Selasa, 20 Maret 2012

Puisi-puisiku Tentang Cinta yang Tak Pernah Meminta

CINTA TAK KASAT MATA
Kamiluddin Azis

Cinta tersampaikan melalui aliran udara,
Melalui rongga-rongga tanah
Melalui desiran air di tiap buih ombak
Dan riak sungai pada muara
Cinta tak perlu bahasa
Kata, puja ataupun rayuan
Cinta hanya perlu sehalus sentuhan
Setulus senyum
Dan setitik pengabdian
Cinta hanya terjamah oleh perasaan yang sama
Cinta hanya terukir dalam hati yang sama
Cinta hanya bermuara pada samudera yang sama
Ketika cinta bertebaran bak kunang-kunang di sekitar kita
Ke mana kita mengikuti arah cahayanya
Ketika cinta bersembunyi seperti kepik
yang hanya terdengar kepaknya
Ke mana kita akan mencari
Cinta tak kasat mata
Kita hanya perlu sedikit merasa.

Sebuah cuplikan dari cerpenku berjudul 'Invisible Love'

 
KE MANA KUCARI


Belasan kali kau genggam jemari  ini
Hingga lentik ditelan kaku biru
Belasan kali kau kecup bibir ini
Hingga bisu, kelu
Lalu kau abaikan semua
Yang pernah singgah
Berlalu seolah tiada makna
Belasan kali kucari
Belasan tahun ku menanti
Jawaban
Di mana dirimu
Belasan kali kau nikmati malamku
Usir sepi yang menggelayut hari
Belasan hari kau raba setiap jengkal hidupku
Usir sedu yang menggundah gulanaku
Gerayangi perih yang mengiris setiap rintihku
Aku, belasan kali sudah mencoba
Melupakan
Lari dan menjauh
Tetapi belasan kali pula
Aku mencari
Kemana
Entah di mana


Bandung, 21 Oktober 2009





BUKAN UNTUKKU
 Kamiluddin Azis

Aku terpaku karena indah kelopak matamu
Cinta kan mekar di setiap kedipmu
Seolah itu adalah desir
Yang menyatukan serbuk dengan putik sari
Aku mematung karena ranum bunga bibirmu
Cinta kan tumbuh setiap ulasmu
Seolah itu adalah pupuk
Yang menyuburkan setiap benih
Tapi adakah cinta, benih, desir, pupuk itu untukku?
Cinta tidak tumbuh dari genggam inginku

Aku mematung berharap Kau diam
Dalam tatapku
Aku terpaku menanti Kau diam
Dalam harapku
Tapi adakah diam, harap, tatap atau penantian itu
Untukku?
Cinta tidak tumbuh dari belai harapku

Kiranya
Tuhan sedang bermain dengan rasa ini
Mungkin
Tuhan sedang bermain-main
dengan ingin ini
Ternyata Tuhan
Memang sedang mempermainkan harap ini
Dan Kau
Memang bukan untukku

 
ADAKAH CINTA
 Kamiluddin Azis

Saat jemari mencoba menjalin
Merengkuh sampai kukuh
Mengikat sampai kuat
Usah kau lepas biar kokoh cinta ini
Saat napas berburu
Berbagi sampai sisi
Berpagut sampai paut
Usah kau tepis biar lekat cinta ini
Adakah cinta
Saat kau tepis, saat kau lepas
Setiap Rengkuh, setiap ikat
Setiap pagut sampai paut
Adakah cinta
Saat napas ini berburu
Sementara Kau tak mau
Berbagi semua sisi
Adakah cinta
Saat jemari merengkuh sampai kukuh
Sementara Kau enggan
Mengikatnya hingga kuat
Adakah cinta
Kurangkul saat kau lepas
Adakah cinta
Kudekap ketika kau hempas
Adakah aku menjalin cinta
Hingga paut
Adakah kau merasa kupatut


 
SANGGUPKAH CINTA
 Kamiluddin Azis

Saat cinta kuasai jiwa
Sanggupkah ia meredam setiap amarah
Setiap curiga
Setiap rasa takut akan kehilangan
Ketika cinta butakan mata
Mampukah ia meraba kala kulit ini berubah renta
Kering, bersisik
Membungkus tulang belulang tak berdaya
Manakala cinta bergelora
Kuatkah ia menatap cekung mata ini
Legam raut ini
Seok langkah lela ini
Tertatih berharap cinta kan setia
Ketika cinta meresap ke dalam relung
Mengalir dalam darah dan denyut yang sama
Sanggupkah cinta
Menerima semua adanya



KUTUNGGU KAMU DI PARIS VAN JAVA
Kamiluddin Azis

Habis sudah sabarku
Mengikis penantian, mengharap setia
Pada janji
Hadirmu memecutku
Membuatku terbirit hingga sampai
Sementara yang lain masih mematung
Lalu  kau kalungiku medali kemenangan
Tapi hati tak bisa bohong
Seperti Kamu yang setia
Pada janji
Aku pasti ada di sana
Di Paris Van Java
Kubawa semua yang sudah Kau tulis
Semua mimpi yang mungkin bisa
Semua harap yang mungkin nyata
Dan bila begitu nyata
Mencinta dan mendamba dirimu yang maya
Walau ternyata Kau memang tak ada
Atau adakah,
Tetapi tak nyata?
Kenapa semua lalu beralih kecewa
Dirimu yang kasat, membuatku netra
Tuli ragaku saat kutahu
Kau bukan untukku
Walau lama tlah kutunggu
Saat kita tuk bertemu
Di Paris Van Java


Jumat, 16 Maret 2012

Perfume

Pembunuh tak Berbau

Sebaiknya kamu baca dulu sinopsis cerita di balik buku ini, sebelum benar-benar siap membaca keseluruhan cerita menegangkan dalam novel ini.


Seorang pembunuh genius,
aroma perawan,
dan parfum terbaik...

PERFUME

 
Pembunuhan berantai yang misterius. Dua puluh lima gadis perawan tewas mengenaskan. Pakaian beserta rambut dan kulit kepala mereka hilang. Tubuh mereka benar-benar layu, seolah tak pernah hidup sebelumnya. Seakan seluruh daya hidup yang pernah ada telah terisap tak bersisa. Semua pembunuhan identik. Dilakukan dengan amat rapi dan terencana. Masterpiece seorang seniman genius.
Jean-Baptiste Grenouille lahir tanpa bau tubuh namun memiliki indra penciuman yang luar biasa. Ia mampu memilah-milah seluruh bau yang ada. Dari seorang ahli parfum ternama, ia mewarisi seni meramu berbagai minyak dan tumbuhan. Namun kegeniusan Grenouille melampaui itu semua. Setelah “menangkap” aroma seorang perawan cantik, ia terobsesi untuk menciptakan ‘parfum terbaik’ beraroma perawan!

Dituturkan dengan amat brilian, Perfume adalah kisah yang sungguh memikat tentang pembunuhan dan kegeniusan yang menyimpang. Novel bestseller yang eksotis dan sensasional ini membangkitkan rasa penasaran yang menakutkan tentang apa yang terjadi ketika bakat, hasrat, dan kecenderungan seseorang akan bau dan aroma mengubahnya menjadi seorang pembunuh. Membunuh demi ‘parfum terbaik’.


Kamu juga bisa menonton filmnya yang juga sama serunya. Visualisasi terhadap isi cerita dalam novel sangat riil. Penggambaran secara detail membuat filmnya menjadi pelengkap referensi cerita yang lebih tegang dalam novelnya.

Minggu, 11 Maret 2012

JANJI ANNISA : #6 Janji Annisa

6
JANJI ANISSA
            Anissa duduk di sebuah bangku yang dibuat khusus untuk para penunggu pasien. Di sana duduk juga beberapa orang yang juga sedang menunggu giliran besuk. Ada anak kecil kira-kira berumur lima tahun yang dijaga seorang nenek, duduk sambil memainkan mobil-mobilannya. Anak itu pasti tidak diperbolehkan masuk ke dalam rumah sakit meskipun yang sakit itu ibunya. Peraturan di rumah sakit memang biasanya begitu. Anak di bawah umur 10 tahun dilarang masuk.
            Anak itu mulai merengek. Mungkin ia bosan duduk dan bermain sendiri. Mungkin ia kangen dengan ibunya dan ingin bermain bersama seperti biasa mereka lakukan di rumah. Tanpa disadari Anissa tiba-tiba kangen kepada ibu dan keluarganya. Ia juga jadi sangat kangen dengan Nafissa, adik kecilnya yang jarang sekali diajaknya bermain. Setetes air bergulir di mata Anissa.
            Rumah sakit itu memang cukup besar. Di sore menjelang malam ini banyak dokter danpetugas rumah sakit yang berjalan tergesa-gesa, menimbulkan perasaan cemas setiap orang yang memperhatikannya. Ada apa gerangan, selalu pertanyaan itu yang terlintas di benak para penunggu pasien yang berada di luar kamar. Tidak jarang roda dan ranjang berdecit didorong oleh petugas medis dan membawa pasien kritis ke ruang gawat darurat. Anissa miris sekali melihat darah mengucur dari kening, kaki atau tangan pasien yang baru datang. Mungkin mereka adalah korban kecelakaan seperti Ridwan kakaknya.
            Jantung Anissa berdegup kencang setiap kali mengingat kejadian yang bisa saja merenggut nyawanya dan mungkin kakakkya juga. Ya Allah, tolong selamatkan kak Ridwan. Tolong ya Allah, hamba mohon. Ini semua salah hamba ya Allah, tapi selamatkanlah Kak Ridwan. Hati Anissa terus berdoa dan menyesali semua perbuatannya.
            Dari jauh terdengar suara langkah kaki setengah berlari. Ketak-ketuk membuat jantung Anissa kembalu bergetar. Ada apa lagi nih?
            “Nissa….” Suara berat itu muncul dari balik kelokan koridor rumah sakit.
            “Ayah…” Seketika Anissa berdiri dan menghambur memeluk seorang lelaki setengah baya dengan raut muka yang sangat cemas.
            “Kamu tidak apa-apa, Nak?” tanya ayah Anissa.
            Anissa menggeleng, isak tangisnya meledak. “Kak Ridwan, Ayah…” seguk Anissa.
            “Kamu sih nggak bisa diatur,” tanpa tedeng aling-aling suara mama membuat dunia serasa runtuh di mata Anissa.                       
            Anissa menatap ibunya dengan perasaan tersudut.
            “Sudahlah, Ma.. ini semua kan kecelakaan, siapa sih yang mau mengalami kejadian seperti ini?” tanya ayah retoris.
            “Ibu benar, Ayah. Ini semua salah Anissa. Anissa menyesal. Sangat menyesal. Anissa minta maaf Ayah, Ibu.”
            “Iya, Nak. Sekarang gimana kabar kakak Kamu?” balas ayah tidak mau memperpanjang permasalahan.
            Ibu meninggalkan ayah dan Anissa untuk mencari tahu di mana Ridwan dirawat. Seorang petugas medis memberitahu ibu dan ibu segera mengajak ayah dan Anissa untuk melihat kondisi Ridwan.
            Dalam ruangan ICU Ridwan tampak masih dalam keadaan koma. Detak jantungnya yang terlihat di monitor stabil. Melihat selang inpus dan oksigen yang membelit tubuh Ridwan ibu tidak kuasa menagan tangisnya. Ia menangis sejadinya-jadinya di pelukan ayah. Anissa memberi  kedua orang tuanya waktu untuk bersama. Ia meninggalkan mereka mencari tempat untuk melampiaskan rasa sedih dan rasa bersalahnya yang sangat dalam.
*
            “Kalau sudah begini siapa yang akan disalahkan?” di sela tangisnya ibu bertanya dengan galau.
            Ayah menggenggam tangan ibu. “Tidak ada yang bisa disalahkan. Semua ini kehendak Allah.”
            “Tapi Anissa itu selalu membuat masalah, Yah. Harusnya kita kirim dia ke pesantren saja. Ibu sudah tidak tahan dengan kelakuan Anissa.”
            Anissa mendengar percakapan itu dengan perasaan tidak menentu. Apakah ibunya sudah tidak menyayangi dirinya lagi dan lebih mengkhawatrikan kakaknya yang sedang berbaring sakit dan Anissa yang sedang merasa bersedih dan menyesal kemudian tidak menjadi berarti. Keinginan ibu untuk mengirim Anissa ke pesantren bukan saja mengagetkan Anissa, tetapi Anissa merasa ibunya sudah sangat putus asa dalam mendidik Anissa. Anissa berpikir mungkin saatnya bagi dia untuk berubah.
            Ya, berubah. Tapi bagaimana caranya. Anissa sudah sangat menyesal dan Anissa juga sudah minta maaf. Tapi penyesalan dan rasa maaf itu tidak akan mengembalikan Ridwan menjadi sedia kala. Ia masih saja berbaring dan mungkin besok lusa ia akan memiliki bekas luka tabrak lari. Mungkin kakinya bengkok atau ia tidak bisa berjalan lagi. Anissa semakin sedih membayangkan semua itu.
            Perlahan Anissa menghampiri ibu dan ayahnya. Ia mencoba mencari perhatian dengan duduk di samping ayahnya dan memegang ujung baju ayahnya.
            Ayah mengangkat Anissa dan mendudukkannya di paha ayah. Wajahnya yang sudah tidak tegang lagi, tampak sangat berwibawa. Anissa sudah lama tidak melihat wajah ayahnya dari dekat. Ayah tampak semakin tua, tetapi semakin kelihatan tampan dan bijak.
            “Anissa minta maaf Ayah,” Anissa mendahului ayahnya untuk bicara. Ia ingin segera mengungkapkan perasaannya sebelum ayah dan ibunya memarahi dan menghukum dirinya. Bukan ia takut dengan hukuman yang akan diberikan, tapi ia ingin merasa lega dengan melepas beban yang  sedari tadi ia pikul. “Anissa janji akan merawat Kak Ridwan sampai sembuh. Dan Anissa juga berjanji akan menurut apa kata ayah sama ibu.”
            “Dari dulu juga Nissa selalu janji, tapi tidak pernah Nissa tepati. Ibu udah capek, Nissa.” keluh ibu. Di balik wajah marahnya sebenarnya tersimpan perasaan sayang yang sangat dalam terhadap Anissa. Ia juga tidak ingin Anissa mengalami kejadian yang tidak diinginkan. Ibu tidak dapat membayangkan kalau Anissa juga mengalami kecelakaan yang sama dengan Ridwan.
            Anissa menangis di pelukan ayahnya. Ia merasa ibu belum siap menerima permintaan maafnya. Anissa sedih karena ibunya sudah tidak sayang lagi pada dirinya.
            Malam semakin larut. Ayah menyuruh ibu dan Anissa untuk pulang saja. Biar ayah yang menunggu Ridwan di rumah sakit. Akhirnya ibu dan Anissa pun pulang ke rumah.
            Ketika sampai di rumah Ibu masih saja memperlihatkan kemarahannya. Ia tidak menegur Anissa sampai mereka berpisah untuk tidur di kamar masing-masing. Sepanjang malam Anissa menangis dan memikirkan bagaimana caranya supaya ia bisa membuat ibu memaafkan dirinya. Ia tidak mungkin menunggui Ridwan di rumah sakit seperti tekadnya itu karena peraturan rumah sakit tidak memperbolehkannya dan ayah juga tidak mungkin mengizinkan hal itu. Tapi ia juga tidak tahu kapan  Ridwan akan pulang sehingga ia bisa membantu merawat kakaknya di rumah. Ia tidak tahan melihat sikap ibu seperti itu. Dan mungkin akan tetap seperti itu karena ibu sangat marah pada Anissa.
            Anissa tidak dapat membayangkan apakah ia bisa hidup dengan ibu yang masih marah dan belum bisa memaafkan dirinya karena semua kejadian ini. Anissa akan sangat sedih jika besok dan lusa atau malah mungkin setelah Kak ridwan pulang pun ibu masih saja seperti ini.
            Sementara itu di dalam kamar ibu, ibu sedang menunaikan sholat malam. Ia menangis dalam doanya. Ya Allah sembuhkanlah anak hamba, jangan sampai rasa sakit membuat ia menderita. Kalau saja bisa ditukar, biarlah hamba saja yang mengalami semua ini. Ya Allah jadikan anak-anak hamba, anak-anak yang sholeh, sholehah. Jadikan Anissa anak yang menurut kepada kami orang tuanya. Jauhkan ia dari marabahaya yang mengancamnya. Ampuni kesalahannya, Ya Allah. Ampuni kesalahan hamba dan keluarga hamba… Amin….
            Ibu baru melepas mukena setelah membaca dzikir dan doa-doanya sambil menangis. Matanya sembab, suaranya parau dan napasnya menjadi berat. Ia teringat akan Anissa, apakah ia sudah makan tadi sore. Ibu tidak sempat menanyakan hal itu. Ia masih sangat shock denagn kejadian yang menimpa Ridwan. Ibu memang kecewa dengan Anissa. Ia juga marah karena Anissa sulit sekali diatur. Tapi setelah hati ibu tenang, ibu merasa menyesal telah berlaku seperti itu pada Anissa.
Ibu berjalan perlahan menuju kamar Anissa. Tampak Anissa sudah tertidur pulas. Matanya juga sembab seperti mata Ibu. Bahkan Anissa masih menyimpan segukan di sela tidurnya. Ibu mengusap kepala Anissa dan membisikkan doa untuk anaknya. Lalu ibu mengecup kening Anissa dan meninggalkannya sendirian.
*
BERSAMBUNG KE #7

Lihat Cerita sebelumnya :

Sabtu, 10 Maret 2012

Puisi di Ruang Tunggu

oleh Kamiluddin Azis pada 10 Maret 2012 pukul 19:28


RINDU
Kamiluddin Azis


Berapa jam aku menunggumu
di sini
di depan ruang bedah
saat kau lepas sadarmu
demi buah hati kita
yang tak sabar bersua?
Hanya 3 jam sekian menit,
aku tersiksa di ruang tunggu
jauh dari tatapmu yang kuatkan hati
jauh dari senyum yang teguhkan sabarku
rontokkah gelisahku
Di ruang tunggu
aku merindumu

Berapa lama kau di dalam sana
Tersiksa
dalam ruang dan waktu yang tak kau tahu
Melepas semua yang kau punya
demi buah hati kita
pelengkap sempurna bahagia
Kau, mengapa begitu lama di dalam sana
wahai Fatimah Az-zahraku.....
dan aku semakin rindu

Hanya berapa jam aku menunggu
di sini, di ruang bisu dalam gundag dan nestapa
Sementara kau telah baktikan dirimu
ratusan, bahkan ribuan jam tanpa lelah dan keluh
untuk aku dan anak-anak kita
Sementara kau pertaruhkan hidup
dengan segenap raga dan cinta
dalam tegar

Kembali rindu merayapi setiap gemeretak takutku
Aku, tidak ingin melepas tiga jam kebersamaan denganmu
dalam bisu
dan gundah yang menyiksa
Aku ingin menebus tiga jam ini
dengan jutaan jam lain
dalam bahagia
Bersamamu


Catatan :

Selama menunggu proses operasi caesar anakku yang ketiga, aku benar-benar dicekam rasa takut. Berkelebat pikiran buruk yang membuat keringatku tidak berhenti menetes. Dalam doa yang lirih kupanjatkan, aku berharap Tuhan melapangkan setiap pikiran sempit yang melintas. Memudahkan setiap kesulitan yang kami hadapi. Dan menghilangkan rasa sakit yang membuat istriku menderita.

Rasa salut sekaligus sayang semakin menebal dalam hatiku. Aku benar-benar rindu, tidak kuasa menunggu lebih lama lagi untuk memeluk dan menciumnya. Mengucapkan terima kasih dan rasa cintaku yang dalam.

Alhamdulillah , semua proses berjalan dengan lancar. Bayi laki-lakiku lahir dengan selamat. Dan 3 jam lebih kemudian aku baru bisa bertemu istriku dan berharap ia mau berbagi rasa sakit sekaligus syukurnya.


Kamis, 01 Maret 2012

Cerpen - JANG KARTA ANTER KOPER


JANG KARTA ANTER KOPER
Kamiluddin Azis


Langit biru cerah perlahan berubah warna menjadi kuning keemasan dengan bingkai merah mengelilingi bulatan matahari terbenam. Hiruk pikuk di sebuah pasar menjelang Maghrib mulai terasa. Puluhan pedagang sudah siap dengan lapak dan serbuan ratusan pembeli setia mereka. Ibu-ibu, tukang sayur keliling, pemilik warteg dan pengusaha rumah makan akan segera memadati pasar yang lebih hidup pada malam hari itu. Belum lagi tengkulak, kuli angkut barang dan tukang becak, yang menjadikan pasar itu sebagai lahan basah mereka setiap hari.
            Jang Karta, seorang tukang becak, yang lebih terkenal dengan julukan ‘Si Pengayuh Tangguh’ juga sudah siap dengan becak merah andalannya. Si Redi, becak yang selalu menjadi juara lomba atraksi becak setiap Agustusan itu tampak mengkilap dan wangi sabun cuci bersoftener. Dengan seragam kayuhnya : kemeja flanel hijau pupus dan korduray hitam lecek plus topi pelukis lepet, penampilan Jang Karta sama kerennya dengan Si Redi. Ia pun mulai menebar senyum sambil menawarkan jasa becaknya.
            “Belum beres dong, Jang, masih banyak nih,” balas seorang perempuan empat puluh lima tahunan yang kerepotan membawa belanjaan, ketika Jang Karta menawarkan angkutan becaknya.
            “Tumben nggak bawa asisten, Bu. Emang si Eneng ke mana?” tanya Jang Karta menyelidik. Si Eneng yang dimaksud adalah anak gadis Si Ibu yang biasanya diajak belanja.
            “Kapok dia diajak ke sini, habis kamu godain terus sih!” jawab Si Ibu ketus. Jang Karta hanya nyengir kuda.
            Jang Karta memang terkenal playboy cap ban gujer di kalangan sesama tukang becak seantero Bandung. Tapi karena keunikannya inilah, Jang Karta makin terkenal dan banyak pelanggannya.
            Tapi tumben, sore ini belum ada pesewa yang mau memakai jasanya. Si Pengayuh Tangguh akhirnya memilih ngisi TTS yang sengaja ia selipkan di jok penumpang. Bosan ngisi TTS karena banyak pertanyaan yang nggak nyampe di otaknya, ia lalu meraih hape China-nya sekedar untuk status di FB dan twitternya.
            “Ke Stasiun, Bang!” tiba-tiba seorang lelaki bule berbadan tinggi kekar memasukkan sebuah koper besar ke dalam becaknya.
            Jang karta tersentak karena becaknya nyaris terdorong, dan hampir saja ia jatuh dari tempatnya duduk di bagian kemudi. Tapi lelaki itu tidak peduli. Dengan tubuh raksasanya ia pun masuk, berdesak-desakan dengan koper yang ia bawa.
            “Ke stasiun, Om?” ulang Jang Karta memastikan ia tidak salah dengar.
            “Iya, bawel!” gerutu bule itu dengan logat Indonesianya yang aneh.
            Jang Karta menggaruk kepala belakangnya, perasaan baru nanya sekali, udah dibilang bawel. Gimana kalau nanya yang lainnya, seperti : where do you come from –halah estede banget, ya! atau Where are You going, Mister?, hihi, pertanyaan sederhana yang ia pelajari dari buku SMP bekas yang ia pungut dari bak sampah. Ah tapi percuma nanya pakai bahasa Inggris juga, toh bule ini sepertinya sudah fasih berbahasa Indonesia. Jang Karta pun mulai mengayuh becaknya perlahan, melawan arus kendaraan yang lewat di jalan padat itu.
            “Stop.. stop.. stop..” tiba-tiba si bule berteriak sambil menepuk-nepuk sandaran duduknya. Jang Karta seketika menghentikan becaknya.
            “Kenapa, Sir?” tanyanya panik.
            “Saya lupa. Ada yang ketinggalan. Putar balik, Bang,” perintahnya.
            Jang Karta dengan sekuat tenaga memutar balik Si Redi. Gila, berat badan nih bule berapa kwintal, ya? Untung Jang Karta sudah makan soto ayam dan minum jamu madura sebelum tempur tadi.
            Si Pengayuh Tangguh pun membawa becaknya kembali ke arah semula. Tidak lama kemudian, ia berhenti di depan sebuah hotel murah tempat si bule menginap. Si Bule pun berlari  menuju lobi hotel tanpa membawa koper besarnya, sementara Jang Karta memarkirkan becaknya di luar hotel.
            Twit.. twit.. twitt... suara klakson menjerit dari mobil di belakang Si Redi yang hendak masuk hotel. Seorang petugas keamanan dengan sigap memarkir mobil itu dan meniup pluit dengan kencang.  “Awas Ouy...” teriaknya mengusir Jang Karta supaya memindahkan posisi parkirnya yang menghalangi jalan masuk.
Jang Karta pun memindahkan becaknya menuju tempat yang lebih aman.
Sepuluh menit berlalu. Tapi Si Bule kok tidak muncul juga. Memang apa sih yang ketinggalan, sampai-sampai ia lama sekali mencarinya.
Lima belas menit. Dua puluh menit. “Ke mana Si Bule, ya? Kalau aku susul ke dalam, bisa-bisa tuh koper ada yang embat, lagi. Jang Karta terus berpikir sambil celingukan memantau setiap orang yang keluar dari hotel itu. Jangan-jangan tuh bule sebenarnya sudah keluar, tapi kebingungan nyari Si Redi karena sudah pindah tempat parkir. Waduh gawat!
Kebetulan satpam yang tadi jutek berjalan menuju kios rokok tidak jauh dari tempat Jang Karta parkir.
“Maaf, Pak, tadi Bapak lihat bule keluar hotel ini?” tanya Jang Karta.
“Bule mah banyak atuh, kang, tamu hotel ini kan kebanyakan memang bule,” jawab Pak Satpam dengan bangga sambil menyalakan rokok kreteknya.
“Maksud saya, yang badannya gede, pake kemeja putih, yang tadi turun dari becak saya?” jelas Jang Karta mencoba mengingatkan Pak Satpam.
“Oh yang itu.  Mister Adam, namanya. Dia dari Belanda, langganan tetap hotel sini, Kang. Orangnya baik banget, saya aja sering ditraktir rokok dan mie lomi, apalagi kalau....”
“Stop.... stop, eup.... sekarang dia di mana, Pak?” potong Jang Karta kesal.
“Tadi naik becak merah, katanya sih mau ke stasiun. Mau ke Jakarta dia,” jawab Pak Satpam dengan mata mendelik karena cerita serunya dipotong.
“Hah?” Jang Karta mulai panik. Terus gimana nih koper, wah bule pikun! Pekiknya dalam hati.
Dengan gesit Jang Karta menarik Si Redi dan mengayuh nya dengan kecepatan penuh, tidak peduli suara klakson bersahutan protes karena Si Redi melawan arah dan hampir bertabrakan dengan mobil yang melintas.
Di depan stasiun Bandung, Jang Karta harus berjuang lagi berdesak-desakan dengan orang-orang yang keluar masuk stasiun dengan tergesa-gesa. Sambil menenteng koper yang beratnya audzubillah itu, Ia terus berusaha mencari Mister Adam. Tapi sayang, dari tempatnya berdiri ia melihat kereta api jurusan Jakarta sudah meninggalkan stasiun.
Mesti dikemanain nih koper? Dalam keadaan lelah dan putus asa Jang Karta kembali ke Si Redi yang dengan setia menunggunya di tempat parkir.
“Kunaon, Jang? (kenapa, Jang?)” tanya seorang tukang becak tua begitu melihat Jang Karta ngos-ngosan. Ia juga memperhatikan bawaan Jang Karta. “Nu saha? (punya siapa?)” tanyanya lagi.
“Si Bule. Ketinggalan, Kang,” dengan sisa napasnya yang memburu, Jang Karta berusaha menjawab dengan jelas.
“Naon eusina? (Apa isinya?)” lanjut Pak Tua penasaran.
“Nggak tahu, Kang.”
“Buka aja, tapi kade bom! (Buka saja, tapi awas Bom!)”
Jang Karta tersentak, tidak pernah terbersit dalam ingatannya sama sekali kalau isi koper itu bom. Tidak ada yang mencurigakan. Apalagi Mister Adam keluar dari hotel murahan yang tamunya mungkin bule-bule kere juga. Kenapa ia membawa bom ke hotel sekelas itu. Biasanya kan bom dibawa ke hotel-hotel gede yang tamunya dari manca negara.
“Palingan baju, buka aja, bagi-bagi, Jang,” usul seorang tukang becak lain yang sedari tadi memperhatikan perbincangan Jang Karta dengan Pak Tua.
Jang Karta melirik tukang becak muda yang provokatif itu. “Enak aja!”
“Kade ah, boa-boa bangke! (Awas, jangan-jangan bangkai!)” celetuk tukang becak lain yang baru datang.
Deg, jantung Jang Karta berdetak hebat. Ia jadi ingat beberapa kasus mutilasi yang mayatnya dimasukan ke dalam koper dan dibuang begitu saja. Atau bawa aja kali ya ke kantor polisi supaya diperiksa. Tapi gimana kalau koper itu malah dihancurkan tim Gegana, padahal isinya belum tentu bom atau mayat. Dan kalau si Bule sialan itu ngeh kopernya ini ketinggalan di dalam becak, terus balik lagi dan mencari-cari Jang Karta. Bisa repot nih urusan.
Akhirnya Jang Karta memutuskan untuk membawa koper itu ke rumah kontrakannya.
*
Sesampainya di rumah, lelah luar biasa menghantarkan Jang Karta tidur lebih awal. Ia bahkan melewatkan pertandingan semi final Persib melawan Persija saking capainya. Dalam tidurnya Jang Karta bermimpi dikejar-kejar Mister Adam dan diminta mengganti tiket kereta pulang pergi Jakarta-Bandung. Dasar bule pelit. Salah sendiri kenapa pikun dipiara. Koper segini gedenya kok bisa-bisanya sih ketinggalan. Padahal Jang Karta sendiri sudah mencari Mister Adam kemana-mana, bahkan ia balik lagi ke hotel itu, tapi pihak hotel tidak mau menerima titipan koper dari Jang Karta karena curiga koper itu berisi bom rakitan, atau mayat yang sudah dimutilasi.
Jang Karta mengayuh becaknya dengan kecepatan the flash. Tapi si Bule raksasa masih bisa mengejarnya dengan kekuatan super yang ia miliki. Bahkan aksi kejar-kejaran itu menyebabkan jalanan macet karena beberapa kendaraan bertabrakan menghindari super becak dan super bule itu. Pak Polisi dibantu satpam hotel berusaha mengatur kendaraan yang terlanjur berseliweran tak tentu arah. Suara pluit berbalasan dengan jerit klakson kendaraan.
Crowded city, pokoknya.
Lalu koper yang ada di dalam Si Redi terpelanting sampai puluhan meter jauhnya. Sebuah truk menabrak koper itu sehingga koper itu kembali melayang. Isi koper berhamburan. Ribuan lembar uang berterbangan. “Hujan duit......” teriak orang-orang serentak sambil berlarian menuju jalan raya tempat uang itu berjatuhan.
“Dolar... dolar... dolar.... “ pekik mereka kegirangan. Suasana menjadi semakin riuh karena hampir semua pengemudi mobil keluar dan bergabung berebut uang kertas yang dikiranya datang dari langit itu. Tiba-tiba sebuah benda menimpa tubuh The Bule Flash, dan membuat bule berbobot banteng itu juntai. Ternyata benda itu adalah koper yang terpelanting berbalik arah gara-gara tertabrak truk tadi.
Si Bule nahas itu pingsan. Tapi lebih nahas lagi, sama sekali tidak ada orang yang mau menolongnya. Semuanya sibuk berburu uang yang berhamburan. Ratusan ribu dolar melayang ke segala penjuru. Bahkan pedagang kaki lima saja mendapatkan rezeki nomplok itu. Beberapa diantaranya bahkan tidak puas dan meninggalkan roda dagangan mereka untuk mengais rezeki yang lebih besar ke tengah jalan raya yang sudah padat dipenuhi para pemburu dolar dadakan.
Si Redi berhenti. Jang Karta sama sekali tidak tega melihat tubuh gempal Mister Adam tergolek tak berdaya di pinggir jalan raya. Ia pun menghampirinya dan mencoba membangunkan Mister Adam dengan menepuk-nepuk pipinya. Tapi kok aneh ya, begitu ia memukul pipi Mister Adam, malah pipinya sendiri yang berasa sakit. Ia lalu menepuk pipi Mister Adam lebih keras, dan pipinya sendiri berasa lebih perih. Lalu dengan sekali tampar, ia terbangun.
“Jang.... ada tamu tuh!” teriak seorang tetangga yang entah dari mana datangnya tiba-tiba sudah ada di kamar Jang Karta.
“Euh... ngigau segala, bikin warga panik aja!” protesnya, membuat Jang Karta sadar kalau mimpinya tadi begitu heboh.
“Kenapa, Kang?” tanya Jang Karta belum loading sepenuhnya.
“Tamu!” bentaknya sengau. Ia terpaksa masuk ke rumah Jang Karta yang tidak dikunci, karena ada tamu yang sedari tadi mengetuk pintu kontrakan Jang Karta tetapi yang punya rumah malah teriak-teriak kayak kerasukan setan.
Di sela kantuknya Jang Karta berjalan menuju pintu. Jangan-jangan tamunya itu Si Bule Adam yang nyari koper itu? Atau gimana kalau polisi yang menyangka ia telah mencuri koper itu. Waduh, tambah berabe nih urusan. “Siapa tamunya, Kang?” bisik Jang Karta dengan muka parno.
“Teuing. Awewe, geulis! (tauk! Cewek. Cantik!)”
Jang Karta menghela napas lega. Apalagi begitu ia membuka pintu, teryata yang muncul adalah Saripah, pramuniaga yang kerja di toko klontong Babah Akiong, yang pernah dipacarinya tahun lalu.
“Eh, Neng Ipah, ada apa ya?” tanya Jang Karta gelagapan.
Saripah tersipu. “Neng, mau ambil koper, Kang,”” jawabnya.
“Koper?” tanya Jang Karta heran.
“Iya, Kang, koper Neng ketuker sama koper bule yang tadi sore belanja di toko Babah Akiong,” jelasnya lagi.
“Kok bisa?” Jang Karta tambah bingung.
“Jadi gini ceritanya, Kang. Tadi sore ada bule belanja di Babah Akiong. Ia bawa koper yang kebetulan sama dengan yang Neng bawa. Rencananya Neng mau pulang kampung dulu. Waktu Neng pamitan, koper itu Neng disimpan di luar dekat pintu. Pas Neng balik lagi, ternyata kopernya sudah ketuker.”
“Terus koper tuh bule di mana sekarang?”
“Sudah dibawa lagi sama bule tadi. Katanya, ia tadi naik becak yang ciri-cirinya seperti Si Redi, begitu ngeh kopernya tertukar, ia buru-buru balik lagi ke hotel mengira kalau kopernya tertukar dengan tamu lain. Setelah diingat-ingat ia baru sadar kalau kopernya tertukar waktu belanja di toko Babah Akiong. Tapi karena buru-buru koper Neng yang tertukar  itu ia tinggalin dalam becak Akang, dan nyuruh Neng untuk mengambilnya sendiri.” Saripah menjelaskan kronologis kejadian tertukarnya koper itu dengan gambling.
“Haduh, Neng, hampir saya mati lemes gara-gara koper ini” Jang Karta menggaruk bagian belakang kepalanya. Lega rasanya mendengar penjelasan Saripah. “Terus isinya apa nih, Neng?” ia iseng menyelidik.
“Baju bekas, Kang. Sisa import. Neng beli banyak buat dibagi-bagikan di kampung, lumayan,” jawab Saripah tersipu lagi.
Glek. Jang Karta menelan ludah, antara kecewa, sekaligus lega. Sebenarnya Ia berharap koper ini adalah koper Mister Adam yang berisi dolar.
Akhirnya Jang Karta anter koper itu ke terminal bis antar kota bersama Saripah dan sisa cinta yang tidak kesampaian. Beu... apa coba?! ****