tuhan masih sayang padaku. Hari ini kami bertemu dan aku seperti mendapatkan energi baru untuk menghadapi hari esok. Energi dari seorang kawan setiaku. Karib sejatiku.
-o0o-