Kamis, 22 Desember 2011

KUNCI



K U N C I

Seperti sedang menjalani expedisi di sebuah gurun pasir yang tandus. Matahari di atas ubun-ubun. Darah mendidih. Tenggorokan tercekik. Tidak ada setitik pun air, terlebih oase. Yang ada hanyalah fatamorgana yang semu.
            Aku berdiri dengan muka nanar, seolah tengah menatap lautan pasir yang terbentang. Suaraku tercekat. Bibirku membiru. Sementara aku berdiri di tengah sebuah keramaian kota. Kota yang dulu sejuk dan kini berubah menjadi sangat panas.
            Siang itu hanya 32 derajat celcius. Tetapi keringat sudah memandikan setiap jengkal tubuhku. Sendi-sendi tulangku bergetar hebat menahan beban yang tidak berhenti kupikul. Seribu, dua ribu, lima ribu sampai sepuluh ribu. Lebih baik kusimpan daripada kubelikan makanan sekali habis. Toh, rasa lapar ini sudah bersahabat lama denganku.
            Di sudut lain di kota sesak ini, aku yakin istriku tidak sedang berdiam diri. Bersama Dian, buah hati kami yang berusia  dua tahun, Resni pasti sedang berjuang melawan dahaga. Dengan beberapa lembar ribuan semoga cukup untuk menidurkan cacing di perut. Tapi kasihan, setelah itu mereka pasti akan merintih kembali.
            Menjelang sore, kami bertemu di Taman Tegalega. Istriku menyerahkan gerobak kosong yang isinya sudah dijual. Lumayan, gumamnya dengan sumringah yang meluluhkan lelahku. Kucium Dian yang sedang tertidur beralas dus tipis dalam gerobak. Ia menggeliat geli. Lucu dan menggemaskannya anakku itu.
            Lalu kami saling berpandangan, siapa tahu salah satu dari kami punya jawaban akan tidur di mana malam ini. Dan seperti malam-malam kemarin selama dua minggu terakhir ini kami tidur di balik semak pohon dengan label nama latin yang tidak dapat kami eja. Lelap dalam dingin menusuk. Tanpa selimut. Tanpa atap, selain langit yang pekat.
            Pagi hari kami terbangun tanpa harus merasa takut. Takut pemilik kontrakan menggedor pintu dan menyuruh kami keluar karena tunggakan kami yang membuat air liurnya muncrat saat murka. Udara segar bisa kami hirup setelah semalaman berebut oksigen dengan pohon penghuni taman ini.
            Resni tersenyum di sela batuknya yang kerap menyerang di pagi lembab. Aku memberikan botol minum dengan separuh isinya yang nyaris keruh.  Istriku meneguknya sedikit dan menyisakannya untuk Dian. Kugerakkan engsel-engsel badanku. Siap menghadapi hari ini dan mengumpulkan rupiah untuk kontrakan baru. Satu-satunya impianku saat ini.
            “Hari ini kau istirahatlah, Res. Biar aku yang mencari sisa buat kontrakan baru. Kan tinggal sedikit lagi,” ucapku tidak tega juga membiarkan istriku mengais sampah demi mengumpulkan dus dan plastik bekas untuk dijual. Harusnya aku yang memberinya pangan. Tapi istriku yang baik ini sepakat kalau aku yang mengumpulkan uang untuk biaya sewa kamar sebulan kedepan, dan ia yang mencari uang untuk makan. Upah kuli yang aku dapat memang lebih besar dibanding hasil yang diperoleh Resni.
            “Hari ini giliran aku yang puasa, Kang.” Jawabnya parau.
            “Tidak usah. kau kelihatan cape sekali. Batukmu itu, aku ikut sakit mendengarnya. Mudah-mudahan nanti malam kita bisa tidur di kasur,” hiburku penuh harap.
            Resni mengangguk. Ingin aku menghapus air mata yang tiba-tiba saja bergulir di pipinya dan melukiskan guratan bahagia di sana. Tapi bening mata Resni membuat hatiku semakin teguh untuk melawan rasa sesakit apapun. Aku bangkit setelah mengelus rambut Dian.
            Bandung Lautan Api, itu dulu. Sekarang mungkin lebih tepat kalau dibilang Bandung sebagai lautan pengunjung. Samudra pelancong. Bandung menjadi pelabuhan bagi kaum urban yang secara spontan tumplek bersamaan, atau bisa juga perhentian sementara dari lelah menumpuk rupiah. Semua orang seperti berlomba di kota ini. Berkompetisi memperebutkan gengsi yang diyakini bisa menaikan reputasi. Coba saja perhatikan, dulu masih banyak sawah dan tanah kosong tempat bermain anak-anak. Sekarang banyak perumahan dan mall berdiri di sana.
            Perkembangan hebat membuat lapangan kerja semakin luas. Tapi sayang, yang mengisi sebagian besar lowongan itu bukan orang Bandung sendiri, melainkan para pendatang itu. Sedangkan orang asli Bandung malah lebih suka atau terpaksa mengadu nasib di kota lain. Tapi apa peduliku tentang itu. Yang menyakitkan bagiku adalah tidak ada yang bisa menerima lulusan SMP beranak istri sepertiku. Tidak dengan rasa kasihan sekalipun.
            Pernah aku membantu menjadi kenek kuli bangunan salah satu mall yang sekarang mati karena sepi pengunjung, tapi bayarannya selalu terlambat dan banyak potongan yang tidak jelas. Dapat uang, langsung habis buat bayar hutang ke warung. Istriku menangis, anakku menjerit. Tetangga pun merasa terganggu karena kehadiran kami.
            Sisa tabunganku setelah berhenti dari satu pabrik yang mempekerjakan kuli angkut barang sisa kain perca habis untuk membayar tunggakan kontrakan dua bulan ke belakang. Sedangkan untuk kontrakan bulan ini terpaksa kami berhutang janji dan janji. Rasa malu sudah kami gadaikan sejak lama. Bahkan wajahku sudah tidak bisa lagi ditekuk, meski setiap pagi pintu rumah kontrakan kami digedor yang punya.
            Sampai suatu waktu ultimatum itu mencapai puncaknya. Pintu kami digedor tengah malam buta. Dian menjerit lantaran kaget. Resni menarik ujung bajuku ketika aku hendak membuka pintu rumah. Aku menatap matanya dan memberi isyarat untuk mengemasi barang-barang kami yang tidak seberapa. Tanpa harus diusirpun kami melangkah keluar. Kami hanya bisa melihat pemilik rumah menuntun barang bawaan penghuni kamar kontrakan yang baru.
            Resni terbatuk-batuk karena dingin menggerogoti rongga paru-parunya yang basah. Obat dari dokter habis sudah. Uang tidak ada sepeserpun. Tidak ada lagi warung yang bisa kami hutangi. Dalam ketegarannya Resni berusaha tidak membuatku merasa sedih. Padahal aku tahu ia menyembunyikan saputangan berdarahnya.
            Dian gadis cilikku. Hanya anak ini yang selalu menjadi pelita dalam gulitaku. Ia adalah secercah sinar yang menuntun langkahku yang terseok. Berhari-hari kami terlunta. Sisa pakaian habis ditukar sebungkus nasi. Suatu hari Dian menghilang. Resni menjerit histeris karena terbangun tanpa anak itu dalam pelukannya. Aku pun mencarinya ke segala tempat yang memungkinkan seorang anak dua tahun kesasar. Dalam keadaan panik, aku mencarinya pula ke dalam got sambil menangis. Tapi sore harinya seorang perempuan kumal mengantarkan Dian dan memberi istriku uang sepuluh ribu.
            Istriku tidak sudi mengemis. Aku juga tidak akan menghina diriku sendiri untuk melakukan hal itu. Menyewakan Dian pada pengemis-pengemis itu tidak pernah terbersit sedikitpun dalam benak kami. Akhirnya nasib berbaik hati pada kami. Seorang pengepul menawari kami untuk mencari rongsokan dengan memakai gerobaknya. Menjual barang-barang bekas temuan kami itu padanya membuat hidup kami sedikit lebih ringan. Resni dan Dian bisa makan nasi. Bahkan gerobak itupun bertambah fungsi menjadi ranjang berjalan buat Dian.
            Kami pun sepakat berbagi tugas. Resni mencari barang-barang bekas, dan aku menjadi kuli di pasar. Harapan besar kembali muncul untuk bisa mencari kontrakan lagi. Tidur tanpa harus berselimut karbon dioksida. Bisa mandi dan mencuci pakaian dengan air bersih. Makan dengan lauk dalam piring bersih di atas tikar yang hangat.
            Sore ini sebelum menemui Resni di Taman Tegalega, aku ingin memastikan kontrakan yang selama ini aku incar belum ada yang mengisi. Lebih baik aku segera memberi panjer supaya tidak keduluan orang lain. Aku pun menemui pemilik kontrakan yang rumahnya tidak jauh dari kamar-kamar bedeng itu.
            “Seratus dua puluh ribu. Bayar setengah dulu baru saya berikan kuncinya. Kapan mau diisi?” pemilik kontrakan itu memandangku jijik. Lembaran ribuan di tanganku sepertinya tidak begitu menghiburnya.
            “Nanti malam barangkali, Pak. Kebetulan istri saya sedang sakit jadi kami perlu tempat tinggal yang nyaman. Ada kasurnya, Pak?” ucapku  lirih.
            “Tambah lagi dua puluh ribu.” Jawabnya singkat dengan raut yang sama sekali tidak berubah. Dingin, tanpa basa-basi.
            Aku pun memberikan uang tujuh puluh ribu. Separuhnya akan aku berikan nanti sore karena kebetulan uangku masih kurang belasan ribu lagi. Mudah-mudahan aku bisa mengumpulkan sisanya setelah Resni dan Dian menempati rumah kontrakan itu.
            “Kalau nanti malam tidak memberikan sisanya, saya anggap batal, ya!” Pemilik kontrakan melengos.
            Kunci pun sudah di tangan. Dan aku merasa sangat merdeka. Dada ini seperti mau meledak karena bahagia. Terbayang wajah Dian bisa bermain di lantai yang bersih. Bergegas aku menemui istri dan anakku itu. Ingin segera rasanya menyampaikan kabar gembira ini.
-o0o-
            Resni sedang menungguku di pojok taman. Wajahnya pucat. Keringat dingin membasahi tengkuknya. Tubuhnya panas gemetaran. Dian sedang tertidur dalam gerobak dengan alas dus baru yang lebih bersih. Segera aku mengangkat Resni ke dalam gerobak dan membawanya ke rumah kontrakan baru kami.
            Aku menidurkan Resni dan Dian di atas kasur tipis. Resni membuka matanya dan tersenyum ke arahku. “Untung aku nggak gemuk ya, Kang,” guyonnya.
            “Aku beli makanan dan minuman dulu, ya.” Ucapku sambil mengelus butir keringat di kening istriku.
            Kutatap Dian yang tertidur pulas lalu bergegas aku keluar untuk membeli makanan, minuman dan obat. Tidak lama kemudian aku membangunkan Resni dan menyuapinya makanan. Dian masih terlelap dalam buaian mimpi kanak-kanaknya.
            “Minum obat ini, ya, Res,” aku pun memasukkan butiran obat penurun panas yang aku beli dari warung, ke mulut Resni. “Setelah ini, tidur dan istirahat, ya. Ini ada makanan kecil dan minuman kalau Dian bangun nanti malam,” lanjutku.
            “Akang mau ke mana?” tanya istriku. Ia menggenggam tanganku. Panasnya sudah mulai turun dan ia sudah tidak gemetaran lagi.
            “Aku sudah janji untuk membayar sisa kontrakannya malam ini juga. Uang kita masih kurang, Res,” aku menghitung kekurangannya yang ternyata menjadi lebih besar karena tadi aku pakai untuk membeli makanan dan obat.
            “Besok saja, Kang. Aku takut,” pinta Resni.
            “Kalau besok, aku yang takut kalau kita diusir seperti dulu. Istirahat saja, ya Res. Mungkin aku pulang pagi.”
            Aku pun menemui pemilik kontrakan dan meminta kebijakannya untuk mengundur sisa pembayarannya menjadi besok pagi. Dan aku akan mengusahakannya malam ini juga. Dengan muka ditekuk,  lelaki setengah baya itu menyetujuinya. Biasanya pada malam hari, di pasar Andir ramai pedagang dan pembeli sayuran. Aku bisa menjadi kuli di sana. Mudah-mudahan besok aku juga bisa membawa istriku ke puskesmas setelah melunasi hutang kontrakan.
            Pagi buta aku sudah mengantongi puluhan ribu setelah ditambah dari hasil kuli angkut barang. Lalu aku menemui pemilik kontrakan dan membayar sisa sewa kontrakan sebesar tujuh puluh ribu rupiah. Aku pun menghambur menuju rumah kontrakanku dan ingin segera memeluk Dian dan Resni saking senangnya.
            Dari ujung gang aku bisa mendengar suara tangisan Dian. Kenapa dengan anak itu? Aku pun mempercepat langkahku. Tersentak aku melihat Dian menangis,sementara tubuh Resni di sisinya, terkulai di depan pintu. Tidak ada siapa-siapa. Mungkin para tetangga belum bangun atau malah sudah pada pergi bekerja. Aku mengguncang-guncangkan tubuh Resni yang lemah. Darah mengucur dari hidung dan mulutnya.Tanpa berfikir panjang kubawa Resni ke rumah sakit pemerintah terdekat.
            “Segera tebus obat ini!” kata dokter yang merawat Resni di rumah sakit. Aku sedih karena sudah tidak ada lagi uang tersisa. Andai aku lebih dulu menemui Resni dan bukan pemilik kontrakan itu, mungkin aku bisa menebus obat itu. Lalu terbersit dalam pikiranku untuk mengembalikan kunci kontrakan dan meminta uang itu kembali. Meskipun mungkin aka nada potongan, tapi minimal sisanya masih bisa aku pakai untuk membeli obat buat Resni.
            “Jangan, Kang.” Resni menggenggam kunci itu erat-erat. Seolah dengan kunci itu ia bisa segera sembuh dari sakitnya. “Aku tidak apa-apa kok.” hiburnya. Seulas senyum mengembang dari bibirnya yang kering dan retak-retak, sisa dari siksaan panas berhari-hari.
            Darah kembali merembes dari hidung dan mulutnya.
            “Berikan kunci itu, Resni. Aku akan menukarnya dengan obatmu,” jeritku.
            Tapi Resni tidak mendengarku.
            “Ini untuk Dian, Kang,” Resni berusaha memberikan kunci itu ke tanganku. Tetapi kunci itu malah terlepas dari tangannya.
            Dian menjerit menyaksikan ruh terlepas dari raga ibunya. Napasku tercekat, suaraku hilang, kupingku tidak lagi mendengar denting kunci yang terjatuh ke lantai.
            Resni kini telah tiada, meninggalkan aku, Dian, dan sebuah kunci yang ia pertahankan agar Dian tidak lagi tidur di dalam gerobak beralas dus, dan beratapkan langit kelam.
-oOOo-

Kamis, 18 Agustus 2011

MY SWEET BLACKBERRY



MY SWEET BLACKBERRY

Keysha memasukkan koin terakhirnya sambil memejamkan mata, “Tuhan,”  bisiknya,  “semoga cukup.”
            “Jiaaahhh…  kalo cuma masukin seceng-seceng, sampe rambut kamu ubanan juga, gak bakalan kebeli tuh BB,” ledek Vino sambil menaburkan potongan kertas kecil-kecil ke kepala adiknya.
            “Aduh Kak Vino, jahil banget sih. Keysha bilangin Papa, loh!” ancam Keysha sambil mengibaskan rambut sebahunya yang dipenuhi dengan kertas-kertas kecil aneka warna itu.         
            Vino memang paling senang menjahili adiknya yang manja itu.
            “Lagian Papa pelit banget, aku minta dibeliin BB aja, susahnya minta ampun!” gerutu Keysha menahan kesal yang sudah lama ditahannya. Sekilas ia membayangkan kalau dirinya bisa BBM-an dengan Clarissa, Putri, dan… ah Chiko! Seru banget pastinya.
            “Nilai kamu anjlok semua sih,” balas Vino sambil kembali menggunting kertas menjadi kecil-kecil dan siap ditaburkan ke mana aja dia suka. Kalau lagi tidak ada kerjaan, beginilah kebiasaan Vino, nemenin adiknya dengan tangan yang  tidak bisa diam. “Kakak dong, selalu rangking, jadi banjir hadiah.”
            “Kak Vino tuh emang anak Mama sama Papa. Biar pun enggak rangking, tetep aja dibeliin ini itu yang Kak Vino mau,”  protes Keysha dengan nada cemburu. Bagaimana tidak, hampir setiap tahun ajaran baru, Vino selalu mendapatkan hadiah, kalau tidak mainan, pasti tas atau sepatu baru. Sedangkan Keysha, kalau tasnya belum jebol atau risletingnya belum lepas, mana mau Papa atau Mama membelikannya yang baru.
            “Ya udah, kemaren kan Kakak bilang, pake aja uang tabungan Kakak dulu, nanti kamu cicil pake uang jajan kamu. Gimana?”  Vino mencoba menghibur adiknya yang sedang bĂȘte itu.
            “Nggak usah deh, Kak. Keysha mau usaha dengan cara Keysha sendiri. Makasih ya, Kak.” Keysha kembali menolak penawaran kakaknya dengan halus. Ia tersenyum penuh semangat membayangkan BB impiannya bisa dibawa ke sekolah dan memamerkannya kepada teman-temannya yang sudah lebih dulu punya handphone canggih itu.
*
Siang itu sepulang sekolah, seperti biasa Keysha mampir ke toko handphone yang memajang BlackBerry warna ungu yang ia incar, sekedar untuk memastikan apakah BB itu masih ada atau sudah laku. Si Mbak penjaga toko tersenyum ramah melihat Keysha memperhatikan BB itu dari balik dinding kaca display. Entah sudah berapa kali Keysha menanyakan berapa banyak saldo stock BB Curve 3G itu. Dan sesering itu pula si Mbak dengan ramah menyebutkan jumlah stock yang masih tersisa. Tapi kali ini, sebelum Keysha sempat bertanya,  si Mbak SPGnya malah mengacungkan telunjuknya begitu meilhat Keysha melintas.
            Ya, Tuhan..tinggal satu lagi? pekik Keysha dalam hati.
            “Mbak bisa nggak tahan yang satu ini, seminggu lagi aja, uang saya belum cukup,” ucap Keysha sambil memberikan handphone lamanya supaya ditaksir sama si Kokoh  pemilik toko itu, berapa kira-kira yang harus Keysha tambah kalau HP itu dijual.
            “Palingan Adik tambah dua jutaan lagi,” balas si Mbak dengan senyum melengkungnya yang ramah.
            Dua jutaan lagi?? Dari mana Keysha bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu cepat?  Kalaupun ia memecahkan celengan ayam jago itu, kurangnya mungkin masih tetap banyak. Dengan lunglai masai Keysha meninggalkan toko celuller itu dan berharap Tuhan akan menunjukkan cara supaya ia bisa mendapatkan BB itu.
            BB itu adalah perlambang pergaulan di sekolah Keysha. Meskipun masih duduk di bangku SMP, tapi hampir semua teman Keysha sudah punya BB dan membawanya ke sekolah. Mereka selalu heboh kalau sedang membahas topik yang lagi hangat dibicarakan, apalagi kalau itu menyangkut masalah cowok. Dan siapapun yang tidak membawa BB ke sekolah, dijamin bakalan minder karena merasa dikucilkan, meskipun sebenarnya tidak begitu adanya. Ketinggalan informasi dan bahan obrolan yang tidak nyambung, itulah pangkal minder yang paling menyakitkan. Dan itulah yang selama ini Keysha rasakan.
            Keysha masih ingat betul, percakapan paling tidak disukainya pada suatu pagi.
            “Halo, Girls…Lo baca statusnya Revan gak? Gila tuh cowok, udah ganti cewek lagi, dasar playboy antik,” teriak Putri histeris.
            “PP-nya itu, cool banget I Like it,” timpal Clarissa.
            “Gue malam BBM-an sama Revan, katanya sih cewek yang kemaren itu bukan siapa-siapanya gitoh…. Hahaha… eh Keysha…. Duh sorry ya kita belum bisa BBM-an, hix hix hix…” Putri menarik Clarissa dan mengajaknya ngobrol di tempat lain.
            Setitik air mata bergulir di pipi Keysha. Kenapa pertemanan di duNadia nyata sekarang ini tidak berharga lagi. Orang lebih suka berteman di duNadia maya, di facebook, twitter, atau melalui BlackBerry Messanger.        
            “Kakak, kenapa?” seorang bocah lelaki kurus yang sedari tadi memperhatikan Keysha memberanikan diri bertanya.
            Keysha tidak menyadari ada orang lain di sekitarnya. Ia segera menghapus air matanya dengan tissue, lalu menggeleng lemah. “Nggak apa-apa koq, Dik. Adik jualan apa?” jawabnya sekaligus bertanya begitu melihat anak itu membawa bungkusan seperti hendak menawarkan sesuatu.
            Anak itu malah terdiam. Keysha melihat isi kotak yang dibawa anak itu. “Mau dikemanain sandal ini, Dik?” ternyata isi dus bekas air mineral itu adalah beberapa pasang sandal bekas.
            “Mau saya jual, Kak. Ke loakan sana,” jawabnya singkat.
            “Kenapa dijual? Emang ini sandal siapa?”
            “Punya saya, adik dan Ibu, Kak,” ia menggaruk kaki kirinya dengan kaki yang lain seolah menunjukkan kalau kedua kakinya itu kini tidak lagi memakai alas. “Ibu sedang sakit, Kak, kami perlu obat dan makan,” keluhnya dengan suara parau.
            Keysha termangu. Ia tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun sampai anak kecil itu berlalu dari hadapannya. Batinnya menjerit, kenapa ia begitu egois memaksakan diri untuk membeli sesuatu yang tidak penting, sementara ada orang lain yang untuk makan saja harus menjual barang berharga milik mereka.
-o-
            “Halo cantik,” Vino mengelus rambut Keysa lembut. Ia baru saja pulang kuliah dan langsung menemui adiknya karena ada kabar penting yang harus ia sampaikan. “Koq cemberut gitu sih?”
            “Nggak apa-apa kok, Kak,” jawab Keysha setengah malas.
            “Masih semangat berburu BB nggak? Nih ada Lomba menulis cerpen berhadiah BB Loh…. Emang bukan BB Curve Purple yang kamu mau sih, tapi kan kalau menang bisa dituker di counter.  Kebetulan banget ya, Key…”
            Keysha langsung berbinar. Semangatnya kembali menggebu. “Mana, Kak?” ia menggeser duduknya mendekati laptop Vino yang menampilkan info lomba menulis cerpen di facebook.
            Deadline-nya besok loh, Key, bisa nggak kamu kejar?”
            “Gampang… Keysha kan punya beberapa stock cerpen yang belum Keysha kirim ke tabloid, kali ada yang cocok, tinggal dimodif aja dikit,” ucapnya berapi-api. Keysha emang kerap menulis cerpen untuk dikirim ke tabloid. Beberapa ada yang pernah dimuat, dan honor dari tabloid itu biasanya ia tabung atau masukkan ke dalam celengan ayam jagonya. Makanya begitu ada info lomba cerpen, Vino langsung memberitahu adiknya.
            Malam itu juga Keysha langsung ngebut menyelesaikan cerpen yang temanya sesuai dengan yang diminta oleh panitia lomba, yaitu seputar duNadia remaja dengan segala permasalahan yang dihadapinya. Setelah dibaca berulang-ulang, dan meminta pendapat Vino, akhirnya cerpen itu pun dikirim ke alamat email panitia.
            Keesokan harinya seperti biasa Keysha lewat di depan toko handphone itu. BB itu masih bertengger di dudukan hape seolah menunggu giliran Keysha membawanya pulang. Keysha mengelus dada karena kini ia punya dua kesempatan sekaligus untuk bisa mendapatkan BB, pertama melalui lomba menulis cerpen itu, kedua dengan memecahkan celengan ayam dan menjual hape lamanya barangkali ia bisa nego untuk bisa mendapatkan BB itu.
            Keysha melewati trotoar biasa. Di sana ia bertemu dengan anak yang kemarin itu. “Gimana kabar Ibumu, Dik?” tanya Keysha teringat kalau kemarin anak itu bercerita ibunya sedang sakit.
            “Masih sakit, Kak,” jawabnya lesu.
            “Adik sudah makan?” tanya Keysha lagi.
            Anak itu menggeleng.
            Keysha lalu mengeluarkan bekal roti isi yang belum sempat ia makan tadi siang, lalu memberikannya pada anak itu.
            “Makasih ya, Kak. Ini buat Ibu dan Adik saya,” ia lalu berlari dengan wajah gembira.
-o-
            Seminggu berlalu. Keysha tidak tahu apakah BB Curve yang ia inginkan itu masih ada atau tidak di toko handphone itu. Dua hari terakhir ini Ia tidak lewat toko itu karena Vino menjemputnya dengan motor melalui jalur lain. Tapi harapannya masih sama. Menang lomba menulis cerpen dan dapat hadiah BB Gemini White, atau menjual hape lamanya dan membongkar celengan ayam untuk dibelikan BB Purple Curve, seandainya BB itu masih belum laku terjual.
            Semua keputusan itu tergantung pengumuman pemenang lomba menulis cerpen itu malam ini.
            “Udah keluar belum Kak pengumumannya?” tanya Keysha tidak sabar.
            “Sebentar, Kakak login dulu,” Vino memasukkan alamat email dan password di layar fb-nya. “Nah ini dia nih pengumumannya…. Keysha baca sendiri deh, Kakak deg-degan nih,” goda Vino sambil menyerahkan laptopnya ke pangkuan Keysha.
            Keysha tersentak membaca pengumuman pemenang lomba itu.
            Vino mengernyitkan dahinya, ”Kenapa Key? Masuk gak?”
            Keysha menggeleng sambil menyerahkan kembali laptop itu ke kakaknya.
            Vino membaca satu persatu daftar pemenang lomba menulis cerpen itu, mulai dari juara I, II, sampai ke harapan, tidak ada nama Keysha di sana. Ia pun terdiam, bingung bagaimana harus menghibur adiknya yang seperti sedang patah hati itu.
            “Terkirim nggak kemaren cerpennya, Key? Coba Kakak periksa emailnya, jangan-jangan nggak kekirim lagi…”
            “Udah deh, Kak, Kekirim kok. Emang aja Cerpen Keysha jelek. Lihat aja judul-judul para pemenang itu, bagus-bagus banget. Coba deh lihat Kak yang juara I-nya siapa, Keysha mau ucapin selamat sama minta tips gimana cara bikin cerpen biar jadi juara.”
            “Ya udah, next time aja ngucapin selamatnya, ya. Sekarang mending Keysha pikirin gimana jalanin plan B. Udah dihitung belum kurangnya berapa? Kakak perlu nyumbang nggak ya…” Vino berusaha merajuk supaya perasaan bĂȘte di hati adiknya berangsur sirna.
            Vino memang paling bisa. Keysha dengan mudah melupakan kekalahannya dalam lomba menulis cerpen itu. Dan ia memang harus mendapatkan BB itu dengan cara mecahin celengan ayam jagonya itu.
            Kprrakkk… ayam jago yang sudah lama berdiri di pojok kamar tidur Keysha itu pun pecah. Ia memuntahkan ratusan keeping koin berwarna putih dan emas, juga gulungan-gulungan kertas yang dibungkus plastik kecil. Seperti mendapat durian runtuh, kakak beradik itu berebut dulu-duluan menghitung isi celengan itu.
            Vino membantu mengelompokkan koin yang nominalnya sama setelah ia membereskan uang kertas sepuluh ribuan dan lima ribuan. Sedangkan Keysha mulai sibuk membuat menara koin yang dijejer rapi. Akhirnya total uang celengan ayam jago Keysha yang terkumpul adalah ….
            “Sembilan ratus dua puluh enam ribu, Kak,” decak Keysha puas. Ini adalah tabungan Keysha selama lebih dari satu tahun. Senangnya, Keysa bersorak dalam hati.
            “Berarti kurangnya berapa ya, Key?”
            “Kalau hape Keysha laku Sembilan ratus, berarti satu koma delapan kan ya, Kak. Kurangnya sekitar tiga ratusan,” ucap Keysha sambil berfikir gimana kalau besok ia nego harga lagi dengan si Koko pemilik toko hape itu.
            “Kakak ada tabungan tuh, Key,” tawar Vino.
            “Nggak usah deh, Kak. Nanti aja kalau Keysha perlu ya, Keysha pinjem ke Kakak, mudah-mudahan sih masih bisa nego harga, hehe, ngarep..” celoteh Keysha dengan nada penuh harap.
            Keysha lalu membereskan uang hasil celengannya itu, sedangkan Vino kembali ke layar facebook-nya, banyak inbox yang tadi belum sempat dibukanya.
-o-
            Dengan wajah penuh bahagia, Keysha  menyusuri trotoar yang menghubungkan sekolahnya dengan toko handphone itu. Sepanjang jalan dadanya bergemuruh tidak menentu. Bagaimana kalau hape itu sudah ada yang beli? Bagaimana kalau si Kokoh nggak ngasi potongan harga lagi? Ah sebaiknya Keysha mengerahkan semua bujuk rayunya supaya si Kokoh luluh hatinya dan memberikan discount tambahan, karena toko celullernya itu kan langganan anak-anak sekolah Keysha beli pulsa di situ. Kali aja ngepek, hehe.
            Keysha mengelus dada lega begitu dilihatnya BB Curve ungu itu masih tersenyum menyambut kehadirannya.
            “Waduh nggak bisa Neng, ini udah mentok harganya,” elak si Kokoh pemilik toko itu mendengar penawaran Keysha yang menurutnya melebihi penawaran terendah yang bisa ia berikan.
            “Dikit lagi dong, Koh… Kita kan tetanggaan.. saya udah ngincer ni hape sejak lama, ya Koh, ya.. please….” rayu Keysa.
            “Dua ratus lagi aja ya tambahnya…” tawar si Koko lagi.
            “Uangnya masih kurang nih, Koh..” keluh Keysha dengan muka memelas.
            “Sebentar ya… Nda… itu di luar ada apa, maling atau apa, kok rame banget,” si Kokoh malah  mengalihkan pembicaraan. Ia memanggil si Mbak SPG dan memintanya untuk memastikan ada keributan apa di luar, tidak begitu jauh dari tokonya. Keysha ikut melongok melihat kerumunan orang di luar sana.
            Itu kan anak lelaki yang kemarin pernah Keysha tolong, kenapa dia nangis di situ. “Koh, saya keluar dulu sebentar ya…” Keysha berlari menghampiri anak itu yang ternyata sedang menangisi seorang perempuan yang terkulai di trotoar.
            “Ya Tuhan, kenapa, Dik?” tanya Keysha panik. Orang-orang malah sibuk menonton dan tidak ada seorang pun yang tergerak untuk menolongnya.
            “Ibu, Kak…. Ibu pingsan…. Sakitnya tambah parah, tapi Ibu malah pergi mungut….” isaknya makin menjadi.
            “Ya udah, kita bawa Ibumu ke rumah sakit ya.. Pak tolong panggilin taxi,” Keysha langsung ambil inisiatif sendiri.
            Tidak begitu lama taxi berhenti di depan trotoar jalan. Keysha dibantu beberapa anak muda yang dari tadi nonton memasukkan ibunya anak itu ke dalam taxi. Keysha duduk di belakang memegangi ibu itu, sedangkan anak lelaki yang masih nangis itu duduk di kursi penumpang depan. Taxi pun melaju menuju rumah sakit terdekat.
            “Ibu terkena TBC, dan harus dirawat. Mbak silakan ke bagian administrasi untuk mengurus biayanya,” ucap dokter yang tadi menangani ibu anak itu.
            TBC? Biaya rumah sakit? Sama sekali tidak terpikir di benak Keysha bahwa ia harus mempersiapkan biaya untuk orang yang sudah ia bawa ke rumah sakit. Ia hanya menolong membawanya ke sini, tetapi mengenai biaya, apakah ia juga yang harus bertanggung jawab? Keysha merogoh isi tasnya. Ada uang satu juta lebih di sana. Uang hasil menjual hape lamanya, dan uang hasil mecahin celengan ayam jagonya. Uang yang sedianya ia pakai untuk membeli BB Curve ungu supaya ia tidak ketinggalan gaul oleh teman-temannya. Kini uang itu harus ia relakan untuk membantu biaya pengobatan ibu dua orang anak yang sekarang sedang pingsan setelah berhari-hari menahan penderitaan karena TBC yang diidapnya.
            “Berapa, Suster?” tanya Keysha, bersiap mendengar kabar yang lebih mendebarkan.
            “Satu juta tujuh ratus untuk dp kamar dan obat selama lima hari, Mbak,” Suster bagian administrasi itu menjelaskan.
            Keysha mengeluarkan semua uangnya dari dalam tas, termasuk uang koin yang belum sempat ia tukarkan menjadi uang kertas. Ada rasa berat, sekaligus terpanggil untuk merelakan uang itu. Tetapi perasaan itu kemudian berangsur menjadi pasrah manakala ia ingat anak itu rela menjual alas kakinya yang mungkin tidak seberapa harganya, bahkan belum tentu cukup untuk membeli sebungkus nasi, apalagi obat-obatan.
            “Makasih ya, Kak,” anak lelaki itu menunduk, merasa bahwa kehadirannya sudah menjadi beban buat Keysha.
            Keysha mengangguk. Dari pelupuk matanya menetes embun bening. Anak itu melihatnya sebagai setitik cahaya terang , seorang peri penyelamat ibunya. Ia lalu menyerahkan plastik-plastik yang berisi uang recehan dari dalam tasnya. Jumlahnya mungkin ada sekitar seratus ribu, karena Keysha sudah mengelompokkannya berdasarkan jenis koinnya. “Ini kamu pegang, buat makan kamu sama adikmu, ya.”
-o-
Keysha menatap pecahan celengan ayam jago yang masih berada dalam tong sampah di kamarnya. Ia tersenyum karena tabungannya selama setahun tidak sia-sia. Ia sudah bisa berbagi dengan orang lain tanpa merasa menyesal walaupun awalnya uang celengan itu untuk apa. Tuhan mungkin sudah menuntunnya untuk berbuat kebaikan dengan cara seperti itu.
            “Ehm…melamun nih ye……” Vino tiba-tiba muncul dengan senyum khas jahilnya. Ia mengelus rambut Keysha dengan lembut.
            “Kakak bangga punya adik seperti kamu. Kamu lebih mementingkan kepentingan orang lain yang membutuhkan pertolongan. Padahal Kakak tahu kamu pingin banget memiliki BB itu kan ya,” lanjut Vino.
            Keysha mengangguk. Ia sudah tidak menangis lagi sejak Vino menjemputnya dari rumah sakit sore tadi.             
            “Dan untuk orang yang berhati mulia, adikku penolong yang cantik, terima lah hadiah dari Kakanda tersayang… trelengg!” dengan gaya pesulap yang merubah kertas jadi uang, ia menyerahkan sebuah bungkusan kecil berwarna ungu yang diikat dengan pita putih di tengahnya.
            Keysha mendongak penasaran, “Apa nih, Kak? Ayam goreng ya?” tanyanya asal.
            “Hadoh, masa ayam goreng dipitain, kagak ada kerjaan banget sih! Buka deh, Key,” balas Vino nggak sabar menunggu reaksi adiknya.
            Keysha membuka bungkusan itu pelan-pelan. Ia tetap saja penasaran walau kadang Kakaknya suka usil menghadiahinya mainan bayi yang dibungkus unik begini. Tapi kali ini, Keysha benar-benar dibuatnya tidak bisa berkata-kata, air mata meleleh di pipipnya.
            “Ini buat Keysha, Kak?” ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang dipegangnya, Sebuah BlackBerry Curve warna ungu yang ia inginkan itu, kini ada di pangkuannya.
            “Kakak mecahin celengan juga?” tanya Keysha disela tangis harunya.
            “Enggak dong, ini kan hadiah lomba cerpen yang waktu itu, Key. Kakak juga ikutan. Dan ternyata Kakak juga punya bakat ya ngebokis kayak kamu, hehehe…. Tapi cuma demi adikku saja Kakak mau buat cerpen yang isinya khayalan doang, hehe,” jelas Vino membuat Keysa melongo.
            “Kakak menang Lomba Cerpen itu? Serius? kok nggak ada nama Kakak di pengumuman kemaren?” masih tidak percaya Keysha terus saja melontarkan banyak pertanyaan pada Kakaknya.
            “Lihat deh nih,” Vino menunjukkan notes yang memuat pengumuman pemenang lomba itu, “Juara I, judulnya ‘Sahabatku di DuNadia Nyata’ by Veebee,” Vino mengulum bibirnya menunggu reaksi Keysha selanjutnya.
            “Veebee? Vino Bachtiar, ya? Wah Kakak hebat! Tapi, bukannya hadiahnya BB gemini, Kak?”
            “Iya, kan Kakak bilang bisa ditukar di counter. Si Kokohnya nggak minta tambah loh, katanya sih demi seorang dewi penyelamat… hehehe,” Vino mengacak-acak rambut Keysha.
            “Iiih, apaan sih, ah….” Keysha tersenyum sambil membayangkan senyum anak lelaki yang sama bahagianya ketika ia menerima uang recehan itu dari tangan Keysha. Lalu tangannya mengusap benda mungil berwarna ungu di tanganya, My Sweet BlackBerry,” bisiknya penuh syukur.
-o0o-