Senin, 21 Mei 2012

DZIKIRKU SEPANJANG MEMBACA


‘DZIKIR JANTUNG FATIMAH’

 ( Sebuah resume sederhana untuk novel yang Luar Biasa karya Naning Pranoto)

Oleh : Kamiluddin Azis


Seharusnya saya atau siapapun yang telah membaca buku indah ini bisa membuat sebuah resume yang luar biasa, sebagaimana isi novel ini yang di mata saya sangat spektakuler. Akan tetapi karena keterbatasan saya dalam membuat sebuah tulisan, saya harap ‘pujian’ saya terhadap buku ini - meskipun dikemas dalam bahasa yang sederhana- bisa mewakili rasa takjub saya yang tidak bisa digambarkan sepenuhnya melalui aksara.
                  Adalah Ayu, Sri Rahayu, gadis yang belum genap enam belas tahun dan memiliki keterbatasan fisik karena derita folio menyebabkan kakinya harus ditopang alat bantu agar bisa berjalan dengan normal ini, yang membuat saya jatuh hati -setengah mati- pada novel ini. Gadis belia ini memiliki pembawaan yang sangat dewasa dengan pola pikir yang matang dan sikap yang mencerminkan intelektualitas yang tinggi serta budi pekerti yang luhur. Bunda Naning sangat bijak dengan menciptakan tokoh Ayu sebagai tokoh utama yang sangat kuat dalam novelnya.
                Sifat Ayu yang begitu cerdas ini timbul akibat tempaan problematika hidup yang ia lewati. Ayahnya yang meninggal pada saat ia masih kecil, dibesarkan oleh ibunya yang memiliki sifat matre dan selalu royal dalam segala hal tidak lantas membuat Ayu tumbuh menjadi gadis kolokan. Bahkan sampai Ayu dibawa ke negeri Kanguru karena sang ibu menikah dengan pria bule di sana pun, Ayu tetap menunjukkan sikap yang sangat dewasa. Konflik batin berkecamuk antara ingin berontak menghadapi kondisi hidupnya di negeri asing bersama ibu dan ayah tirinya yang sama sekali belum ia kenal, dengan keinginannya untuk mencari dan mendapatkan cahaya hidup dari-Nya. Sebuah pergolakan jiwa yang sangat apik yang dituturkan Bunda Naning dengan gaya bahasa khas satrawan yang kaya akan majas dan metafora.
                Meskipun di depan cover buku ini tidak dilabeli dengan tulisan ‘novel religi’ atau ‘novel Islami’, dengan membaca judulnya saja : Dzikir Jantung Fatimah, sekilas orang akan langsung mengklaim novel ini sebagai novel dengan tema yang Islami. Dan tidak bisa dipungkiri novel ini memang kental dengan ajaran Islam. Bunda Naning bahkan mengutip banyak hadis dalam percakapan Ayu dengan Marco, seorang tokoh muslim mualaf warga Australia yang kemudian menjadi sahabat dan ayah angkat Ayu. Contoh-contoh perilaku muslim-muslimah yang shaleh, dan beberapa tokoh islami yang kemudian juga hadir meramaikan perjalanan Ayu selama berada di Australia membuat pembaca terutama saya mendapat banyak pengetahuan tentang perkembangan Islam di Australia.
                Saya, dan pembaca lain merasa semakin dekat dengan Islam dan Allah, karena di sepanjang novel ini, Bunda Naning selalu mengumandangkan doa-doa dan dzikir-dzikir dengan menyebut Asmaul Husna. Doa-doa yang setelah kita membacanya, meresap ke dalam jiwa sebuah ketenangan dan kenyamanan. Rasanya Allah dan cahanya-Nya semakin dekat menuntun, seperti halnya Ayu yang selalu dimudahkan jalannya dalam menghadapi segala kesulitan hidupnya dengan dipertemukannya dengan banyak orang baik di negara asing yang baru sekali itu ia kunjungi. Mereka adalah perpanjangan hasta-Nya, begitu Ayu selalu mengistilahkannya.
                Dzikir Jantung Fatimah bukanlah novel biasa. Novel ini berhasil menggugah semangat hidup saya dan –saya yakin- pembaca lain, dengan menonjolkan sifat Ayu yang selalu sabar dan senantiasa ingat kepada Sang Khalik. Ayu yang selalu meneladani sifat-sifat Fatimah Az-Zahra puteri Rasulullah. Ayu yang berani mengambil sikap tegas untuk menjalani hidupnya sendiri dan berani menentukan masa depannya. Dan Novel ini kemudian menjadi sangat luar biasa di mata saya karena dalam setiap Bab, nama Allah dengan indah dan agung Asmaul Husna-Nya selalu disebut satu persatu. Dalam rangkaian doa, dan keluh kesah seorang hamba yang didera kesulitan hidup, Asma Allah menjadi penyejuk dan penuntun jalan menuju kebenaran.
                Kisah sederhana namun unik yang diramu dalam bahasa sastra yang begitu indah adalah bonus karena kekuatan lain dari novel Bunda Naning yang satu ini adalah prosa liriknya yang begitu memesona, menyentuh dan sangat kaya akan sentuhan Islami yang menggelorakan semangat untuk selalu  mengingat-Nya.
                Kalau saja semua jariku jempol semua, sudah pasti saya akan bentangkan sepuluh jari ini sebagai bentuk apresiasi saya terhadap karya indah Bunda Naning Pranoto ini. Subhanallah, two tumbs untuk persembahan Bunda dalam dunia sastra Indonesia yang selalu sarat akan makna hidup dan kaya akan pesan moral. Saya akan membaca semua karya Bunda Naning lainnya.

Bandung, 21 Mei 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar