Tampilkan postingan dengan label Daily Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daily Story. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Mei 2013

Perjalanan Mengejar Mimpi



"Hiahhh, judulnya lebay banget ya...?!"
Tapi nggak apa-apa, yang penting niatnya ‘benar’. Seperti kata Pak Ustadz, Inna A'malu binniat. Jadi kalau niat ikut pelatihan menulis ini ialah sebagai jalan untuk meraih mimpi, maka Insya Allah mimpi itu akan terwujud . Amin....

Adalah Petra Shandi alias @ezarsatria, novelis dari (dia nggak mau disebutin nama daerahnya) Subang,  yang mengajak saya untuk ikut seleksi Kampus Fiksi yang diselenggarakan oleh Diva Press. Mulanya saya ragu karena nggak percaya dengan kemampuan sendiri. Tapi karena penasaran dan sekalian untuk menjajal kebisaan, saya pun daftar. Dan Alhamdulillah lolos, kebagian gelombang II tanggal 25-26 Mei 2013, satu angkatan dengan Petra juga.

Setelah melakukan berbagai persiapan : pesan tiket, ngerjain tugas, ikhtiar cari laptop teman yang bisa disewa (ssttt, no comment!) dan tentu saja ngajuin cuti jauh-jauh hari, akhirnya saya bareng Petra, yang memang sudah lama kenal dan sering ketemu, siap berangkat ke Yogyakarta.

Dan dari sinilah cerita ini bermula.

Ini adalah perjalan pertama saya pergi sendiri (eh, nggak deng… kan sama Petra) jauh-jauh tanpa pengawalan (haha, emang presiden dikawal, Kang!). Orang Sunda bilang saya ini termasuk ‘kurung batokeun’ alias jarang pergi ke mana-mana. Bisanya ngendon aja! (pantes Persib jago kandang? Huss ah!! #gaknyambung) Kalau bukan untuk urusan ‘menulis’ yang selama setahun belakangan ini saya tekuni lagi, saya nggak bakalan maksain diri. Makanya saya serius mempersiapkannya. Saya sampai-sampai nggak bisa tidur karena takut kesiangan. Bukan apa-apa, kalau sampai telat ke stasiun, tiket yang sudah dipesan bisa angus, kan? Mana saya ketitipan punya Petra juga, #berat bebankuh!, haha… (konsekuensi ketitipan beli tiket, soalnya lagi bokek, jadi pake bekel Petra dulu, wkwkwk… sssssttt ah!)

Jumat, 24 Mei 2013. Perjalanan dari Stasiun Bandung  dimulai pukul 8 pagi lewat beberapa menit. Lumayan lama juga menunggu, karena menurut jadwal, kereta Lodaya pagi jurusan Solo itu berangkatnya jam 7.00. Nggak apa-apa lah, kan acaranya juga baru dimulai besok dan peserta maksimal harus sudah sampai lokasi jam 9 malam. Perkiraan sampai stasiun Yogyakarta itu pukul 4 sorean.

Selama dalam perjalanan, banyak hal yang saya dan Petra perbincangkan. Mulai dari hal-hal sepele soal status-status di facebook dan twitter, membahas proyek yang sedang dikerjakan masing-masing, sampai resolusi masa depan, hahay… Tentu saja sambil menghabiskan bekal cemilan seabreg yang ada di kantong masing-masing plus... bernarsis ria!
Dan semuanya itu selalu diselingi candaan dan tawa yang cetar membahana. Sampai-sampai penumpang lain bolak-balik lewat seat kami (soalnya mau ke toilet, emang mesti lewat tempat duduk kami, wew!).

Pura-puranya lagi bingung, padahal iya...


Tak terasa waktu berlalu. Kesal hilang, capek juga lenyap. Saat kereta berhenti di Stasiun Yogya, kesal hilang, capek juga lenyap. Yogya … Yogya … Kami sudah janjian dijemput oleh panitia. Mbak Ve BBM nunggu di bawah jam yang bertuliskan Yogyakarta. Ya elah… jamnya aja ngumpet, celingukan lah saya sama Petra. Untung Mbak Ayun nyapa duluan.  Sambil menunggu mobil jemputan yang kejebak macet, kedua editor Diva yang ngakunya masih berjiwa teenager itu mengurai cerita yang lumayan rame dan bikin lupa laper. Untungnya, beberapa menit kemudian sebuah mobil ijo yang isinya juga serba ijo datang. Kami pun berangkat menuju  Kampus Fiksi di Jalan apa, #lupatanya. Ternyata eh ternyata, masih ada 1 orang lagi yang harus dijemput. Namanya Arif siapa lupa (ke sini-sininya dapat julukan Mika, tau tuh Mika ambon atau Mikariayam…) masih 18 taun, tapi bongsor dan makan tempat. Jadinya Mbak Ve ngalah pindah duduk yang asalnya di depan, ke kursi penumpang di belakang.  Hemhhh… untung saya kuyus bin cungkring (kalo kalian liatnya sambil ngantuk2!) jadi nggak masalah duduk di kursi penumpang berempat : Saya, dua cewek super heboh itu, dan Petra yang kalian tahu sendiri-lah, bodinya makan tempat (hgehe sorry ya Pet!). Untung jarak stasiun Tugu dan Kampus Fiksi tidak terlalu jauh. Ditambah pemandangan Jalan malioboro di sore hari, lupa deh kalau badanku kedempet-dempet.

Tiba di Kampus Fiksi ternyata sudah banyak peserta yang datang (Ohya, peserta Kampus Fiksi itu 30 orang per-angkatan), bahkan katanya ada yang sudah datang dari kemarin juga. Hebat !

“Kang Aming, ya?” seorang pemuda (katanya sih masih muda) menyapa dengan yakin.

“Adi, ya?” malah Petra yang balik nanya ke anak itu (ternyata masih anak-anak, hehe!)

Kami pun berkenalan. Iya, dia Adi Nugroho, seorang Guru Matematika dari Blitar (iya tho, Di?), yang katanya murah senyum dan suka ngorbal tawa, hahaha … Adi ini yang paling getol mention di twitter sejak jauh-jauh hari sebelum ketemuan di Kampus Fiksi. Makanya kami langsung akrab. Apalagi ketawanya yang menggelegar membabi buta itu langsung menyedot perhatian siapa saja yang mengenalnya.

...... Eh, bentar ya… keburu Maghrib… ntar disambung lagi dengan cerita yang lebih seru.

Jumat, 30 Maret 2012

INDONESIAN IDOL – MIMPIKU TERDAMPAR DI KAMAR MANDI


INDONESIAN IDOL
MIMPIKU TERDAMPAR DI KAMAR MANDI


Ada kegiatan baru yang tidak akan saya lewatkan setiap Jumat Malam : Nonton Indonesian Idol. Hahay... udah K3, masih suka acara beginian! Hihi, biarin aja, kali. Tiap orang punya acara hiburan yang bisa menyegarkan dirinya masing-masing. Ada yang sukanya nonton sinetron (nah kalau yang ini saya kurang tahu nih bapak-bapak model apa yang maniak nonton acara acting adu mulut dan berebut harta ini), olahraga, acara musik yang menampilkan grup band mana yang paling digandrungi, olahraga, talkshow, politik, atau acara-acaranya Sule. Nah, saya lebih memilih ngikuti perjalanan calon artis beken mulai dari audisi sampai acara live-nya setiap minggunya.

Dulu saya suka sekali nonton Talk show Tukul Arwana ‘Empat Mata’ yang lalu berubah nama menjadi ‘Bukan Empat Mata’, juga Opera Van Java yang tiada matinya itu. Kedua acara itu sempat membantu saya mengatasi stress akibat kesibukan bekerja. Tetapi sekarang saya tidak terlalu intens mengikuti acara yang melejitkan para pemainnya itu menjadi artis-artsi kaya dan digemari banyak orang. Terus terang  saya bosan dengan semua celoteh canda yang semakin garing di kuping saya itu. Apalagi aksi slepstik para komedian yang membuat saya merasa seperti dijadikan anak kecil yang girang menonton dagelan.  Dan saya lebih memilih duduk di depan komputer, browsing bahan-bahan bacaan yang menarik dan menambah pengetahuan saya dari sana, menulis, atau sekedar diskusi dengan teman-teman melalui fasilitas chating atau komunikasi lewat facebook di grup yang saya buat.

Berbeda dengan dua acara favorit saya sebelumnya, Kontes adu bakat untuk mencari  idola baru ini sudah saya tonton sejak episode pertama tujuh atau delapan tahun yang lalu. Saya menyaksikan bagaimana perjalanan Delon dan Joy Tobing mulai dari audisi, dikomentari pedas oleh para juri saat mereka tampil, sampai akhirnya mereka menjadi idola dan dielu-elukan banyak fansnya. Kemudian Mike Mohede dan Judika, Rini dan Wilson, Ihsan dan Dearly, Aris dan Gissele, sampai yang Idola baru tahun kemarin Igo dan Citra hampir semuanya menjadi penyanyi terkenal.

Saya senang menebak-nebak dan memrediksi kontestan mana yang akan tetap eksis di dunia hiburan, dan mana yang akan hilang ditelan alam karena kalah berkompetisi di jagat entertainment yang sesungguhnya. Dari awal saya sempat yakin kalau Delon, Judika, Mike, Firman, Ihsan, Citra akan menjadi orang-orang terkenal. Dan semua itu terbukti sampai sekarang. Ada yang selain menyanyi juga terkenal sebagai pemain sinetron dan pemain film.

Kesukaan saya, dan juga –mungkin- bapak-bapak lain terhadap tayangan ini mungkin disebabkan karena adanya semacam keinginan yang tertunda, hasrat yang sempat menggebu untuk menjadi seorang penyanyi tetapi tidak ada kesempatan yang mendukung. Sementara kesempatan untuk itu baru ada beberapa tahun kemudian setelah usia untuk mengikutinya tidak lagi memenuhi syarat. Jadilah saya seorang penikmat hiburan dan penikmat keberhasilan anak-anak muda berbakat yang semangat juangnya tinggi itu. Saya terkadang iri kepada mereka, kepada kesempatan yang mereka bisa dapatkan dengan mudah, pada bakat alami yang kemudian diasah sehingga menjadi hebat. Coba kesempatan itu ada saat saya masih muda dan masih bisa mengembangkan diri dengan sungguh-sungguh ( hehe.. curcol ya Kang? ). Kalau mereka nonton karena ada adik, sodara atau kerabat mereka yang menjadi kontestan, itu lain soal tentunya.

Saya memang hobi menyanyi. Berimproviasi terhadap lagu-lagu baru itu menjadi ciri khas saya kalau kebetulan saya dan adik-adik saya yang pada jago main gitar bernyanyi bersama. Menghabiskan malam minggu dengan menyanyi bermacam jenis lagu sesuai selera masing-masing membuat saya dan adik-adik semakin akrab. Dulu saya lebih sering bernyanyi di tempat karaoke, di radio yang menayangkan acara karaoke, atau sesekali menyanyi di acara pesta teman dan keluarga. Banyak orang terpikat dengan suara saya (tapi mungkin lebih banyak lagi yang kabur, hehe, meneketehe ya..) tapi memang menyanyi menjadi salah satu terapi positif bagi saya setelah penat seharian dengan segala aktivitas.

Saat ini, usia yang sudah melewati batas maksimal peserta, ditambah kondisi yang sudah jauh berbeda (sudah berumah tangga, punya anak, dan sibuk bekerja) semua kesempatan itu bukan untuk orang seperti saya lagi. Menikmati hobi menyanyi di rumah bersama anak-anak, di kamar mandi atau sambil mendengarkan lagu-lagu favorit itu saja sudah cukup. Sukses dan salut buat semua kontestan Indonesian Idol tahun ini. Raih mimpi suksesmu, jangan mudah menyerah oleh kendala yang dihadapi.

Kamis, 09 Februari 2012

EUFORIA MENULIS DI FACEBOOK

EUFORIA MENULIS DI FACEBOOK

Waduh, ternyata salama ini aku tertidur pulas. Atau malah mungkin mati suri. Di saat karya-karya bagus bermunculan, aku hanya bisa berdecak kagum sambil sesekali berkhayal bisa melakukan hal yang sama : membuat buku best seller, suatu hari nanti. Tapi apa yang kemudian aku lakukan? Tidur lagi!
Rasanya tangan dan pikiran ini susah sekali singkron. Ya, iyalah. Sambil tidur mana bisa kita berkarya. Yang ada mimpi, dan hanya bermimpi. Ketika sebuah semangat kembali hadir, tangan dan pikiran ini kembali tidak bisa bekerja sama. Lalu apa yang salah dengan diriku? Ke mana bakat menulis yang selama ini aku miliki? Di mana sebuah cita-cita menjadi penulis terkenal aku gantungkan? Dan kenapa aku masih saja ‘tidak melakukan apapun’?

Pernah terpikir untuk mengikuti pelatihan menulis. Berbagai informasi aku kumpulkan. Aku melakukan riset dan mendapati beberapa kelas menulis yang mungkin bisa aku ikuti. Mulai dari workshop pelatihan menulis di media, sampai kursus menulis online. Rasanya aku belum menemukan yang sesuai dengan hatiku. Ditambah waktu yang harus aku curahkan untuk mengikuti pelatihan itu relatif terbatas. Lalu sebisa mungkin aku mulai belajar, membaca berbagai buku literatur, tekhnis menulis dari beberapa penulis trekenal, googling, dan sebagainya. Sampai aku menemukan satu penerbit indie dengan metode self publishing.

Sebenarnya aku pernah membaca sebuah buku (pemberian Kang Rahmat, pemilik Pustaka Rahmat) tentang bagaimana menjadi penulis sekaligus penerbit. Dan semangat saya menggeliat seketika itu. Karenanya saya mulai menulis kembali dan mencari berbagai info tentang kepenulisan tadi.  Bahkan terbersit niatan untuk membuat sebuah penerbitan sendiri seperti yang Kang Rahmat selalu dengungkan. Wuih… semangat….


Lalu aku mencoba berteman dengan salah seorang penulis yang bahkan aku belum kenal siapa dia. Sebuah langkah awal tiba-tiba terbuka lebar. Banyak penulis muda lain yang juga sedang dalam tahap belajar mulai add. Dan aku pun tertarik untuk bergabung ke dalam beberapa grup kepenulisan.

Tidak disangka ternyata di dalam sebuah jejaring sosial facebook terdapat komunitas menulis yang sangat banyak dan beragam, mulai dari kalangan ABG dan remaja yang rajin menulis cerpen bertema teenlit, sampai tulisan sastra yang bahasanya sulit dicerna. Dari beberapa grup itu aku banyak belajar dan menambah wawasan. Dan yang lebih seru tentu saja menambah banyak teman. Sebut saja teman pertamaku di dunia menulis adalah Komala Suthawijaya, mantan wartawati majalah Sundamidang ini, kerap dipanggil Bunda dan karena aktivitas menulisnya yang banyak, teman-teman fb lainnya menjulukinya ‘bunda’ dan menjadikannya tempat curhat seputar kepenulisan, terutama kalau sudah menyangkut semangat dan mood menulis. Bunda ini paling jago mendongkrak semangat penulis muda. Dan beberapa teman lain yang lebih muda, energik, penuh ide antara lain, Wirastriaji (seorang karyawan perusahaan rokok di Kudus), Wahyu Susanto (guru SD di Sampit) yang sering memenangkan lomba, Jimmy (Guru Bahasa di Kalimantan), Fyan Arjun (Penulis di berbagai media, pengurus grup Teras), dan masih banyak lagi. Dengan mereka aku biasa berbagi ilmu dan ide.
 
Euforia menulis di facebook sangat hebat dan menggenjot semangatku. Semangat ini ditularkan oleh para penulis muda berbakat di berbagai grup kepenulisan. Dan ini merupakan virus paling ampuh yang bisa melumpuhkan rasa malas, dan ide mentok dalam otakku. Karena euforia ini aku mulai bangkit meskipun perlahan. Kini malam-malamku diisi dengan kegiatan menulis yang sudah sejak lama aku geluti. bakat yang lama berkarat kini mulai diasah. Dan beberapa perlombaan pernah aku ikuti demi untuk mengetahui sejauh mana karyaku bisa bersaing di dunia kecil seputar facebook ini. Dan ternyata aku masih punya kesempatan, dan karyaku masih layak bersanding dengan beberapa karya lain yang menurutku bagus. Aku bahkan mulai berpikir dan membuka grup sendiri untuk mewadahi membludaknya minat menulis anak muda dengan nama grup ‘Inspirasi-Ku’. Dengan event kecil ‘Lomba menulis Curhat colongan’, anggota grup ini mencapai 200 hanya dalam waktu 2 minggu saja. Euforia yang menggila!

Mulailah aku belajar banyak hal bukan saja mengenai dunia menulis, tetapi juga dunia publishing, dunia penerbitan. Meskipun dengan cara autodidak, aku yakin langkahku akan mulai tegap. Pandanganku kini mengarah pada satu titik.  Dunia menulis dan dunia penerbitan, meskipun mungkin agak terlambat di usiaku yang sudah tidak muda ini, akan menjadi salah satu pelarianku disaat aku sudah suntuk dengan dunia kerja yang selama ini aku jalani.

Harapanku cuma satu : Bisa membuat sebuah buku yang menginspirasi banyak orang, dan menaungi banyak penulis muda yang haus akan ilmu dan sebuah pengakuan diri.
Semoga semua menjadi doaku di tahun ini yang akan dikabulkan oleh Allah SWT. amin….

Minggu, 01 Januari 2012

TAMAN BACAANKU - MASA DEPANKU

6 TAHUN DIBUAI RINDU
Kapan Taman Bacaanku akan Maju

Miris sekali rasanya karena saya harus menulis kisah ini. Ini bukan kisah tentang diri saya, bukan juga kisah tentang perjuangan saya yang juga belum kunjung hasil. Tetapi Adalah sebuah cerita tentang betapa rendahnya minat baca masyarakat di daerah pinggiran kota.

Saya tidak perlu mengukur melalui survei khusus dengan menyebar questioner dan sejenisnya untuk mengetahu seberapa besar minat baca masyarakat di daerah saya. Sebuah kompleks perumahan kecil di daerah Cimahi yang dihuni oleh masyarakat majemuk dengan kesibukan yang hampir sama dengan kehidupan di kota besar. Saya cukup dengan menyediakan sebuah fasilitas baca umum yang menyediakan berbagai macam jenis buku, mulai dari buku pengetahuan umum, agama, buku literatur keterampiran umum, bisnis dan manajemen, buku anak bahkan novel dan komik.Sebuah taman bacaan yang saya beri nama Taman Bacaan Pustaka Ilmu.Pada 22 Juni tahun lalu profil Taman Bacaan ini dalam koran Republika Bandung.

Taman Bacaan ini saya dirikan pada 6 Desember 2005 di sebuah rumah kontrakan yang saya tinggali bersama keluarga kecil saya. Dan setelah lebih dari 5 tahun berdiri, saat ini saya memaksakan diri menyewa sebuah tempat (ruko) yg lebih besar dengan biaya sendiri, agar peminat baca bisa lebih banyak, tidak hanya masyarakat sekitar komplek perumahan, melainkan juga lebih luas ke desa-desa sekitar Dengan tempat baru ini para pembaca memiliki fasilitas tempat baca yang lebih memadai, meskipun dengan koleksi yang seadanya. Koleksi buku sampai dengan saat ini kurang lebih ada 850 novel remaja, dewasa dan sastra, komik 1700 buku, dan buku non fiksi 290 buku. Alhamdulillah pada akhir tahun 2011 lalu saya banyak mendapatkan bantuan buku-buku dari penerbit yang saya kirimkan ajuan khusus dengan melampirkan profil Taman Bacaan kepada mereka 


 Selain untuk membantu meningkatkan minat baca anak-anak, pada mulanya memang saya sedikit berharap mendapat keuntungan dari membuka usaha ini. Tetapi melihat realitas harga buku yang setiap tahun naik, tidak mungkin saya mengandalkan perpustakaan sebagai usaha sampingan saya. Apalagi saya menerapkan tarif 10% dari harga buku, peminat sewa semakin menurun. Padahal tidak sedikit yang sudah saya investasikan untuk taman bacaan ini. Termasuk biaya kontrakan yang cukup mahal. Saya berharap ada dana masuk dari para pesewa sehingga bisa mengurangi beban biaya sewa. Saya juga mulai menjual buku-buku murah yang saya hunting di pameran, yang penghasilannya didedikasikan juga untuk menambahkan koleksi bahan bacaan dan mengurangi beban sewa tempat.

Sampai dengan bulan ini anggota TB sudah mencapai hampir 300 orang. Umumnya anak-anak sekolah (SD, SMP, SMU & mahasiswa) juga ada orang tua (umum) yang memang suka membaca tetapi kesulitan mendapat bahan bacaan karena harga buku yang relatif mahal bagi mereka, sedangkan perpustakaan umum daerah sangat jauh. Dari sejumlah anggota tersebut hanya sebagian kecil saja yang masih aktif, dan saya masih sedang mengusahakan agar mereka kembali aktif mengunjungi taman bacaan.

Setelah berjalan 6 bulan di tempat baru, jumlah member memang bertambah, tetapi saya tidak bisa menyimpulkan adanya pertumbuhan yang significant, karena begitu lokasi taman bacaan pindah, member lama yang rumahnya agak jauh menjadi malas mengunjungi taman bacaan, padahal lokasi cukup strategis karena berada di pinggir jalan dan suasana jauh lebih nyaman dibanding saat masih bersatu dengan rumah tinggal.

Enam tahun sudah taman bacaan prakarsa saya berdiri. Saya dengan segala keterbatasan yang ada didukung istri dan adik saya yang juga saya tunjuk sebagai pengelola sudah mengerahkan segala daya dan upaya kami untuk memajukan bukan saja taman bacaan ini, tetapi yang lebih penting ialah minat baca masyarakat. Padahal saya menaruh harapan besar untuk masa depan taman bacaan ini, mengingta hanya ada satu di daerah saya, dan bahkan bisa dihitung dengan jari jumlahnya pemilik taman bacaan seupa di daerah Cimahi dan sekitarnya.

Saya masih terus mengevaluasi apakah Taman Bacaan  ini akan tetap berada di lokasi sekarang atau kembali pindah ke rumah seperti semula, mengingat biaya operasional yang cukup tinggi membuat dana keluarga saya terserap habis hanya untuk proyek ini. Saya tentu saja membutuhkan support dari banyak pihak, bukan saja penerbit, IKAPI, tetapi juga pemkot yang membawahi wilayah tempat tinggal saya.Dan yang lebih penting masyarakat para sasaran pembaca yang sedianya memanfaatkan fasilitas ini, supaya usaha dan pengorbanan yang telah saya keluarkan tidak menjadi sia-sia.

Untuk Anda yang tinggal di daerah Melong, Cijerah, Cimahi dan sekitarnya silakan kunjungi dan jadilah member di Taman Bacan Pustaka Ilmu, Jln. Jati Utama Blok R8 No. 15A Margaasih Bandung, telp. 089655363750 atau 087825521636 ada seorang petugas ramah yang akan dengan senang hati membantu dan berdiskusi dengan Anda tentang apa saja, di sana.


Pijat Kaki, Deteksi Penyakit Lebih Dini

Pijat Kaki, Deteksi Penyakit Lebih Dini

Rasanya terlalu sok tahu juga kalau harus saya katakan bahwa berbagai jenis penyakit bisa dideteksi hanya melalui titik-titik tertentu di telapak kaki kita. Bagaimana mungkin titik-titik itu bisa memberikan informasi medis yang valid sedangkan diagnosa dokter saja kerap kali masih bisa salah. Itu mungkin sebuah tanda tanya yang selama ini sedang berusaha dicari jawabannya.

Terlepas dari akurat atau tidaknya hasil deteksi penyakit melalui refleksi telapak kaki, banyak orang tetap saja melakukan alternatif pengobatan ini. Bahkan dengan sugesti yang tertanam dalam benak mereka pengobatan ini ini justru lebih manjur dibanding metode klinis.


Saya sendiri sangat menikmati refleksi kaki karena sangat nyaman dan langsung bisa dirasakan manfaatnya. Rasa lelah langsung berkurang, pegal-pegal berangsur menghilang. Bahkan penyakit yang lebih berat seperti rematik, asam lambung, dan pusing yang berkepanjangan lambat laun sirna. Hidup berasa lebih sehat.

Metode yang saya lakukan antara lain dengan memijat telapak kaki ataupun bagian betis dekat tulang kering. Jari-jari kaki dan punggung kaki dipijat dengan bantuan minyak zaitun atau baby oil.  Saya juga membiasakan diri menggunakan sendal terapi selama 5-10 menit. Biasanya saya langsung sendawa menunjukkan bahwa angin yang bersemayam dalam tubuh saya terusir perlahan. Kadang juga saya menginjak benda bulat keras, seperti kelereng yang ukurannya besar, batu-batuan, atau -maaf- bola bekas roll on. Semuanya sangat membantu. Tetapi tentu saja secara rutin saya juga meminta bantuan tukang refleksi profesional untuk mengetahui kesehatan dan cara memijat yang benar.

Semoga tulisan ini menginspirasi.

salam refleksi

Kang Aming