Selasa, 23 Juli 2013

Resolusi dalam Hati

Ngumpet ...

Tahun ini sengaja aku sembunyikan tanggal ultahku di akun facebook, juga nggak pasang status yang berkaitan dengan miladku ini. Bukan apa-apa, aku lagi agak malas aja melihat pergerakan mundur angka umurku. Bukan tidak bersyukur atas nikmat dan karunia yang Tuhan berikan. Hanya saja, aku merasa sudah tidak penting lagi berapa umurku sekarang, tapi berapa banyak yang sudah aku lakukan selama setahun kemarin ini. Dan apa rencanaku ke depan. Sekalian, aku pengin ngetes teman-teman mana saja yang masih ingat dengan tanggal ultahku.

Mengingat dan merayakan hari ulang tahun memang tidak ada salahnya. Tapi yang lebih penting ialah kita bisa bermuhasabah diri, melakukan instropeksi diri atas apa saja yang sudah kita lakukan  sejauh ini. Dan yang tak kalah pentingnya ialah mempersiapkan sebuah resolusi.

Resolusiku apa ya...
Yup... sudah disimpan di dalam hati dan buku khusus. Nggak di sini ah, kan katanya nggak perlu diworo-woro sembarangan. 
Semoga tercapai... aminnn

Sabtu, 22 Juni 2013

Novel Kedua : My Lovely Beetle

 Judul : My Lovely Beetle 
(Lima Metamorfosa, Satu Hati Penuh Cinta)
Penerbit : Plot Point
ISBN : 9786029481396
Rp. 48.000,-

Sinopsis :
Diputusin dan dibuat tersesat di tengah hutan, sudah cukup membuat Yuki memasukkan nama Abimanyu ke dalam daftar hitam di hidupnya. Namun, siapa sangka ulah Abimayu ini membuat Yuki, Vey, Indri, Nola, dan Nadia bertemu dengan cowok yang punya nama sama dengan pemain bola dari Brazil, Kaka.

Nama boleh mirip dengan Kaka si pemain bola, tapi urusan hobi mereka beda. Kaka versi Yuki and cs ini mereka temui di tengah sawah, dan hobinya mengoleksi kumbang. Unik dan menarik! Nggak heran kalau Yuki dan empat sahabatnya ini siap bersaing memperebutkan hati Kaka dengan menjadikan kumbang sebagai taruhan cinta.

Ini kali pertama persahabatan mereka berubah menjadi persaingan. Ini kali pertama kelima cewek itu terpikat dengan satu cowok yang sama. Kehadiran Kaka membuat metamorfosis persahabatan kelima cewek ini tak sesempurna metamorfosis kumbang koleksinya.

Ini kisah mereka. Kisah persahabatan dan cinta yang dipertemukan di tengah alam bebas. Juga tentang kegalauan Yuki di tengah-tengah dua kumbang jantan dalam hidupnya.

Kisah renyah tentang cinta dan persahabatan Ɣªήğ akan membuatmu senyum-senyum sendiri saking asyiknya.

Dapatkan novelnya di Toko Buku Gramedia dan Togamas di kotamu, Online bookstore langgananmu, atau bisa order langsung ke penulisnya.

Jumat, 24 Mei 2013

Perjalanan Mengejar Mimpi



"Hiahhh, judulnya lebay banget ya...?!"
Tapi nggak apa-apa, yang penting niatnya ‘benar’. Seperti kata Pak Ustadz, Inna A'malu binniat. Jadi kalau niat ikut pelatihan menulis ini ialah sebagai jalan untuk meraih mimpi, maka Insya Allah mimpi itu akan terwujud . Amin....

Adalah Petra Shandi alias @ezarsatria, novelis dari (dia nggak mau disebutin nama daerahnya) Subang,  yang mengajak saya untuk ikut seleksi Kampus Fiksi yang diselenggarakan oleh Diva Press. Mulanya saya ragu karena nggak percaya dengan kemampuan sendiri. Tapi karena penasaran dan sekalian untuk menjajal kebisaan, saya pun daftar. Dan Alhamdulillah lolos, kebagian gelombang II tanggal 25-26 Mei 2013, satu angkatan dengan Petra juga.

Setelah melakukan berbagai persiapan : pesan tiket, ngerjain tugas, ikhtiar cari laptop teman yang bisa disewa (ssttt, no comment!) dan tentu saja ngajuin cuti jauh-jauh hari, akhirnya saya bareng Petra, yang memang sudah lama kenal dan sering ketemu, siap berangkat ke Yogyakarta.

Dan dari sinilah cerita ini bermula.

Ini adalah perjalan pertama saya pergi sendiri (eh, nggak deng… kan sama Petra) jauh-jauh tanpa pengawalan (haha, emang presiden dikawal, Kang!). Orang Sunda bilang saya ini termasuk ‘kurung batokeun’ alias jarang pergi ke mana-mana. Bisanya ngendon aja! (pantes Persib jago kandang? Huss ah!! #gaknyambung) Kalau bukan untuk urusan ‘menulis’ yang selama setahun belakangan ini saya tekuni lagi, saya nggak bakalan maksain diri. Makanya saya serius mempersiapkannya. Saya sampai-sampai nggak bisa tidur karena takut kesiangan. Bukan apa-apa, kalau sampai telat ke stasiun, tiket yang sudah dipesan bisa angus, kan? Mana saya ketitipan punya Petra juga, #berat bebankuh!, haha… (konsekuensi ketitipan beli tiket, soalnya lagi bokek, jadi pake bekel Petra dulu, wkwkwk… sssssttt ah!)

Jumat, 24 Mei 2013. Perjalanan dari Stasiun Bandung  dimulai pukul 8 pagi lewat beberapa menit. Lumayan lama juga menunggu, karena menurut jadwal, kereta Lodaya pagi jurusan Solo itu berangkatnya jam 7.00. Nggak apa-apa lah, kan acaranya juga baru dimulai besok dan peserta maksimal harus sudah sampai lokasi jam 9 malam. Perkiraan sampai stasiun Yogyakarta itu pukul 4 sorean.

Selama dalam perjalanan, banyak hal yang saya dan Petra perbincangkan. Mulai dari hal-hal sepele soal status-status di facebook dan twitter, membahas proyek yang sedang dikerjakan masing-masing, sampai resolusi masa depan, hahay… Tentu saja sambil menghabiskan bekal cemilan seabreg yang ada di kantong masing-masing plus... bernarsis ria!
Dan semuanya itu selalu diselingi candaan dan tawa yang cetar membahana. Sampai-sampai penumpang lain bolak-balik lewat seat kami (soalnya mau ke toilet, emang mesti lewat tempat duduk kami, wew!).

Pura-puranya lagi bingung, padahal iya...


Tak terasa waktu berlalu. Kesal hilang, capek juga lenyap. Saat kereta berhenti di Stasiun Yogya, kesal hilang, capek juga lenyap. Yogya … Yogya … Kami sudah janjian dijemput oleh panitia. Mbak Ve BBM nunggu di bawah jam yang bertuliskan Yogyakarta. Ya elah… jamnya aja ngumpet, celingukan lah saya sama Petra. Untung Mbak Ayun nyapa duluan.  Sambil menunggu mobil jemputan yang kejebak macet, kedua editor Diva yang ngakunya masih berjiwa teenager itu mengurai cerita yang lumayan rame dan bikin lupa laper. Untungnya, beberapa menit kemudian sebuah mobil ijo yang isinya juga serba ijo datang. Kami pun berangkat menuju  Kampus Fiksi di Jalan apa, #lupatanya. Ternyata eh ternyata, masih ada 1 orang lagi yang harus dijemput. Namanya Arif siapa lupa (ke sini-sininya dapat julukan Mika, tau tuh Mika ambon atau Mikariayam…) masih 18 taun, tapi bongsor dan makan tempat. Jadinya Mbak Ve ngalah pindah duduk yang asalnya di depan, ke kursi penumpang di belakang.  Hemhhh… untung saya kuyus bin cungkring (kalo kalian liatnya sambil ngantuk2!) jadi nggak masalah duduk di kursi penumpang berempat : Saya, dua cewek super heboh itu, dan Petra yang kalian tahu sendiri-lah, bodinya makan tempat (hgehe sorry ya Pet!). Untung jarak stasiun Tugu dan Kampus Fiksi tidak terlalu jauh. Ditambah pemandangan Jalan malioboro di sore hari, lupa deh kalau badanku kedempet-dempet.

Tiba di Kampus Fiksi ternyata sudah banyak peserta yang datang (Ohya, peserta Kampus Fiksi itu 30 orang per-angkatan), bahkan katanya ada yang sudah datang dari kemarin juga. Hebat !

“Kang Aming, ya?” seorang pemuda (katanya sih masih muda) menyapa dengan yakin.

“Adi, ya?” malah Petra yang balik nanya ke anak itu (ternyata masih anak-anak, hehe!)

Kami pun berkenalan. Iya, dia Adi Nugroho, seorang Guru Matematika dari Blitar (iya tho, Di?), yang katanya murah senyum dan suka ngorbal tawa, hahaha … Adi ini yang paling getol mention di twitter sejak jauh-jauh hari sebelum ketemuan di Kampus Fiksi. Makanya kami langsung akrab. Apalagi ketawanya yang menggelegar membabi buta itu langsung menyedot perhatian siapa saja yang mengenalnya.

...... Eh, bentar ya… keburu Maghrib… ntar disambung lagi dengan cerita yang lebih seru.

Selasa, 21 Mei 2013

Gunung Kasur


Orang-orang menyebut bukit kecil itu Gunung Kasur.  Di tengah-tengah bukit hijau itu tergeletak sehamparan batu berbentuk kasur, lengkap dengan sepasang bantal dan sebuah guling di tengahnya.  Dulu, aku sering  menggali tanah liat atau mencari rotan di Gunung Kasur untuk tugas sekolah. Menelusuri jalan setapak dengan belukar ilalang setinggi kepala sambil berlomba mencapai puncak gunung itu, menjadi kegiatan rutinku bersama teman-teman SD setiap Minggu pagi.  Tak peduli panas, atau rinai memayungi langkah kami. Memaku kincir sambil menatap Istana Presiden yang berdiri megah dari kejauhan.
Langkahku terhenti di depan sebuah rumah kayu yang nyaris lapuk termakan usia. Satu-satunya rumah yang selalu kusinggahi jika hendak naik ke Gunung Kasur. Pemilik rumah ini, Pak Mur. Laki-laki setengah baya, berkulit belang putih susu dan coklat, menyerupai kulit yang baru sembuh dari luka tersiram air panas. Namun, setelah lebih dari dua puluh tahun terlewati, apakah Pak Mur masih ada?
Punten[i]” Kuketuk daun pintu yang tak tertutup sempurna itu. Tak ada sahutan. Hening. Yang terdengar hanya suara tonggeret dan desau angin gunung yang menggelitik telinga.
Sambil menunggu seseorang membukakan pintu, kuedarkan pandangan. Tidak banyak yang berubah. Dari tempatku berdiri, ada jalan setapak yang menurun, menuju sebuah tambak ikan berair dangkal. Pepohonan buah-buahan menjadi pagar pembatas sungai jernih yang mengalir di sampingnya. Ada saung kecil beratap jerami di pinggir balong[ii]. Dulu aku dan teman-teman diperbolehkan tidur siang di sana setelah lelah bermain di atas bukit.  Aku tersenyum mengingat masa-masa menyenangkan itu.
Milari saha, nyak?”[iii] sebuah suara berat  mengagetkanku. Seorang lelaki berdiri tepat di depanku. Garis wajahnya yang tegas dengan rahang kokoh tanpa senyum menyita ingatan masa kecilku.
Kuamati mata kelereng laki-laki itu. Tak salah lagi, “Dulah?” pekikku. Kuukir sebuah senyum yang sedari tadi tertahan. Ini pasti anak Pak Mur, yang juga kakak kelasku di SD.
            Sanes,” [iv]timpalnya, sambil menyidikku dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Kang Kamal?” ia balik memekik. Lalu terkekeh, yakin akan dugaannya.
            Aku mengangguk heran. Aku kenal betul tawa jahil itu.
            “Arif, Kang. Ini Arif,” terangnya.
Mataku membulat. Baru ingat, Dulah punya adik yang mirip sekali dengannya. Beda umurnya sekitar dua tahun.
“Arif? Kamu sudah segede ini?”
            “Iya atuh[v], Kang, kan dikasi makan sama Emak…”
            Tawa kami pecah. 
            “Bapak sudah meninggal lima tahun lalu. Kang Dulah bekerja jadi supir di Saudi. Saya sendiri tidak bisa ke mana-mana, sebab Emak sudah mulai sakit-sakitan,” papar Arif setelah mempersilakan aku masuk dan duduk di ruang tamunya yang sederhana.
            “Oh begitu,” balasku, sedih karena baru tahu Pak Mur sudah tiada. Kesibukanku kerja di Jakarta hanya menyisakan pulang sehari dalam dua atau tiga bulan saja. Aku tidak pernah sempat mengunjungi orang-orang yang dulu berjasa dalam hidupku. Termasuk Pak Mur.
            Laki-laki kuat itu yang mengajariku bagaimana menebang rotan dan mengubahnya menjadi sebuah bingkai foto, atau anyaman keranjang. Bilah rotan yang tak terpakai, diubahnya menjadi sebuah lukisan. Pak Mur juga mengajari aku dan teman-teman membuat sebuah kendi dan benda-benda lain dari tanah liat. Karyaku dan teman-teman sekelompokku menjadi juara saat diikutsertakan dalam lomba Kreasi Bumi antar sekolah. Bukan cuma itu, Pak Mur dengan sabar selalu menyelipkan petuah agar kami taat beribadah, menghormati orang tua dan guru-guru, juga sayang terhadap sesama, terutama kawan karib, dan alam semesta.
            Karena dedikasinya, Pak Mur diangkat warga sebagai kuncen Gunung Kasur.
            “Tapi, Bapak selalu ada kok untuk menjaga Gunung Kasur,” bisik Arif sambil memicingkan mata bulatnya. Berkilatan bening diantara remang cahaya lampu rumah yang seadanya.
            “Maksudmu?”
            “Iya, orang-orang yang berusaha merusak Gunung Kasur dibuatnya lari tunggang langgang,” kekehnya pelan.
            “Memang ada ya orang-orang yang ingin merusak?” keningku berkerut.
            “Banyak. Pengembang itu. Mereka mendirikan vila-vila di kaki bukit dan menghalangi jalan menuju  gunung. Menggali dinding bukit, bahkan menebangi hutan. Banyak yang celaka.” Gigi Arif bergemeletuk. Geram.
            Arif lalu bercerita tentang kematian para pekerja yang membangun vila-vila mewah di bibir bukit. Juga para pengebor,  dan mandor yang selalu berteriak jika melihat anak buahnya berleha-leha kelelahan. Menurutnya, Pak Mur tak suka mereka melukai bukit yang sejak laki-laki itu muda, setia dijaganya. Pak Mur tak ingin orang-orang yang hendak melihat batu kasur dari dekat urung pergi lantaran pintu masuknya tertutupi benteng beton setinggi kepala orang dewasa. Sedangkan jalan setapak lain, harus melewati sungai yang belakangan santer dikabarkan dihuni buaya jadi-jadian. Petani-petani  di perkampungan di balik bukit yang selama ini melewati jalan utama juga mengeluh karena kesulitan jika harus melewati sungai tanpa jembatan saat ia membawa hasil panen untuk dijual ke pasar Cipanas.
            Aku mengakhiri obrolan panjangku dengan tengkuk meremang. Niat untuk menyusuri jalan setapak menuju batu kasur dan menyentuhnya dari dekat, urung. Bagaimana kabar guling kesayanganku? Mungkin pada kunjungan berikutnya, aku akan ke sana, memasang tiang tinggi yang telah dipasangi kincir angin, lalu setelah lelah berlarian, aku akan berpura-pura tidur di atas kasur batu itu, sambil berharap impianku akan terwujud kembali. Seperti dulu. Tanpa saar aku tersenyum sendiri.
            “Akang kenapa?”
            “Tidak, Rif. Oh iya, kamu mau kan kalau menemani saya naik? Saya ingin foto-foto dengan Gunung Kasur.”
            “Siap, Kang.”.
            Pada kunjungan kali berikutnya, Arif menemaniku jalan menuju puncak Gunung Kasur. Hanya menapaki jalan setapak yang dipenuhi ilalang dan belukar rotan, serta aneka pohon rambat berduri.  Tidak banyak yang berubah. Jalanan terjal licin karena mengandung tanah liat yang diguyur hujan semalam, membuat sol sepatuku menebal. Langkahku semakin berat. Arif sesekali berlari dan menantangku balapan. Aku hanya mengeluh sambil meletakkan kedua lenganku di pinggang. Perjalanan menanjak tiga kilometer kali ini sangat berbeda dengan yang pernah kulakukan semasa kecil dulu. Keringat mulai membanjiri kemejaku. Aku semakin payah.
            Desau angin menyambut saat kaki ini pertama kali menginjak puncak gunung. Dua puluh tahun, cukup lama untuk setia menyimpan semua yang pernah Gunung Kasur berikan padaku. Kenangan indah, rangkaian puisi yang kutulis di dahan pohon pinus dengan pisau lipat, aneka bingkai foto berotan yang menghiasi poster Presiden-Wakil Presiden dan burung Garuda di dinding ruang kelas, serta macam-macam keramik buatan tangan sendiri. Dan kini, ide-ide brilian pembangunan rumah modern di tepi bukit menari-nari di benakku.
            “Bapak sakit apa, Rif?” tanyaku sambil bersandar pada dahan pohon pinus. Kuluruskan kaki sambil menarik sebatang ranting di tanah. Kutilik serat kambiumnya. Wangi kuhirup. Dulu aku suka membuat gantungan kunci dari dahan pohon pinus yang digergaji miring, atau diukir berbentuk siluet tumpahan air. Lalu dipernis setelah ditempeli nama orang atau zodiac dari rugos. Lalu kami jual pada pelancong yang tak pernah sepi memburu sayuran segar di daerah Simpang.
            “Orang-orang menyebutnya sebagai kutukan,” suara Arif berubah berat.
            Aku menopang kaki dengan dagu, siap mendengarkan cerita Arif.
            “Sekitar enam tahun lalu, orang-orang kota datang ke mari. Menikmati pemandangan di atas bukit, foto sana foto sini, berceloteh tentang kekaguman mereka terhadap batu kasur. Bapak yang menemani mereka hingga puncak.” Arif menghela napas. Kedipnya sayu, seolah di pelupuk matanya berkilasan fragmen kehidupan Pak Mur.
            “Lalu mereka menjadi sering berkunjung. Dan entah mendapat izin dari mana, orang-orang itu mulai membangun rumah. Mula-mula satu, lalu dua, tiga, hingga akhirnya berjejer rumah-rumah bagus di kaki bukit, sampai ke badan gunung. Saat Bapak bertanya, mereka bilang sedang ada proyek pemerintah, dan itu semua adalah rumah dinas. Entahlah. Bapak tidak banyak bertanya setelah itu. Yang jelas sejak saat itu, Bapak sering mengalami mimpi buruk. Dalam mimpinya, Bapak didatangi harimau besar yang turun dari bukit. Lalu sekawanan burung terbang mengelilingi rumah. Bapak juga mimpi dikejar-kejar sekelompok monyet bertaring. Semua itu Bapak ceritakan kepada kami, seminggu sebelum beliau wafat.”
            “Jadi Bapak tidak sakit dulu?”
            Arif menggeleng. “Bapak jatuh ke sungai. Jasadnya ditemukan sore hari.  Kami pikir seharian itu Bapak sedang pergi ke balai desa. Bapak bilang akan membicarakan hal penting pada Pak Kades.”
            Aku tersentak mendengar cerita Arif. Kasihan Pak Mur. Aku tahu apa yang sedang Pak Mur perjuangkan: bukit berkasur batu yang menjadi tanah kelahiran dan tempat sakral dalam hidupnya. Ia tak ingin ada seorang pun yang menjamah dan merusak kelestarian bukit bersejarah dalam hidupnya itu. Bahkan hingga kini pun, kata Arif, Bapak tidak akan membiarkan siapa pun merusak cagar alam tercintanya. Orang yang melawannya, tak akan pernah selamat.
            Aku bangkit. Dadaku bergolak. Tak kusangka, hidup Pak Mur berakhir. Darahku mendidih. Meletup-letup seperti lahar gunung merapi yang siap dimuntahkan ke angkasa. Tak terasa setitik air hangat mengembun di kelopak mataku. Kubuang pandangan menjauh dari hadapan Arif. Aku tak ingin ia membaca perasaanku lewat mata dan gurat wajahku. Aku tak ingin Arif tahu betapa aku menyesal dan merasa sangat bersalah.
Kuedarkan bola mataku ke arah batu cadas yang menggantung di dinding tebing. Batu yang tak pernah sekali pun aku dan teman-teman berani mendekatinya. Bahkan Dulah dan Arif sekalipun. Tak boleh ada seorang pun yang menyentuh batu itu. Tidak jauh dari kaki batu gantung itu, terhampar batu berbentuk persegi, menyerupai sebuah kasur, lengkap dengan bantal dan guling yang tidak pernah bisa dipindahkan ke manapun. Samar-samar kulihat seseorang tengah duduk di sana dengan kedua telapak tangan membungkus wajahnya yang tertunduk. Kulit lengannya putih dengan loreng-loreng coklat seperti belum lama tertumpahi cat kayu atau lumpur yang baru mengering. Perlahan-lahan laki-laki itu melepaskan tangannya. Lalu wajahnya menengadah dan menatap lurus ke arahku. Deg, jantungku terasa mau lepas. Pak Mur?! Desisku.
*
Sebagian dalam cerpen ini merupakan buah imajinasi penulis. Setting adalah daerah tempat semasa kecil penulis bermain yang kini dijadikan sebagai Situs Budaya Gunung Kasur yang  terletak di daerah Gadog Cipanas, Cianjur.









[i] Punten = Permisi (bahasa Sunda)
[ii] Balong = Kolam Ikan
[iii] Milari saha, nyak? = Cari siapa, ya?
[iv] Sanes = Bukan
[v] Atuh = Dong

Senin, 01 April 2013

KIMI GA DAISUKI DESU


KIMI GA DAISUKI DESU


Aku memasang penutup kepala dari jaket tebal yang kukenakan, saat butiran salju menerpa wajahku. Dingin menusuk hingga ke persendian tulangku.  Tapi aku tetap berdiri dengan khusyu diantara belasan orang yang juga tengah tertunduk dalam doa. Chichi[1] yang berdiri di samping haha[2] melirik ke arahku. Bening matanya seolah bisa menangkap gurat kesedihan yang tergambar di wajahku. Aku membalas tatapannya dengan seulas senyum, lalu kembali larut dalam khidmat doa yang kulantunkan dalam hati untuk obaasan[3] tercinta.
            Dua tahun sudah beliau wafat. Bersama dengan ratusan orang lain, tubuh ringkihnya tak pernah lagi ditemukan setelah tersapu badai tsunami yang melanda Jepang 11 Maret 2011. Saat itu adalah awal musim semi yang indah. Ayah dan Ibu berencana mengajak kami liburan  ke sini. Kami akan merayakan Hari Ekuinoks Musim Semi[4] dan melakukan upacara Shunki Higan-e[5]  di makam okaasan[6]. Tetapi tepat sepuluh hari sebelum botamochi[7] kami sajikan di altar keluarga, bencana dahsyat itu terjadi. Seluruh dunia pasti tahu karena televisi menyiarkannya secara ekslusif siang dan malam. Kami yang berada di Indonesia hanya bisa menangisi kepergian nenek tercinta yang sangat mendadak itu.
            Di sini, di depan sebuah Tugu Peringatan Tsunami di Perfectur Miyagi mataku menggenang. Rintik hangat mulai berjatuhan dari sana, menelusuri palung wajahku yang berusaha tegar setiap mengingat kejadian itu. Kepedihan seperti tak pernah hilang dari diriku. Bayangan wajah nenek selalu menarikku pada masa-masa indah saat beliau masih ada. Saat liburan musim semi ataupun musim gugur yang selalu kami lewati bersama. Tapi, sudah tiga tahun ini kami tak pernah merayakan higan bersamanya. Ayah dan Ibu hanya mengajakku setahun sekali ke Jepang, itupun untuk melakukan ziarah pada leluhur kami yang sudah tiada. Selebihnya, kesibukan mereka mengurus restoran Jepang di Indonesia telah menenggelamkan kehidupan mereka masing-masing.
            “Hana, kamu kenal anak laki-laki itu?” bisik ayah membuat kelopak mataku perlahan membuka, dan mengikuti arah yang ditunjuk dagunya.
            Sedikit kupicingkan mataku, berharap bisa mengingat cowok jangkung dengan rambut coklat lurus agak gondrong, seadainya aku memang pernah mengenalnya. Tapi kepalaku repleks menggeleng, seolah memberikan jawaban atas pertanyaan ayahku.
            “Setahun yang lalu, bukannya dia ngobrol sama kamu di sini?” sambung ayah masih dengan bisik paraunya.
            Aku memutar memoriku sesaat, lalu ingatanku terdampar pada 11 Maret tahun lalu. Iya, cowok itu juga berada di depan tugu ini, berdiri dan khusyu berdoa. Kalau tidak salah, ia kehilangan ayah dan ibunya pada saat bencana itu terjadi. Tapi sepertinya cowok itu sudah banyak berubah. Tambah tinggi, berotot,  dan semakin … hansamuna[8].
            “Hai…,”  suara bernada bass menyedot lamunaku. Aku mendongak dan sedikit tersentak saat cowok itu tiba-tiba sudah berdiri tidak jauh dariku. Ia menyapa dengan senyum lebar yang membuat wajahnya semakin tampan.
            “Kenji Himura?” Entah kenapa nama itu terlontar begitu saja. Nama itu seolah hanya dimiliki oleh satu orang sehingga dengan mudah aku bisa menghafal dan menyebutkannya pada orang yang tepat. Tentu saja, selama lima tahun tinggal di Indonesia, tak ada seorang pun temanku yang memiliki nama seperti itu.
            “Ya, it’s me. Hana-chan, genki desu ka[9]?” tanya Kenji seraya memamerkan barisan gigi putihnya. Matanya menyipit membuatnya tampak semakin cute. Aku tersanjung, karena ternyata ia masih ingat namaku.
            “Aku baik, kamu gimana?” jawabku sekalian bertanya, dalam bahasa Indonesia. Aku ingat waktu itu ia memintaku mengajarkan satu-dua kalimat dalam bahasa Indonesia. Aku yakin Kenji juga pasti ingat itu.
            “Baik-baik…,” nyaris ia menderai tawa senang kalau saja tidak ingat di mana kami berada. “Shibaraku deshita![10]      
            “Iya, setahun nggak kerasa, ya?” bisikku sambil mencuri pandang ke arah Ayah. Ayah menganggukkan kepala, seolah memberi izin kepada kami untuk meninggalkan tugu. Aku dan Kenji lalu berjalan ke arah sebuah pohon sakura dengan bunga-bunga putih dan ungu muda  yang  masih kuncup.     
             “Aku sudah bisa bicara bahasa Indonesia sekarang. Sedikit-sedikit tapi,” lanjutnya girang. Kenji memang  pernah bilang  kalau ia ingin sekali mengambil kuliah sastra Indonesia jika sudah lulus SMA nanti. Dan aku saat itu menyarankan untuk membeli buku-buku berbahasa Indonesia, bahkan aku memberikan novel remaja yang sengaja kubawa untuk teman dalam perjalananku, padanya. Kenji tampak senang sekali. Hanya saja, karena terburu-buru, perkenalanku dengannya tidak berlanjut. Kami lupa saling tukar nomor telepon ataupun akun di situs pertemanan. Tetapi beruntung sekali Tuhan mempertemukan kami kembali di sini.
            Obrolan pun berlanjut hangat. Aku menceritakan bagaimana serunya melewati masa-masa SMA-ku di Bandung, dan Kenji juga bercerita tentang kegiatannya di SMA Yamoto. Sesekali kami tertawa karena mencampur-adukkan bahasa Jepang dan Indonesia dengan bahasa Inggris saat kebingungan mencari kata yang tepat. Tapi karena tampaknya Kenji sangat pintar, jadi ia bisa dengan cepat merespon apapun tema pembicaraan yang aku lontarkan dalam bahasa Indonesia. Kulihat kesedihan di matanya perlahan memudar.
*
Sore harinya kami janji bertemu di depan sebuah kafe, tidak jauh dari hotel tempatku menginap. Dari sini kami akan pergi ke Sendai Mediatheque yang kebetulan bisa diakses dengan berjalan kaki. Aku penasaran dengan cerita Kenji yang selalu membangga-banggakan museum pusat seni dan film terhebat di Miyagi yang luput dari terjangan tsunami saat itu. Sayang, aku hanya mengambil izin sekolah tanggal 11 saja, jadi besok yang kebetulan merupakan hari libur nasional di Indonesia kami harus pulang karena lusanya aku harus kembali sekolah.
            Kenji datang dengan switer putih dan topi rajut coklat menutup kepalanya. Rambut gondrongnya menyembul ke depan dan samping. Senyumnya mengembang saat matanya beradu pandang denganku.
            “Maaf ya, lama,” ucapnya dengan nada menyesal.
            It’s okey. Arukimasho[11]! Nggak jauh kan?” ajakku.
            Chikai desu[12], kita bisa jalan-jalan sambil menikmati cuaca sore ini. Kamu sudah cek ramalan hari ini, kan?” balas Kenji sambil mengiringi jalan di sampingnya.
            “Iya sudah,“ sahutku. “Cuaca sangat mendukung. Mantap!”  lanjutku membuat kening Kenji berkerut. Sepertinya ia tidak begitu paham maksudku.
            Angin lembut memainkan anak rambutku yang menjuntai dari balik topi jaket yang menutupi kepalaku. Sayang aku hanya bisa melewati bangunan segi empat transparan yang terkenal itu, dan tak bisa masuk ke sana. Ayah hanya memberiku izin beberapa jam saja untuk keluar dan menikmati cuaca indah sore ini. Tapi sore ini aku bisa menikmati pemandangan indah bunga sakura yang mulai bermekaran di sebuah taman. Aku tak segan meminta Kenji mengabadikan gambarku diantara bunga-bunga aneka warna indah itu dengan kamera analog yang kubawa. Aku tersenyum lebar dan bergaya ala model. Kenji tertawa melihat kelakuanku yang kekanak-kanakkan. Lalu aku pun meminta ia berfose diantara hujan salju yang luruh perlahan saat ranting-ranting pohon sakura kusenggol dengan tubuhku. Kenji melompat, menghindari butiran salju mengenai tubuhnya. Ia mengejarku karena tak berhasil melakukan hal yang sama padaku. Kami tertawa seperti anak kecil yang sudah lama tak bertemu dan tak ingin berpisah lagi. Setelah lelah saling kejar, kami lalu duduk di atas bangku taman yang dikelilingi pohon sakura berwarna putih kemerahan.
            “Hana… Kamu tahu, sejak pertemuan kita tahun lalu, aku tidak bisa melupakanmu,” ucap Kenji sambil menatap mataku. Di bawah alis tebal yang meliuk sempurna itu aku melihat pancaran bola yang berkilat menyejukkan.
            Aku tersentak mendengarnya. Tak kusangka obrolan singkat kami waktu itu bisa menyimpan kesan mendalam buat Kenji.
            “Bodohnya aku saat itu karena tak sempat meminta nomor teleponmu. Jadi kita bisa saling berhubungan lewat telepon, atau melalui email,” lanjutnya.
            “Aku tidak tahu, kalau saja aku tak bertemu denganmu saat itu, mungkin hari ini aku tidak akan pernah ada di sini. Kata-katamu menguatkanku. Kehilangan bukanlah sebuah perpisahan, Kenji. Tapi itu adalah cara Tuhan agar kita bisa menunjukkan cinta kita dan membalas cinta mereka yang meninggalkan kita. Kehilangan adalah cara terbaik untuk belajar lebih kuat dan tangguh dalam menghadapi hidup ini. Kamu bicara seolah umurmu lebih tua daripada aku. dan aku merasa sangat tak berguna karena sempat berpikir untuk mengakhiri hidupku. Aku tak lagi pernah merasa punya arti bagi siapapun.”
            Aku terpaku mendengar pengakuan Kenji. Kehilangan ayah dan ibu dalam waktu yang bersamaan membuat Kenji sangat terpukul. Apalagi tidak ada sanak familinya yang juga selamat, harta dan tempat tinggal pun musnah. Sejak kejadian itu Kenji tinggal bersama para pengungsi dari Fukushima yang terkena efek radiasi nulkir di daerah Iwate. Ia baru bisa bersekolah kembali setelah setahun berlalu. Tetapi trauma itu masih sulit lepas dari hidup Kenji. Dan pertemuan kami saat itu ternyata sangat berarti baginya.
            “Hana…, aku benar-benar berharap bisa terus bersamamu. Menikmati indahnya musim semi dan kuncup sakura, meramaikan karnaval selama liburan musim panas, atau berfoto-foto di bawah pemandagan momiji yang indah, dan bermain ski saat musim dingin tiba. Tapi itu tak mungkin. Kamu punya kehidupan yang nyaman bersama keluargamu di negeri katulistiwa. Sedangkan aku…,” Kenji tertunduk. Memainkan butiran saldu yang luruh lembut di lahunannya.
            “Kenji,” suaraku sedikit bergetar. Kuraih tangan cowok yang dibungkus sarung tangan lembut berwarna coklat muda itu. “Aku mungkin lupa pernah bilang apa sama kamu mengenai rasa kehilangan, perpisahan, ataupun kesedihanmu. Tapi aku melihat Kamu jauh lebih kuat melebihi bayanganmu sendiri. Sejauh ini, Kamu sudah melewati masa-masa sulit dengan sangat tegar. Aku, atau orang lain belum tentu mampu melakukannya.” Aku berusaha tersenyum, dan mencoba meresapi apa yang Kenji rasakan. Sebuah harapan dan keinginan yang entah dia ataupun aku bisa mewujudkannya. Hatiku tiba-tiba diliputi sebuah perasaan aneh. Pelan, namun pasti, rasa itu seperti merambat  melalui pembuluh darahku. Hangat menyelimuti hatiku. Aku tak tahu apakah Kenji bisa merasakan itu saat ia menatap wajahku tanpa kedip. Aku yakin, rona merah membundar di pipiku.
            “Kamu baru enam belas tahun, sedangkan aku dua tahun lebih tua darimu. Tapi pemikiranmu sudah sangat matang. Aku malu sekaligus salut sama kamu, Hana,” desisnya tulus.
            Aku semakin yakin kalau kini pipiku lebih merah daripada sebelumnya, sebab perasaan panas kembali bergelora di dada ini. Kata-kata Kenji ibarat pujian, rayuan, atau entah istilah apa yang tepat, yang telah membuatku terbuai. Bunga sakura dan rinai salju yang turun menjadi saksi rasa ini. Senyum dan tatap mata Kenji seketika membuat dadaku bergemuruh hebat. Tak pernah aku merasakan semua ini saat aku bersama cowok lain. Aku takut. Aku takut malah membuatnya merasakan kembali kehilangan itu. Atau justru aku yang kini akan merasakannya?
*
            Kenji masih mematung memandangku. Tatap matanya yang sayu dihias senyum sangat menawannya, sungguh menghanyutkanku. Aku tak tahu apakah keindahan bunga sakura di musim semi bisa mengalahkan binar lembut dan senyum merekah di wajah Kenji.
            “Jangan melihatku seperti itu dong,” pintaku tak kuasa menahan malu karena tingkah Kenji selama di taman tadi. Aku merapatkan jaketku, berharap dingin tak lagi mengusikku.
            “Terus terang, aku tak ingin kamu pulang besok. Dan aku tak mau menunggu setahun lagi agar bisa bertemu dengamu,” ucapnya lirih. Bibir tipisnya yang merah bergetar. “ Kimi ga daisuki desu [13], Hana-chan.”
            Dalam sepersekian detik, jantungku berhenti berdetak saat Kenji mengutarakan kalimat itu. Kimi ga daisuki? Apakah ia benar-benar menyukaiku? Apakah ia hanya menebak-nebak perasaanku padanya saja? Aku juga suka sama kamu Kenji. Aku tak tahu apakah makna ‘suka’ sama dalamnya dengan makna ‘cinta’ yang kurasakan? Ini di Jepang, Hana, hatiku berbisik. Tak akan ada cowok yang menyatakan cinta padamu sampai ia benar-benar yakin kamulah yang akan ia jadikan pendamping dalam hidupnya. Tak aka nada aishiteru[14], karena untuk remaja yang sedang dimabuk cinta, kimi ga daisuki atau suki deshita adalah kata-kata paling romantis buat mereka.
            Kalau saja bukan Kenji yang menyatakan sukanya duluan padaku, mungkin aku yang akan melakukannya. Apalagi jika aku dan dia satu sekolah, aku berani meminta daini[15] kedua seragam sekolahnya. Mungkin Kenji tak akan sungkan melepas kancing seragam sekolahnya dan memberikannya. Karena aku yakin dia memang menyukaiku.
            Senja di Miyagi mungkin tak akan seindah ini lagi setelah aku kembali ke Indonesia. Tapi aku janji, Kenji tak akan lagi melewati malam dan dingin seorang diri. Meskipun jauh, kami masih bisa bertukar canda dan tawa. Saling memberi gambar terbaru untuk mengobati rindu manakala kami belum tentu bisa bertemu. Mungkin tahun depan aku akan kembali ke Tugu Peringatan Tsunami di Miyagi dan bertemu dengan Kenji, lalu berjalan-jalan mengitari Sendai Mediatheque dan menikmati setiap karya seni spektakuler yang dipajang di sana. Atau saling lempar butiran salju yang berguguran menerpa wajah dan tubuh masing-masing. Tertawa dan kembali menyatakan suka satu sama lain. Dan merasakan kembali debar-debar indah saat Kenji menyatakan sukanya padaku.
            Atau… mungkin Kenji yang jutru berkunjung ke Indonesia. Ke Dago Bandung dan menikmati minuman hangat dari jahe di sana bersamaku. Aku akan menyuapinya jagung bakar yang sudah dilumuri saus pedas hingga membuat mata indah Kenji mengerjap-ngerjap kepedasan. Tapi sejujurnya, aku ingin kembali ke Miyagi, menikmati indahnya suara Kenji saat bilang Kimi ga daisuki.
*




[1] Chichi = Ayah
[2] Haha = Ibu
[3] Obaasan = Nenek
[4] Hari Ekuinoks = Hari libur resmi di Jepang yang di rayakan pada 20 Maret atau 21 Maret untuk Musim Semi, dan tanggal 23 September untuk Musim Gugur sebagai ucapan rasa syukur kepada Tuhan
[5] Shunki Higan-e = Higan (Ziarah) Musim Semi  ke makam-makam para leluhur
[6] Okaasan = Kakek
[7] Botamochi = Makanan yang terbuat dari beras ketan dan selai kacang merah yang dijadikan sebagai sajen untuk acara higan
[8] Hansamuna = Tampan
[9] Genki desu ka? = Apa kabar?
[10] Shibaraku deshita!=Sudah lama, ya tak bertemu!
[11] Arukimasho = Ayo kita jalan
[12] Chikai desu = dekat
[13] Kimi ga daisuki desu = aku suka sama kamu
[14] Aishiteru =   aku cinta padamu
[15] Daini = Kancing