Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Mei 2012

Puisi : Lelaki tanpa Dimensi



Lelaki tanpa Dimensi
Kamiluddin Azis

Serupa gatra kudedel aus
Melebur alam rupa menghitam
Kerdil, teramat debu
Jiwa-jiwa melekang, melepuh

Lelakon lelaki menggiring cakra
Raga tersaput jejaring lelabah
Memilah rupa dimensi kelam
Jiwa-jiwa terhunus, pupus

Di tilam lelangit bisu,
Bangkitku pada malam berjingkat
Lelah Menggasal, cecar
Dimensi-dimensi yang cecer

Aku,
Lelaki tanpa Dimensi
Memeluk Cakrawala
Teramat Gangsal

Sabtu, 24 Maret 2012

Puisi-puisiku untuk Mereka yang Ingin Kembali Suci


SEJUMPUT ASA DALAM LORONG NISTA
Kamiluddin Azis

Adakah secuil harap saat jiwa kosong terberangus dalam lorong-lorong nista
Adakah segelintir asa saat raga hampa terkurung jeruji pekat
Cinta yang lara milik siapakah?
Bahagia yang fana hanya punya Tuankah?

Seuntai rambutku lepas bersama ratap, lara, dan perihku
Sejumput senyumku sirna bersama ingin, harap, dan asaku
Sisakan untukku tempat Tuan
Tempat aku menggantungkan ingin, harap, dan asaku
Sisakan aku senyum Tuan,
Senyum sambut, sirnakan ratap, lara, dan perihku

Adakah cinta yang lara milikku lepas bersama ratap dan perih ini?
Adakah bahagia yang fana milik Tuan tersisa untuk seorang aku
Yang terberangus dalam lorong-lorong nista?




JIWA-JIWA KUSUT PUN BERMIMPI
Kamiluddin Azis
Malam, kala gulita menyergap
Kusapu air dengan rupa warna bunga
Telusuri setiap lekuk tubuh hinaku
Harum menyeruak, menghapus semua noda yang tersisa
Sucikan kembali raga yang tercabik durjana
Jiwa yang terenggut nafsu belaka
Luka terhimpit nestapa
Sunyi, kendati mungkin sekedar mimpi
Gaung doa terpanjat, lirih dalam bisu kelam
Setiap tetes adalah dosa yang terserak
Setiap usap adalah harap yang belum terkuak
Setiap aroma adalah kepedihan yang selalu mendera
Jiwa-jiwa kusut hanyut dalam buai nestapa
Jiwa-jiwa kusut luruh dalam geliat dahaga
Akan mimpi,  sebuah kebebasan
Letih, takkan sanggup surutkan jejakku
Mencari Makna di balik semua nista
Yang lumuri tubuh ini



AKU INGIN PULANG
Kamiluddin Azis

Aku ingin pulang, 
meniti pematang ladang, menghirup aroma jerami, 
tertawa bersama kerbau dungu. 
Dan bebas!
Aku ingin pulang, 
bernyanyi dengan burung, menari bersama angsa
Dibuai sepoi alam, desah dedaunan, 
dinina-bobokan jangkrik-jangkrik malam
Aku tidak ingin dicekam, 
malam dengan buai berang-berang
Lelaki hidung belang yang hanya puas dengan desah melenguhkan resah
Keluh hinakan peluh setelah pejuh luruh di dalam tubuhku
Aku tidak ingin siang dirajam sesal yang menghantam setiap dekamku
Aku hanya ingin pulang, 
menikmati sisa kalut yang kuusir mati
Merajam sendiri semua lumur nista, 
dan kembali



Selasa, 20 Maret 2012

Puisi-puisiku Tentang Cinta yang Tak Pernah Meminta

CINTA TAK KASAT MATA
Kamiluddin Azis

Cinta tersampaikan melalui aliran udara,
Melalui rongga-rongga tanah
Melalui desiran air di tiap buih ombak
Dan riak sungai pada muara
Cinta tak perlu bahasa
Kata, puja ataupun rayuan
Cinta hanya perlu sehalus sentuhan
Setulus senyum
Dan setitik pengabdian
Cinta hanya terjamah oleh perasaan yang sama
Cinta hanya terukir dalam hati yang sama
Cinta hanya bermuara pada samudera yang sama
Ketika cinta bertebaran bak kunang-kunang di sekitar kita
Ke mana kita mengikuti arah cahayanya
Ketika cinta bersembunyi seperti kepik
yang hanya terdengar kepaknya
Ke mana kita akan mencari
Cinta tak kasat mata
Kita hanya perlu sedikit merasa.

Sebuah cuplikan dari cerpenku berjudul 'Invisible Love'

 
KE MANA KUCARI


Belasan kali kau genggam jemari  ini
Hingga lentik ditelan kaku biru
Belasan kali kau kecup bibir ini
Hingga bisu, kelu
Lalu kau abaikan semua
Yang pernah singgah
Berlalu seolah tiada makna
Belasan kali kucari
Belasan tahun ku menanti
Jawaban
Di mana dirimu
Belasan kali kau nikmati malamku
Usir sepi yang menggelayut hari
Belasan hari kau raba setiap jengkal hidupku
Usir sedu yang menggundah gulanaku
Gerayangi perih yang mengiris setiap rintihku
Aku, belasan kali sudah mencoba
Melupakan
Lari dan menjauh
Tetapi belasan kali pula
Aku mencari
Kemana
Entah di mana


Bandung, 21 Oktober 2009





BUKAN UNTUKKU
 Kamiluddin Azis

Aku terpaku karena indah kelopak matamu
Cinta kan mekar di setiap kedipmu
Seolah itu adalah desir
Yang menyatukan serbuk dengan putik sari
Aku mematung karena ranum bunga bibirmu
Cinta kan tumbuh setiap ulasmu
Seolah itu adalah pupuk
Yang menyuburkan setiap benih
Tapi adakah cinta, benih, desir, pupuk itu untukku?
Cinta tidak tumbuh dari genggam inginku

Aku mematung berharap Kau diam
Dalam tatapku
Aku terpaku menanti Kau diam
Dalam harapku
Tapi adakah diam, harap, tatap atau penantian itu
Untukku?
Cinta tidak tumbuh dari belai harapku

Kiranya
Tuhan sedang bermain dengan rasa ini
Mungkin
Tuhan sedang bermain-main
dengan ingin ini
Ternyata Tuhan
Memang sedang mempermainkan harap ini
Dan Kau
Memang bukan untukku

 
ADAKAH CINTA
 Kamiluddin Azis

Saat jemari mencoba menjalin
Merengkuh sampai kukuh
Mengikat sampai kuat
Usah kau lepas biar kokoh cinta ini
Saat napas berburu
Berbagi sampai sisi
Berpagut sampai paut
Usah kau tepis biar lekat cinta ini
Adakah cinta
Saat kau tepis, saat kau lepas
Setiap Rengkuh, setiap ikat
Setiap pagut sampai paut
Adakah cinta
Saat napas ini berburu
Sementara Kau tak mau
Berbagi semua sisi
Adakah cinta
Saat jemari merengkuh sampai kukuh
Sementara Kau enggan
Mengikatnya hingga kuat
Adakah cinta
Kurangkul saat kau lepas
Adakah cinta
Kudekap ketika kau hempas
Adakah aku menjalin cinta
Hingga paut
Adakah kau merasa kupatut


 
SANGGUPKAH CINTA
 Kamiluddin Azis

Saat cinta kuasai jiwa
Sanggupkah ia meredam setiap amarah
Setiap curiga
Setiap rasa takut akan kehilangan
Ketika cinta butakan mata
Mampukah ia meraba kala kulit ini berubah renta
Kering, bersisik
Membungkus tulang belulang tak berdaya
Manakala cinta bergelora
Kuatkah ia menatap cekung mata ini
Legam raut ini
Seok langkah lela ini
Tertatih berharap cinta kan setia
Ketika cinta meresap ke dalam relung
Mengalir dalam darah dan denyut yang sama
Sanggupkah cinta
Menerima semua adanya



KUTUNGGU KAMU DI PARIS VAN JAVA
Kamiluddin Azis

Habis sudah sabarku
Mengikis penantian, mengharap setia
Pada janji
Hadirmu memecutku
Membuatku terbirit hingga sampai
Sementara yang lain masih mematung
Lalu  kau kalungiku medali kemenangan
Tapi hati tak bisa bohong
Seperti Kamu yang setia
Pada janji
Aku pasti ada di sana
Di Paris Van Java
Kubawa semua yang sudah Kau tulis
Semua mimpi yang mungkin bisa
Semua harap yang mungkin nyata
Dan bila begitu nyata
Mencinta dan mendamba dirimu yang maya
Walau ternyata Kau memang tak ada
Atau adakah,
Tetapi tak nyata?
Kenapa semua lalu beralih kecewa
Dirimu yang kasat, membuatku netra
Tuli ragaku saat kutahu
Kau bukan untukku
Walau lama tlah kutunggu
Saat kita tuk bertemu
Di Paris Van Java


Sabtu, 10 Maret 2012

Puisi di Ruang Tunggu

oleh Kamiluddin Azis pada 10 Maret 2012 pukul 19:28


RINDU
Kamiluddin Azis


Berapa jam aku menunggumu
di sini
di depan ruang bedah
saat kau lepas sadarmu
demi buah hati kita
yang tak sabar bersua?
Hanya 3 jam sekian menit,
aku tersiksa di ruang tunggu
jauh dari tatapmu yang kuatkan hati
jauh dari senyum yang teguhkan sabarku
rontokkah gelisahku
Di ruang tunggu
aku merindumu

Berapa lama kau di dalam sana
Tersiksa
dalam ruang dan waktu yang tak kau tahu
Melepas semua yang kau punya
demi buah hati kita
pelengkap sempurna bahagia
Kau, mengapa begitu lama di dalam sana
wahai Fatimah Az-zahraku.....
dan aku semakin rindu

Hanya berapa jam aku menunggu
di sini, di ruang bisu dalam gundag dan nestapa
Sementara kau telah baktikan dirimu
ratusan, bahkan ribuan jam tanpa lelah dan keluh
untuk aku dan anak-anak kita
Sementara kau pertaruhkan hidup
dengan segenap raga dan cinta
dalam tegar

Kembali rindu merayapi setiap gemeretak takutku
Aku, tidak ingin melepas tiga jam kebersamaan denganmu
dalam bisu
dan gundah yang menyiksa
Aku ingin menebus tiga jam ini
dengan jutaan jam lain
dalam bahagia
Bersamamu


Catatan :

Selama menunggu proses operasi caesar anakku yang ketiga, aku benar-benar dicekam rasa takut. Berkelebat pikiran buruk yang membuat keringatku tidak berhenti menetes. Dalam doa yang lirih kupanjatkan, aku berharap Tuhan melapangkan setiap pikiran sempit yang melintas. Memudahkan setiap kesulitan yang kami hadapi. Dan menghilangkan rasa sakit yang membuat istriku menderita.

Rasa salut sekaligus sayang semakin menebal dalam hatiku. Aku benar-benar rindu, tidak kuasa menunggu lebih lama lagi untuk memeluk dan menciumnya. Mengucapkan terima kasih dan rasa cintaku yang dalam.

Alhamdulillah , semua proses berjalan dengan lancar. Bayi laki-lakiku lahir dengan selamat. Dan 3 jam lebih kemudian aku baru bisa bertemu istriku dan berharap ia mau berbagi rasa sakit sekaligus syukurnya.


Rabu, 22 Februari 2012

Puisiku untuk Mereka yang didera Jera

oleh Kamiluddin Azis pada 22 Februari 2012 pukul 18:46 


CABIK LENAMU
Kamiluddin Azis

Kau tersungkur, setelah rayumu cabik setiap lekuk lemahku
Lalu geliat lelahku bangkit, rengkuh amarah yang terselip dalam jiwa rengkah
Kuseret gontaiku dalam remang belenggu malam
Tinggalkan perih yang koyak setiap jengkal angkuhku
Kepul nista ini menebar aroma lara
Berbaur dengan rinai dan gelisah rembulan yang tercabik pekat
Sementara kau, sudah jauh dibuai  bidadari khayalmu
Dan aku kembali telusuri sisa malam dalam gundah tak bertuah

Kau, tak pernah sekalipun ungkap gelagat rindu
Kendati seribu tanya bergelayut, kau tepis dalam sekali libas
Sirna sudah semua amarah yang membuncah,
Karena untuk apa kugantung asa yang tersaput saru
Tersambat ragu hingga lenyap, lepuh bersama ragamu
Terseret benci sampai muara kesumat, dan kembali
Kau tersungkur, setelah lidahku cabik setiap lekuk lenamu

Sabtu, 04 Februari 2012

Sketsa Jalanan dalam Puisi-puisiku




Kunci itupun Berdenting
 Kamiluddin Azis

Kunci  itu pun berdenting
Memecah pilu
Ketika kepal tak lagi sanggup menggenggam
Ketika rasa tak lagi bisa bertahan

Kunci itu pun berdenting
Terlempar jauh sampai ke dasar yang paling
Terkubur sampai kepal ini tak lagi sanggup menggali

Kunci  itu ...
Berdenting dalam bisik tanah yang bisu
Berdenting dalam desah nisan pilu
Dalam hampa tanpa kata
Tanpa asa

Kunci itu berdenting
Karena cinta


Tuan yang Mendamba
Kamiluddin Azis

Aku bukan juragan
Bukan tuan yang punya hektaran sawah
Bukan majikan yang selalu dilayani
Bukan mandor yang bisa petantang-petenteng
Minta ini, larang itu
Bukan bos dengan dasi mencekik
Siap muntahkan amarah
Ketika sang kacung salah

Tapi aku juga bukan kacung
Bukan pesuruh yang siap diperintah
Bukan juga bawahan
Sang tumbal amukan tuan

Aku hanya seonggok darah yang menggumpal
Dengan sisa nafas terengah
Sisa harap setengah
Sisa langkah yang patah

Api aku ingin menjadi tuan
Tuan buatku sendiri
Yang menjentik jari
Dan semua terjadi
Aku ingin menjadi tuan
Tuan yang siap layani
Hidup kacung,
Kacungku sendiri
Aku ingin menjadi tuan
Tuan buatku sendiri

Bandung, 30 Agustus 2008

Rabu, 11 Januari 2012

Puisi : Layang-layang Anakku

oleh Kamiluddin Azis pada 11 Januari 2012 pukul 1:13
LAYANG-LAYANG ANAKKU
Kamiluddin Azis

Angin berhembus
Cukup kencang untuk menerbangkan
Layang-layang
Anakku bersorak
Ayo Ayah, kita bermain
Selagi ada angin
Dan musuh kita menanti di udara
Mana benangku, Ayah
Di mana layang-layangku
Ayo, Ayah
Kenapa Kau diam
Kenapa Kau tidur di sore cerah ini
Lihat, layang-layang itu
Begitu gagah terbang di udara
Membelah langit biru
Menari diantara burung
Kenapa Kau diam, Ayah?
Tidak bisakah kau terbangkan untukku
Sebuah layang-layang
Hanya sebuah layang-layang

Tetapi aku masih diam
Menatap bocah berambut terbakar
Berlari riang sepanjang hari
Maafkan ayah, anakku...
Itu hanyalah layang-layang
Dan Kau bisa terbang melebihi jauhnya
Membelah Angkasa
Menari bersama burung-burung

Ayo Ayah, berdirilah..

Tetapi aku masih diam
Menatap layang-layangmu tak bisa terbang

Terbanglah, Nak

Biarlah aku diam
Meski layang-layangku tak bisa terbang


Catatan : Cerpennya sudah ditulis dengan judul 'LAYANG-LAYANG TANPA BENANG'
dan menjadi salah satu pemenang dalam event menulis Cerpen bertema 'Kehilangan' yang diadakan Grup 'Warung Antologi'.
Bukunya berjudul 'Memburu Senyap' sudah terbit dan bisa dipesan di penerbit Seruni atau melalui sms ke 085645459192  atau 082188472445

Minggu, 01 Januari 2012

Puisi-puisi Ramadhan


MUSAFIR
Sebuah muhasabah untukku
Kamiluddin Azis

Duduk seorang musafir
Di batu batas sebuah kota entah di mana
Karbondioksida saja yang bisa dia hirup
Sejak sahur, bahkan sejak buka kemarin malam
Sesak sebagian hidup dipertaruhkan
Lelah menanti nasib berpihak baik
Ia sudah berjuang
Melawan semua yang murtad
Memerangi semua yang bathil
Tapi jiwa tak seteguh jembatan yang gagah melintang
Hati tak sekokoh gedung pencakar langit yang angkuh berdiri
Walau mereka pun sama
Kelak kan hancur
Dia lalu duduk di sebuah batu dekat masjid
Paling indah di kota itu
Karena megahnya ia jadi malu
Masuk rumah Allah
Kotor dan kumal
Barangkali hadas masih perlu thoharoh
Najis masih perlu disucikan
Entah najis atas apa
Hadas atas apa
Dosa dan masa lalu yang ia tinggalkan-kah?
Kendati ragu masih bercokol
Ia yakin Allah Maha Pengampun
Seorang musafir tengadah menatap langit
Di sela kumandang adzan Maghrib
Ia berdoa :
Allahumma Laa kasumtu Wabika amantu
Waala rizkika Abtortu
Birohmatika Ya Arhama Rahimin
Lalu sebungkus nasi sudah ada di pangkuannya
Seorang musafir berlalu
Tersenyum karena masih bisa berbagi

Bandung, 1 Ramadhan 1429 H


PUASA
Kamiluddin Azis

Kata siapa puasa itu enak
Aku puasa setiap hari
Nyaris tujuh hari dalam seminggu
Lebih dari 25 hari dalam sebulan
Sepanjang tahun
Lalu Kau bilang puasa itu nikmat
Nikmat mana dibanding ketika mataku berair
Menatap kilat telur balado di etalase
Lezat mana bila Kau bandingkan
Dengan setetes air pancuran PDAM
Yang kucuri saat pemilik kran lengah
Kau hanya puasa dari pagi hingga petang
Itu pun selama Ramadhan saja
Lalu Kau rayakan kemenanganmu
Dengan pesta pora
Baju mewah dan makanan melimpah ruah
Sedangkan aku
Aku puasa hampir setiap hari,
Sepanjang hidupku
Dan aku tidak pernah merayakan apapun
Tapi aku bersyukur
Karena ketika sesuap nasi usir laparku
Terusir pula keraguanku akan Keadilan Allah
Dan ketika seteguk air sirnakan dahagaku
Sirna pula rasa takutku tidak disayang oleh-Nya
Karena aku yakin Allah Maha Pengasih
Dan Maha Penyayang
Aku selalu berpuasa
Tak peduli itu wajib ataupun sunnah
Atau justru haram hukumnya
Aku selalu berpuasa, Kawan
Karena hukum yang kubuat sendiri
Karena aturan yang tidak mungkin kusalahi
Karena apalah untuk dimakan
Kata siapa puasa itu enak
Aku puasa setiap hari, Kawan
Hanya saja bagiku
Tak ada waktu sahur ataupun berbuka
Karena tak ada apa pun untuk dimakan
Tapi aku selalu bersyukur
Karena kalau aku puasa setiap hari,
Maka ketika aku tidak lagi berpuasa
Itulah hari raya buatku
Dan aku jadi punya banyak hari raya
Hari yang paling aku syukuri
Sangat kunanti
Dan paling aku nikmati
Aku pun tak pernah lagi bertanya
Kata siapa puasa itu enak


( Untuk para mustahik
yang tak pernah lupa bersyukur,
semoga Allah mengangkat derajatmu
di hari kelak. Bandung,  3 September 2008)