Rabu, 01 Februari 2012

Andai Aku menjadi LuAnn Tyler dalam THE WINNER


( SANG PEMENANG – Novel karya  David Baldacci )


Saya membaca novel ini beberapa tahun yang lalu. Dan sampai saat ini rangkaian ceritanya masih melekat kuat di benak saya. Bagaimana tidak, seorang perempuan biasa berusia dua puluh tahun bernama Lu Ann Tyler bisa mengalami sebuah kejadian yang luar biasa yang  kadang saya pikir apakah bisa menimpa diri saya juga. 

Sebagai seorang perempuan yang sangat miskin,ia  harus bekerja keras untuk membiayai hidupnya dan seorang putrinya yang masih bayi, sementara pasangan hidupnya, seorang pemabuk yang suka main perempuan , hidup malas-malasan dan terlibat banyak masalah. Tetapi kehidupan Lu nn Tyler berubah drastis setelah seorang pria bernama Jackson menawarkannya kerjasama dan menjamin dirinya menjadi salah seorang pemenang lottere  senilai seratus juta dollar. Meskipun sangat menggiurkan, awalnya ia menolak tawaran itu. Tetapi apa yang ia alami selama mempertimbangkan tawaran itu memaksanya untuk menerimanya. Ia hanya perlu merubah identitas dirinya dan meninggalkan negaranya.

Petualangannya pun dimulai. Setelah mendapatkan lottere yang membuatnya mendadak kaya dan terkenal itu, hidupnya menjadi jauh lebih sulit dari yang pernah dibayangkannya. Ia terpaksa harus berpindah-pindah negara demi menghindari banyak hal yang mengancam hidupnya dan Lisa, anaknya. Hidup Lu Ann Tyler seperti berada di bawah skenario Jackson. Apapun yang dilakukan Lu Ann semua berada di bawah kendali lelaki itu. Dan ini membuat LuAnn semakin tersiksa dan berusaha melepaskan diri dari cengkreman Jackson. Tetapi sayang, setiap usaha yang dilakukannya justru menimbulkan  permasalahan baru, bahkan tidak sedikit korban berjatuhan di tangan Jack yang cerdik dan licik itu. Semua terjadi karena tindakan bodohnya karena ia telah melakukan tindakan terlarang dan melanggar janji yang disepakatinya bersama Jackson.

Buku setebal 464  ini  ini sangat enak dibaca. Seru. Dan selalu membuat penasaran di setiap babnya. Saya yakin kalau dibuatkan filmnya (atau memang sudah ada? Saya mencari ke mana-mana tetapi belum menemukan film adaptasi dari novel ini) pasti sangat seru dan menegangkan. Apalagi banyak hal tidak terduga yang kemudian muncul dan membuat novel ini semakin menarik untuk diikuti sampai tuntas. Yang lebih hebat dan menakjubkan ending dari semua itu, tidak sesuai dengan prediksi saya yang selalu berubah-ubah setiap selesai membaca bab demi bab.

Hemh, kalau saja saya seberuntung LuAnn, ah tidak, LuAnn bukan cuma beruntung, tetapi ia benar-benar telah memperjuangkan semua yang sudah ia raih dengan keringat dan darah, bahkan bukan sekali dua kali nyawanya nyaris terancam. Ini yang kemudian membuat saya berpikir dua kali, hehe.

Baca dan ikuti cerita serunya. Cari bukunya di Gramedia atau toko buku terdekat di kota Anda. 
Untuk Anda yang berdomisili di daerah Cimahi dan sekitarnya, silakan mampir dan membaca bukunya di Taman Bacaan Pustaka Ilmu, Jln. Jati Utama Blok R8 no 15A, Margaasih Bandung

Flash Fiction : Aroma Cinta di Ujung Senja


AROMA CINTA DI UJUNG SENJA
Kamiluddin Azis


Rumah itu masih seperti  lima tahun yang lalu saat aku pergi. Wangi jamu menyeruak di hampir setiap sudut ruangan.  Aku sudah terbiasa mencium bau aneh itu sejak kecil. Dan tidak pernah sekalipun celoteh protesku mengubah itu.  Sampai ketika aku harus berangkat menginggalkan tanah air, wangi-wangian itu ikut dan menempel  kuat dalam ingatanku. Hidupku seperti sudah terikat mati, tidak akan pernah lepas dengan baunya. Dan aku tidak lagi bisa menolaknya.
                Tentu saja selain Ayah,Iibu dan Mamaku, rasa rindu terhadap rumah dan- kembali- wangi jamu itu yang menggiringku pulang.  Harmoni itu : Wangi jamu yang selaras dengan gerak lambat kehidupan di rumah ini. Lima tahun di negeri orang, dan kini aku pulang dengan masih membawa tanya yang belum terjawab.
                Akankah hari ini tiba semua jawaban itu.
                “Apa bedanya kalau kamu tahu siapa diantara kami ini yang melahirkanmu?” Itu bukan jawaban. Tetapi kenapa selalu pertanyaan balik itu yang terucap setiap kali aku bertanya.
                Aku lahir dari rahim seorang perempuan. Itu pasti. Tapi aku dirawat dan dibesarkan oleh dua orang perempuan yang sama-sama mencintaiku : Ibu dan Mama. Salah seorang dari mereka adalah ibu biologisku, yang di dalam rahimnya aku tumbuh selama lebih dari tiga puluh enam minggu. Tapi keduanya menolak memberi tahuku di rahim siapa aku dikandung.
                Tidak juga dengan Ayah. Dialah lelaki satu-satunya yang ada diantara 3 perempuan di rumah ini. Dialah yang menebar cinta dan menanamnya begitu dalam hingga tumbuh dan merekah setiap hari di hati kami. Dia yang tidak pernah mengeluh  kenapa aku terus mempertanyakan hal serupa setiap waktu. Dia yang tidak pernah sekalipun berbuat kasar di depan mataku atau di belakangku. Dia yang menjaga dan melindungi kami, ketiga perempuan yang disebutnya sebagai three angles. Dialah lelaki yang pandai menyimpan rapat rahasia besar yang mungkin belum saatnya dibagi denganku.
                Tapi kini aku sudah besar. Dua puluh dua tahun usiaku. Dan gelar dokter  sudah menempel cantik di depan namaku. Kendati sudah tidak penting lagi mengajukan pertanyaan itu, aku tetap saja terusik.  Mendapat jawaban yang pasti tidak akan mengubah apapun, selain menciptakan perasaan tenang di hatiku.
                Kenapa harus menunggu begitu lama untuk mengetahui kebenaran itu? Atau jangan-jangan aku bukan anak dari Ibu atau Mama? Bukan pula anak Ayah?              
                “Please, Ayah. Ayah kan sudah janji,” aku mengingatkan ayah dengan nada mengiba.
                Lalu kebenaran pun terungkap.

                Mama adalah perempuan pertama yang dinikahi Ayah selama empat tahun sebelum ia memutuskan  untuk menikahi Ibu karena Mama tidak kunjung memberikan keturunan. Pernikahan ayah dan Ibu diatur sedemikian rupa oleh Mama. Ibu adalah perempuan terbaik pilihan Mama untuk mendampingi Ayah.
                “Mama ingin memiliki seorang anak. Darah daging dari lelaki yang mama cintai. Walaupun itu tidak lahir dari rahim mama, tapi mama ingin anak itu lahir dari sebuah rasa cinta,” Mama membuka lembaran kisah yang sudah lama ia simpan.
                “Mama meminta ayahmu menikahi ibumu, dan mencintainya seperti ia juga mencintai mama. Mama rela, asalkan ia mau berbagi cinta dengan mama. Berbagi kasih sayang untuk anaknya dengan mama. Dan mama mendapatkan rasa cinta kamu sebagaimana seorang ibu merasakan cinta dari anaknya.”
                Aku melepas lipatan tanganku dan menggenggam tangan Mama. Memberinya kekuatan yang aku sendiri tidak tahu apakah ada gunanya. Sementara aku masih haus akan jawaban.
                Ibu berdiri di belakangku dengan mata berkaca-kaca. Tangannya menyentuh pundakku. Ia hendak berbicara kalau saja Mama tidak segera kembali bicara.
                “Pada mulanya ayahmu menolak. Mama tahu ia adalah lelaki setia . Ia rela menghabiskan hari dengan mama walaupun tanpa kehadiran buah hati. Begitupun dengan ibumu. Meskipun mama tahu masih ada perasaan cinta di hati ibumu yang sebelumnya sempat terenggut oleh kehadiran mama, tapi ibumu menolak untuk dinikahi ayahmu.”
                Aku beralih menatap mata Ibu seolah menunggu apa yang akan ia sampaikan.
                “Mamamu adalah sahabat terbaik yang pernah ibu miliki. Ia rela mengorbankan perasaannya sendiri demi kebahagiaan orang lain. Begitu tahu betapa besarnya harapan mama untuk memiliki anak sementara ia tidak mampu, ibu tidak keberatan berbagi dengannya.” Lembut jemari Ibu mengusap kepalaku. Ketenangan menyelimuti hatiku. Puzzle-puzzle itu sepertinya akan segera membentuk sesuatu. Sebuah gambaran yang utuh tentang siapa ibuku ini sebenarnya.
                “Lalu kami bertiga sepakat untuk tidak memberitahumu semuanya. Walaupun kamu mendapatkan asi dari ibumu, tetapi mamamu turut merawatmu, sama repotnya seperti ibumu. Kadang ayah merasa lucu melihat tingkah kedua istri ayah ini,” timpal ayah sembari mengumbar seulas senyum, dan berharap dengan senyum itu ia bisa menyembunyikan gundah  di hatinya.
                Sekarang Mama terkulai tak berdaya. Mama divonis tidak bisa memiliki anak setelah berkali-kali keguguran. Dan semua itu terjadi karena di rahim Mama bersarang kanker yang setiap waktu tumbuh tanpa bisa dikendalikan. Aku baru sadar, wangi itu bukan sekedar jamu kesehatan seperti selalu ibuku bilang, bukan pula pengharum ruangan atau pengusir bau-bauan lainnya yang tidak disukai binatang pengganggu seperti yang selalu ayah utarakan. Tetapi adalah ramuan obat untuk mencegah kanker Mama tumbuh semakin ganas. Bahkan setelah rahim Mama diangkat beberapa tahun silam, Mama masih harus terus menjalani berbagai terapi, termasuk terapi secara tradisional, agar kesehatannya kembali pulih.
                Kini cinta ketiga orang tuaku satu sama lain sudah terjalin puluhan tahun. Di ujung senja usia mereka cinta itu masih terikat erat. Aku sangat bangga dan bahagia bisa memiliki orang tua yang tiada henti mengalirkan cinta dan memberikan kehangatan dalam hidupku. Betul kata Mama, tidak akan ada bedanya jika kemudian aku tahu siapa ibu kandungku sebenarnya. Tetapi tentu saja mengetahui sebuah kenyataan pasti akan jauh lebih baik daripada menerka-nerka sesuatu secara tidak pasti.
                Harmoni cinta kami begitu indah. Irama hati dan jiwa kami menyatu selamanya. .

Flash Fiction : Copy Darat Pocong FB


COPY DARAT POCONG FB


Bosen chatingan di dunia maya, gue maksa cowok itu buat copy darat. Cowok yang ngaku dirinya pocong bernama Nyengir dengan marga kebanggannya ‘Sanggolek’ itu langsung setuju. Akhirnya gue sama tuh pocong jadi-jadian janjian di kebon pisang kampung sebelah. Kenapa janjian di kebon pohon pisang coba, dasar pocong, ada-ada aja!
         Gue celingukan ke sana ke mari nyariin si Nyengir Sanggolek. Tapi tuh makhluk belum nongol juga. Lalu gue nyalain hape sekedar buat pasang status di FB, sekalian gue jadiin hape gue sebagai senter. Maklum di kebon pisang mana ada yang pasang lampu. Dalam cahaya yang seadanya dari jauh gue lihat seoonggok benda putih berdiri di samping pohon pisang. Gue nyalain lagi hape gue, dan gue arahkan ke tempat tadi, benda putih itu sudah pindah ke pohon sebelahnya yang lebih dekat dengan posisi gue berdiri. Bulu kuduk gue tiba-tiba meremang. Pikiran parno mulai merasuk ke dalam otak gue, membuat gue berpikir yang enggak-enggak.
         Gue mencoba bertahan dengan sisa rasa takut gue yang mendadak muncul. Lalu gue perhatikan sekali lagi dengan lebih seksama, dari ujung kaki yang dibungkus kain putih, sampai ujung kepala yang diikat dengan tali membentuk permen dalam ukuran besar. Apakah benda putih itu….. po-cong.. atau … ?
         Dan ternyata, benda itu beneran pocong!
         Pocong asli!.
       Awalnya memang gue nggak percaya. Bisa aja kan siapapun mengada-ngada dan ngaku kalau dirinya pocong. Foto PP berupa pocong dengan wajah seram juga gampang didapat, tinggal googling, copas, jadi deh PP di FB. Tapi foto pocong yang satu ini memang agak beda dibanding gambar pocong yang sering gue lihat. Lebih asli dan natural. Muka hitamnya sih sama, tapi rasanya belum pernah gue lihat ada pocong bertampang nyengir seperti si Nyengir Sanggolek itu. Dengan gigi depan yang rompang dua, dia pede ngejepret dirinya sendiri pake kamera hapenya, lalu dipasang sebagai PP-nya.
         Untuk memastikan keaslian tuh foto, gue tanyain ke ahli foto digital terkenal bernama Boy Mentari. Dan hasilnya ternyata foto itu memang beneran asli. Tapi Mas Boy Mentari tidak mau membuat pernyataan apakah orang yang adadalam foto itu pocong beneran atau pocong jadi-jadian. Yang ada, setelah mendapat order dari gue sang ahli digital mendadak koma berhari-hari. Kejadian itu menambah rasa penasaran gue buat ketemu temen FB gue yang satu ini.
          “Ternyata lo beneran pocong, bro?” tanya gue memberanikan diri.
Cowok itu sama sekali tidak menggubris pertanyaan gue. Tubuhnya tetap membelakangi pohon pisang yang buahnya panjang menjuntai. Tapi dari tempat gue berdiri, gue masih bisa melihat cahaya kecil di bagian tengah tubuhnya, yang menyerupai lampu sebuah telelpon seluler.
                Nggak begitu lama suara hape gue bunyi. Ternyata itu info kalau ada yang nulis di wall FB gue. Buru-buru gue buka, gini bunyinya : “Sorry, gue lagi puasa ngomong. Lo masih gak percaya kan kalo gue beneran pocong ya?”
                Deg, jantung gue mendadak berhenti. Tapi gue coba menahan rasa takut ini karena gue beneran penasaran ngapain si Nyengir pake kostum pocong segala. Tapi… nih beneran si Nyengir Sanggolek bukan ya? Atau malah beneran…. Sssttt pocong?
                Berasa diperhatikan, pocong pendiem itu membalikkan badannya dengan sekali lompatan kecil. Ia lalu memperlihatkan wajahnya yang disorot cahaya hape yang menyala dari bagian  tengah perutnya. Mukanya nyengir kuda, memperlihatkan gigi depannya yang ompong dua. Seketika gue menjerit. Lalu gue ngacir dari TKP, lari lintang pukang nggak tentu arah.  Dari kejauhan gue masih bisa dengar suara gedebug seperti sesuatu yang terjatuh. Gue berharap si Nyengir kesandung akar pohon pisang.
                Malam itu juga sepulang dari kebon pisang itu, gue langsung remove pertemanan gue dengan si Nyengir Sanggolek yang ternyata adalah pocong penunggu kebon pisang golek itu.

Selasa, 31 Januari 2012

LELAH YANG INDAH




LELAH YANG INDAH


Mendung menggelayut. Awan pekat yang menggantung perlahan luruh menjadi rintik hujan yang membasahi tanah merah ini. Satu persatu orang-orang meninggalkan pemakanan. Meninggalkan aku dengan segala kepedihan dan rasa kehilangan yang amat. Mas Hasan, suamiku telah berpulang di saat aku masih membutuhkannya  sebagai tiang tempat aku bergantung dan bersandar dalam hidup ini. Namanya kini telah terukir abadi di atas batu nisan, tempat peristirahatan terakhirnya..
            Tinggalah aku dengan dua orang anak : Rahmi, yang pertama masih duduk di bangku sekolah dasar, sedangkan Yana, anakku yang kedua masih berumur empat tahun. Mas Hasan telah memilihkan Rahmi sekolah terbaik yang mampu kami jangkau dengan penghasilannya yang pas-pasan.  Aku sendiri berusaha membantu menambah penghasilan keluarga dengan berjualan makanan buatanku sendiri. Mengurus dua orang  anak yang masih memerlukan perhatian extra membuat gerak langkahku sedikit terbatas. Karenanya aku belum bisa melakukan banyak hal untuk membantu keuangan keluarga.
            Sejak Ayah - panggilan sayang untuk suamiku, meninggal, praktis akulah yang harus mengurus segalanya sendiri. Mulai dari menyediakan kebutuhan sandang, pangan, biaya sekolah, bahkan termasuk  keamanan dan kenyamanan hidup anak-anak. Apalagi aku dan suamiku sudah lama menetap di kota tempat suamiku bekerja, sedangkan keluarga besarku berada jauh di kota yang berbeda. Begitupun dengan keluarga dari pihak suami yang bahkan berada di luar pulau. Aku harus benar-benar bisa hidup mandiri tanpa bantuan dari keluarga, baik dari pihak bapaknya anak-anak maupun dari pihakku sendiri.
            Hari-hari di minggu pertama Ayah tidak ada, rasanya jiwa ini benar-benar sepi dan merana. Apalagi kalau anak-anak masih sering menanyakan kapan ayah mereka pulang. Meskipun mereka sendiri tahu dan bahkan ikut mengantarkan jenazah ayah mereka, tetapi hati kecil mereka ragu apakah ayah mereka benar-benar telah tiada. Kerinduan yang sangat menyakitkan.
            “Tabah ya, Mi,”  aku mengelus kepala Rahmi, sambil memeluk Yana.
            Rahmi menggenggam tanganku, mencoba memberi  kekuatan melalui jemarinya yang mungil. Yana merengek dan aku mempererat dekapanku sehingga ia menjadi lebih tenang. Ternyata badannya hangat. Sepertinya ia demam. Seketika dadaku bergemuruh. Biasanya Mas Hasan akan panik bila mendapati badan Yana seperti ini. Dan dengan sigap ia akan menggendongnya setelah memberi Yana obat penurun panas.
            “Besok Rahmi aja yang antar gorengan itu ke kantor Ayah, ya , Bu?” Rahmi memang pintar dan sangat pengertian. Ia juga mandiri dan tidak cengeng. Pantas kalau ia selalu juara kelas dan mendapatkan beasiswa dari sekolah. Bahkan dari kantor Ayahnya pun  Rahmi sudah dua tahun berturut-turut ini mendapatkan bantuan dana pendidikan karena prestasinya itu. Program peduli dari kantor suamiku memang diperuntukkan  membantu biaya pendidikan anak-anak karyawan yang berprestasi, terutama bagi mereka yang kurang mampu. Rahmi menjadi salah satu diantaranya.
            Keesokan harinya, dan hari-hari berikutnya Rahmi menggantikanku mengantarkan makanan untuk dijual di koperasi kantor tempat ayahnya bekerja.  Pagi sebelum berangkat sekolah ia mampir dan menitipkan satu box gorengan di pos keamanan kantor, dan sorenya Rahmi datang lagi  untuk mengambil setoran hasil penjualan hari itu. Begitu Ia lakukan selama beberapa hari sampai suatu waktu Rahmi pulang lagi dengan membawa makanan dagangannya.
            “Koperasinya sudah tutup, Bu. Kata Pak Satpam sudah tidak akan dibuka lagi,” Rahmi menunduk, menutupi kesedihan yang kemudian juga menggelayut di dadaku. Kantor Ayahnya Rahmi  adalah lahan tetap untuk aku menjual penganan buatanku. Kalau koperasi itu tutup, lantas bagaimana dengan usahaku ini. Mungkin aku harus mulai berpikir untuk menawarkannya ke warung-warung atau mungkin aku sendiri yang harus menjajakannya berkeliling supaya keuntungan penjualan bisa lebih besar.  Mencari pekerjaan lain terasa lebih sulit. Tapi aku juga akan mencobanya semampuku.
            Keesokan harinya aku pun menambah extra waktu kerjaku. Kalau biasanya aku bangun jam empat untuk menggoreng penganan yang akan dijual, lalu mengerjakan pekerjaan rumah lainnya, maka sekarang aku harus bangun lebih pagi lagi supaya bisa mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci pakaian, perabot, menyetrika, membersihkan rumah dan memperispkan sarapan Rahmi lebih awal pula. Setelah selesai menggoreng kue-kue, aku siap berkeliling dari rumah ke rumah untuk menjajakan kue-kue buatanku itu. Aku memang harus bisa mengatur waktu supaya sekolah Rahmi pun tidak terganggu karena harus mengantar jemput kue seperti ke kantor suamiku waktu itu.
            Waktu berjalan terasa sangat lambat.  Ternyata perjuangan menjadi seorang single parent tidak semudah yang aku bayangkan.  Lika-liku yang terasa amat pedih, menakutkan dan membuat aku salalu berpikir kenapa Tuhan tega merenggut suamiku lebih dulu. Tetapi aku yakin, ketika kita menjalaninya dengan cinta yang tulus untuk anak-anak kita, maka Tuhan selalu akan memberikan jalan. Jalan yang mudah dilalui dan jalan yang akan memberikan ketentraman batin ini.
            Aku menatap wajah anak-anakku lekat-lekat. Ada gurat wajah Mas Hasan di sana.  Dagunya, lengkung bibir dan senyumnya, kelopak matanya, mengisyaratkan ketegaran hidup. Mas Hasan memang seorang suami yang tegar. Ia kerapkali mendapat perlakuan kurang baik dari atasan dan teman-teman kerjanya, karena jabatan rendahnya yang hanya sebagai sopir kantor. Tetapi Mas Hasan tidak pernah mengeluh dan menganggap itu semua sebagai bagian dari resiko pekerjaan yang harus ditanggungnya.
            Kecintaannya terhadap pekerjaan itu pulalah yang telah merenggut  nyawanya akibat kecelakaan itu. Truk yang ia kemudikan bertabrakan dengan truk lain saat suamiku dalam perjalanan menuju kantornya setelah membawa barang-barang penting dari kantor pusat.  Hanya perlu satu hari saja untuk bisa menemani sisa hidupnya sebelum ajal benar-benar menjemputnya. Senyum terakhirnya begitu tulus, membuat aku pasrah dan ikhlas menerima semua cobaan ini.
            “Bu, Ayah kan sopir. Hampir setiap waktu berada di jalan. Pasti resikonya gede loh, Bu,” celoteh Mas Hasan, semalam sebelum kejadian nahas itu menimpanya.
            “Iya, Ibu tahu. Makanya Ayah hati-hati, ya. Banyak berdoa. Jangan ngebut dan jangan banyak pikiran kosong,” pesanku disambut candaan Mas Hasan.
            “Mikirin apa sih Bu? Palingan juga mikirin Ibu sama anak-anak,” Mas Hasan melingkarkan lengannya di pinggangku, lalu mengecup kepala bagian belakangku. Kedamaian sekaligus keresahan menyelimuti hatiku kala itu. Aku tidak memiliki firasat khusus, karena perbincangan seperti ini sering kami bahas hanya untuk saling mengingatkan dan mendoakan.
            “Kalau Ayah kenapa-kenapa, jaga anak-anak dengan baik ya, Bu,” celoteh Mas Hasan . Aku tidak menjawab dan menganggapnya sebagai angin lalu.
            Rupanya itulah wasiat terakhir dari suamiku : Menjaga dan merawat anak-anak dengan baik.

--o0O0o-

Rinai kembali luruh. Aku menatap foto keluarga kami. Aku, Mas Hasan dan dua anak kami sedang bercengkrama penuh kebahagiaan. Kini kenangan itu hanya bisa aku simpan dalam memori indah kami. Kini aku harus berani menatap masa depan. Masa depan untuk anak-anakku, meski tanpa kehadiran suamiku lagi.
            Aku masih sibuk mempersiapkan adonan penganan untuk dijual besok waktu handphoneku berbunyi. Rahmi memberikan handphone peninggalan ayahnya itu. Ternyata telepon dari Mas Bayu, kakakku dari luar kota. Ia menanyakan kabarku dan kedua ponakannya. Ia juga menawariku untuk tinggal di rumahnya bersama keluarganya. Ini adalah penawarannya yang kesekian kali setalah aku berkali-kali pula menolaknya dengan lembut. Bukan aku tidak mau menerima bantuan karena aku sudah mampu menghidupi keluargaku, tetapi aku tidak mau menjadi beban bahkan benalu di keluarga Mas Bayu yang aku tahu sendiri juga belum terlalu mapan. Niat baik dan perhatiannya sudah sangat membuatku senang dan bersyukur.
            “Cobalah untuk lebih realistis, Ti. Anak-anakmu memerlukan biaya hidup yang tidak sedikit. Kamu pun masih tinggal di rumah kontrakan. Bagaimana nasib mereka kelak?” Mas Bayu berusaha merubah pendirianku.
            “Aku masih bisa bekerja dengan membuat dan menjual kue-kue , juga menjadi tukang cuci-seterika, Mas. Ya, gajinya memang tidak seberapa, tapi aku tidak perlu meninggalkan anak-anak karena semua pekerjaan itu aku bawa ke rumah,” ucapku mencoba menenangkan pikiran Mas Bayu yang khawatir terhadap nasib kami.
            “Nastiti, dari dulu kamu memang keras kepala. Ya sudah, bagaimana baiknya kamu saja. Tapi ingat, kalau kamu perlu apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungiku. Kamu masih punya kakak yang bisa kamu mintai pertolongan,” Mas Bayu akhirnya menyerah. Tapi aku senang karena ia menunjukkan sikap penuh tanggung jawab terhadap adiknya yang sedang menghadapi kesulitan ini.
            Dari awal aku bertekad bahwa aku harus bisa mandiri. Menjadi ibu sekaligus ayah memang bukan perkara mudah, tetapi aku harus sanggup berdiri di atas kakiku selama aku mampu. Dan aku masih sanggup menangani semua permasalahan hidupku sendiri tanpa melibatkan saudara-saudaraku dan orang lain. Aku akan berusaha membesarkan anak-anakku sampai mereka berhasil dengan keringat dan usahaku sendiri. Aku yakin, aku pasti mampu.
            “Kenapa kita tidak ikut keluarga Uwak Yu saja Bu?” tanya Rahmi sambil mengerjakan tugas sekolahnya. Uwak Yu adalah panggilan akrab anak-anakku untuk Mas Bayu.
            Aku menatap Rahmi yang kehilangan masa bahagia bersama ayahnya. Bahkan ia pun harus merelakan waku bermainnya untuk membantu aku membuat kue-kue dan berjualan. “Rahmi, akan lebih baik bagi kita untuk tetap berusaha semampu kita, tanpa mengharap belas kasihan orang lain,” jawabku.
            “Tapi Kan Uwak Yu bukan orang lain, Bu,” ucap Rahmi lagi. Lalu ia mulai membereskan buku-bukunya, dan menghampiriku untuk membantu pekerjaanku.
            “Iya, Uwak kamu itu memang bukan orang lain, tapi Uwak juga kan punya keluarga sendiri yang harus diurus. Kalau kita tinggal di sana, bisa-bisa malah membuat Uwak kamu tambah repot,” jawabku lagi,
            Rahmi mengangguk penuh pengertian. Aku tahu, Rahmi pasti senang bisa bermain dengan sepupu-sepupunya, anak-anak Mas Bayu yang seumuran dengannya. Banyak mainan yang bisa ia mainkan di sana, sementara di rumah ini, tidak ada satupun mainan yang Rahmi miliki selain boneka kelinci hadiah ulang tahun dari ayahnya beberapa tahun yang lalu. Aku kadang miris juga jika mengingat hal itu. Rahmi dan Yana memang bukan anak-anak yang selalu terpenuhi kebutuhan masa kanak-kanaknya. Waktu Mas Hasan masih ada, sesekali kami memang pernah rekreasi ke kebun binatang, atau ke arena bermain anak-anak. Tetapi sekarang, aku harus berpikir dua kali jika ingin melakukan hal itu. Aku benar-benar harus mengetatkan ikat pinggang demi kelangsungan hidup kami yang masih panjang.
            Aku kembali mengalihkan perhatianku pada pekerjaan membuat kue. Adonan kue ini baru akan aku buat menjelang subuh nanti, karena aku tidak memiliki lemari pendingin yang bisa menyimpan adonan lebih lama. Sejak aku berjualan keliling, penghasilanku lumayan bertambah. Itu karena aku tidak perlu membagi keuntungan jualan dengan penjual lain jika aku menitipkan dagangan padanya. Tetapi menitipkan dagangan di beberapa warung masih aku jalani pula. Aku bersyukur Tuhan mempermudah jalanku.         
            Aku mulai bisa menabung untuk keperluan yang tidak terduga seperti biaya berobat kalau anak-anakku sakit, amplop kondangan, dan aku pun menyisihkan sedikit untuk sumbangan ke yayasan atau panti asuhan. Aku berharap dengan membantu meskipun hanya sedikit bisa meringankan beban orang lain. Keuntungan hasil jualan yang paling pokok aku pakai untuk biaya sehari-hari, bayar kontrakan, biaya sekolah Rahmi. Dan sekali lagi, aku sangat bersyukur Tuhan memberikanku kesehatan dan kekuatan untuk menjalani semuanya.
           
--o0O0o-

Setahun telah berlalu. Aku sudah mulai terbiasa hidup tanpa pendamping. Bagiku keberadaan anak-anak membuat Mas Hasan terasa selalu ada di sampingku. Aku kadang berpikir Mas Hasan hanya sedang pergi tugas ke luar kota. Lucu memang, tapi hanya dengan pikiran itu aku masih mendapat kekuatan dan keberanian untuk menghadapi hari esok.
            Saat malam tiba aku sempatkan melakukan sholat malam dan berdoa kepada Tuhan. “Tuhan, berikanlah kebahagiaan untuk suamiku di alam sana. Dan berikanlah aku kesehatan dan umur panjang agar bisa merawat anak-anak titipan-Mu sampai dewasa dan berhasil.  Berikan mereka kebahagiaan dan jauhkan kami dari segala malapetaka… amin..” Doa yang sangat sederhana, tetapi itulah harapanku. Harapan satu-satunya yang selalu aku perjuangkan.
            Tuhan telah menentukan garis hidup seseorang: mau menjadi perempuan tegar, atau perempuan yang selalu meratapi nasib; merasa Tuhan tidak adil, atau menganggap ini sebagai ujian yang kelak setelah kita sabar menjalaninya akan berbuah manis, sebuah kebahagiaan. Tuhan telah memberikan jalan untuk mencapai kebahagiaan itu. Tuhan telah mempermudah semua langkah ketika kita benar-benar bisa menerimanya dengan ikhlas. Tuhan telah menjadikan aku seorang single parent yang tiada lelah berjuang untuk kebahagiaan anak-anakku. Terima kasih Tuhan atas semua yang Kau percayakan padaku.
            Terima kasih suamiku karena selama hidupmu, engkau  selalu memberikan cinta dan mengajariku bagaimana cinta itu bisa merubah lelah menjadi indah, dan sakit menjadi spirit. Hidup adalah jalan untuk menikmati dan mencapai bahagia. Dan kematian pun menjadi jalan untuk menikmati semua yang sudah kita beri selama hidup.

--o0O0o-

Biodata Singkat :
Nama saya Kamiluddin Azis, biasa disapa Kang Aming. Lama tidak menulis karena kesibukan saya bekerja sebagai seorang akunting di sebuah perusahaan swasta nasional, membuat saya merasa  banyak waktu yang terbuang. Karenanya di akhir tahun 2011 saya kembali bermain dengan keyboard computer tua saya untuk membuat banyak karya. Belum banyak yang dipublish, tetapi di tahun 2012 ini saya akan melesat bak meteor.