Tampilkan postingan dengan label Novel Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel Anak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2012

JANJI ANNISA : #6 Janji Annisa

6
JANJI ANISSA
            Anissa duduk di sebuah bangku yang dibuat khusus untuk para penunggu pasien. Di sana duduk juga beberapa orang yang juga sedang menunggu giliran besuk. Ada anak kecil kira-kira berumur lima tahun yang dijaga seorang nenek, duduk sambil memainkan mobil-mobilannya. Anak itu pasti tidak diperbolehkan masuk ke dalam rumah sakit meskipun yang sakit itu ibunya. Peraturan di rumah sakit memang biasanya begitu. Anak di bawah umur 10 tahun dilarang masuk.
            Anak itu mulai merengek. Mungkin ia bosan duduk dan bermain sendiri. Mungkin ia kangen dengan ibunya dan ingin bermain bersama seperti biasa mereka lakukan di rumah. Tanpa disadari Anissa tiba-tiba kangen kepada ibu dan keluarganya. Ia juga jadi sangat kangen dengan Nafissa, adik kecilnya yang jarang sekali diajaknya bermain. Setetes air bergulir di mata Anissa.
            Rumah sakit itu memang cukup besar. Di sore menjelang malam ini banyak dokter danpetugas rumah sakit yang berjalan tergesa-gesa, menimbulkan perasaan cemas setiap orang yang memperhatikannya. Ada apa gerangan, selalu pertanyaan itu yang terlintas di benak para penunggu pasien yang berada di luar kamar. Tidak jarang roda dan ranjang berdecit didorong oleh petugas medis dan membawa pasien kritis ke ruang gawat darurat. Anissa miris sekali melihat darah mengucur dari kening, kaki atau tangan pasien yang baru datang. Mungkin mereka adalah korban kecelakaan seperti Ridwan kakaknya.
            Jantung Anissa berdegup kencang setiap kali mengingat kejadian yang bisa saja merenggut nyawanya dan mungkin kakakkya juga. Ya Allah, tolong selamatkan kak Ridwan. Tolong ya Allah, hamba mohon. Ini semua salah hamba ya Allah, tapi selamatkanlah Kak Ridwan. Hati Anissa terus berdoa dan menyesali semua perbuatannya.
            Dari jauh terdengar suara langkah kaki setengah berlari. Ketak-ketuk membuat jantung Anissa kembalu bergetar. Ada apa lagi nih?
            “Nissa….” Suara berat itu muncul dari balik kelokan koridor rumah sakit.
            “Ayah…” Seketika Anissa berdiri dan menghambur memeluk seorang lelaki setengah baya dengan raut muka yang sangat cemas.
            “Kamu tidak apa-apa, Nak?” tanya ayah Anissa.
            Anissa menggeleng, isak tangisnya meledak. “Kak Ridwan, Ayah…” seguk Anissa.
            “Kamu sih nggak bisa diatur,” tanpa tedeng aling-aling suara mama membuat dunia serasa runtuh di mata Anissa.                       
            Anissa menatap ibunya dengan perasaan tersudut.
            “Sudahlah, Ma.. ini semua kan kecelakaan, siapa sih yang mau mengalami kejadian seperti ini?” tanya ayah retoris.
            “Ibu benar, Ayah. Ini semua salah Anissa. Anissa menyesal. Sangat menyesal. Anissa minta maaf Ayah, Ibu.”
            “Iya, Nak. Sekarang gimana kabar kakak Kamu?” balas ayah tidak mau memperpanjang permasalahan.
            Ibu meninggalkan ayah dan Anissa untuk mencari tahu di mana Ridwan dirawat. Seorang petugas medis memberitahu ibu dan ibu segera mengajak ayah dan Anissa untuk melihat kondisi Ridwan.
            Dalam ruangan ICU Ridwan tampak masih dalam keadaan koma. Detak jantungnya yang terlihat di monitor stabil. Melihat selang inpus dan oksigen yang membelit tubuh Ridwan ibu tidak kuasa menagan tangisnya. Ia menangis sejadinya-jadinya di pelukan ayah. Anissa memberi  kedua orang tuanya waktu untuk bersama. Ia meninggalkan mereka mencari tempat untuk melampiaskan rasa sedih dan rasa bersalahnya yang sangat dalam.
*
            “Kalau sudah begini siapa yang akan disalahkan?” di sela tangisnya ibu bertanya dengan galau.
            Ayah menggenggam tangan ibu. “Tidak ada yang bisa disalahkan. Semua ini kehendak Allah.”
            “Tapi Anissa itu selalu membuat masalah, Yah. Harusnya kita kirim dia ke pesantren saja. Ibu sudah tidak tahan dengan kelakuan Anissa.”
            Anissa mendengar percakapan itu dengan perasaan tidak menentu. Apakah ibunya sudah tidak menyayangi dirinya lagi dan lebih mengkhawatrikan kakaknya yang sedang berbaring sakit dan Anissa yang sedang merasa bersedih dan menyesal kemudian tidak menjadi berarti. Keinginan ibu untuk mengirim Anissa ke pesantren bukan saja mengagetkan Anissa, tetapi Anissa merasa ibunya sudah sangat putus asa dalam mendidik Anissa. Anissa berpikir mungkin saatnya bagi dia untuk berubah.
            Ya, berubah. Tapi bagaimana caranya. Anissa sudah sangat menyesal dan Anissa juga sudah minta maaf. Tapi penyesalan dan rasa maaf itu tidak akan mengembalikan Ridwan menjadi sedia kala. Ia masih saja berbaring dan mungkin besok lusa ia akan memiliki bekas luka tabrak lari. Mungkin kakinya bengkok atau ia tidak bisa berjalan lagi. Anissa semakin sedih membayangkan semua itu.
            Perlahan Anissa menghampiri ibu dan ayahnya. Ia mencoba mencari perhatian dengan duduk di samping ayahnya dan memegang ujung baju ayahnya.
            Ayah mengangkat Anissa dan mendudukkannya di paha ayah. Wajahnya yang sudah tidak tegang lagi, tampak sangat berwibawa. Anissa sudah lama tidak melihat wajah ayahnya dari dekat. Ayah tampak semakin tua, tetapi semakin kelihatan tampan dan bijak.
            “Anissa minta maaf Ayah,” Anissa mendahului ayahnya untuk bicara. Ia ingin segera mengungkapkan perasaannya sebelum ayah dan ibunya memarahi dan menghukum dirinya. Bukan ia takut dengan hukuman yang akan diberikan, tapi ia ingin merasa lega dengan melepas beban yang  sedari tadi ia pikul. “Anissa janji akan merawat Kak Ridwan sampai sembuh. Dan Anissa juga berjanji akan menurut apa kata ayah sama ibu.”
            “Dari dulu juga Nissa selalu janji, tapi tidak pernah Nissa tepati. Ibu udah capek, Nissa.” keluh ibu. Di balik wajah marahnya sebenarnya tersimpan perasaan sayang yang sangat dalam terhadap Anissa. Ia juga tidak ingin Anissa mengalami kejadian yang tidak diinginkan. Ibu tidak dapat membayangkan kalau Anissa juga mengalami kecelakaan yang sama dengan Ridwan.
            Anissa menangis di pelukan ayahnya. Ia merasa ibu belum siap menerima permintaan maafnya. Anissa sedih karena ibunya sudah tidak sayang lagi pada dirinya.
            Malam semakin larut. Ayah menyuruh ibu dan Anissa untuk pulang saja. Biar ayah yang menunggu Ridwan di rumah sakit. Akhirnya ibu dan Anissa pun pulang ke rumah.
            Ketika sampai di rumah Ibu masih saja memperlihatkan kemarahannya. Ia tidak menegur Anissa sampai mereka berpisah untuk tidur di kamar masing-masing. Sepanjang malam Anissa menangis dan memikirkan bagaimana caranya supaya ia bisa membuat ibu memaafkan dirinya. Ia tidak mungkin menunggui Ridwan di rumah sakit seperti tekadnya itu karena peraturan rumah sakit tidak memperbolehkannya dan ayah juga tidak mungkin mengizinkan hal itu. Tapi ia juga tidak tahu kapan  Ridwan akan pulang sehingga ia bisa membantu merawat kakaknya di rumah. Ia tidak tahan melihat sikap ibu seperti itu. Dan mungkin akan tetap seperti itu karena ibu sangat marah pada Anissa.
            Anissa tidak dapat membayangkan apakah ia bisa hidup dengan ibu yang masih marah dan belum bisa memaafkan dirinya karena semua kejadian ini. Anissa akan sangat sedih jika besok dan lusa atau malah mungkin setelah Kak ridwan pulang pun ibu masih saja seperti ini.
            Sementara itu di dalam kamar ibu, ibu sedang menunaikan sholat malam. Ia menangis dalam doanya. Ya Allah sembuhkanlah anak hamba, jangan sampai rasa sakit membuat ia menderita. Kalau saja bisa ditukar, biarlah hamba saja yang mengalami semua ini. Ya Allah jadikan anak-anak hamba, anak-anak yang sholeh, sholehah. Jadikan Anissa anak yang menurut kepada kami orang tuanya. Jauhkan ia dari marabahaya yang mengancamnya. Ampuni kesalahannya, Ya Allah. Ampuni kesalahan hamba dan keluarga hamba… Amin….
            Ibu baru melepas mukena setelah membaca dzikir dan doa-doanya sambil menangis. Matanya sembab, suaranya parau dan napasnya menjadi berat. Ia teringat akan Anissa, apakah ia sudah makan tadi sore. Ibu tidak sempat menanyakan hal itu. Ia masih sangat shock denagn kejadian yang menimpa Ridwan. Ibu memang kecewa dengan Anissa. Ia juga marah karena Anissa sulit sekali diatur. Tapi setelah hati ibu tenang, ibu merasa menyesal telah berlaku seperti itu pada Anissa.
Ibu berjalan perlahan menuju kamar Anissa. Tampak Anissa sudah tertidur pulas. Matanya juga sembab seperti mata Ibu. Bahkan Anissa masih menyimpan segukan di sela tidurnya. Ibu mengusap kepala Anissa dan membisikkan doa untuk anaknya. Lalu ibu mengecup kening Anissa dan meninggalkannya sendirian.
*
BERSAMBUNG KE #7

Lihat Cerita sebelumnya :

Minggu, 26 Februari 2012

JANJI ANNISA : #5 Tragedi di Siang Bolong

5
TRAGEDI DI SIANG BOLONG

Siang itu udara sangat cerah. Andrian mengayuh sepedanya dengan cepat. Ia takut teman-temannya kelamaan menunggu di lapangan. Tadi Andrian menyempatkan diri mengerjakan PR sepulang sekolah. Soal-soal matematika itu memang sulitnya bukan main, Andrian sampai harus membuka buku pelajaran kelas empat dan kelas lima untuk mengingat kembali rumus-rumusnya.
Ketika melewati rumah Bu Munir seekor anak anjing menggongong. Anak anjing itu memang selalu menggonggong kalau ada orang yang lewat, terutama orang asing yang belum pernah dilihatnya. Kalau ada Edo pasti anak anjing itu bakalan kena sial. Atau jangan-jangan tadi teman-temannya sudah lewat sini dan melempari anak anjing malang itu. Lihat saja kepalanya yang nyaris pitak padahal luka di kakinya belum juga sembuh. Andrian tidak menghiraukan anak anjing itu. Cukup sudah penderitaannya. Ia tidak mau menambah kesengsaraannya.
Andrian juga berpapasan dengan Ridwan yang sedang berjalan gontai entah mau ke mana. Bahkan ia sempat menegur dan menanyakannya mau pergi ke mana. Ridwan hanya tersenyum dan tidak berminat menjawab pertanyaan Andrian. Andrian pun tidak mnghiraukannya dan ia segera memacu sepedanya menuju lapangan.
Dari jauh sudah terdengar teriakan-teriakan orang yang sedang bermain bola. Over..over… katanya, sepertinya sih suara Doni. Ya…out deh, keluh suara anak perempuan. Andrian yakin itu Mayang. Kemudian dari jarak yang sudah semakin dekat ia bisa melihat keempat temannya sedang melempar bola satu sama lain. Ada Doni dengan kaos merah kesukaannya sedang berusaha menerima overan bola dari Anissa. Edo dengan sepatu bola barunya sedang berjingkat karena berhasil menendang bola yang digawangi Mayang. Mayang masih kelihatan seperti anak perempuan lain yang tidak sedang bermain bola. Dengan celana pendek ketat dan rambutnya yang dikuncir, ia berusaha mempertahankan gawang supaya tidak bisa ditembus oleh tendangan Edo, tetapi kemudian mengeluh lagi karena Edo berhasil membobol pertahanannya.
Berbeda dengan ketiga temannya, Anissa kelihatan tidak bersemangat seperti biasanya. Andrian bisa tahu begitu melihat Anissa yang malas-malasan menangkap bola yang ditendang Doni dan membiarkannya lolos dari kakinya. Apakah Anissa masih sakit?
“Hai...” teriak Andrian yang lalu disambut teman-temannya dengan lambaian. Mereka lalu melanjutkan kembali permainan. Kecuali Anissa yang begitu melihat Andrian datang langsung keluar lapangan dan mengambil air minum dari dalam tasnya.
“Kamu masih sakit. Nis?” tanya Andrian.
Anissa menggeleng sambil menenggak minumannya.
“Muka Kamu pucat. Mungkin Kamu kepanasan,” lanjut Andrian
Anissa mengelap keringat yang menetes di keningnya. Lalu ia duduk malas di bawah pohon alpukat. Hawa sejuk seketika menerpa wajah dan tubuh Anissa yang kegerahan. Anissa menikmatinya seperti ia sedang merasakan hawa yang keluar dari dalam lemari esnya yang baru dibuka.
Andrian berlalu meninggalkan Anissa dan menggantikannya bermain dengan Doni. Dari tempatnya duduk, Anissa melihat Andrian bercakap-caap sebentar dengan Doni. Dari gerak tubuhnya Andrian seolah menanyakan hal yang sama dengan yang ia tanyakan ke Anissa tadi. Doni mengangkat bahu. Mungkin ia menjawab tidak tahu. Lalu keduanya sudah asyik bermain lemparan-lemparan bola sebagai pemanasan buat Andrian.
Sebenarnya Anissa masih kesal dengan teman-temannya. Hal ini dikarenakan ketika kemarin Anissa berkeluh kesal mengenai Ridwan kakaknya yang selalu membuatnya sebal, teman-temannya malah membela kakaknya itu. Mereka bilang Ridwan itu kakak yang baik dan pengetrian. Ia sangat sayang kepada adik-adiknya. Padahal Anissa merasa Ridwan sudah tidak sayang lagi pada dirinya.  Saking marahnya, Anissa hampir saja tidak mau menemui teman-temannya lagi. Tetapi karena ia juga tidak betah tinggal di rumah sepulang sekolah, ia pun kembali menemui teman-temannya untuk bermain bersama.
Ketika Anissa hendak melanjutkan permainan dan bergabung bersama teman-temannya, ia melihat seseorang sedang berjalan ke arahnya. Teryata dia adalah Ridwan, kakaknya. Anissa urung berjalan menuju lapangan. Ia malah menghindari Ridwan pergi meninggalkan lapangan dan teman-temannya yang sedang bermain.
“Nis, mau ke mana?” teriak Doni begitu melihat Anissa tergesa-gesa.
Anissa tidak menghiraukan Doni dan yang lainnya. Ia berlalri demi menjauh dari Ridwan. Mau apa lagi kakaknya itu. Apakah ia belum puas memarahiku, makanya sekarang Ridwan malah menyusul ke lapangan, pikir Anissa.
“Nis, tunggu,” panggil Ridwan seraya mempercepat langkahnya. Anissa malah semakin cepat menjauh dari Ridwan. Ia berlari menuju jalan besar yang memisahkan lapangan sepak bola itu dengan pesawahan desa sebelah.
Anissa bahkan tidak menengok ke kiri dan kanan jalan. Pandangannya lurus ingin menyeberangi jalan beraspal itu supaya bisa lari di pematang sawah dan menghilang dari pandangan Ridwan. Ia tidak mau menemui kakaknya itu. Ia benci dengan sikap kakaknya itu. Cukup sudah rasa sakit yang ia alami tadi siang.
Melihat Anissa yang mulai berlari, Ridwan menjadi panik. Bagaimana tidak, dari jarak jauh ia melihat sebuah sepeda motor sedang melaju kencang di jalan desa itu, sedangkan Anissa tanpa memperhatikan sepeda motor itu terus saja berlari menuju jalan yang dilalui sepeda motor itu.
“Nissa, awas….. “ dengan sekuat tenaga Ridwan berlari dan terpaksa mendorong tubuh Anissa yang hampir saja ditabrak sepeda motor yang sedang ngebut itu. Anissa terpelanting ke sisi jalan dan jatuh di tanah lembab, sedangkan Ridwan terserempet sepeda motor itu yang kemudian oleng dan jatuh. Ridwan terlempar hampir tiga meter jauhnya dan jatuh di jalan aspal dengan suara gedebug seperti suara ban pecah.
Doni, Edo, Andrian dan Mayang berlarian menuju arah suara itu. Mereka khawatir dengan apa yang mungkin menimpa kedua kakak beradik itu. Mayang menjerit melihat ternyata dugaannya benar. Ridwan terkapar di bahu jalan dengan darah merembes dari keningnya. Anissa meringis menahan sakit di sikut dan kakinya. Untung ia terjatuh di tanah yang lembab sehingga terhindar dari benturan dengan batu ataupun aspal.
Mayang menghambur ke arah Anissa dan membantunya berdiri. Sedangkan Edo, Doni dan Andrian segera memindahkan tubuh Ridwan ke sisi jalan sambil berteriak minta tolong. Samar-samar Ridwan melihat ketiga teman Anissa membantunya berdiri dan dari jarak beberapa meter pengendara motor itu mulai berusaha menyalakan mesin motornya dan lalu pergi begitu saja. Setelah itu pandangan Ridwan menjadi kabur dan ia tidak sadarkan diri.
Beruntung sebuah mobil pick up melintas di depan mereka. Doni menyetop mobil itu dan meminta tolong untuk mengantarkan Ridwan dan Anissa ke puskesmas. Pengemudi mobil itu kebetulan mengenal Ridwan dan anak-anak itu. Pak Hamid namanya. Ia adalah salah seorang pegawai kelurahan yang juga kenal baik dengan ayahnya Ridwan. Pak Hamid segera membawa masuk Ridwan ke dalam mobil. Anissa juga dituntun untuk naik dan duduk di kursi penumpang di samping sopir. Ia menangis melihat kondisi Ridwan yang sangat mengkhawatirkan.
*
            Puskesmas ternyata tidak sanggup menangani pasien korban kecelakaan. Apalagi melihat kondisi Ridwan yang sudah mengeluarkan banyak darah, dan fasilitas di puskesmas yang kurang memadai. Pihak puskesmas pun segera merujuk Ridwan untuk dibawa ke rumah sakit. Sedangkan Anissa setelah mendapat pertolongan pertama dan dinyatakan sebagai cedera ringan, diperbolehkan pulang atau mengantar Ridwan ke rumah sakit.
            Di tengah perjalanan, tak henti-hentinya Anissa menangis. Ia sangat menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan tadi. Kecelakaan itu mungkin tidak akan pernah terjadi kalau saja Anissa tidak lari dan menghindari kakaknya. Ya Allah, selamatkanlah kakaku..... doa Anissa berulang-ulang disela isaknya.
            Dalam hati Anissa berjanji akan merawat kakaknya sampai sembuh dan meminta maaf atas semua kesalahannya. Mungkin kakaknya, juga ayah dan ibunya akan sangat marah, tapi Anissa akan berusaha menebus semua kesalahannya dengan menjadi anak yang baik dan penurut. Anissa berjanji.
            Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya kendaraan pick up Pak Hamid tiba juga di sebuah rumah sakit milik pemerintah daerah. Ridwan dimasukkan ke ruang ICU karena belum juga sadarkan diri. Dokter dan para perawat sibuk membantu memasang alat bantu pernapasan, selang inpus dan sebagainya.
            Anissa hanya bisa memandang kakaknya melalui kaca pintu yang ukurannya sangat kecil. Hatinya sangat sedih dan merasa bersalah atas kejadian ini. Ayah dan Ibu pasti sangat marah dan merasa terpukul melihat anak sulungnya terbaring di rumah sakit dalam keadaan koma. Mereka juga pasti sangat marah pada Anissa. Setetes air mata bergulir melewati lekuk pipi Anissa, berhenti sejenak di celah bibir atasnya, lalu jatuh ke dagu dan menetes ke baju Anissa yang berdarah. Tragedi ini sangat di luar dugaan. Siapa yang akan tahu apa yang akan terjadi nanti. Itu semua rahasia Allah. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha menghindari hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Siapa yang lengah dan lalai bisa jadi menanggung akibat buruk yang tidak pernah kita duga sebelumnya.
            Kalau saja waktu bisa diputar kembali Anissa tidak akan pernah pergi waktu Ridwan menghampirinya siang tadi. Ia bahkan ingin sekali meminta maaf dan mengajak kakaknya bermain bersama. Tapi itu tidak mungkin, nasi sudah menjadi bubur. Allah mungkin sedang memberinya peringatan keras karena kelakuannya yang nakal. Tapi ini terlalu berat rasanya. Anissa tidak sanggup menanggung beban seberat ini.
            Di balik semua peristiwa pasti ada hikmahnya. Anissa berusaha memetik hikmah dari kejadian ini. Tapi kesedihan yang sangat dalam membuatnya tidak berpikir jernih. Dalam ketakutan dan rasa malu ia tertidur di bangku panjang tempat para keluarga pasien duduk menunggu sanak keluarga yang akan besuk.
*

Lihat Cerita sebelumnya :

Minggu, 12 Februari 2012

JANJI ANNISA : #4 Ridwan Kakak yang Baik

4
RIDWAN, KAKAK YANG BAIK
Beberapa hari setelah Anissa sembuh dari sakitnya, ia mulai masuk sekolah seperti biasa. Dan seperti biasa pula Anissa bermain kembali bersama teman-temannya. Manjat pohon mangga, memancing ikan di kali, bermain bola, dan balap sepeda. Ia tidak menghiraukan nasehat orangtuanya untuk lebih banyak istirahat. Ridwan juga berkali-kali mengingatkan Anissa supaya tidak terlalu sering ke luar rumah dulu. Lebih baik belajar dan mengerjakan PR sekolah.
“Ah, Kak Ridwan bawel kayak ibu,” Anissa melengos dari hadapan Ridwan sambil menenteng ransel berisi kaos dan sepatu bola. Sedangkan di tangannya ia menjinjing sebuah jaring dengan bola sepak berukuran besar di dalamnya. Bola itu merupakan hadiah dari teman-temannya waktu ulang tahunnya beberapa bulan lalu.
“Nissa, Kakak cuma tidak mau Kamu celaka lagi,” Ridwan menarik lengan Anissa, berusaha mencegahnya keluar rumah, atau paling tidak mengajaknya bicara baik-baik.
“Main bola masa celaka sih, Kak. Udah deh, mendingan Kakak lanjutin aja baca bukunya supaya kacamata Kakak tambah tebal,” ledek Anissa.
Ridwan membetulkan letak kacamata barunya. Ia memang terpaksa harus menggunakan kacamata minus setelah minggu lalu diperiksa oleh dokter mata. Ia tidak menyangka kalau penampilan barunya malah menjadi bahan ledekan adiknya. Ridwan sangat kecewa dengan sikap Anissa yang tidak menghargainya sebagai kakak. Ia bahkan menjadi sedih.
“Nissa…,” panggil Ridwan setelah Anissa berhasil melepaskan tangannya dari cengkeraman Ridwan.
Anissa tidak mengindahkan panggilan Ridwan. Ia bersiul senang karena berhasil lolos dari tangan Ridwan yang berusaha menghalangi langkahnya. Ia merasa heran dengan kakaknya, juga keluarganya, kenapa selalu saja melarang Anissa bermain. Main bola tidak baik untuk anak perempuan, main sepeda berbahaya, manjat pohon jangan, semua tidak boleh. Padahal Anissa merasa apa yang ia lakukan biasa-biasa saja. Kalau ia senang main bola memangnya kenapa? Banyak koq pemain bola perempuan. Toh mereka kemudian tidak berubah menjadi laki-laki karena melakukan permainan yang biasa dilakukan laki-laki. Kalau selama ini ia kelihatan tomboy, banyak juga perempuan tomboy yang berhasil, menjadi polwan atau atlet yang berprestasi. Pokoknya tidak ada yang salah dengan dirinya.
*
            Ridwan duduk sendirian di depan teras rumahnya. Ia mencoba merenungkan apa yang sudah ia lakukan untuk adiknya. Ia teringat dengan pesan ibunya untuk selalu menjaga Anissa. Tapi adiknya itu selalu bisa memanfaatkan kelengahan Ridwan. Ridwan nyaris putus asa dan melaporkan hal ini pada kedua orangtuanya. Tapi kemudian dia urung karena tidak mau dianggap sebagai kakak yang tidak bisa menjaga adiknya seperti perintah orangtuanya.
            Lalu apa yang harus Ridwan lakukan sekarang ini. Apakah ia harus terus mengikuti ke mana Anissa pergi supaya bisa tahu apa yang dilakukan Anissa tidak berbahaya. Ataukah mengunci rumah dan mengajak Anissa untuk main ular tangga atau game di komputer. Anissa pasti sudah merasa bosan dengan permainan-permainan itu.
            Dalam lamunannya Ridwan jadi teringat waktu ia dan Anissa masih kecil dan belum sekolah. Mereka diajak tamsya ke dunia fantasi. Waktu itu Nafissa belum lahir jadi Anissa lebih banyak digendong. Walaupun begitu Anissa selalu berontak dan ingin jalan sendiri. Ia malah merengek ingin naik halilintar dan permainan-permainan orang dewasa. Ayah meredakan tangis Anissa dengan membawanya masuk ke istana boneka. Di dalam wahana ini Anissa masih saja menangis dan tidak menikmati sama sekali pemandangan boneka aneka rupa yang menari-nari lincah.
            Anissa bukan tipe anak yang menyukai sesuatu yang diam. Kata dokter anak yang pernah Ridwan lihat di televisi memang ada banyak anak yang memiliki kelebihan energi sehingga ia selalu ingin melakukan permainan-permainan yang menguras keringat dan banyak mengeluarkan tenaga. Bahkan ada juga anak yang hiperaktif. Mungkin Anissa termasuk anak yang dimaksud dokter itu. Waktu kecil Anissa memang senang sekali melompat-lompat dari atas kursi, naik lagi, melompat lagi. Ia pernah terjatuh dario pintu pagar halaman rumah, tetapi ia tidak pernah kapok dan masih saja melakukan hal yang sama.
            Ketika masuk SD, Anissa semakin jarang ada di rumah. Sepulang sekolah ia langsung menuju lapangan sepakbola tempat anak-anak melakukan latihan untuk persiapan acara pertandingan antar desa. Kadang Anissa berkumpul dengan teman-teman sebayanya yang juga tidak suka tinggal di rumah, main kejar-kejaran, balapan sepeda, tinggi-tinggian naik pohon yang ada di sekitar lapangan atau danau rawa. Ia juga tidak takut naik rakit dan menyeberangi rawa-rawa untuk mencari lintah.
            Sejak kenal dengan Edo dan teman-temannya yang sekarang, selain lebih sering bermain, Anissa juga jadi suka melawan dan membantah. Ibu selalu menasehati supaya Anissa tidak bersifat seperti itu. Ayah bahkan sering marah dan menghukumnya. Tapi Anissa semakin menjadi-jadi. Kekesalan Anissa malah disalurkan dengan berbuat jahil kepada teman-teman ataupun anak-anak tetangga yang pendiam. Pernah suatu waktu setelah dimarahi ayah, Anissa pergi dari rumah dan melempari anak-anak yang sedang main kelereng dengan kelereng yang ia bawa dari rumah. Sudah beberapa kali pula ibu minta maaf atas kelakuan Anissa kepada tetangga yang dijahilinya. Dan ayah sudah lebih dari tiga kali mengganti kaca jendela tetangga yang pecah trkena bola tenis Anissa.
            Ibu kadang membanding-bandingkan Anissa dengan Ridwan yang walaupun anak laki-laki tetapi tidak sebandel dirinya. Dan hal ini malah membuat Anissa berpikir bahwa ayah dan ibunya pilih kasih. Anissa merasa dirinya dianggap sebagai anak tiri sedangkan kakaknya adalah anak emas. Ridwan jadi merasa tidak enak dengan sikap Anissa seperti itu. Padahal sebagai kakak, Ridwan hanya memberi contoh untuk selalu berbuat baik di mata adik-adiknya.
*

Lihat Cerita sebelumnya :

Minggu, 29 Januari 2012

JANJI ANNISA : #3 Sebuah Mimpi Aneh

3
SEBUAH MIMPI ANEH
           
 
Keringat bercucuran di kening Anissa. Napasnya hampir habis. Ia berlari dengan kaki terpincang-pincang. Tak peduli darah terus merembes dari luka di telapak kakinya. Anissa terus berlari. Hanya ada satu dalam pikirannya, jangan sampai binatang itu menerkam dan memakannya.
            Gua itu... ia harus segera sampai ke gua itu.
            Setelah sepakat untuk menunda ekspedisi ke gua bersama teman-temannya tadi sore, Anissa awalnya mengikuti langkah keempat temannya menuruni bukit. Tetapi ketika hendak menyeberangi sungai ia sendiri membelokkan arah langkahnya ke jalan setapak lain yang penuh semak belukar. Ia sendirian menyusuri jalan itu dengan satu keinginan untuk bisa mencapai gua itu. Anissa penasaran sekali dengan cerita seputar gua itu. Cerita yang menyeramkan, juga cerita lain yang menyenangkan.
            Siang pun berganti senja. Anissa masih belum juga mendekati gua itu. Ternyata jalan yang dilalui tidak semudah yang ia bayangkan. Selain licin dan banyak semak berduri, Anissa juga harus melompati aliran sungai kecil dan bibir jurang yang curam. Sesekali ia tergelincir dan hampir terjatuh ke dalam jurang. Tidak bisa dibayangkan bagaimana jadinya kalau sampai ia jatuh ke sana.
            Anissa hanya ingin membuktikan bahwa dalam keadaan terluka pun ia bisa berhasil menuju gua itu. Ini akan menjadi kebanggaan tersendiri buat Anissa ketika teman-temannya pulang karena takut kemalaman, ia sendirian yang bisa mencapai gua itu.
            Tapi di tengah jalan, ketika Anissa menyeret kaki kirinya yang terluka, sepasang mata hijau menyala menatapnya dari kejauhan. Tidak terlalu jauh sebenarnya, apalagi dengan sekali lompat siempunya mata api itu bisa kapan saja berdiri di depan Anissa. Anissa mendengar dengkuran halus seperti suara kambing qurban yang pasrah menghadapi kematiannya.
Bulu kuduk Anissa tiba-tiba berdiri. Membayangkan darah mengucur di belahan leher binatang qurban membuat Anissa merinding sekaligus mual. Tetapi apa yang dihadapinya kali ini tidak nampak di depan matanya. Hanya sebuah suara, dan gerakan-gerakan dedaunan tersibak sesuatu. Mungkin angin, tapi mungkin juga yang lain.
Semakin Anissa mempercepat langkahnya suara itu semakin terdengar jelas. Dengkuran itu malah semakin membuat Anissa yakin sesuatu yang hidup tengah mengikutinya. Seekor binatang mungkin sedang mengincarnya. Harimau kah? Atau seekor beruang yang besar. Mungkinkah ada kingkong di bukit ini?
Dugaan Anissa ternyata benar, seekor harimau dengan ekor yang tebal dengan awas menatapnya. Mungkin ia mencium bau amis darah Anissa. Menyadari hal itu Anissa mulai berlari. Ranting-ranting pohon yang menghalangi jalannya ia sikut. Anissa berhasil memungut sebatang ranting yang kuat sehingga dengan ranting itu ia bisa membabat rumput liar dan cabang pohon kecil yang menghalangi pandangannya.
Tapi langkah binatang itu lebih cepat dari perhitungannya. Anissa nyaris diterkam kalau saja ia tidak tergelincir dan jatuh ke dalam jurang.
Anissa berteriak sekeras-kerasnya, sehingga ibu yang menungguinya sedari tadi terlonjak kaget.
“Istighfar, Nis…. Istighfar…” ibu berbisik ke kuping Anissa.
“Coba ganti kompresnya, Bu,” saran ayah.
Ridwan datang membawa air dingin dalam baskom kecil dengan handuk bersih di dalamnya. Ridwan juga menemani ibu menunggu Anissa adiknya, kalau-kalau ia dibutuhkan untuk mengambilkan sesuatu yang diperlukan.
Ibu mengganti handuk kompresan di kening Anissa dengan handuk dingin yang baru. Ia kelihatan cemas sekali.
“Apa kata dokter, Bu?” bisik ayah.
“Mungkin karena luka di kakinya yang banyak mengeluarkan darah. Untung tadi dokter menyuntikkan obat anti tetanus, kalau tidak ibu tidak tahu lukanya akan separah apa.” Jawab ibu sambil menyeka air yang menetes di matanya.
Ridwan menggenggam tangan ibu. “Biar Ridwan yang jagain Nissa ya, Bu. Ibu istirahat saja.”
“Kenapa Anissa masih membandel ya, Bu,” keluh ayah. Sedikit kecewa dengan tingkah Anissa sekaligus bingung mesti bagaimana menasehati anak perempuannya yang satu itu. Ayah tidak mau terlalu keras pada Anissa, tetapi dampaknya malah seperti ini.
“Ibu juga tidak tahu. Kata teman-temannya mereka tidak pernah memaksa Anissa untuk ikut. Tapi Anissa sendiri yang bersikeras. Malah mereka bilang kita sudah mengizinkan Anissa.”
“Ayah tidak tahu kalau Anissa mau pergi ke bukit itu.” desah ayah tidak habis pikir kenapa bisa-bisanya Anissa berbohong seperti itu, padahal tidak ada yang memberi contoh perbuatan tidak baik itu di keluarganya.
“Sudahlah, Yah. Yang penting Anissa tidak kenapa-napa,” hibur ibu.
“Kakinya luka dan bisa terkena tetanus, dan sekarang ia panas dan mengigau, ibu bilang ia tidak kenapa-napa?” ayah berusaha menahan emosinya. Emosi sedih sekaligus khawatir.
Ibu mulai menangis. Ia tidak bisa membayangkan kejadian yang lebih buruk yang mungkin menimpa anaknya. Anissa masih kecil, tapi kelakuannya sudah membuat ibu ketakutan setengah mati. Ya Allah, sembuhkanlah anak hamba, doa ibu.
            Ayah pun meninggalkan ibu untuk menunaikan sholat sunnat supaya Anissa lekas sembuh.
*
            Hari Senin Anissa terpaksa tidak berangkat sekolah. Kakinya masih sakit, dan kepalanya terasa pusing. Ia berusaha mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Apakah ia benar terpisah dari teman-temanya dan melanjutkan ekspedisi seorang diri? Apakah benar ia dikejar harimau ketika hendak menuju gua itu? Apakah benar ia terjatuh ke dalam jurang dan selamat dari kejaran binatang buas itu?
            Apakah semua itu hanya mimpi? Sebuah mimpi aneh yang terjadi karena Anissa terlalu lelah bermain, atau dikarenakan luka di kakinya yang menyebabkan badannya panas? Apakah mimpi itu memiliki makna tertentu? Apakah ini balasan untuk Anak yang pergi tanpa sepengetahuan orang tuanya, dan bahkan berbohong atas nama mereka? Anissa terlalu pusing untuk memikirkan semua itu.
Yang jelas, teman-teman Anissa pun ikut merasa bersalah. Andrian, Doni, Edo dan Mayang berkali-kali berkunjung ke rumah Anissa untuk melihat kondisi temannya itu. Tetapi ibu meminta mereka untuk kembali lagi nanti kalau Anissa sudah membaik.
“Memangnya kalian pergi ke mana sih?” Tanya Ridwan pada Doni dan teman-temannya.
Doni tidak menjawab. Yang lain pun tidak berani angkat bicara. Mereka merasa malu atas kejadian ini.
“Kalian tahu, Anissa itu masih kecil, sangat berbahaya pergi ke tempat asing tanpa didampingi orang dewasa. Dan kalian juga masih anak-anak kan?” lanjut Ridwan. Gaya bicara Ridwan sudah bukan seperti anak kelas enam SD lagi.
“Dan Kamu Andrian, Kamu kan anak paling besar diantara kawan-kawanmu itu. Semestinya memberi contoh yang baik dan menjaga mereka, bukan malah mengajak mereka bermain yang tidak-tidak. Lebih baik belajar, bukankah sebentar lagi kita ujian nasional?” Ridwan berusaha menahan emosi supaya tidak tampak marah di depan teman-teman Anissa.
“Tapi semua ini juga salahku. Aku tidak bisa menjaga adikku dengan baik. Aku tidak bisa menjadi teman bermain yang menyenangkan. Sedangkan dengan kalian sepertinya Anissa merasa senang dan bebas.” Setitik air mata menetes di pipi Ridwan. Untuk apa ia merasa malu menangis di depan Andrian dan teman-teman Anissa. Ridwan hanya ingin mereka tahu kalau Ridwan juga menyayangi Anissa.
Diam-diam Andrian merasa malu dengan kedewasaan Ridwan. Ia pun sama sudah kelas enam, tapi ia masih merasa seperti anak-anak yang tidak berpikir terlalu jauh dalam melakukan sesuatu.
Sejenak suasana tampak sepi. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Kami pergi ke bukit di desa sebelah,” akhirnya Mayang memecah keheningan itu.
Ridwan menarik napas, benar juga, pikirnya. Ia memang sudah menduga waktu melihat luka di kaki Anissa. Ia jadi teringat waktu mengikuti pelantikan anggota PMR di sekolahnya. Pelantikan itu diadakan di bukit batu itu. Salah seorang anggota PMR yang dilantik terluka waktu menyeberangi sungai besar. Kakinya tergores ranting patah runcing yang hanyut di sungai. Lukanya menganga dan cukup parah. Ia bahkan tidak bisa masuk sekolah lebih dari tiga hari.
Bukit itu bisa dibilang masih asli. Hutannya lebat dengan tumbuhan-tumbuhan tua yang langka. Mungkin di sana banyak juga binatang buas seperti dalam mimpi Anissa. Ridwan jadi khawatir kalau membayangkan Anissa dan teman-temannya pergi ke sana. Untung saja Anissa tidak hanyut ke sungai dan terbawa arus yang cukup deras itu.
“Anissa terpeleset, dan kakinya berdarah,” balas Edo.
Ridwan menganggukkan kepala. Itu sudah jelas. Luka di kaki Anissa menampakkan ada benda tajam yang mengiris kulitnya. Tapi Ridwan tidak habis pikir kenapa Anissa tiba-tiba mengigau dan menjerit-jerit setelah pulang ke rumah.
            “Eh, kalian sudah datang, masuk yuk,” tiba-tiba ibu muncul dari dalam rumah dan menyuruh teman-teman Anissa masuk. Tadi siang ibu menyuruh teman-teman Anissa untuk pulang dulu dan datang kembali sore ini.
            Setelah ibu memberi nasehat supaya anak-anak tidak bermain terlalu jauh, apalagi ke tempat-tempat yang berbahaya, teman-teman Anissa diperbolehkan masuk ke kamar Anissa.
            Kamar Anissa berukuran tiga kali empat meter. Tempat tidur Anissa terbuat dari besi yang dicat mengkilat. Kasur empuknya dilapisi kain seprai motif bunga matahari yang senada dengan warna dinding kamarnya. Di atas meja belajar Anissa terdapat komputer dengan monitor warna pink dan abu-abu, persis sama dengan warna keyboard dan mousenya. Buku-buku pelajaran berderet rapi. Ibu yang merapikannya karena sepulang sekolah Anissa biasanya langsung pergi lagi bermain.
            Di samping tempat tidur Anissa terdapat meja kecil yang merupakan rak buku. Koleksi buku Anissa kebanyakan komik Naruto, conan dan komik olahraga. Komik terbaru yang Anissa beli minggu lalu adalah Naruto edisi 43.
            Edo, Doni, Andrian dan Mayang takjub melihat isi kamar Anissa. Rapi. Tapi pasti yang merapikan ini semua bukan Anissa, begitu kompakan isi kepala teman-teman Anissa menduga. Untung Anissa mempunyai ibu yang baik dan pengertian. Sabar dan sangat menyayangi anak-anaknya. Padahal Anissa termasuk anak yang susah diatur.
            “Kamu kenapa, Nis? Perasan kemarin cuma luka di kaki doang,” celetuk Edo sambil menyomot kue brownies yang disuguhkan ibu.
            “Iya nih.. dengar-dengar dari Kak Ridwan, Kamu teriak-teriak kayak orang kesurupan ya…” timpal Mayang.
            “Aku cuma mimpi.. mimpi seram banget. Tapi anehnya koq mimpi itu seperti nyata banget. Aku sampai terengah-engah dibuatnya.” Jawab Anissa sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding kamar. Ia mengganjal punggungnya dengan bantal yang empuk.
            “Seram gimana, Nis?” Doni antusias mendengarkan cerita Anissa.
            “Aku dikejar harimau waktu aku mau ke goa itu. Kalian tahu, pas mau nyeberang sungai waktu mau pulang itu aku balik lagi dan penasaran ingin pergi ke gua itu. Lalu aku ke sana. Di tengah jalan aku dibuntuti sesuatu?”
            “Suku kanibal?” potong Doni sambil membayangkan film-film horror yang sering ia tonton.
            “Harimau besar dengan taring tajam dan liur membasahi mulutnya yang lapar. Siap menerkam kapanpun kita lengah. Aku lari terbirit-birit begitu tahu harimau itu sudah ada di belakangku.” lanjut Anissa.
            “Dasar mimpi, waktu itu kan Kamu pingsan, Nis,” ucap Andrian yang tidak begitu suka mendengar cerita tentang mimpi-mimpi seram.
            “Kita semua juga tahu, Bang…. Tapi selama Anissa pingsan itu apa yang terjadi kan cuma Anissa yang merasakan. Makanya sekarang kita dengerin kelanjutan ceritanya. Seru nih,” protes Mayang.
            Anissa pun melanjutkan ceritanya. Ia lalu minta pendapat teman-temannya apakah rencana mereka untuk pergi ke gua itu lain kali dibatalkan saja?
            “Iya sih, mimpi Kamu itu pertanda buruk. Kalau sampai kita jadi ke sana, bisa tamat kita, the end…” tukas Edo.
            “Ah dasar penakut Kamu, Do. Itu kan cuma mimpi. Mimpi itu kata orang tua kembangnya tidur. Justru sekarang ini saatnya buat kita menepis perasaan takut kita, gara-gara mimpi itu.” Doni tidak setuju.
            “Ini memang tantangan besar buat kita. Tapi…. gimana kalau di sana beneran ada harimaunya?” Mayang jadi ragu.
            “Itu kan cuma bukit biasa. Mana ada binatang buas di sana. Kita harus ke sana,” Anissa meyakinkan teman-temannya.
            Perasaan ragu, takut, bersemangat, ingin membuktikan sesuatu, berkecamuk dalam masing-masing benak anak-anak itu. Apalagi Anissa jiwa petualangannya terpancing, dan ia ingin segera sembuh supaya nanti bisa pergi lagi ke bukit itu.
*

Lihat Cerita sebelumnya :

Minggu, 15 Januari 2012

JANJI ANNISA : #2 Petualangan di Hari Minggu

2
PETUALANGAN DI HARI MINGGU
            Anissa tiba di rumah Doni dengan napas terengah-engah. Seperti dugaan Anissa teman-teman Anissa sudah menunggunya sejak pagi. Doni melipat tangan di dada, Edo berkacak pinggang, dan Andrian membuang muka, sementara Mayang memonyongkan bibirnya begitu melihat Anissa tiba di rumah Doni. Semuanya kelihatan kecewa menyambut kedatangan Anissa yang terlambat lebih dari satu jam.
            “Maaf ya, Teman-teman,” desis Anissa dengan nada menyesal. Ditatapnya wajah teman-temannya satu persatu dengan perasaan bersalah. Ia tahu persis kalau mereka sedang marah pasti raut muka mereka berubah. Ia sadar betul dengan kesalahannya. Kemarin sore mereka sepakat untuk berkumpul di rumah Doni sebelum jam tujuh, supaya pas jam tujuh bisa langsung berangkat ke tempat tujuan. Dan Anissa yang paling menggebu untuk melakukan ekspedisi ini.
            “Kalau terlambat kira-kira dong, Neng,” sindir Mayang.
            “Iya, bisa bulukan kita semua nungguin Kamu, Nis,” timpal Edo.
            “Maaf deh. Aku tadi ngerayu ibu sama ayah dulu supaya bisa dapat izin. Kalian tahu kan ketatnya peraturan di rumahku,” Anissa terpaksa berbohong.
            “Ya, namanya juga anak mami...” ledek Doni.
            Anissa semakin tidak enak hati. Sudah terlambat bangun pagi, masih dimarahin teman-temannya, terpaksa berbohong pula.
            “Ya sudah, mendingan kita cepat berangkat supaya tidak terlalu siang. Panas nanti,” usul Andrian.
            “Let’s go!” teriak Doni yang kemudian diamini teman-temannya yang lain.
            Anissa memarkirkan sepedanya di garasi rumah Doni, kemudian ia mengikuti teman-temannya yang lain. Mayang merangkul Anissa pertanda ia sudah melupakan kejadian tadi. Sebagai teman Mayang dan teman-teman Anissa lainnya memang selalu setia kawan.
            Kelima anak yang memiliki hobi yang sama itu pun memulai perjalanan mereka dengan keluar desa dan menapaki jalan kecil di pematang sawah. Anak-anak ini begitu kompak. Mereka kadang-kadang melakukan hal-hal jahil bersama-sama seperti memanjat pohon jambu milik orang, memetik semua buahnya dan menyisakan buah jambu yang sudah membusuk di pohon itu. Mereka paling sering melempari anak anjing tetangga yang selalu menggonggong setiap kali mereka lewat rumah itu. Terutama Edo yang selalu usil dan tidak suka dengan suara anak anjing.
            Pada bulan Ramadhan, saatnya mereka berpesta petasan dan kembang api. Meskipun sudah dilarang oleh Wak Haji dan diancam Pak RT mau dilaporkan ke polisi kalau masih membandel, mereka sembunyi-sembunyi menyulut petasan dan melemparkannya ke sembarang tempat. Tidak jarang orang yang lewat di gang-gang kena usil mereka.
Mereka juga ahli main mercon, terutama Doni dan Andrian yang terkenal tidak terkalahkan. Kalau Edo paling jago manjat pohon kelapa sekaligus membelah buah kelapa. Jadi kalau mereka kecapean dan kehausan sehabis main layang-layang di sawah, mereka tinggal menyuruh Edo memetik kelapa dan membelahnya. Tidak perduli itu pohon kelapa milik siapa. Biasanya sih kalau sudah habis baru mereka minta izin kepada yang punya.
Mayang, meskipun anak perempuan tapi jago juga main bola. Ia ikut team anak laki-laki melawan kesebelasan desa seberang pada acara 17 Agustusan tahun lalu. Anissa juga ikut kesebelasan sepakbola di desanya bersama Mayang. Meskipun ia bisa diandalkan mencetak gol ke gawang lawan, tapi keahlian Anissa yang paling menonjol ialah bermain sepeda dengan melakukan gerakan-gerakan yang rumit dan berbahaya seperti jumping dan split, mengendarai sepeda dengan satu ban, juga berputar-putar di udara sebelum mendarat ketika sepeda berhasil melompat dari tempat tinggi.
Anissa dan teman-temannya itu sebenarnya tidak satu angkatan, bahkan mereka tidak satu sekolah. Hanya Edo dan Doni yang satu sekolah. Itu pun berbeda kelas. Doni kelas empat, sedangkan Edo kelas lima. Anissa dan Mayang kelas tiga dan berbeda sekolah. Sedangkan Andrian yang paling tua diantara mereka, yaitu kelas enam dan sekolahnya jauh di kota. Tapi mereka semua dipertemukan dalam satu desa dan hobi yang sama, yaitu melakukan hal-hal yang berbeda dengan anak-anak sebaya mereka lainnya. Seperti melakukan petualangan ini salah satunya.
*
            Udara hari Minggu pagi itu segar sekali. Matahari menjelang siang tidak terlalu terik. Apalagi di daerah pedesaan yang masih banyak tumbuh pohon hawa panas segera ditepis udara yang sejuk, sarat akan oksigen yang menyehatkan paru-paru. Sejauh mata memandang sawah terbentang luas. Dengan warna kuning keemasan laksana permadani yang dihamparkan di mesjid yang megah. Anissa merasa takjub dengan pemandangan itu, mengingatkan ia waktu diajak ibu bekunjung ke kubah emas di Depok.
            Kelima anak yang bersahabat sejak lama itu berjalan di pematang sawah yang sempit. Guratan-guratan tanah retak yang baru mengering setelah subuh tadi disiram hujan, menjadi padat setiap kali kaki-kaki kecil penuh semangat menginjaknya. Anissa berlari kecil dan main kejar-kejaran dengan Mayang. Doni hampir saja terpeleset dan kecebur ke dalam sawah.
Edo bersiul begitu melihat sebuah saung kosong dan memberi tanda kepada teman-temannya untuk beristirahat dulu di sana. Doni dan teman-teman lainnya setuju. Andrian malah megusulkan supaya Edo memetik beberapa butir kelapa yang kebetulan tumbuh di sekitar saung, untuk mengusir haus.
Anissa mengeluarkan bekal dari ranselnya. Ia lupa tadi pagi tidak sempat sarapan, pantes saja ia sangat lapar. Dilahapnya roti bungkus isi selai strowberry dan menawarkan bekal lainnya kepada teman-temannya. Mereka pun melahap makanan dan buah-buahan segar pemberian Anissa.
            “Yang, benar nggak sih, kalau kita minum air kelapa yang dipetik si Edo itu haram?” tanya Anissa sambil memberikan air mineral gelas ke Mayang.
            “Ya enggak dong. Kan nanti kita bilang,” jawab Mayang.
            “Tapi kata ayah itu bukan perbuatan baik. Sebaiknya sih kita bilang dulu ke yang punya,” lanjut Anissa ragu. Mayang tidak bisa menjawab.
            “Iya sih, kata Pak Ustadz juga gitu. Tapi gimana lagi dong, yang punya kan rumahnya nggak tahu di mana. Lagian pohon kelapa dan semua yang ada di bumi ini kan milik Allah. Jadi ya, boleh kali, ya..” timpal Andrian.
            Yang lain manggut-manggut. Sementara setuju saja dengan pendapat teman-teman mereka. Anissa tidak terlalu ambil pusing karena kebetulan dia membawa bekal. Tapi melihat buah kelapa muda dengan airnya yang segar ia ngiler juga. Anissa pun menikmati air kelapa muda yang dipetik Edo dan dilubangi bagian atas buahnya dengan pisau lipat yang biasa dibawa Edo kemana-mana. Berlima mereka menghabiskan tiga butir kelapa dan membawa daging kelapa muda itu dengan plastik.
            Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan menuju bukit yang sudah kelihatan di depan mata. Bukit itu sangat tinggi. Pohon-pohonnya menjulang dengan cabang yang saling bertautan satu sama lain. Daun-daunnya lebat dan besar-besar. Suasana di sana sepertinya sejuk dan damai.
            Untuk sampai ke bukit itu, kelima anak itu harus melewati sebuah sungai besar. Sungai itu dangkal tetapi airnya sangat deras. Batu-batu besar yang berserakan di dasar sungai membuat air beriak dan menimbulkan suara yang sangat berisik, tetapi berirama dan sangat menakjubkan. Kalau kita berada di sana dan menghirup udara dalam-dalam batin kita akan terasa tenang dan damai. Suara air diselingi teriakan binatang-binatang, siulan burung dan desiran angin membuat kita merasa tidak pernah memiliki beban dalam hidup kita.
            Melihat pemandangan yang menakjubkan serta merta anak-anak kecil itu melepaskan sepatu dan berlarian menceburkan diri ke dalam sungai. Melihat derasnya air, mereka hanya berani bermain di pinggiran sungai yang airnya jernih itu. Doni menyimprati Edo dan Andrian yang sedang menikmati segarnya air sungai itu. Keduanya lalu membalas menyiprati Doni. Doni berusaha menghindar, tetapi jarak mereka dekat sekali sehingga muka dan badan Doni pun terkena air.  Anissa tidak mau kalah, ia pun menyiprati Mayang yang kelihatan takut dengan air. Mayang pun menjerit-jerit. Di balik rasa takutnya ia pun merasa gembira.
            Setelah merasa cukup bermain, mereka kemudian bersiap-siap menyeberangi sungai. Andrian berdiri di depan, tangan kanannya menjinjing sepatu sedangkan tangan kirinya memegang erat tangan kanan Mayang yang juga memegang sepatunya. Tangan kiri Mayang berpegangan dengan tangan kanan Doni dan tangan Doni berpegangan dengan tangan Anissa, sedangkan Edo di belakang Anissa yang juga menggenggam erat satu sama lain. Kelimanya berjalan perlahan dan penuh waspada jangan sampai ada yang tergelincir dan hanyut terbawa arus sungai.
            Mayang komat-kamit berdoa, sedangkan Edo bersiul menyanyikan lagu grup band yang lagi tenar untuk mengusir rasa takut mereka. Anissa kelihatan lebih tenang. Ia malah berpikir tentang kejadian pagi tadi ketika ia terlambat bangun dan shalat Subuh. Ada sedikit penyesalan dalam dirinya kenapa ia tidak menuruti nasihat ibunya untuk segera bangun dan shalat berjamaah bersama di mushola keluarga. Melihat derasnya air sungai itu ia berpikir bisa saja ia dan teman-temannya mengalami kecelakaan.
            Dan ketakutan Anissa hampir saja terjadi, tiba-tiba ia merasa menginjak sebuah benda tajam di dasar sungai. Seketika ia menghentakkan kakinya membuat Doni tersentak dan nyaris jatuh. Tangan Doni spontan terlepas dari pegangan tangan Mayang, sepatu yang dipegangnya pun jatuh dan hanyut terbawa air. Hampir saja Doni berusaha mengejar sepatunya yang hanyut, tetapi Mayang segera menarik tangan Doni dan mencegah Doni melakukan hal itu.
            “Jangan Don, “ teriak Anissa sambil menggenggam erat tangan Doni yang berpegangan dengan tangannya.
            Doni hanya bisa menatap sepatu bolanya yang hanyut terbawa arus sungai yang deras. Ia hanya bisa berharap kalau ia menyusuri sungai ini ia bisa menemukan sepatunya terdampar di suatu tempat.
            “Kamu kenapa Nis?” tanya Edo beralih ke Anissa.
            Anissa mengangkat kaki kirinya yang ternyata menginjak pecahan beling di dasar sungai. Darah segar merembes di telapak kaki Anissa yang terluka. Ketika ia memaksakan berjalan di dalam air, sebuah aliran kecil seperti benang merah menari-nari di atas air dan lalu menghilang.
            Sesampainya di tepi sungai Doni masih shock. Ia merasa sangat kehilangan sepatu kesayangannya. Sepatu itu pemberian ayahnya sebagai hadiah ulang tahun Doni beberapa bulan yang lalu. Hampir ia menangis, tetapi tentu saja ia tahan karena rasa malu di hadapan teman-temannya. Sang petualang koq cengeng, bisiknya dalam hati.
            Sementara itu Anissa meringis menahan sakit. Darah masih saja keluar dari telapak kakinya yang robek. Edo yang terkenal gesit segera mencabut daun-daunan di sekitar tepi sungai, membejeknya kemudian menyumpalkannya ke kaki Anissa. Anissa menjerit menahan sakit.
            “Kamu bawa sapu tangan, Nis?” tanya Edo. Seperti seorang perawat di tempat terpencil, Edo menggunakan apa saja yang ada untuk melakukan pertolongan pertama. Seperti waktu tangan Doni terkena ledakan petasan, Edo melumuri tangan Doni dengan lumpur basah sehingga luka bakar bekas petasan itu tidak terlalu parah.
            Anissa mengeluarkan sapu tangan dari ranselnya. Edo membungkus obat yang terbuat dari daun-daunan itu dengan saputangan tadi dan mengikatnya di punggung kaki Anissa. Anissa berhenti mengerang.
            “Enakan, Nis?” tanya Mayang ikut merasakan kesakitan.
            “Lumayan. Makasih ya, Do,” jawab Anissa sambil minta bantuan berdiri ke Edo.
            Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju puncak bukit itu. Di atas bukti itu kata orang-orang ada sebuah batu besar yang menyerupai kasur, lengkap dengan bentuk bantal dan gulingnya. Juga ada gua yang hangat seperti kalau kita sedang duduk di depan perapian waktu hujan badai.
            Ketika berhasil mencapai puncak bukit kelima anak itu bersorak kegirangan. Mereka berlari-lari dan menikmati kebebasan di alam terbuka. Berteriak dan menjerit-jerit. Tak terkecuali Anissa dengan kaki kirinya yang terluka ia melompat-lompat penuh semangat, gembira. Akhirnya ia bisa juga berada di bukit yang menurut orang-orang angker.
            “Teman-teman, gimana kalau kita membuat baling-baling dan menancapkannya di pinggir tebing itu?” usul Andrian.
            “Wah, ide bagus tuh, Ndri. Nanti kita bisa lihat dari bawah baling-balingnya berputar ditiup angin,”  Mayang antusias.
            “Ya, kita jadikan baling-baling ini sebagai simbol persahabatan kita,” timpal Edo.
            Akhirnya semuanya bergerak. Edo mencari rotan yang tumbuh subur di bukit itu. Anissa dan Mayang bertugas membelah dan membuat baling-baling. Doni dan Andrian mendirikan tiang dan memasang baling-baling buatan mereka, memastikan arah angin sehingga baling-baling itu berputar ditiup angin.
            Kelima baling-baling selesai dibuat dan tiang berhasil dipancangkan  dengan kuat. Baling-baling itu pun berputar dan menimbulkan suara yang unik, perpaduan suara siulan burung pipit dan desiran angin di musim kemarau. Kelima anak itu menatap hasil karya mereka dengan takjub.
            “Aku ingin pergi ke gua itu, Teman-teman,” Anissa memecah keheningan yang menakjubkan itu. Ia menunjuk sebuah gua yang jaraknya beberapa kilometer dari tempatnya berdiri.
            “Iya, menurut cerita orang-orang gua itu hangat dan di dalamnya banyak ukiran-ukiran hasil karya orang zaman dulu,” seperti biasa Mayang menanggapi dengan penuh semangat, menunjukkan kalau dirinya senang sekali berpetualang.
            “Tapi, banyak juga orang bilang kalau di sana tuh pernah dijadikan markas  pejuang waktu melawan penjajah. Sekarang malah dijadikan tempat persembunyian narapidana yang kabur,” ujar Doni.
            “Aku juga ingin ke sana. Tapi melihat keadaan sebaiknya sih kita tunda dulu rencana kita ini,” Andrian menengahi.
            “Iya. Kasihan Anissa, kakinya masih luka. Aku takut nanti bertambah parah,” Edo menghela napas berat. Ia juga ingin sekali melanjutkan perjalanan, tetapi ia tidak tega melihat kondisi Anissa.
            “Aku nggak apa-apa koq,” Anissa jadi tidak enak hati.
            “Mending kita pulang aja, supaya tidak kesorean. Ya minimal kita sudah tahu tempat ini seperti apa, dan medan yang dilalui bagaimana. Mayang kan pengen nyobain tidur di atas kasur batu, tadi udah kan ya, May?” lanjut Andrian.
            “Ya udah deh, kalau begitu. Tapi aku janji suatu hari nanti akan membawa kalian ke sana.” Desah Anissa sedikit kecewa.
            Akhirnya semua sepakat untuk menghentikan ekspedisi itu dan pulang ke rumah masing-masing.
*

Lihat Cerita sebelumnya :

Minggu, 01 Januari 2012

JANJI ANNISA : #1 Bangun Terlambat

1
BANGUN TERLAMBAT
Adzan Subuh sudah menggema. Ashalatu Khairumminannauum... begitu syahdu dan  membangkitkan gairah segenap umat untuk memulai hari dengan penuh semangat. Ridwan segera melepas selimut, lalu duduk di tepi tempat tidur. Sambil menarik napas dalam-dalam ia membaca doa bangun tidur, kemudian bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu.
            “Eh, Kakak sudah bangun,” sapa ibu yang sedang menyeduh teh hangat, ”Ayah sudah nunggu tuh, Kak,” lanjut ibu sambil menuangkan sesendok gula pasir ke dalam gelas. Wajah ibu kelihatan segar dan berseri karena baru saja dibasuh air wudlu.
            “Iya, Bu. Ridwan ke kamar mandi dulu ya,” balas Ridwan sambil tersenyum. Di sela sisa kantuknya sekalipun Ridwan masih bisa membalas senyum ibunya dengan ramah. Ridwan tidak pernah lupa nasehat Pak Ustadz bahwa menghormati orangtua merupakan kewajiban bagi setiap anak.
            Ketika Ridwan masuk ke kamar mandi, sayup-sayup ia mendengar Ibu membangunkan Anissa, adik perempuannya yang masih tertidur pulas. Seperti biasa Anissa terdengar mengeluh dan malas-malasan.
            “Ayo Nissa, nanti keburu siang. Shalat subuh dulu, Nak,” ajak Ibu lembut.
            “Ah, Nissa masih ngantuk, Bu. Ini kan hari libur,” keluh Nissa lagi sambil menarik selimut sampai menutupi dadanya.
            “Nissa.... hari libur bukan berarti Shalat libur juga, Nak. Ayo dong, Nissa kan anak pintar,“ rayu Ibu.
Nissa malah membalikkan badannya, melanjutkan tidurnya. Ibu menggelengkan kepala menghadapi kelakuan Nissa. Sambil berlalu ibu berniat membangunkan Nissa setelah selesai menunaikan Shalat Subuh.
Tiba-tiba ayah muncul dari ruang depan sambil menenteng gelas tehnya.
“Sepertinya hujan, Bu. Ayah nggak bisa ke mesjid nih. Kita shalat berjamaah aja, ya,” ucap ayah sambil meletakkan gelas di atas meja, lalu menuju ruang depan yang dikhususkan untuk ruang ibadah. Biasanya di ruangan ini Ayah memimpin shalat dan mengaji bersama keluarga. Ruangan ini juga berfungsi sebagai perpustakaan keluarga. Di sana ada meja dan buku-buku yang disusun rapi di rak buku. Kebanyakan buku tentang agama dan pengetahuan umum.
Ibu sedang menggelar sajadah ketika Ridwan masuk dengan pakaian shalatnya. Ridwan bersiap-siap untuk mengumandangkan iqomat. Ayah berdiri di depan sebagai imam, Ridwan di belakang ayah, dan ibu berdiri di belakang Ridwan. Keluarga ini pun mulai melaksanakan Shalat Subuh berjamaah.
Sementara itu, Anissa masih lelap dalam tidurnya. Ia memang kerapkali terlambat bangun dan Shalat Subuh. Ibu dan ayah sudah seringkali mengingatkan. Ridwan pun sebagai kakaknya tak henti memberi nasihat karena menunda Shalat itu tidak baik hukumnya, dan manusia akan merugi karena bisa menyebabkan celaka.
“Ah, tahu apa Kakak tentang celaka,” begitu kilah Anissa suatu waktu ketika Ridwan mengingatkan Anissa untuk segera menunaikan Shalat Maghrib. Annisa malah asyik nonton acara tv anak-anak.
Sebagai kakak, Ridwan sangat sayang kepada adik-adiknya. Annisa yang berumur tiga tahun lebih muda dari Ridwan duduk di kelas tiga SD. Dan adik bungsu mereka, Nafissa masih di taman kanak-kanak. Rasa sayang itu Ridwan tunjukkan dengan memberi contoh kepada adik-adiknya untuk selalu berbuat baik, rajin belajar, dan membantu orangtuanya di rumah.
Tapi berbeda dengan Ridwan, Anissa lebih sering bermain di luar. Dan tidak seperti anak-anak perempuan sebayanya, teman-teman Anissa kebanyakan anak laki-laki. Anissa menyukai permainan anak laki-laki seperti bermain bola, manjat pohon, main di pinggir sungai, dan sebagainya. Tidak jarang Anissa pulang sore dengan baju penuh lumpur atau tangan dan kaki yang memar.
Ibu sangat cemas menghadapi kelakuan Anissa. Apalagi melihat ayah yang kadang marah dan menghukum Anissa. Ibu menjadi sangat sedih. Tapi kelihatannya Anissa tidak pernah jera sama sekali. Ia malahan selalu mengulang kesalahan yang sama. membuat resah Ibu dan membuat ayah menahan emosi.
*
            Jam delapan pagi Anissa baru bangun dari tidurnya. Itu pun karena ia merasa lapar dan teringat akan janjinya kepada teman-temannya untuk melakukan petualangan ke bukit di desa sebelah. Kabarnya di sana banyak burung yang mudah diburu, juga ada kasur aneh yang terbuat dari batu. Dan yang paling ramai dibicarakan orang-orang adalah sebuah gua misterius yang menyimpan banyak misteri.
            Waktu Anissa membuka tudung saji di meja makan, ia tidak mendapati apa-apa di sana. Ke mana ibu, pikirnya, kenapa tidak ada nasi goreng yang biasa ibu buat untuk sarapan. Lalu Anissa ke ruang keluarga, di sana ia tidak mendapati siapa-siapa. Dalam keadaan tidak menentu Anissa meraih remote control dan menyalakan tv. Acara film anak-anak mewarnai layar televisi datarnya. Kemana ibu dan ayah, Kak Ridwan dan Nafissa. Kok rumah sepi begini sih? Anissa tak henti bertanya-tanya.
            Ketika hendak membuka lemari es, Anissa melihat ada secarik kertas di balik hiasan kulkas. Sebuah memo, tulisan tangan ibu yang sangat rapi.
            Assalamu alaikum : Nissa sayang, Ibu dan Ayah, juga Kakak sama Adik pergi ke rumah Tante Nur dulu sebentar. Kata Tante, Kakak Iza lagi sakit. Nissa sarapan bubur aja, uangnya ada di atas meja makan. Wassalam : ibu
            Nissa menarik napas berat. Hari ini ia ada janji mau pergi ke bukit di desa sebelah bersama Doni, Andrian, Mayang dan Edo. Gimana bisa kuat kalau cuma sarapan bubur. Ia sedikit menyesal karena bangun kesiangan. Coba kalau tadi ia bangun pagi, ia bisa minta uang bekal sama ibu. Tapi kalau dipikir-pikir ada bagusnya juga sih aku bangun siang, soalnya kalau bangun pagi aku terpaksa harus ikut ke rumah Tante Nur dan tidak akan mendapat izin untuk pergi bersama teman-temannya. Terus sekarang gimana, aku harus minta izin sama siapa? Gimana kalau ayah dan ibu marah karena aku pergi ke bukit itu? Begitu batin Anissa berkecamuk.
            Anissa berpikir sebentar, lalu menjentikkan jarinya mantap. Sekarang ia malah merasa senang karena dengan tidak ada ibu dan ayahnya ia bisa bebas pergi tanpa dilarang-larang. Kalau pulangnya dimarahi, itu urusan nanti, pikirnya. Ia lalu buru-buru mengambil uang di atas meja, membuka lemari makanan dan memasukkan beberapa bungkus mie instant, roti bungkus dan air mineral. Ia juga mengambil buah pir dan apel dari dalam lemari es. Semuanya dimasukkan ke dalam ransel yang sejak semalam sudah diisinya dengan kaos dan celana bersih.
            Setelah mengkodlo Shalat Subuhnya, Anissa membuat memo untuk ibu. Kemudian Anissa mengeluarkan sepeda dari garasi, mengunci pintu dan menyimpan kunci rumah di bawah keset sabut kelapa yang tergeletak di depan pintu. Lalu mengayuh sepedanya menuju rumah Doni, tempat ia dan teman-temannya janji berkumpul. Sekilas ia melirik jam tangan anti airnya, pasti teman-teman sudah lama menunggunya, desah Anissa cemas.