Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Desember 2013

NOTES BB

JUDULIN APA YA

Osa cuma bisa nyengir saat Diko melemparinya dengg kacang kulit cap gagak yang baru saja dibukanya. Tuh anak emang agak sableng. Dikatain turunan gajah juga nggak ada rasa kesinggung sama sekali. Ledekan Diko, Naya, dan Yuri yang kerap main fisik, kali dianggapnya sebagai pujian.

"Tangkap, Sa!" teriak Naya saat melihat Diko kembali melemparkan kacang ke arah Osa.

"Hup... Lagi dong!" Rengek Osa sok manja. Tubuh tambunnya nyaris berdebum saat mendarat dari lompatan spontannya.

"Lu mah keenakan ternyata. Rugi gua..." dengus Diko mulai kesal.

"Ha ha ha lagian siapa suruh nganggap gua anak gajah," balas Osa sambil cengengesan. 

Dua hari yang lalu Diko maksa Osa dan yang lainnya untuk ketemuan di rumahnya hari ini. Penyakit galau tingkat mahasiswa abadinya makin akut aja. Untuk apa lagi kalau bukan buat ngomongin Zeva, cewek yang ditaksirnya itu. Kayaknya udah hampir sebulan usaha pedekatenya nggak menunjukkan hasil. 

"Jurus lu kurang ampuh, Sa," keluh Diko. Mukanya yang kuyu makin tampak tak bersemangat aja. 

"Emang si Osa nyuruh lu ngapain, Ko?" sela Yuri sambil mindah-nindahin chanel TV. 

"Iya nih sampe segitunya lu kecewa," timpal Naya. 

"Bukan apa-apa, guys, gua udah mati-matian deketin Zeva, pake acara mandi kembang setaman tips anak kos dodol ini, eh, tuh anak mana ada tanda-tanda respek ke gua!" Diko pasang muka super kecewa. 

"Ÿåªą eya, lo bunga setaman makam pahlawan lo pake mandi. Gue suruh kan bunga cattelya, bunga anggrek silangan di toko bunganya Sis Yulita," sanggah Osa cuek. 

"Resek lo!" delik Diko. 

"Trus Zeva-nya gimana?" Naya. 

"Alergi kembang, dia." Yuri sok tahu. "

Anti cowok BBTS sih Ɣªήğ jelas," sambung Osa. "

Cowok BBTS? Naya mengernyitkan kening. 

"Yoi, Cowok Berbau Badan tak Sedap!" 

"Sialan!" Diko melempar Osa kacang bantat. Huphh, Osa menangkap kacang di udara dengan mulutnya. 

* 

Ada Ɣªήğ mau lanjutin ceritanya?

Senin, 02 April 2012

FF : CINTA TANPA KATA


CINTA TANPA KATA


Aku kembali menatap lentik bulu mata itu. Pipi tembem dan bibir mungilnya masih bergerak seolah sedang menikmati susu yang biasa ia hisap dari puting ibunya. Anak itu sudah terlelap dalam mimpi masa kanak-kanaknya yang indah. Dan aku hanya akan bisa tidur setelah puas memandangi bayi lucu itu dan memastikan ia aman dalam sleeping box-nya.
                Bayi perempuan mungil, cucu pertamaku itu sehat dan menggemaskan. Ia terlahir normal dari rahim anak perempuanku yang tuna wicara. Begitupun ayah bayi itu, menantuku, juga memiliki kekurangan yang sama. Keduanya bertemu dalam sebuah club olahraga yang mereka sama-sama tekuni. Cinta kemudian tumbuh melalui bahasa mereka yang kerap kali tidak aku pahami.
                “Lusy suka sama Sapto?” tanyaku sebelum pernikahan mereka berlangsung beberapa bulan kemudian.
                Anakku mengangguk. Binar di matanya memancarkan jawaban dari pertanyaan yang aku ajukan. Dalam bahasa isyarat ia mengatakan kalau Sapto juga mencintainya. Pada awalnya aku ragu, bagaimana mereka bisa menyelami perasaan cinta itu satu sama lain sementara mereka hanya bicara melalui gerakan tangan dan bibir dengan sedikit suara terbata. Padahal aku sendiri, terkadang masih agak sulit memahami apa yang Lusy bicarakan.
                Lusy menggenggam tanganku,  memohon dukungan. Aku mengangguk seraya mengecup keningnya sebagai bentuk kebahagiaan yang aku rasakan. Aku memang merasa sangat bahagia mendapati puteriku yang sudah beranjak dewasa telah menemukan tambatan hatinya. Aku bahagia atas kebahagiaan yang telah diraih anakku.
                Beberapa bulan kemudian Lusy dan Sapto menikah dalam acara yang cukup sederhana sesuai dengan keinginan  mereka. Bagi mereka –dan kami pun sependapat- acara resepsi yang sederhana sama sakralnya dengan acara yang digelar besar-besaran. Yang penting adalah doa dari semua undangan.
                Kemudian, atas permintaan kami, Lusy dan Sapto tinggal bersama kami. Sapto ternyata menantu yang baik dan sopan. Kami mencintainya seperti kami mencintai Lusy anak kami sendiri. Aku bahkan bisa memastikan kalau cinta Sapto kepada Lusy begitu besar.
                “I Love You,” dengan gerak bibir dan tangan, aku melihat Sapto mengutarakan isi hatinya kepada Lusy ketika mengetahui Lusy mulai mengandung anak mereka. Kebahagian semakin sempurna.
                Lusy menitikkan air mata bahagianya. Tuhan telah mempertemukan ia dengan seorang lelaki penuh tanggung jawab yang mencintainya sepenuh hati. Sapto telah memberikan Lusy bukan saja cinta dan rasa percaya diri, tetapi ia telah membuat Lusy menjadi seorang ibu dari bayi cantik yang dilahirkannya sembilan bulan kemudian.
                Aku semakin yakin bahwa cinta memang tidak memerlukan kata-kata untuk disampaikan secara verbal. Bahasa hati jauh lebih bermakna dan lebih mudah dipahami, ketimbang kata-kata yang bisa saja berupa dusta belaka.

-o0o-

Jumat, 23 Maret 2012

Flash Fiction : Pulang


PULANG
Kamiluddin Azis

 
                Aku hanya sanggup melempar senyum kecut. Sebuah senyum terakhir yang masih bisa aku bagi sebelum aku benar-benar pergi.
                Miranti menatapku dengan sejuta penyesalan yang sulit aku terima. Sebuah pengkhianatan -setelah kesetiaan ini aku patri bertahun-tahun lamanya- meruntuhkan dinding kepercayaanku padanya.
                “Maafkan aku Mas,” ia tertunduk menatap bumi tempatnya berpijak seolah ia takut bumi pun tak akan menerima pengakuannya. Air mata sudah lebih dulu mengalir tanpa harus kubuka keran lukaku.
                “Sudahlah, Ranti, aku mengerti kenapa kamu melakukan itu. Aku yang salah karena tidak sanggup memberimu kebahagiaan.” Kendati sakit ini belum benar-benar sirna, aku berusaha berpikir jernih bahwa mungkin saja semua kejadian ini berpangkal dari kesalahanku sendiri.  Sebagai seorang tenaga kerja Indonesia di luar negeri aku memang tidak bisa terlalu sering pulang ke tanah air. Perusahaan tempatku bekerja hanya memberikan dispensasi cuti pulang sekali dalam dua tahun. Jika karyawannya menginginkan pulang setahun sekali, itu masih diperbolehkan, dengan catatan biaya akomodasi dan sebagainya ditanggung sendiri.
                Dan karena aku hanya bisa menemui Miranti sekali dalam setahun tentu saja aku tidak bisa memberikan nafkah batin padanya. Sebagai seorang istri dan seorang perempuan, kebutuhan biologis sudah pasti harus dipenuhi. Komunikasi melalui telepon, yahoo messenger, bahkan video call, tidak bisa menggantikan apa yang seharusnya aku penuhi sebagai seorang suami.
                Ranti  menggenggam erat jemariku, matanya sembab menahan rasa takut dan penyesalan yang dalam. Sepertinya ia ingin sekali memelukku dan menumpahkan kesedihannya di bahuku, tetapi aku berusaha menghindar karena rasanya aku tidak sanggup lagi menerimanya sebagai bagian dari tanggung jawabku.  Aku resmi memberinya talak tiga supaya Miranti bisa segera menebus dosa-dosanya dan menikah dengan lelaki itu.
                Lelaki itu, -saat aku sengaja pulang ke tanah air tanpa memberitahukan Miranti, istriku, karena ini akan menjadi bagian dari kejutan ulang tahunnya- tengah berada di bawah selimut bersama seorang perempuan yang aku yakin dialah Miranti, istriku yang aku nikahi empat tahun yang lalu. Tanpa mereka sadari keberadaanku, kedua insan yang bukan muhrim itu sedang berpagut menikmati kebersamaan mereka. Seketika juga aku tidak bisa merasakan pijakan kakiku. Apa yang aku pegang dalam genggaman tanganku berjatuhan dan menyadarkan mereka akan kehadiranku yang  menyaksikan semua pengkhianatan itu.
                Sebagai seorang lelaki dan suami aku merasa bodoh dan  sangat terhina. Miranti yang merajut kasih denganku  belasan tahun lamanya tiba-tiba menjadi seorang asing di mataku. Tiga tahun lamanya aku mengadu nasib di negeri orang demi menjalankan rencana hidup kami untuk membuat sebuah keluarga bahagia. Tapi sekarang sia-sia sudah. Dan aku tidak perlu menunggu dua atau tiga tahun lagi untuk berhenti menjadi TKI dan menjalankan rencana kehidupan kami setelah aku mapan; hari ini, biarlah menjadi hari terakhir kepulanganku ke Indonesia.

Rabu, 01 Februari 2012

Flash Fiction : Aroma Cinta di Ujung Senja


AROMA CINTA DI UJUNG SENJA
Kamiluddin Azis


Rumah itu masih seperti  lima tahun yang lalu saat aku pergi. Wangi jamu menyeruak di hampir setiap sudut ruangan.  Aku sudah terbiasa mencium bau aneh itu sejak kecil. Dan tidak pernah sekalipun celoteh protesku mengubah itu.  Sampai ketika aku harus berangkat menginggalkan tanah air, wangi-wangian itu ikut dan menempel  kuat dalam ingatanku. Hidupku seperti sudah terikat mati, tidak akan pernah lepas dengan baunya. Dan aku tidak lagi bisa menolaknya.
                Tentu saja selain Ayah,Iibu dan Mamaku, rasa rindu terhadap rumah dan- kembali- wangi jamu itu yang menggiringku pulang.  Harmoni itu : Wangi jamu yang selaras dengan gerak lambat kehidupan di rumah ini. Lima tahun di negeri orang, dan kini aku pulang dengan masih membawa tanya yang belum terjawab.
                Akankah hari ini tiba semua jawaban itu.
                “Apa bedanya kalau kamu tahu siapa diantara kami ini yang melahirkanmu?” Itu bukan jawaban. Tetapi kenapa selalu pertanyaan balik itu yang terucap setiap kali aku bertanya.
                Aku lahir dari rahim seorang perempuan. Itu pasti. Tapi aku dirawat dan dibesarkan oleh dua orang perempuan yang sama-sama mencintaiku : Ibu dan Mama. Salah seorang dari mereka adalah ibu biologisku, yang di dalam rahimnya aku tumbuh selama lebih dari tiga puluh enam minggu. Tapi keduanya menolak memberi tahuku di rahim siapa aku dikandung.
                Tidak juga dengan Ayah. Dialah lelaki satu-satunya yang ada diantara 3 perempuan di rumah ini. Dialah yang menebar cinta dan menanamnya begitu dalam hingga tumbuh dan merekah setiap hari di hati kami. Dia yang tidak pernah mengeluh  kenapa aku terus mempertanyakan hal serupa setiap waktu. Dia yang tidak pernah sekalipun berbuat kasar di depan mataku atau di belakangku. Dia yang menjaga dan melindungi kami, ketiga perempuan yang disebutnya sebagai three angles. Dialah lelaki yang pandai menyimpan rapat rahasia besar yang mungkin belum saatnya dibagi denganku.
                Tapi kini aku sudah besar. Dua puluh dua tahun usiaku. Dan gelar dokter  sudah menempel cantik di depan namaku. Kendati sudah tidak penting lagi mengajukan pertanyaan itu, aku tetap saja terusik.  Mendapat jawaban yang pasti tidak akan mengubah apapun, selain menciptakan perasaan tenang di hatiku.
                Kenapa harus menunggu begitu lama untuk mengetahui kebenaran itu? Atau jangan-jangan aku bukan anak dari Ibu atau Mama? Bukan pula anak Ayah?              
                “Please, Ayah. Ayah kan sudah janji,” aku mengingatkan ayah dengan nada mengiba.
                Lalu kebenaran pun terungkap.

                Mama adalah perempuan pertama yang dinikahi Ayah selama empat tahun sebelum ia memutuskan  untuk menikahi Ibu karena Mama tidak kunjung memberikan keturunan. Pernikahan ayah dan Ibu diatur sedemikian rupa oleh Mama. Ibu adalah perempuan terbaik pilihan Mama untuk mendampingi Ayah.
                “Mama ingin memiliki seorang anak. Darah daging dari lelaki yang mama cintai. Walaupun itu tidak lahir dari rahim mama, tapi mama ingin anak itu lahir dari sebuah rasa cinta,” Mama membuka lembaran kisah yang sudah lama ia simpan.
                “Mama meminta ayahmu menikahi ibumu, dan mencintainya seperti ia juga mencintai mama. Mama rela, asalkan ia mau berbagi cinta dengan mama. Berbagi kasih sayang untuk anaknya dengan mama. Dan mama mendapatkan rasa cinta kamu sebagaimana seorang ibu merasakan cinta dari anaknya.”
                Aku melepas lipatan tanganku dan menggenggam tangan Mama. Memberinya kekuatan yang aku sendiri tidak tahu apakah ada gunanya. Sementara aku masih haus akan jawaban.
                Ibu berdiri di belakangku dengan mata berkaca-kaca. Tangannya menyentuh pundakku. Ia hendak berbicara kalau saja Mama tidak segera kembali bicara.
                “Pada mulanya ayahmu menolak. Mama tahu ia adalah lelaki setia . Ia rela menghabiskan hari dengan mama walaupun tanpa kehadiran buah hati. Begitupun dengan ibumu. Meskipun mama tahu masih ada perasaan cinta di hati ibumu yang sebelumnya sempat terenggut oleh kehadiran mama, tapi ibumu menolak untuk dinikahi ayahmu.”
                Aku beralih menatap mata Ibu seolah menunggu apa yang akan ia sampaikan.
                “Mamamu adalah sahabat terbaik yang pernah ibu miliki. Ia rela mengorbankan perasaannya sendiri demi kebahagiaan orang lain. Begitu tahu betapa besarnya harapan mama untuk memiliki anak sementara ia tidak mampu, ibu tidak keberatan berbagi dengannya.” Lembut jemari Ibu mengusap kepalaku. Ketenangan menyelimuti hatiku. Puzzle-puzzle itu sepertinya akan segera membentuk sesuatu. Sebuah gambaran yang utuh tentang siapa ibuku ini sebenarnya.
                “Lalu kami bertiga sepakat untuk tidak memberitahumu semuanya. Walaupun kamu mendapatkan asi dari ibumu, tetapi mamamu turut merawatmu, sama repotnya seperti ibumu. Kadang ayah merasa lucu melihat tingkah kedua istri ayah ini,” timpal ayah sembari mengumbar seulas senyum, dan berharap dengan senyum itu ia bisa menyembunyikan gundah  di hatinya.
                Sekarang Mama terkulai tak berdaya. Mama divonis tidak bisa memiliki anak setelah berkali-kali keguguran. Dan semua itu terjadi karena di rahim Mama bersarang kanker yang setiap waktu tumbuh tanpa bisa dikendalikan. Aku baru sadar, wangi itu bukan sekedar jamu kesehatan seperti selalu ibuku bilang, bukan pula pengharum ruangan atau pengusir bau-bauan lainnya yang tidak disukai binatang pengganggu seperti yang selalu ayah utarakan. Tetapi adalah ramuan obat untuk mencegah kanker Mama tumbuh semakin ganas. Bahkan setelah rahim Mama diangkat beberapa tahun silam, Mama masih harus terus menjalani berbagai terapi, termasuk terapi secara tradisional, agar kesehatannya kembali pulih.
                Kini cinta ketiga orang tuaku satu sama lain sudah terjalin puluhan tahun. Di ujung senja usia mereka cinta itu masih terikat erat. Aku sangat bangga dan bahagia bisa memiliki orang tua yang tiada henti mengalirkan cinta dan memberikan kehangatan dalam hidupku. Betul kata Mama, tidak akan ada bedanya jika kemudian aku tahu siapa ibu kandungku sebenarnya. Tetapi tentu saja mengetahui sebuah kenyataan pasti akan jauh lebih baik daripada menerka-nerka sesuatu secara tidak pasti.
                Harmoni cinta kami begitu indah. Irama hati dan jiwa kami menyatu selamanya. .

Flash Fiction : Copy Darat Pocong FB


COPY DARAT POCONG FB


Bosen chatingan di dunia maya, gue maksa cowok itu buat copy darat. Cowok yang ngaku dirinya pocong bernama Nyengir dengan marga kebanggannya ‘Sanggolek’ itu langsung setuju. Akhirnya gue sama tuh pocong jadi-jadian janjian di kebon pisang kampung sebelah. Kenapa janjian di kebon pohon pisang coba, dasar pocong, ada-ada aja!
         Gue celingukan ke sana ke mari nyariin si Nyengir Sanggolek. Tapi tuh makhluk belum nongol juga. Lalu gue nyalain hape sekedar buat pasang status di FB, sekalian gue jadiin hape gue sebagai senter. Maklum di kebon pisang mana ada yang pasang lampu. Dalam cahaya yang seadanya dari jauh gue lihat seoonggok benda putih berdiri di samping pohon pisang. Gue nyalain lagi hape gue, dan gue arahkan ke tempat tadi, benda putih itu sudah pindah ke pohon sebelahnya yang lebih dekat dengan posisi gue berdiri. Bulu kuduk gue tiba-tiba meremang. Pikiran parno mulai merasuk ke dalam otak gue, membuat gue berpikir yang enggak-enggak.
         Gue mencoba bertahan dengan sisa rasa takut gue yang mendadak muncul. Lalu gue perhatikan sekali lagi dengan lebih seksama, dari ujung kaki yang dibungkus kain putih, sampai ujung kepala yang diikat dengan tali membentuk permen dalam ukuran besar. Apakah benda putih itu….. po-cong.. atau … ?
         Dan ternyata, benda itu beneran pocong!
         Pocong asli!.
       Awalnya memang gue nggak percaya. Bisa aja kan siapapun mengada-ngada dan ngaku kalau dirinya pocong. Foto PP berupa pocong dengan wajah seram juga gampang didapat, tinggal googling, copas, jadi deh PP di FB. Tapi foto pocong yang satu ini memang agak beda dibanding gambar pocong yang sering gue lihat. Lebih asli dan natural. Muka hitamnya sih sama, tapi rasanya belum pernah gue lihat ada pocong bertampang nyengir seperti si Nyengir Sanggolek itu. Dengan gigi depan yang rompang dua, dia pede ngejepret dirinya sendiri pake kamera hapenya, lalu dipasang sebagai PP-nya.
         Untuk memastikan keaslian tuh foto, gue tanyain ke ahli foto digital terkenal bernama Boy Mentari. Dan hasilnya ternyata foto itu memang beneran asli. Tapi Mas Boy Mentari tidak mau membuat pernyataan apakah orang yang adadalam foto itu pocong beneran atau pocong jadi-jadian. Yang ada, setelah mendapat order dari gue sang ahli digital mendadak koma berhari-hari. Kejadian itu menambah rasa penasaran gue buat ketemu temen FB gue yang satu ini.
          “Ternyata lo beneran pocong, bro?” tanya gue memberanikan diri.
Cowok itu sama sekali tidak menggubris pertanyaan gue. Tubuhnya tetap membelakangi pohon pisang yang buahnya panjang menjuntai. Tapi dari tempat gue berdiri, gue masih bisa melihat cahaya kecil di bagian tengah tubuhnya, yang menyerupai lampu sebuah telelpon seluler.
                Nggak begitu lama suara hape gue bunyi. Ternyata itu info kalau ada yang nulis di wall FB gue. Buru-buru gue buka, gini bunyinya : “Sorry, gue lagi puasa ngomong. Lo masih gak percaya kan kalo gue beneran pocong ya?”
                Deg, jantung gue mendadak berhenti. Tapi gue coba menahan rasa takut ini karena gue beneran penasaran ngapain si Nyengir pake kostum pocong segala. Tapi… nih beneran si Nyengir Sanggolek bukan ya? Atau malah beneran…. Sssttt pocong?
                Berasa diperhatikan, pocong pendiem itu membalikkan badannya dengan sekali lompatan kecil. Ia lalu memperlihatkan wajahnya yang disorot cahaya hape yang menyala dari bagian  tengah perutnya. Mukanya nyengir kuda, memperlihatkan gigi depannya yang ompong dua. Seketika gue menjerit. Lalu gue ngacir dari TKP, lari lintang pukang nggak tentu arah.  Dari kejauhan gue masih bisa dengar suara gedebug seperti sesuatu yang terjatuh. Gue berharap si Nyengir kesandung akar pohon pisang.
                Malam itu juga sepulang dari kebon pisang itu, gue langsung remove pertemanan gue dengan si Nyengir Sanggolek yang ternyata adalah pocong penunggu kebon pisang golek itu.