Jumat, 28 Februari 2014

Resensi : Hoppipolla



Hoppipolla, Jiwa yang Menerawang Absurd diantara Realita Kehidupan
Sebuah Resensi


Judul       : Hoppipolla
Penulis    : Dedek Fidelis Sinabutar, dkk
Penerbit  : DeKa Publishing
Terbit      : Januari 2014
Tebal       : vii + 133 halaman; 14 x 20 cm
ISBN       : 978-602-7915-43-5

Menyuguhkan kisah-kisah imajinatif melalui karya surealis merupakan salah satu cara untuk mendobrak sebuah mainstream dalam bercerita. Surealisme adalah sebuah aliran dalam karya sastra yang mengetengahkan unsur-unsur magis, mimpi, mitos, klenik, sesuatu yang memiliki absurditas tinggi, dan nyaris tak terjangkau oleh logika.  Unsur-unsur kejutan dan sesuatu yang tak terduga menjadi ciri utama  genre tulisan ini. Mimpi dan alam bawah sadar adalah sumber inspirasi utama karya-karya beraliran surealisme. Namun, kerap penulis juga menyisipkan kritik sosial dalam karya surealismenya, dengan menganalogikan setting ataupun plot dan tokoh cerita dengan sesuatu yang tidak realistis. Ini menjadi sebuah sindiran halus bagi tokoh yang dikritisi.
Aliran surealisme lahir pertama kali di Paris sekitar tahun 1924 saat penulis Perancis bernama Andre Breton menulis manifesto pertama surealis yang disusul dengan dua manifesto lainnya pada tahun 1930 dan 1942.  Lalu gerakan baru itu berkembang luas hingga ke seluruh Eropa dan Amerika. Pada perkembangannya, para surealis di negara-negara Eropa dan Amerika sangat dipengaruhi oleh Sigmund Freud, seorang pendiri psikoanalisis dari Austria. Di Indonesia sendiri aliran surealisme ini diawali dengan lahirnya sebuah cerpen berjudul ‘Godlob’ karya Danarto pada tahun 1967.  Lalu perkembangan aliran ini semakin pesat dengan bermunculannya cerpen-cerpen beraliran sejenis. Sebut saja Agus Noor dan Eka Kurniawan, dua cerpenis senior yang getol menciptakan cerpen-cerpen surealis yang banyak diminati pembaca masa kini.
Hoppipolla mencoba menyuguhkan sajian tulisan dalam bentuk kumpulan cerita pendek bergenre surealis. Buku ini terdiri dari 12 cerpen yang merupakan para pemenang Cerpen of the Month selama tahun 2013, yang diadakan grup kepenulisan ternama ‘Untuk Sahabat’. Nama ‘Hoppipolla’ diambil dari judul cerpen yang menjadi karya terbaik pilihan juri. Cerpen ini ditulis oleh Dedek Fidelis Sinabutar, penulis muda kelahiran tahun 1992 asal Rantauprapat. Cerita yang Dedek tulis sangat menarik, yaitu tentang seorang lelaki yang ditinggal mati pacarnya, dan sering mengalami mimpi aneh: bertemu dengan ikan mas koki raksasa yang bias bicara. Pun di dunia nyata ia juga sering melihat ikan tersebut, bahkan mereka berkomunikasi layaknya manusia. Ikan mas koki itulah yang membuat laki-laki patah semangat itu bangkit kembali dari keterpurukan.
Secara umum, gaya bahasa dalam kumcer ini relatif senada: sastra dan baku. Sepertinya para penulis tidak ingin menodai kesakralan makna surealisme yang menjadi benang merah buku ini. Apalagi di dalam Hoppipolla terdapat juga penulis kawakan sekelas Zhaenal Fanani dan Sutanto Ari Wibowo yang sudah menerbitkan banyak sekali novel yang laris di pasaran. Belum lagi jacob Julian dan Sandza yang sering menang lomba, serta penulis-penulis lain yang karyanya sering muncul di media.
Anda akan tercengang dan merasakan sensasi menegangkan di setiap akhir cerpen. Dalam sebuah cerpen berjudul 'Karnaval Cinta' karya Zhaenal Fanani, Anda akan bertemu dengan seorang lelaki yang dianggap gila, tetapi tiba-tiba menghilang dan berada di tempat lain. Anda akan menikmati akhir cerita yang menegangkan dalam 'Tumbal' Dedul Faithful, dan 'Watu Loreng' M. Hasbi AS. Atau akhir cerita dengan mata terbelalak setelah membaca 'Sang Pelopor' Sutanto Ari Wibowo, 'Tangan Penyembuh' karya Marlina, 'Mimbar Tua Baiturrahim'-nya Enik Iis, dan 'Tembok Kutukan' goresan tangan Marlyn Christ. Belum lagi karya lain yang juga mengagumkan, yaitu : 'Selendang Ungu Negeri Trawang Jagat' karya Anung D'Lizta, 'Beruang di Mimpiku' Jacob Julian dan 'Syahrah Tujuh Ruh dalam Raga yang Satu'-nya Eni NN, serta 'Titisan Khidir' dari Sandza.
Dua belas cerpen dalam Hoppipolla yang sangat memesona ini bisa jadi sebagai pembuka karya-karya surealis dari penulis-penulis muda lainnya. Dedek dan penulis lainnya mampu menggedor tabir mimpi, dan mengurai mitos menjadi sebuah cerita yang lebih irasional. Kesunyian dan kegelapan yang absurd menjadi demikian indah dalam rangkaian kata penuh makna. Kesepian adalah sumber segala hal yang bersifat surealis bermula. Namun menurut Dedek : Kesepian dan kesunyian adalah dua hal berbeda. Ketika kau tak menikmatinya, ia bernama kesepian. Ketika kau menikmatinya, ia bernama kesunyian (halaman 4).
Pak Danarto, maha guru cerpenis surealis pasti bangga, karena selain Agus Noor, Eka Kurniawan, Sunlita Citra Tanggyono, dan beberapa penulis surealisme kondang lainnya, akan lahir banyak sekali penulis-penulis yang beraliran surealisme berkualitas berikutnya.

*











Kamis, 20 Februari 2014

Review Novel : Cinta Tak Mendendam


Menohok dengan Kisah Cinta Romantis

Judul               :           Cinta Tak Mendendam (Dicintainya … seakan semuanya baik-baik saja)

Penulis             :           Petra Shandi
Tebal               :           381 halaman
Penerbit           :           Zettu (Januari 2014)

Siapa pun tidak akan merasa tenang jika menyimpan rasa bersalah dalam hidupnya. Begitupun dengan Amree. Laki-laki ini terlalu baik untuk menyembunyikan apa yang sudah ia lakukan sepuluh tahun lalu. Menabrak hingga tewas seorang lelaki berkeluarga. Meskipun ayah dan neneknya berhasil menutup kasus tersebut, namun Amree belum bisa memaafkan dirinya. Amree juga tidak bisa menerima pencalonan dirinya sebagai penerus bisnis perusahaan raksasa milik ayahnya. Ia tak ingin mengelola perusahaan yang ternyata memiliki banyak  kebobrokan di dalamnya.
Takdir, mempertemukan Amree dengan Winda, anak dari laki-laki yang ia renggut nyawanya. Amree pun jatuh cinta. Semua berjalan lancar, sampai Marwan, laki-laki yang menjadi saksi tabrakan dan mendapatkan suap dari Hadi Prabowo, ayah Amree, membuka tabir itu. Ia memberitahukan kebenaran yang selama ini ditutupnya rapat-rapat. Akibatnya, Winda yang telah memendam dendam sepuluh tahun lamanya murka. Ia membenci Amree, laki-laki yang dicintainya.
Namun cinta tak pernah mampu menahan dendam sebesar gunung sekalipun. Hati Winda luluh dengan kesungguhan Amree untuk mempertanggungjawabkan semuanya. Selepas mendekam di balik jeruji, hubungan Amree dan Winda membaik. Dan di akhir cerita, kebahagiaan menjadi milik mereka berdua.
Berbicara soal cinta, takkan pernah ada habisnya. Realita menunjukkan bahwa cinta mampu membutakan segalanya. Cinta mampu merubah kesumat menjadi rindu. Cinta meluluhkan angkara murka dan rasa benci karena kesuciannya. Cerita cinta selalu melahirkan sebuah romantika dan drama yang menyentuh.
Tidak banyak penulis laki-laki yang bisa meramu drama melankolis menjadi sebuah cerita yang menarik. Petra Shandi adalah salah seorang diantaranya. Ia pandai menjalin kata untuk menggambarkan suasana hati para tokoh yang diciptakannya. Petra bukan saja berhasil membuat pembaca puas dengan akhir cerita yang bahagia, tetapi juga memberikan solusi pada setiap konflik yang disuguhkan. Cinta tak Mendendam menjadi bagian dari sedikit novel romantis yang mengangkat cinta dari kelamnya kebencian tanpa harus mengeksploitasi rasa bersalah dan 'mengasihani' seseorang sebagai motif lahirnya.
Seperti juga karya-karya Petra Shandi lainnya, novel ini terasa ringan meskipun banyak konflik yang dimunculkan. Bahasa yang digunakan mengalir dengan majas dan analogi yang tidak  berlebihan. Puisi-puisi romantis dan kutipan-kutipan yang Petra ciptakan sangat relevan dengan jalan cerita.  Perasaan pembaca diaduk-aduk gregetan karenanya.
Novel ini layak untuk dijadikan sebuah film layar lebar karena sejak awal gambaran tokoh-tokoh dan setting cerita terasa tervisualisasi dengan baik melalui pemilihan diksi yang mudah dicerna. Wah, kalian harus menjadikan novel ini sebagai bagian koleksi novel romantis di rak buku kalian, ya. Selamat membaca!

*
Di-review oleh : Kamiluddin Azis (novelis, penikmat sastra)
Bias dihubungi melalui kamiluddinazis@gmail.com atau 083829021076

Sabtu, 01 Februari 2014

Di Dekatmu

Ada Senyuman Paling Indah di Sana
Kamiluddin Azis
PING!!!
Terbit Januari 2014
Harga Rp. 40.000,-

Sinopsis :

Di tengah-tengah pelaksanaan proyek penting, Deryan memutuskan untuk cuti. Andika, sahabat Deryan, dan Lify, cewek yang ditaksir Deryan, jadi kalang kabut dan super sibuk dengan limpahan tugas yang seharusnya Deryan kerjakan.

Bimo naik darah mengetahui sang istri selingkuh. Tanpa mau mendengar penjelasan Rulita, ia memuntahkan peluru pistolnya.. Beruntung, Rulita dapat meloloskan diri. Ia terus berlari, tak tentu arah.

Sementara, Deryan yang masih bingung mau berlibur ke mana, malah tidak sengaja menabrak Rulita. Peristiwa itu membuat Deryan berubah total. Rulita yang sedang melarikan diri dari suaminya melibatkan Deryan pada serangkaian aksi kejar-mengejar antara dirinya dan antek-antek Bimo.



Kalian pasti penasaran : kenapa Deryan tiba-tiba mengambil cuti? Siapa itu Rulita dan Bimo serta bagaimana liku kehidupan rumah tangga mereka? Bagiamana dengan Lify dan Andika, apakah mereka tahu apa yang terjadi dengan Deryan, lalu apa yang mereka lakukan selanjutnya?
Makanya, buruan beli novelnya. Bisa diperoleh di toko buku Gramedia, Trisera, Gunung Agung, Rumah Buku, atau toko buku lainnya di kotamu, juga di Book OL Shop kepercayaan kalian, seperti www.bukukita.com www.bukabuku.com www.uranusbooks.com dll.

Atau pesan langsung ke penulisnya juga boleh. sms aja ke 083829021076

Rabu, 25 Desember 2013

Bukan Pengemis Biasa


“Ini bukan pekerjaan, Kang!” protes Siti sambil menepis kaleng bekas susu yang menganga lapar di atas meja. Beberapa keping seratus Rupiah terlempar. Menggelinding, tepat di ujung kaki Ladun.
Laki-laki setengah tua itu mendongak. Wajahnya merah. Geram, sebab amarah yang meledak di ubun-ubun kini luber.
“Dasar istri tak tahu terima kasih!” gerutunya dengan dada bergemuruh. Tubuh bongkoknya berusaha bangkit, seraya mengumpulkan serakan receh di tanah.  Mata Kamaladun menyala. Tak terima dengan hinaan Siti yang ia hidupi dengan satu-satunya cara yang hanya bisa dilakoni: mengemis. Ia tak habis pikir kenapa Siti semakin berani melawan setelah beberapa kali gagal membujuk dirinya untuk berhenti menjadi  peminta-minta. Apa karena program Walikota baru,  yang menawarkan pekerjaan menjadi pembersih jalanan kepada para gepeng itu?
 “Aku tak mau terus-terusan begini, Kang! Kalau Akang tidak mau ikut program Pak Walikota Kenapa kita tidak pulang kampung saja?” Hujan air mata menganak sungai di pipi tirus perempuan empat puluhan itu. Siti tak peduli, meski hati suaminya bergelegak lantaran ocehannya. Ia hanya ingin menjadi istri biasa seperti perempuan lainnya. Tinggal di rumah, memasak, menunggu suaminya pulang bekerja, mengurus anak, sambil sesekali membantu suami memenuhi kekurangan kebutuhan dapur jika memang nafkah yang diberikan kurang. Bukan menjadi peminta-minta dengan kaleng kosong dan tatapan mata menghiba.  Atau paling banter menjadi pengamen jalanan dengan kecrekan tutup botol, dan ikut-ikutan menjadi pembersih kaca mobil dengan kamoceng butut  atau kain pel karet murahan. Bukan bekerja, mencari nafkah tanpa merengek belas kasihan orang lain. Tapi watak suaminya yang keras itu tak pernah menggubrisnya.
“Ti,  kita ini bukan pengemis biasa,” selalu kalimat itu yang terlontar dari getar bibir Ladun. Ia tak tahu, tak pernah tahu tepatnya kenapa dirinya selalu merasa berbeda dibandingkan dengan pengemis lainnya.
“Apa bedanya coba, Kang? Apa karena tubuh Akang bongkok, jadi Akang hanya pantas meminta belas kasihan orang?”
“Cukup!”
“Kang, Siti  tidak malu jadi istri Akang. Siti juga tidak malu kalaupun kita pulang ke kampung dan Akang kembali menjadi buruh tani. Siti hanya ingin Akang berhenti menjadi pengemis!” pekik Siti dengan urai air mata tiada henti. “Apalagi sekarang, Akang tidak mungkin menjadi buruh tani lagi, kan? Kita sudah kaya, Kang! Apalagi yang kita cari?”
*
Ladun masih merasa bahwa dirinya bukanlah pengemis biasa. Laki-laki itu sudah belasan tahun menjadi gepeng bersama istrinya di pinggiran kota Bandung. Tiga orang anak ditinggalkan di kampung  beserta nenek dan kakek mereka. Kehidupan lebih dari cukup menjadi  jaminan masa depan bagi ketiga anaknya. Dengan menjadi pengemis di jalanan, diselingi mengamen atau jadi calo angkot, kini ia sudah memiliki sebuah rumah besar dan beberapa petak sawah yang digarap tetangga. Ladun, bahkan menjadi donatur tetap untuk kegiatan sosial dan keagamaan di masjid tanah kelahirannya.
“Kalau Akang jadi penyapu jalan seperti yang Walikota baru itu sarankan, berapa penghasilan yang bisa kita terima, Ti? Jauh dari cukup!” di sela-sela risau yang merangsai hati istrinya, Ladun melontarkan alasan.
“Tapi hidup kita akan jauh lebih bermartabat, Kang,” tukas Siti tak mau kalah.
“Bermartabat? Dengan uang ratusan ribu, mana bisa kita makan, menyekolahkan anak, dan membiayai hidup orangtua kita, Ti? Mana mungkin kita mampu membantu orang-orang yang kesusahan di desa sedangkan untuk makan di sini saja kita harus berhutang?”
Itulah beda Kamaladun dengan pengemis lainnya. Bukan karena tubuhnya yang bongkok sejak lahir. Bukan! Tapi apa yang  sudah dihasilkannya dari mengemis, ia pakai untuk berbagi dengan sesama. Lalu, apakah ia  harus berhenti meneruskan semuanya hanya gara-gara program Wali Kota yang baru dilantik itu? Ladun menggelengkan kepala. Apa salahnya mengemis? Toh, meminta itu jauh lebih baik daripada mencuri. Daripada korupsi! 
Tapi, kenapa laki-laki itu malah melarang orang lain untuk berinfak?  
Kamaladun menjambak rambutnya. Diam-diam hatinya galau. Apa yang dikatakan Siti ada benarnya juga. Martabat… Hidup ini harus bermartabat! Tapi bagaimana jadinya jika ia berhenti mengemis? Akankah pulang ke desa bisa mengubah hidupnya menjadi lebih baik?
“Kita harus percaya bahwa Tuhan sudah menjamin rezeki masing-masing hambanya. Tuhan tidak suka pada peminta-minta,” sambung Siti dengan raut tenang. Pikirnya, barangkali pelan-pelan, Ladun akan menuruti sarannya. Berhenti menjadi peminta-minta, dan pulang ke kampung halaman.
“Tuhan tidak suka kepada peminta-minta yang memaksa, itu yang benar, Siti. Dan aku tidak pernah meminta siapapun dengan cara memaksa!” ralat Ladun menyatir sabda Rasul.
“Sudahlah, Kang, pokoknya Siti mau pulang. Dengan atau tanpa Akang!” Akhirnya mulut perempuan itu mengultimatum.
Kamaladun mematung tak berdaya.
*
            Berhari-hari pikiran Kamaladun risau. Ia pergi menuju perempatan jalan seperti biasa, tapi hatinya mengembara entah ke mana. Terngiang terus ucapan Siti. Terbayang pula wajah ketiga anaknya, kedua orangtuanya, juga warga kampung yang selama ini menganggap Kamaladun dan Siti sebagai dewa penolong mereka. Bagaimana jika mereka tahu apa yang Ladun dan Siti kerjakan di kota? Bukan sebagai pengusaha seperti yang selalu mereka gemborkan, melainkan hanya seorang pengemis jalanan yang mengharap belas kasihan orang?
            Ladun masih ingat saat ia bertemu dengan tetangga kampungnya  yang kebetulan sedang berada di dalam sebuah bis yang berhenti di perempatan tempat biasa Ladun mengemis. Jantung Ladun nyaris copot. Hampir saja ia ketahuan kalau saja wajahnya tidak ditutup dengan masker dan topi butut. Ia sangat panik, jauh melebihi rasa takut saat ada razia satpol PP.
Pandangan Ladun menabrak spanduk besar bertuliskan ‘Mari Jadikan Bandung Juara’ dan spanduk lain yang melarang pengguna jalan memberikan infak kepada pengemis. Ladun miris melihat kain-kain vinil itu bertebaran di mana-mana. Apa yang salah dengan mengemis? Kembali batinnya berontak.
            Gara-gara spanduk-spanduk larangan bersedekah kepada peminta-minta itu, Ladun dan pengemis lainnya kini kesulitan mendapatkan uang hasil buruan. Tidak ada lagi uang kertas seribuan yang menyembul  dari celah jendela mobil. Tidak ada lagi tangan mungil  yang mencuat dari sela-sela jendela kaca, yang menjatuhkan koin lima ratusan pada plastik bekas kemasan permen saat para pengemis itu menyentuhkannya ke kaca mobil sambil memasang wajah memelas.
            Dan kali ini, pemerintah kota berhasil membuat wajah-wajah pengemis itu benar-benar memelas. Tetapi, gurat wajah mereka sudah tegas terbentuk akibat garangnya mentari, hingga urat expresi selain sedih menghilang. Ladun bahkan merasa urat malunya pun telah putus sejak lama. Yang penting baginya kelangsungan hidup, dan bisa berbagi untuk warga di daerahnya.
            Dari hari ke hari, jumlah pengemis jalanan berkurang. Entah mereka pindah ke mana. Entah dijaring petugas, atau dengan sukarela pergi dan merubah status hidup dengan pekerjaan yang lebih baik. Ataukah satu persatu dari mereka melakukan pensiun dini.
            Ladun pun kini tinggal sendiri. Siti sudah lebih dulu meninggalkannya. Istrinya itu pamit pulang sejak subuh tadi. Meski Ladun berat, tapi ia menghargai apa yang sudah menjadi pilihan istrinya.
            “Maafkan Siti, Kang. Bukannya Siti tidak turut suami. Tapi Siti lebih baik mengurus anak-anak di kampung, memulai usaha sebisa Siti, daripada terus-terusan membatin dengan pekerjaan ini.”
            Ladun hanya diam. Membenarkan, sekaligus juga menyalahkan pilihan istrinya. “Sudahlah,” pekiknya, “Kalau itu memang maumu!”
Diam-diam tersusun rencana dalam benaknya untuk mempertimbangkan ajakan istrinya: mengakhiri masa tugas menjadi duta peminta-minta yang sekian tahun disandangnya. Hanya saja separuh hatinya masih berat untuk meninggalkan semua kenyamanan yang ia peroleh selama ini.
“Akang, nanti menyusul,” sambung Kamaladun dengan wajah tertunduk. Ia mengalah pada nasib yang selama ini mengombang-ambing hidupnya. Batinnya berkecamuk hebat untuk memutuskan perubahan besar dalam hidupnya itu.
             Terik mentari yang baru muncul setelah hujan reda pagi tadi, menuntut Ladun untuk tetap bertahan di tengah jalan. Mengacungkan kaleng susu bekas yang sudah ia kosongkan dari uang recehan yang semakin sedikit ia dapat. Tapi ia tak putus asa. Ini sudah menjadi tekadnya. Hari ini akan menjadi hari terakhir baginya menjadi pengemis jalanan. Ia harus mendapatkan cukup uang untuk ongkos pulang ke desa setelah semalam semua tabungan ia kuras dan berikan kepada istrinya.
            Tapi sayang, nasib berkata lain. Hari itu adalah jadwal rahasia Satpol PP merazia para gepeng. Ladun nyaris tertangkap kalau saja ia tidak dibantu temannya yang selama ini kerap mendapatkan bantuannya juga. Mereka berlari menuju sungai yang saat itu masih deras akibat hujan mengguyur Bandung sejak semalam. Ladun bersama temannya berhasil melompat pagar pembatas jalan. Ia bersembunyi diantara gorong-gorong jalan di atas bibir sungai. Tetapi saat ia berusaha menuruni dinding jalan menuju tempat yang lebih tersembunyi, kakinya menginjak bagian berlumut yang licin. Tubuh bongkok Ladun terjungkal dan terjerembab ke sungai. Pekiknya sama sekali tak terdengar. Bahkan temannya pun tidak tahu jika Ladun terseret arus sungai ke tempat yang lebih jauh.
*
            Jemari-jemari kecil itu bergantungan pada lengan ibunya yang ringkih. Sesekali kedua anak kecil menarik ujung baju si ibu sambil menangis. Mereka tidak tega menyambut bapak mereka yang datang dalam keadaan memprihatinkan. Kaki berbalut perban dengan tongkat di kiri dan kanan terapit di ketiaknya.
Warga yang juga dating menyambut, berlarian membantu menurunkan laki-laki itu dari sebuah kendaraan umum yang disewa khusus dari kota. Langkahnya tampak begitu sangat kesakitan.
“Akhirnya Bapak pulang,” pekik Siti sambil menuntun kedua anaknya berjalan elbih cepat untuk memeluk Ladun.
Mereka berpelukan sambil menangis haru. Dan bahagia. Dalam keadaan bagaimana pun Siti berharap Kamaladun pulang dan berkumpul kembali bersama keluarga.

~ Selesai ~

Penulis adalah seorang karyawan swasta yang juga pendiri sebuah Rumah Baca Pustaka Ilmu di daerah Margaasih Bandung, juga creator dari komunitas penulis di facebook bernama Inspirasi-ku. Kecintaannya pada dunia baca dan menulis sudah melahirkan beberapa karya berbentuk Novel dan kumpulan cerpen. Penulis bisa dihubungi melalui email kamiluddinazis@gmail.com atau pesawat telpon 083829021076





Sabtu, 21 Desember 2013

Selamat Hari Ibu

Hari ini aku tidak pulang dan memeluk Umi seperti setiap 22 Desember tahun-tahun sebelumnya.
Aku tahu, Umi mungkin tidak pernah mengharapkan hadiah apapun di hari spesial ini. Peluk dan cium serta tentu saja doa sudah pasti itu yang terpenting baginya. Biasanya aku selalu memanjakan Umi ketika semua orang merayakan Hari Ibu. Ya, hari ini selalu aku jadikan sebagai hari ulang tahun beliau karena kami tidak memiliki data akurat tanggal kelahirannya. Sebuah kado meskipun sederhana selalu membuat Umi bahagia. Namun sayang, tahun ini aku tidak memberikannya.

Salam sayang dan doa senantiasa nanda panjatkan untuk kesehatan dan kebahagiaan Umi. Selamat hari Ibu ya Umi, semoga Allah memberimu umur panjang dan bahagia dunia akhirat. 

peluk cium anakmu
ka

cuplikan cerpenku untuk Umi

Cuplikan Cerpen : SEBUTIR BERAS, SEGENGGAM CINTA UMI


dalam Kumcer "Ibu Dalam Kehidupanku"

Siang itu matahari berada persis di atas ubun-ubun. Terik nyaris membuat kepalaku berasap. Tapi aku tak peduli. Aku terus berjalan di atas pematang sawah bertanah retak. Ingatanku tertuju hanya padanya. Umi.
                Hawa sejuk menyambutku. Memenuhi rongga pernapasan, membuat sesak akibat berjejalan di dalam bis kota selama dalam perjalanan tadi menguap sudah. Aku menikmati saat-saat itu sebagai bagian dari rasa syukur  yang selalu Umi ajarkan. Pun pada saat kami menghadapi betapa peliknya hidup ini.
                “Sabar, itu nomor satu anak-anak. Yang kedua, ucapkan syukur setiap waktu. Semakin sering kita bersyukur, akan semakin bertambah nikmat yang Tuhan karuniakan kepada kita,” ucap Umi pada suatu senja berselimut lembayung. Aku dan adik-adik mengelilingi Umi, menikmati lembayung indah nan penuh warna sambil meresapi setiap petuahnya.
                Umi adalah ibu yang sangat penyabar. Kesulitan hidup yang dilaluinya selama menikah dengan Abah adalah bagian dari kenikmatan yang selalu disyukurinya. Lima puluh tahun lebih Umi melewati  semua. Berbagai cobaan tumpang tindih, tetapi kesabaran Umi sanggup mengalahkan badai sehebat apapun. Umi mengajarkan kepada kami, bahwa hidup ini bukan untuk dikeluhkan, tetapi untuk dijalani dengan tulus dan ikhlas. Kami -anak-anak Umi bersepuluh-, adalah buah cinta yang Tuhan berikan sebagai pelengkap kebahagiaannya. Begitu pengakuan Umi yang membuat cinta kami semakin besar padanya.
                Tinggal beberapa petak sawah yang harus kulalui. Rindu ini rasanya semakin membuncah. Sejak aku memutuskan untuk kuliah sambil bekerja di luar kota, praktis kesibukanku menyita waktu. Untuk sekedar menjenguk Umi saja aku nyaris tidak bisa. Dan dua bulan sudah -sejak keluarga kami pindah ke kampung ini-, aku belum menengok Umi, Abah dan adik-adikku lagi. Dulu, kami tinggal di sebuah kota kecil, tempat persinggahan para wisatawan yang melintas dari Jakarta ke Bandung. Tapi kota itu makin semrawut dan membuat kehidupan kami tak nyaman lagi. Apalagi adik-adikku sedang dalam proses tumbuh remaja. Pergaulan yang kurang baik di tempat tinggal kami sebelumnya sangat riskan bagi perkembangan jiwa mereka. Akhirnya kami memutuskan untuk pindah dan memulai kehidupan yang baru di kampung kecil ini.
                Sejak pindah itulah kehidupan kami mulai mengalami kesulitan yang lebih besar. Abah mulai jarang berangkat kerja. Selain jarak tempat kerja Abah cukup jauh dari kampung, kesehatannya pun mulai menurun. Sesekali, saat merasa cukup sehat, Abah pergi ke pasar, tempat dulu ia bekerja -sebagai petugas security-, dan menjalankan tugasnya. Tetapi karena Abah sering mangkir, kerap gajinya dipotong oleh bagian administrasi. Bahkan pada akhirnya Abah diberhentikan. Meskipun demikian Abah masih tetap berangkat ke pasar sekedar untuk mengais rezeki dengan cara apapun, dan pulang dengan hasil seadanya. Meski lebih sering pulang dengan tangan hampa.
                Sebagai seorang istri, juga ibu, Umi menerima keadaan ini dengan lapang dada. Ia lebih memilih tinggal di kampung dengan kehidupan sederhana dan kekurangan, daripada tinggal di kota dan menyaksikan anak-anaknya tumbuh dalam lingkungan yang kurang baik. Pergaulan bebas dengan berbagai risiko  berat, terutama berkaitan dengan miras dan narkoba, adalah penyakit masyarakat yang sulit dibasmi. Kehidupan yang bukan merupakan pilihan, tetapi saat kita berada dalam lingkungan yang dominan  seperti itu, dengan sendirinya kita akan terjebak hingga sulit untuk melepaskan diri. Umi rela turun ke sawah untuk menjadi kuli menanam padi, menyiangi gulma, dan memotong padi saat panen tiba. Bahkan ketika para pemilik sawah sudah tidak memerlukan pekerja lagi, Umi rela memungut sisa-sia padi hasil panen yang terbuang di tanah. Kegiatan yang tidak pernah Umi lakukan selama kami tinggal di kota. Apalagi saat Abah masih bekerja. Tetapi, dengan ketulusan hati dan kebesaran cintanya kepada kami Umi rela melakukan semuanya.
                “Assalamualaikum….” sapaku lembut membuat seorang perempuan setengah baya berkerudung abu-abu mendongak. Ia lalu berdiri dari duduknya dengan senyum mengembang, bagai bunga matahari yang baru mekar.
                “Waalaikum salam…. Ais!“ Pekiknya. Aku menghambur memeluknya. Mencium punggung tangannya, lalu kedua pipinya. Umi mencium keningku dengan mata berkaca-kaca. “Kamu sehat, nak?”
                “Alhamdulillah, Umi. Gimana kabar, Umi?” tanyaku sambil tetap menggenggam tangan Umi. Tangan itu kini terasa kering dan kasar. Tempaan berat yang dihadapi Umi sudah menyusutkan tubuhnya yang dulu gemuk. Wajahnya mulai menua dengan gurat-gurat lelah yang tidak bisa disembunyikan. Bahkan gigi-giginya mulai tanggal satu persatu. Tetapi genggaman tangan itu, pancaran mata itu, dan senyum dengan gigi ompong itu telah mengalirkan cinta dalam diriku.
                “Umi baik. Abahmu itu, sudah mulai batuk-batuk lagi. Gimana kuliahmu?” Umi membawaku masuk dan menemui Abah. Hawa dingin menetralisir keringat yang membanjir di sekujur tubuhku. Aku melepas kemeja dan membiarkan singlet tetap melekat di tubuhku agar keringat ini segera menguap. Kutemui Abah yang sedang berbaring di ranjangnya. Mencium tangannya lalu memijit-mijit kakinya sambil menanyakan kabar dan sesekali menirukan nasihat Umi agar Abah berhenti merokok, dan mengurangi minum kopi.
                Aku membuka isi ranselku dan mengeluarkan beberapa bungkus makanan yang kubawa sebagai oleh-oleh. “Ini, Mi, roti kesukaan Umi. Roti unyil.” Aku mengambil satu potong roti super mini itu dan menyuapi Umi. Mata Umi mengerjap-ngerjap, menikmati lezatnya roti isi keju itu. “Enak, Mi?” tanyaku girang.
                “Enak-lah, Ais. Ini kan roti mahal. Kamu gak usah boros-boros begini,” balas Umi.
                “Sekali-kali, Umi. Ini juga karena ada sisa gajian. Semester ini kan Ais dapat beasiswa lagi, jadi ada uang lebih, Mi,” ucapku membanggakan diri.
                “Alhamdulillah kalau begitu. Ais sudah makan?” balas Umi.
                “Belum, Mi. Umi masak apa?” aku langsung ngiler membayangkan ikan asin dan sambal terasi buatan Umi yang selalu membuat selera makanku memuncak.
                “Sebentar ya, Is. Berasnya masih Umi bersihkan. Adik-adikmu lagi Umi suruh cari kayu bakar. Kamu tahu kan, minyak tanah sekarang ini mahal banget.” Umi lalu bergegas menuju tempatnya tadi duduk. Melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena kehadiranku yang tiba-tiba.
                “Kemarin Abah ke pasar. Pas turun beras di tengkulak. Biasalah Abahmu, nyapu-nyapu. Ya ini hasilnya,” kata Umi saat aku jongkok melihat apa yang Umi lakukan.
                Menyapu? Terbayang di pelupuk mataku, bagaimana Abah memungut beras-beras yang tercecer saat karung-karung berisi kwintalan beras itu diangkut para kuli dari truk menuju agen-agen beras. Beras-beras yang berceceran itu  sudah pasti bercampur dengan kerikil dan pasir. Dan yang Umi lakukan di hadapanku saat ini adalah memisahkan beras-beras itu dari pasir-pasir hitam yang lebih banyak jumlahnya. Butiran beras putih itu akan menjadi nasi yang kami makan malam ini.
                “Kalau tidak begini, bagaimana adik-adikmu bisa makan, Is. Apalagi sekarang bukan musim panen, jadi Umi gak bisa bantu-bantu kuli. Kalau panen Umi bisa mungut gabah. Lumayan bisa Umi kumpulkan dan hasilnya bisa digiling jadi beras.” Jelas Umi saat melihat aku berubah diam.
                Mataku tiba-tiba terasa berat. Dalam sekali kedip, genangan air tumpah. Bergulir, menyaput pedihnya hati ini. Menelusuri kelamnya kehidupan keluarga kami. Bersyukur kami memiliki Umi. Tak terbayang bagaimana kehidupan kami tanpa beliau. Kesabaran hati Umi adalah permata bening paling berharga di rumah kami.  * * *

Nikmati cerpen-cerpen apik dari 31 penulis lainnyadalam buku :
Ibu Dalam Kehidupanku

Jumat, 20 Desember 2013

(Bukan) Review Buku "Penjaja Cerita Cinta"

Sejak 'Penjaja Cerita Cinta' yg dibalut 'cinta' dan dikirim dengan penuh 'cinta' oleh si Penjaja Cerita Cinta bernama @Edi_Akhiles dari Yogya tiba di hadapanku seminggu yang lalu, menyeruaklah rasa cinta dan hasrat untuk segera ‘menelanjangi’ lembaran jiwa dengan berbagai ornamen unik dan lucu itu.
Dengan balutan baju berwarna coklat muda dan krem (apa broken white ya #samarwarna) buku setebal 192 halaman ini mampu menyihir. Saya pun tak sabar untuk melumatnya.
Namun seperti kata si Penjaja Cerita Cinta dalam pengantarnya, jangan buru-buru menyimpulkan apa pun sebelum kita usai membaca seluruh isinya. Ya, ya… karenanya disela kesibukan (yang dibuat tampak sok sibuk), saya melahap kumpulan cerpen ini hingga tandas, dalam waktu… hemh… lebih dari 1 minggu (saya memang pembaca yang lelet, maklum, biasa serba mencicil, jadi habit itu kebawa ke aktivitas membaca juga).
Well, membaca #PenjajaCeritaCinta, saya tergiring untuk mengenal sosok sang penulis yang sejauh ini saya kenal luarnya saja, lebih jauh lagi. Ternyata laki-laki yang lahir di Lalangon Sumenep ini jika diibaratkan buah, dari kulit luarnya yang indah mengkilat sudah tercium harum yang menggoda. Dan setelah dikupas wangi itu semakin menggetarkan (hehe… agak lebay ya, tapi untuk pembuktiannya, sepertinya memang harus konfirmasi ke Mama Diva dulu sih…) Laki-laki yang sedang menyelesaikan pendidikan S3 ini sangat dermawan. Saya mendapat banyak sekali bocoran tentang kebaikan-kebaikan beliau, selain memang terbukti melalui tindakan nyata, salah satunya ialah dengan #AksiSejutaBukuGratisTamanBacaanyang baru-baru ini beliau launching. Super duper, luar biasa kalau menurut saya mah! Jarang sekali seorang CEO sebuah penerbitan besar mau terjun langsung membidik pembaca yang benar-benar membutuhkan bahan bacaan berkualitas, TANPA PAMRIH. Apalagi mencari keuntungan!
Lha kenapa jadi bahas pribadi si penulis ya, la wong niatnya juga mbahas bukune, maksudnya bukunya yang berjudul Penjaja Cerita Cinta itu tadi.
Ok, ok… saya mulai ya review yang bukan review ini.
Pertama, yang ingin saya sampaikan ialah lagi-lagi rasa kagum saya terhadap penulis yang bukan saja piawai merangkai kata dengan diksi pas menggigit, makjleb menyindir dan beu… bikin napas sesak karena sedih dan haru, tetapi juga pandai berdakwah tanpa terkesan menceramahi atau menggurui. Pesan moral yang tersembunyi terasa kental di hampir semua cerita yang disuguhkan dalam kumcer ini.  Lima belas cerpen ini benar-benar merupakan Cerita Beribu Rasa dengan Ragam Teknik Bercerita yang tidak saja unik dan tak terduga, tetapi juga sangat inspiratif. Terlebih di akhir buku penulis memberikan tips menulis yang tidak pernah dibagi penulis lain.Bahkan tidak sungkan membuka diskusi dan menjawab pertanyaan calon-calon penulis yang masih dalam tahap belajar melalui kicauannya di twitter.
Kedua, saya penasaran bagaimana cerpen-cerpen dalam PCC ini terasa hidup dan sepertinya tidak asing dengan fenomena yang ada di sekitar. Tokoh-tokohnya seperti satu sisi lain dalam diri saya, atau teman saya, atau orang yang pernah saya kenal. Apalagi penulis mengaku beberapa diantara cerpen ini ditulisnya dalam sekali duduk. Atau justru berhari-hari hingga menguras emosi jiwanya. Heuheu… Terasa betul beberapa diantara cerpen PCC (selain cerpen utamanya Penjaja Cerita Cinta itu sendiri yang memang yahud, gilak, panas, berontak, kelonjotan) sarat akan pesan moral dan sindiran sosial (eh, ada nggak ya yang begitu, atau hanya perasaan saya saja? Hehe)
Ketiga, haduh… di beberapa cerpen, saya harus banyak minum atau mengalihkan perhatian ke hal-hal lain dulu (supaya tidak tersedot terlalu dalam ke dalam jalan cerita). Saya juga bolak-balik toilet karena sering kebelet pipis (ya ealah, kan tadi banyak minum…)
Lha Kenapa emangnya?


Ya, kalau pengin tahu kenapa, ya sudah buruan beli bukunya terus baca deh hingga tuntas. 
Bisa beli di Gramedia, Togamas, atau pesan ke penerbit langsung juga bisa.

Pemenang #HadiahUntukIbu

Hai guys...

Terima kasih ya sudah berpartisipasi dalam lomba kecil2an #HadiahUntukIbu.
Dari 10 peserta, sudah terpilih 1 pemenang yang beruntung. Hadiah bahkan sudah dikirim tadi sore. Semoga bisa sampai ke alamat Ibu peserta tepat tgl 22 atau paling tidak Senin pagi.

Lalu pertanyaannya, siapakah orang  yang beruntung itu?
Mohon maaf, terpaksa saya harus merahasiakannya sampai dengan tanggal 22. Atau sampai hadiah tersebut tiba di alamat yang dituju dan pemenangnya memposting kemenangannya.

Sambil menunggu, kalian bisa lanjut dengan event lain : #TantanganMenulis deadlinenya hari Minggu.

Infonya silakan klik di sini

salam
ka

Minggu, 08 Desember 2013

GA Novel #CintaTakMendendam Petra Shandi

Siapa juga yang nggak mau dapat Give Away novel yang masih fresh from the open, dari penulis yang juga masih segar, energik dan full senyum. Sebuah novel berjudul #CintaTakMendendam akan menjadi debut pertama yang akan melecut karya-karya Petra Shandi selanjutnya.

Sebelum memutuskan mau, mau dan mau, intip dulu penampakan novelnya :

 


Masa iya nggak mau...
Yo wiss, catat gimana cara dapetin novel ini secara gratis :
1. Buat status 'Galau' kamu dengan memakai hastag #CintaTakMendendam
2. Mention @ezarsatria @kamiluddinazis dan seorang temanmu
3. Share sekali saja info lomba ini di twitter/fb kamu, boleh mention teman, boleh juga tidak.
4. Boleh nge-tweet sebanyak-banyaknya dengan mention 1 orang teman berbeda disetiap tweet-nya (mention dua orang kuncen di atas, teuteup...)

Gampang, kan?!

Kuis ini dibuka mulai 8 Desember 2013 jam 6 sore nanti dan ditutup tgl 25 Desember 2013 jam 6 sore.

Pengumuman 3 orang pemenang pada 1 Januari 2014.



Kamis, 05 Desember 2013

Hadiah untuk IBU


Free for Mom



Eittt tunggu dulu, hadiah ini bukan untuk kamu lho, tetapi untuk IBU-mu sebagai hadiah HARI IBU tahun ini.

Caranya gampang banget ...

1. Buat sebuah surat, ataupun cerita super pendek (maksimal 200 kata) yang ditujukan untuk menunjukkan rasa sayang dan cinta kamu terhadap Ibu. Dan tentu saja ucapan terima kasih dan doa-doa terindahmu. Si akhir karyamu, tuliskan nama dan alamat Ibumu ya.(Jika tulisan didedikasikan untuk seseorang yang bukan ibu kandung juga boleh, seperti Guru, ibu angkat, dll yang kamu anggap sebagai pengganti ibumu yang telah tiada misalnya, maaf...)

2. Kirim karyamu ke alamat email saya aja : kamiluddinazis@gmail.com dengan subjek
    FM : Judul karya spasi namamu.
    Ingat nggak perlu panjang-panjang, maksimal 200 kata saja ya...

3. Like Fans Page sponsornya ya : Tupperware Promo Diskon

4. Semua karya akan diposting di blog Pustaka Inspirasi-ku kamu boleh langsung memberikan komentar setelah karya di-publish


5. Lomba ditutup tanggal 18 Desember 2013. Karya terpilih akan mendapat 1 paket Tupperware di atas. Jika pesertanya banyak, bisa saja ada hadiah tambahan untuk karya terilih lainnya.
Tunggu Pengumumannya tgl 20 Desember 2013. Dan hadiah akan dikirim langsung supaya tgl 22 sudah sampai ke alamat ibumu. Hemh kalau pesertanya banyak, mungkin akan

Yok berikan hadiah untuk Ibu melalui karya sederhanamu.

salam
@kamiluddinazis
:)