Minggu, 25 Maret 2012

Cuplikan Novelku - Never Need Love


13

Hujan kembali turun. Butir-butir yang berjatuhan menimpa tanah menimbulkan irama yang selalu sama. Irama kesedihan dan kehampaan. Mengapa setiap kali aku berusaha menemui Tere, hujan selalu menyambutku, seolah ia tidak rela membiarkan Tere bersatu denganku untuk menikmati kesedihan dan kehampaanku ini. Menikmati rindu dan ragu dalam waktu yang bersamaan.
            Aku melewati lorong itu. Cahaya temaran menggelitik mataku untuk tetap terjaga. Aku tidak ingin lelaki itu menghadangku lagi, dan mencegahku menemui Tere. Meskipun free pass card sudah aku kantungi, tetapi benda kecil itu sama sekali tidak ada gunanya. Setidaknya setelah kejadian malam itu. Dan aku cukup beruntung bisa melewati pintu utama menuju pub terpencil tempat Tere bekerja tanpa harus melewati dua orang lelaki berotot yang selalu siaga di depan pintu. Entah sedang ke mana kedua lelaki sangar yang lebih sering memancing keributan itu.
            “Tere!” Tanpa bisa kutahan, aku meneriakkan namanya diantara hingarnya alunan musik dan kerlip lampu disko aneka warna. Tentu saja tidak akan ada yang mendengar, sekalipun Tere, yang aku sendiri belum yakin berada di sudut mana dan sedang melakukan apa.
            Aku terus mencari Tere dengan menyelinapkan tubuhku diantara tubuh orang-orang yang menggeliat mengikuti gerak musik. Dan sejurus kemudian, mataku tak mampu berkedip begitu menyaksikan apa yang ada di hadapanku. Tere. Dan Phaton!
            Aku beringsut mundur dan membiarkan mata ini melihat sendiri bagaimana wanita yang selama ini selalu mengganggu malamku dengan desah suara dan kedip menggodanya itu sebenarnya tidak memperlakukanku secara istimewa seperti yang selama ini kuduga. Dari kejauhan aku hanya bisa menyaksikan derai tawa Tere saat Phaton membisikkan sesuatu di telinganya. Aku sama sekali tidak bisa mengingkari kalau  ternyata Tere lebih memilih Phaton daripada aku. Hanya saja aku tidak habis pikir mengapa Tere seolah selalu memberiku sebuah harapan. Seolah ia tidak peduli kalau Phaton itu sahabat dekat aku dari dulu.
            Dari meja lain persis di seberang meja yang Tere dan Phaton tempati, aku masih bisa melihat betapa Tere tampak bahagia saat bersama Phaton. Berbeda sekali kalau ia sedang berdua denganku. Meskipun senyumnya mengembang dan tawa renyah selalu terurai menanggapi kelakarku, tetapi aku tidak pernah melihat tatapan yang sama yang ia lemparkan kepada Phaton. Tatapan penuh cinta yang menjadikan itu sebuah jawaban dari penantianku selama ini.
            “Sendirian?” Lamunanku buyar seketika, saat seorang perempuan menyapaku sambil tanpa sungkan duduk di sebuah kursi kosong di sebelahku.
            Aku mengangguk dan tidak terlalu menghiraukannya. Bukan saat yang tepat kalau perempuan itu berniat mengajakku mengobrol atau melantai. Atau hal lain apapun.
            “Aku tahu, kamu masih menaruh harapan kan sama Tere,” ucapnya seolah sedang berbicara pada segelas minuman berwarna biru di hadapannya. Tapi aku tergoda untuk mendongak saat ia menyebut nama Tere.
            “Hemh, kasihan sekali,” gumamnya dengan seteguk minuman yang belum ditelan di dalam mulutnya.
            “Apa maksudmu?” tanyaku memutar kursi tempatku duduk sehingga kini aku berhadapan dengan perempuan yang sepertinya mengenal Tere dengan baik.
            “Kamu lelaki yang waktu itu membuat kekacauan itu kan?” ia malah balik bertanya.
            “Aku tidak membuat kekacauan. Aku justru korban karena penjaga keamanan di sini menganggapku sebagai pengganggu,” elakku, sambil menyentuh luka lebam di wajahku yang masih belum sembuh benar. Dan ini membuatku teringat kembali kejadian malam itu. Kejadian terbodoh yang pernah aku alami setelah malam ini aku menyadari satu hal: Tere tidak benar-benar menyukaiku.
            Perempuan di sampingku menghembuskan asap rokok yang sedari tadi dihisapnya. “Tere menyukaimu, sama seperti ia menyukai lelaki lainnya. Termasuk Lelaki yang sekarang sedang bersamanya itu.”
            Tidak sulit untuk memercayai omongan setengah ngelantur perempuan ini, mengingat apa yang aku lihat malam ini dan apa yang pernah aku saksikan  sebelum-sebelumnya.
            “Tapi sepertinya mereka saling menyukai,” kilahku pada diri sendiri.
            “Apa arti sebuah cinta di mata seorang Tere. Ia hanya butuh uang dan semua yang ia kejar untuk memenuhi obsesinya. Ia tidak butuh laki-laki, terlebih cinta.”
            Ingin aku menarik ucapan perempuan itu. Tapi untuk apa.
            Aku melirik ke arah Tere. Dan aku masih belum bisa melihat sifat itu dalam dirinya. Aku sudah mengenalnya bertahun-tahun lamanya, bahkan sebelum Phaton kembali dari luar negeri. Aku yang membukakan pintu gerbang kos-kosan saat dulu kami masih kuliah, kalau Tere pulang sangat larut. Aku yang membelanya saat Ibu Kost hendak mengusirnya karena kelakuan Tere yang dinilai kurang pantas. Sampai kami lulus dan menjalani dunia masing-masing, aku dan Tere selalu berbagi banyak hal: sedih, gembira, lapar dan dingin. Tapi malam ini aku baru sadar, kalau Tere tidak pernah berbagi satu hal denganku. Cinta.
            Kembali kualihkan pandanganku pada perempuan yang duduk di sampingku ini, tetapi ia malah berlalu dan menghampiri Tere. Tere melemparkan pandangannya ke arahku sesaat setelah perempuan itu berbicara dengannya. Ia pun bangkit dan berjalan ke arahku.
            “Hai, Kris,” Tere mencium pipiku seperti biasa dan mengajakku bergabung dengan Phaton.
        Phaton tampak gelisah mendapati diriku berada di tengah-tengah mereka. Sesekali ia melempar senyum kaku dan guyonan lama kami yang seharusnya memancingku tertawa. Tapi Tere segera mengambil alih pembicaraan dan mencairkan suasana asing yang tidak pernah aku, ataupun Phaton alami sebelumnya.
            “Sepertinya kalian baru jadian. Selamat, ya,” ucapku berharap tidak salah bicara.
            Tere malah tersenyum ringan. “Siapa yang jadian? Nih, teman kamu, sepertinya ngebet minta kawin, ha ha ha..” lalu berderai tawanya. Tawa yang sama, seperti yang tadi kulihat. Kalau saja lampu di ruangan ini  benderang, aku yakin bisa melihat muka Phaton memerah.
            Mungkin benar apa yang dikatakan perempuan itu : Tere tidak membutuhkan siapapun. Terlebih cinta.

-o0o-
           

               

Sabtu, 24 Maret 2012

KICAU KACAU BIKIN PERSEPSIKU MAKIN KACAU

KICAU KACAU BIKIN PERSEPSIKU MAKIN KACAU


Saya tidak akan memungkiri kalau warna sampul buku ini yang ngejreng habis –lah yang membuat saya mengambilnya dari rak buku di Gramedia. Kuning, warna kesukaan saya yang katanya menandakan kalau si pecinta warna ini suka menjadi perhatian  banyak orang, sedikit narsis dan ... (jangan percaya, karena tidak semuanya sesuai dengan kepribadian saya, hehe!). Tetapi nama Indra Herlambang dengan foto dirinya yang memakai kostum unik (kalau tidak mau dibilang norak, hehe saya emang agak  sedikit sentimen sama presenter yang satu ini...)berbentuk burung itu menjadi pertimbangan lainnya. Meskipun saya tidak eksis bertwitter ria, tetapi saya menyimak kehebohan yang terjadi setelah buku ini terbit. Hampir setiap hari bertebaran twit yang mengulas tentang Indra Herlambang dan bukunya ini. Gimana gak penasaran coba! Apalagi selama ini aku memang agak kurang respect (baca=suka) melihat tampang Indra dengan segala mimik konyolnya yang membuat dia malah sering tampil.. (aduh... sorry bos.. gue lebay ya?!)

      Dari yang pernah saya baca dan lihat pada tayangan di televisi yang mengupas siapa itu Indra Herlambang (kenapa jadi bahas dia dulu ya... biarin ah, prinsip hidupku kan nggak boleh membenci orang lain, apalagi kalau tanpa alasan yang jelas, makin gak nyambung!) dan bagaimana sepak terjangnya di dunia entertainment, lambat laun persepsi  jelek saya tentang Indra mulai berkurang. Sebenarnya sih bukan sebuah persepsi jelek karena artis cowok yang selalu pakai kaca mata hitam ini pernah melakukan sesuatu yang negatif di mata publik, tidak, bukan begitu, ini hanya subjektifitas saya saja sebagai penikmat hiburan yang bosan melihat tampangnya di layar kaca. Indra Herlambang lahir di Bandung pada 16 Maret 1976. Awal kariernya  dimulai sebagai presenter infotainment beberapa tahun lalu. Indra memang pernah  bekerja penyiar radio sambil menyelesaikan kuliahnya di Desain Komunikasi Visual  di ITB. Kariernya terus melejit setelah ia membintangi beberapa sinetron dan layar lebar bergenre komedi. Indra bahkan menjadi penulis scenario bersama Djenar Maesa Ayu dan memenangkan piala Citra untuk Skenario Cerita Adaptasi Terbaik di FFI 2009.
          Di dunia literasi karya Indra sudah bertebaran di mana-mana, termasuk di beberapa majalah ternama seperti Free Magazine dan ME. Tulisan-tulisan Indra dalam buku Kicau Kacau ini juga merupakan essai-nya yang diteribitkan di majalah-majalah tersebut selama kurun waktu 2007 s/d 2010. Di buku ini Indra benar-benar berkicau, seperti  yang biasa ia lakukan di twitter setiap hari. Tetapi  tulisan Indra ini memiliki makna yang dalam, sindirannya halus, tetapi mengena. 

                Buku ini dibagi menjadi 4 bab, yaitu Kicauan tentang gaya hidup, hidup gaya, dan hidup gak gaya?; Kicaun tentang Single, in relationship, atau I’s complicated; Kicauan tentang Jakarta, Indonesia, dan Kesehatan Jiwa; dan, Kicauan tentang Keluarga. Ada 50 essai yang bisa membuat Anda ngeh, kesel, ketawa, bahkan pengen jitak Indra karena nyelenehnya. Idenya cukup original dan sekali lagi, akan membuat kita merasa ngeh akan sesuatu yang selama ini tidak kita sadari.

          Bagian yg saya suka dari buku ini antara lain : Pembungkus Masa Depan, Hilang, Kunci, dan Balas Dendam Pintu Besi. Masih banyak artikel seru yang bisa Anda baca dengan santai. Dan setelah saya membaca buku ini, sumpah (nggak deh, nggak usah pake sumpah kali, ya!) persepsi saya terhadap Indra berubah total. Indra yang saya anggap begini begitu ternyata begini begitu...

         Sebuah buku dan kupasan media yang positif tentang seseorang seperti artis misalnya, membuat ia semakin dikenal lebih luas dan menarik hati pembacanya, untuk untuk mengenal si penulis lebih jauh dan bahkan menjadi penggemar setianya dengan menunggu karya-karya berikutnya. Tapi jangan bilang kalau saya ingin mengenal penulis kacau balau, eh Kicau Kacau ini lebih jauh lagi. Cukup informasi positif seadanya dan buku keren ini saja yang membuat persepsi saya terhadap Indra jauh lebih baik. Salut buat Indra dan prestasi hidup yang sudah diraihnya. Dan di akhir tulisan ini saya ingin berdoa semoga Indra segera mendapatkan jodoh (gak apa-apa ya Ndra, nggak nyambung dengan tema tulisan ini juga ya.. egp, kata si Indra) sehingga hidupnya lebih indah dan Indra bisa menciptakan karya yang lebih spektakuler.



Puisi-puisiku untuk Mereka yang Ingin Kembali Suci


SEJUMPUT ASA DALAM LORONG NISTA
Kamiluddin Azis

Adakah secuil harap saat jiwa kosong terberangus dalam lorong-lorong nista
Adakah segelintir asa saat raga hampa terkurung jeruji pekat
Cinta yang lara milik siapakah?
Bahagia yang fana hanya punya Tuankah?

Seuntai rambutku lepas bersama ratap, lara, dan perihku
Sejumput senyumku sirna bersama ingin, harap, dan asaku
Sisakan untukku tempat Tuan
Tempat aku menggantungkan ingin, harap, dan asaku
Sisakan aku senyum Tuan,
Senyum sambut, sirnakan ratap, lara, dan perihku

Adakah cinta yang lara milikku lepas bersama ratap dan perih ini?
Adakah bahagia yang fana milik Tuan tersisa untuk seorang aku
Yang terberangus dalam lorong-lorong nista?




JIWA-JIWA KUSUT PUN BERMIMPI
Kamiluddin Azis
Malam, kala gulita menyergap
Kusapu air dengan rupa warna bunga
Telusuri setiap lekuk tubuh hinaku
Harum menyeruak, menghapus semua noda yang tersisa
Sucikan kembali raga yang tercabik durjana
Jiwa yang terenggut nafsu belaka
Luka terhimpit nestapa
Sunyi, kendati mungkin sekedar mimpi
Gaung doa terpanjat, lirih dalam bisu kelam
Setiap tetes adalah dosa yang terserak
Setiap usap adalah harap yang belum terkuak
Setiap aroma adalah kepedihan yang selalu mendera
Jiwa-jiwa kusut hanyut dalam buai nestapa
Jiwa-jiwa kusut luruh dalam geliat dahaga
Akan mimpi,  sebuah kebebasan
Letih, takkan sanggup surutkan jejakku
Mencari Makna di balik semua nista
Yang lumuri tubuh ini



AKU INGIN PULANG
Kamiluddin Azis

Aku ingin pulang, 
meniti pematang ladang, menghirup aroma jerami, 
tertawa bersama kerbau dungu. 
Dan bebas!
Aku ingin pulang, 
bernyanyi dengan burung, menari bersama angsa
Dibuai sepoi alam, desah dedaunan, 
dinina-bobokan jangkrik-jangkrik malam
Aku tidak ingin dicekam, 
malam dengan buai berang-berang
Lelaki hidung belang yang hanya puas dengan desah melenguhkan resah
Keluh hinakan peluh setelah pejuh luruh di dalam tubuhku
Aku tidak ingin siang dirajam sesal yang menghantam setiap dekamku
Aku hanya ingin pulang, 
menikmati sisa kalut yang kuusir mati
Merajam sendiri semua lumur nista, 
dan kembali



Jumat, 23 Maret 2012

Flash Fiction : Pulang


PULANG
Kamiluddin Azis

 
                Aku hanya sanggup melempar senyum kecut. Sebuah senyum terakhir yang masih bisa aku bagi sebelum aku benar-benar pergi.
                Miranti menatapku dengan sejuta penyesalan yang sulit aku terima. Sebuah pengkhianatan -setelah kesetiaan ini aku patri bertahun-tahun lamanya- meruntuhkan dinding kepercayaanku padanya.
                “Maafkan aku Mas,” ia tertunduk menatap bumi tempatnya berpijak seolah ia takut bumi pun tak akan menerima pengakuannya. Air mata sudah lebih dulu mengalir tanpa harus kubuka keran lukaku.
                “Sudahlah, Ranti, aku mengerti kenapa kamu melakukan itu. Aku yang salah karena tidak sanggup memberimu kebahagiaan.” Kendati sakit ini belum benar-benar sirna, aku berusaha berpikir jernih bahwa mungkin saja semua kejadian ini berpangkal dari kesalahanku sendiri.  Sebagai seorang tenaga kerja Indonesia di luar negeri aku memang tidak bisa terlalu sering pulang ke tanah air. Perusahaan tempatku bekerja hanya memberikan dispensasi cuti pulang sekali dalam dua tahun. Jika karyawannya menginginkan pulang setahun sekali, itu masih diperbolehkan, dengan catatan biaya akomodasi dan sebagainya ditanggung sendiri.
                Dan karena aku hanya bisa menemui Miranti sekali dalam setahun tentu saja aku tidak bisa memberikan nafkah batin padanya. Sebagai seorang istri dan seorang perempuan, kebutuhan biologis sudah pasti harus dipenuhi. Komunikasi melalui telepon, yahoo messenger, bahkan video call, tidak bisa menggantikan apa yang seharusnya aku penuhi sebagai seorang suami.
                Ranti  menggenggam erat jemariku, matanya sembab menahan rasa takut dan penyesalan yang dalam. Sepertinya ia ingin sekali memelukku dan menumpahkan kesedihannya di bahuku, tetapi aku berusaha menghindar karena rasanya aku tidak sanggup lagi menerimanya sebagai bagian dari tanggung jawabku.  Aku resmi memberinya talak tiga supaya Miranti bisa segera menebus dosa-dosanya dan menikah dengan lelaki itu.
                Lelaki itu, -saat aku sengaja pulang ke tanah air tanpa memberitahukan Miranti, istriku, karena ini akan menjadi bagian dari kejutan ulang tahunnya- tengah berada di bawah selimut bersama seorang perempuan yang aku yakin dialah Miranti, istriku yang aku nikahi empat tahun yang lalu. Tanpa mereka sadari keberadaanku, kedua insan yang bukan muhrim itu sedang berpagut menikmati kebersamaan mereka. Seketika juga aku tidak bisa merasakan pijakan kakiku. Apa yang aku pegang dalam genggaman tanganku berjatuhan dan menyadarkan mereka akan kehadiranku yang  menyaksikan semua pengkhianatan itu.
                Sebagai seorang lelaki dan suami aku merasa bodoh dan  sangat terhina. Miranti yang merajut kasih denganku  belasan tahun lamanya tiba-tiba menjadi seorang asing di mataku. Tiga tahun lamanya aku mengadu nasib di negeri orang demi menjalankan rencana hidup kami untuk membuat sebuah keluarga bahagia. Tapi sekarang sia-sia sudah. Dan aku tidak perlu menunggu dua atau tiga tahun lagi untuk berhenti menjadi TKI dan menjalankan rencana kehidupan kami setelah aku mapan; hari ini, biarlah menjadi hari terakhir kepulanganku ke Indonesia.

Rabu, 21 Maret 2012

G R E Y



GREY

            Lelaki paruh baya itu terkulai tak berdaya di atas dipan kayu, sebuah rumah petak yang ia sewa bersama anaknya. Kanker sumsum tulang belakang sudah membuat tubuhnya lumpuh sejak dua tahun silam.  Ia sama sekali tak bisa melakukan apapun sendirian.
            Senja itu, dipan tempat lelaki malang itu merebahkan tubuh ringkihnya berderak. Sedikit saja tubuhnya bergerak, ranjang tua itu selalu mengeluarkan suara bersamaan dengan rintih sakit yang tak lagi pernah keluar dari mulutnya. Rintih pilu berupa desis tertahan karena lelah telah menyedot semua energinya. Bahkan energi untuk sekedar mengeluh pun telah sirna.
-o0o-
            Seorang gadis langsing dengan blouse biru bercorak bunga dan rok pendek hitam berlari kecil agar ia bisa masuk ke dalam lift yang beberapa saat lalu terbuka. Seorang pria sengaja menahan tombol open saat ia melihat gadis tergopoh-gopoh menuju pintu lift. Sebuah anggukan kecil sebagai ucapan terima kasih dan senyum secerah jingga di ufuk barat menebar dari bibir sensual gadis itu.
            Lalu waktu ditelan sunyi. Hanya denting suara pintu lift yang terbuka di setiap lantai, dan sesekali dehaman orang yang keluar dari dalam lift atau derap sepatu orang lain yang terburu-buru masuk.
            Di lantai tujuh pintu lift kembali terbuka. Gadis berambut dark brown sebahu itu keluar sambil menjulurkan lehernya, seolah sedang mencari sesuatu atau seseorang yang seharusnya sudah ada di lantai tempat ia bekerja di gedung megah ini. Gedung bertingkat delapan dengan berbagai macam fasilitas umum yang tidak pernah sepi pengunjung. Selain hotel, mall, salon, gym, juga ada spa yang selama ini menjadi tempat gadis itu bekerja.
            Tapi gadis itu tidak sedang menunggu atau mencari siapapun. Ia hanya memastikan dirinya siap menjadi seseorang yang berbeda. Tanpa ada orang lain yang mengenali dirinya.
-o0o-
            Aku tak ingin menjadi beban dan terus menerus merepotkan anakku, pikir lelaki itu sambil mencengkeram kain sprei yang menutupi kasur kapuknya. Dengan sisa tenaga yang ada ia berhasil meraih ujung ranjang kayu tempatnya terbaring, untuk mengambil gelas yang berisi air putih di tepi meja. Gelas itu sengaja disimpan oleh anaknya di tepi meja, supaya lelaki itu bisa menjangkaunya dengan mudah. Tetapi mungkin ia lupa, bahwa setiap hari kekuatan sang ayah semakin berkurang sehingga jangankan untuk meraih gelas itu, untuk menggeser posisi tidurnya barang sesenti saja sudah sangat menyiksa.
            Ujung jari kurus lelaki tua itu hanya mampu menggeser gelas kaca itu semakin ke tepi. Dan berhasil membuatnya pecah dalam hitungan detik. Desah lelah menguap penuh amarah. Amarah yang tidak bisa ia luapkan dalam bentuk teriakan seperti kala ia gagah dan kuat dulu. Setitik air menetes dari mata kelabunya, menyesali setiap kebodohan yang dulu pernah ia lakukan. Rambut putih yang melintang di atas bibirnya bergetar, menahan sakit yang teramat setiap kali ia berusaha menggeser tubuhnya. Bulir bening itu mengalir deras melewati cekung pipi keringnya.
-o0o-
            Gadis itu tersenyum. Senyum manja yang selalu ia sebar agar para tamunya betah mendapat pelayanan terbaiknya.
            “Setelah ini biasa ya, Grey,” pinta sang tamu genit.
            Gadis yang dipanggil Grey itu kembali melengkungkan bibir bergaris merah mawarnya.
            Dan sang tamu, lelaki bertubuh tambun dengan kepala agak botak itu menangkap isyarat menggembirakan. Arnold, biasa ia disapa adalah pelanggan setia spa khusus pria yang selalu minta dilayani extra oleh Grey. Hanya oleh Grey.
            Grey kembali menarikan jari-jari lentiknya ke sekujur tubuh Arnold. Menyapukan nyanyian pilu dalam hati, dan melantunkannya berupa tembang riang pembangkit syahwat setiap lelaki yang  ia biarkan menjamah lekuk tubuh sintalnya. Pun lelaki itu, yang meskipun terkadang Grey merasa risih melayani kehendaknya -karena tampak lelaki itu seumur dengan ayahnya-, Grey tidak pernah sekalipun mengecewakannya.
            Arnold menggeliat. Pikirannya menembus ke alam khayalnya yang paling absurd. Matanya mengerjap seolah ia tengah menyelami lautan kapas yang lembut dengan aroma lavender yang menyejukkan. Lelaki itu mendesah setelah semua resah lenyap tersapu jemari Grey. Desah yang tidak pernah ia lenguhkan dalam hidupnya. Di kantor, di rumah, di jalan, atau di manapun. Ia hanya ingin Grey. Dan demi sebuah desahan akhir, ia rela menguras semua isi dompetnya.
            Grey pun rela. Ia rela menggadaikan semua rasa malu dan takut yang mendera setiap saat dalam hidupnya. Demi satu hal. Sebuah hidup yang memang harus ditebus dengan menggadaikan semua yang dimiliki. Hidupnya dan hidup ayahnya yang mungkin sedang berhitung mundur.
-o0o-
            Darah mengucur kental dari rongga hidungnya. Tenaganya sudah terkuras hanya untuk bertahan supaya tidak jatuh dari ranjang kayunya. Tetapi usahanya sia-sia. Ia terjerembab dan menjerit kesakitan di lantai.
            Grey, mungkin ini waktu ayah. Tidak bisakah kau temani ayah pada detik-detik terakhir ini? Batinnya merintih, memanggil anak gadisnya yang belum kembali. Jam dinding berdentang tiga kali mengiris hati lelaki yang tengah menahan perihnya hidup ini. Ia hanya berharap jam itu berhenti berputar sampai Grey kembali dan menyaksikan raganya melayang dalam damai.
-o0o-
Pukul tiga lewat sepuluh dini hari. Grey sedang membersihkan tubuhnya di bawah shower yang menggantung di pucuk dinding di atas kepalanya. Air bening yang hangat, Grey harap bisa menghanyutkan semua kotor dan nista yang melekat di tubuhnya. Air bening yang hangat, juga menetes dari kelopak matanya yang putus asa.           
            Grey bahkan tidak bisa menahan isak yang menyesakkan dadanya. Pergolakan batin akut sudah tak sanggup ia kendalikan. Ia tak ingin mengecewakan ayahnya karena telah menukar masa depannya dengan semua yang ia jalani saat ini. Tetapi ia juga tidak ingin merenggut hidup ayahnya yang terlalu berharga untuknya dengan hanya diam dan tidak melakukan apapun.  Grey butuh pekerjaan ini. Grey butuh bukan hanya untuk hidupnya, tetapi juga untuk mengulur waktu ayahnya yang entah sampai kapan mampu bertahan.
            Grey mematikan shower dan bergegas mengeringkan tubuhnya. Ia sudah harus berada di rumah sebelum ayahnya terjaga. Ia harus segera mempersiapkan diri untuk mengantarkan ayahnya menjalani kemoterapi yang sudah sebulan ini tidak dilakukan.
            Setelah memastikan uang untuk biaya kemoterapi ayahnya yang selama ini ia kumpulkan cukup, Grey meninggalkan gedung itu dan melenggang menuju rumah petaknya dengan seulas senyum dan harapan besar.
-o0o-
            Lelaki itu telah dimandikan. Dikafani. Disalatkan. Dan akan segera dikebumikan.
            Grey tidak berhenti mengusap hidungnya yang memerah. Rinai tangis terus berjatuhan. Kesedihan bukan lagi miliknya. Tetapi rasa sesal dan kehilangan yang teramat pedih tidak mampu Grey redam. Mestinya malam itu aku sudah kembali. Mestinya aku ada di samping ayah dan menemaninya. Mestinya aku mampu membawa ayah melakukan kemoterapi setiap minggu. Mestinya …..
            “Tuhan telah membimbing hambanya untuk menjalani apa yang seharusnya ia jalani. Tuhan telah menunjukkan jalan itu, dan manusia hanya bisa melaluinya ketika Tuhan sendiri mengizinkannya,” kalimat itu ibarat doa yang menyejukkan hati Grey.

            Ayahnya  telah pulang kini. Ia kembali ke pangkuan Tuhannya. Mengapa Grey harus merasa bersalah saat Tuhan menjemputnya?
            Air mata terakhir menetes di pipi Grey saat liang lahat ayahnya sempurna tertutup tanah. Ia menatap gundukan tanah merah bertabur bunga itu sambil tersenyum. Senyum menghantar ayahnya yang kini tenang dan bahagia dalam peluk Sang Pencipta.
            Grey tertunduk dalam doa paling khusyu yang ia mampu panjatkan kepada Tuhan.
-o0o-
Seorang lelaki berdiri tidak jauh dari tempat Grey menaburkan bunga terakhir di pusara ayahnya. Lelaki itu menatap Grey dengan kesedihan yang sama dalamnya. Tubuhnya yang bulat tersamarkan oleh balutan jas hitam mahalnya.
            “Saya turut berduka cita ya, Grey,” lelaki itu mengulurkan tangan kanannya, mencoba memberi kekuatan pada anak gadis sahabatnya yang baru saja dimakamkan.
            “Arnold?” Grey setengah tidak yakin melihat lelaki itu berdiri di hadapannya dengan kopiah yang menutupi kepala botaknya.
            Arnold mengangguk dengan senyum yang dipaksakan.

21 Maret 2012
-oOOo-