Selasa, 31 Juli 2012

Sukabumi, Kota Kenanganku... dalam Cerpen Setangkup Asa

Salah satu Kenangan hidupku, tertuang dalam antologi ini ....

Judul : Kota Kenangan
Penulis : Sariak Layung, Langga Gustanto, Aditya D. Sugiarso, dkk
Jmlh Hal : v +159 hlmn ; 13x19 cm
Penerbit : Ae Publishing

Cuplikan kisahku :
Semilir angin menyapu wajahku. Wangi asap pembakaran sate ayam menyeruak ke arahku dan guru-guru lain yang duduk bersila mengelilingi sebuah meja besar di kafe tenda pinggir jalan kota Sukabumi. Malam yang dingin terasa hangat oleh canda dan tawa kami. Mengingat bagaimana kenangan tercipta diantara kami dan murid-murid sekolah kami menjadi hiburan malam itu. Kenangan sesaat, tetapi sangat berkesan buatku.
“Wah jarang loh, ada guru muda, tampan, pintar dan disenangi anak-anak. Dalam satu pertemuan saja, debut Pak Azis langsung melejit, mengalahkan saya yang sudah menyandang guru favorit selama tiga tahun,” kelakar Pak Taufan disambut tawa cekikikan dari Ibu-ibu guru yang sepertinya kurang setuju. Hehe, maaf! Pak Taufan, guru yang berbadan agak lebar dan mengajar materi Food & Beverage itu memang sempat menjadi guru idola murid-murid. Itu yang pernah aku dengar dari anak-anak waktu mereka berkerumun di depan tendaku, saat acara berkemah ke Gunung Salak. Di sela curhat khusus bergilirannya, mereka juga mengungkapkan perasaan suka dan senang diajar olehku. Bahkan -entah ini penting atau tidak-, julukan guru idola berulang kali mereka lontarkan. Julukan yang membuat pipiku memerah dan hidungku kembang kempis tak karuan.

Hemh... gimana ya rasanya jadi guru semusim yang bukan cuma mengajar tetapi juga jadi tempat curhat murid-murid yang masih ABG itu.

Baca kisah serunya lebih lengkap di buku ini bersama cerita-cerita menarik lainnya.

Nama Kontributor Buku Antologi Kota Kenangan :

Langga Gustanto, Nenny Makmun, Endah Wahyuni, Larasati Nia, Niken Kinanti, Bondan Al-Bakasiy, Awiek Libra, Kamiluddin Azis, Boneka Lilin, Sandza, Mei Rizqia-na, Nina Rahayu Nadea, Muhammad Dede Firman, Fanny YS, Za-hara Putri, Syifa Enwa, Roma DP, Is Susanti, Peri Bulan, Nur Rokhanah, Mulyoto JJ, Alin You, Setya Ai Widi, Fuatuttaqwiyah El- Adiba, Nimas Kinanthi, Rayhan M A, Cut Zamharira, Zahra Qomara, Iruka Danishwara W.

Buat yang mau pesan caranya gampang, kirim sms
Ketik: KK # NAMA LENGKAP # ALAMAT LENGKAP # JUMLAH # NO TELP
Kirin ke : 085732631400

Nanti Anda akan mendapatkan SMS No.Rek dan jumlah yang harus dibayarkan.

Harga : Rp. 39.000 (belum termaksud ongkos kirim)

Cerpen dewasa : Aku Ingin Pulang



AKU INGIN PULANG
Kamiluddin Azis



Malam Gulita. Kegelapan menghimpitku, membuatku semakin terpuruk dalam sesak. Aku tak mungkin bisa bangkit lagi. Tidak mungkin, karena tak ada setitik pun cahaya yang sanggup menuntunku kembali. Tidak ada secercah pun harapan yang sanggup membimbingku keluar dari lorong lembab, penuh lumpur dan bau ini. Dan kini, aku terjebak tanpa ada satu pun kesempatan untuk lari. Dalam pekat.
            Kusibakkan sedikit kain penutup malamku yang dingin. Setetes air mata bergulir setiap kulihat diriku lemah tanpa mampu berontak. Ataukah aku justru menikmati saat-saat kegelapan itu menguasai hidupku, saat semua cahaya redup yang ada perlahan sirna? Tuhan, aku ingin pulang. Aku tidak ingin di sini.
            “Kenapa?” selalu pertanyaan itu yang mencuat. Pertanyaan yang ia ajukan setiap kali melihatku gundah setelah lelah memenuhi hasrat kelelakiannya.
            “Tidak  apa-apa,” aku menggeleng seraya melempar seulas senyum dengan tatap sayu. Lelaki itu tidak akan pernah bisa membaca mataku. Membaca hatiku. Membaca keinginanku untuk pulang..
-o0o-
            “Nearly…. dipanggil Mami tuh!” bisik Delia sambil menyikut pinggangku, dan berlalu dengan handuk menutupi kepalanya yang basah. Jantungku berdegub kencang. Aku tahu, kemungkinan besar, Mami, perempuan paruh baya yang selalu berdandan nyentrik itu akan menegurku.
            Mami menungguku di sebuah kamar remang dengan asap tebal berseliweran memenuhi setiap sudutnya. Setelah mengetuk pintu, aku mendengar suara Mami menyuruhku masuk. Dadaku bergemuruh hebat.
            “Mami tidak tahu apa yang ada dalam pikiran kamu, Near,” tanpa tedeng aling-aling Mami langsung menyudutkanku, membuatku merasa seperti tertuduh dalam sebuah sidang kejahatan. Aku merasakan detak jantungku tiba-tiba berhenti sejenak.
            “Seharusnya malam tadi kamu menemani kolega Mami yang sudah datang jauh-jauh dari Surabaya, bukan keluyuran sama si pemabuk kampung itu. Dapat apa kamu dari lelaki kere macam dia?” hentaknya sambil mengepulkan asap tebal dari mulutnya.
            “Maaf, Mam. Tapi Near nggak bisa. Near sudah ingin….”
            “Pulang? Begitu?” potong Mami dengan nada suara meninggi.


.....
 Kisah Selanjutnya bisa dibaca antologi Simfoni Rindu

Jumat, 27 Juli 2012

CERPENKU : AKU INGIN PULANG

Telah terbit! Kumpulan kisah dengan berbagai pergumulan hati yang tengah dilanda rindu. Sebuah rasa yang yang tak bisa disembuhkan kecuali hanya dengan pertemuan



Judul : Simfoni Rindu

Penulis : Marsus banjarbarat, Heny Atika, Achmad Arifin, Kamiluddin Azis, dkk

Penerbit : Pustaka Jingga
ISBN : 978-602-18430-4-8
Tebal : 163 hlm
Ukuran : 14x20
Harga : 31.500

Sinopsis :

Rinduku sebagaimana lolong anjing yang setia menjadi penunggu rumah milik majikannya.

Rindu ini seperti Nil, tidak tahu di mana ujungnya.

Rinduku adalah rindu yang melebihi ambang batas tak tentu.

Rinduku ini rindu kronis, karena telah berlangsung lama gejala terpendamnya perasaanku dan tak akan pernah berhenti hingga nanti.

Rinduku rindu kronis, yang akan berbahaya jika aku terus menahan gejala cinta seperti ini.

Dan aku tidak akan pernah bisa memaksa mengobati penyakit ini meski aku seorang praktisi kesehatan, kecuali kamu!

Sabtu, 30 Juni 2012

Cerminku Bicara

Ada beberapa cerita mini yang kutulis di sini bersama sahabat-sahabat inspirasiku. Cerita yang bisa mengajak kita semua bercermin diri, menatap bukan saja replika yang ada di hadapan kita, tetapi juga bayangan orang lain yang mungkin bisa menuntun kita untuk menyelami hidup ini dengan lebih baik.

Selasa, 26 Juni 2012

KETIKA : Saat Cinta Bersilangan



A novel by Aiman Bagea
Bukune, Mei 2012

Review-ku untuk sebuah karya indah adikku 

Saat mengetahui akan terbit sebuah novel karya penulis muda dari Kabaena yang namanya saya kenal di sebuah grup kepenulisan terkenal di jejaring sosial, saya sudah tidak sabar menunggu untuk segera membacanya.. Bukan karena ia –Aiman Bagea- yang sempat berbincang dan saling memberi semangat untuk berkarya, melainkan karena cerpen –cerpennya yang pernah saya baca selalu membuat decak takjub. Saya berpikir, pasti novel ini akan sangat indah karena lahir dari tangan dan buah pikiran Aiman Bagea (AB) yang segar.

Seperti yang saya kenal lewat karya-karyanya, AB konsisten meramu setiap adegan, dialog dan deskripsi dari apa yang dilihat dan dirasakannya ke dalam sebuah bahasa yang indah. Bahasa puitis dengan metafora-metafora dan analogi-analogi yang jarang digunakan penulis lain. Sepanjang membaca novel ‘KETIKA’ saya seperti sedang membaca sebuah puisi naratif yang sarat akan makna, tetapi memiliki plot cerita yang jelas dengan kemasan yang unik dan berbeda.

AB berhasil membuka tabir rahasia cinta.  Berulang kali ia membeberkan bagaimana cinta itu bekerja. Bagaimana cinta telah memutarbalikkan hati, membuat jiwa melompat-lompat dan raga meringis karenanya. Cinta bekerja merubah ketakutan menjadi sebuah keberanian yang maha dahsyat. Cinta membelah keraguan menjadi sebuah keyakinan yang menguatkan. Cinta telah menyuburkan semangat menggapai segala mimpi. 

Saya merasa iri dengan mimpi besar yang ia semat dalam karyanya. Saya yakin di balik karya perdana yang memesona ini AB juga memiliki mimpi yang sama hebatnya dengan mimpi Aji dan Naira, tokoh-tokoh yang ia ciptakan dalam ‘Ketika’. Saat Aji dan Naira merajut mimpi mereka dengan bumbu cinta yang saling melengkapi, saat anak-anak jalanan yang dengan penuh semangat belajar di bawah fly over diajaknya menggantungkan mimpi setinggi angkasa, saya pun turut menerbangkan mimpi saya di situ, menggantungkannya bersama mimpi-mimpi yang berkerlip bersama bintang.

Aiman Bagea, kamu pandai mengaduk-ngaduk perasaan orang. Ikut terlibat dan merasakan kepedihan hati dua sahabat saat cinta yang hadir membelenggu hubungan mereka. Kamu telah memorak-porandakan puzzle yang sudah kususun apik menjadi kepingan-kepingan lain yang harus ditata kembali karena salah letak.

Setiap berhasil melumat 1 halaman, ramuanmu berhasil menyihirku untuk menikmati halaman-halaman berikutnya hingga tandas. Hingga dada ini sesak lantaran kisah pilu yang kamu suguhkan menyayat sukma, tetapi dalam waktu yang bersamaan kamu suguhkan pula jamuan semangat ber-topping cinta.   

Sukses untuk karya perdanamu. Satu tangga telah kamu tapaki, tak perlu berlari untuk mencapai puncaknya karena tangga berikutnya dengan sendirinya akan kau lewati. Tapi sekali-kali tengoklah aku di belakang, saat langkah ini tertatih, hembuskan semangat bajamu, hingga langkah terseret ini berani melompat.

Two tumbs. Bangga AB!

Sabtu, 16 Juni 2012

HABIBIE PAHLAWAN INSPIRASIKU



Oleh Kamiluddin Azis


Barahuddin Jusuf Habibie, begitu nama besar itu disebut rasanya bergetar seluruh tubuhku. Bagaimana tidak, langsung terbayang di benakku sosok beliau yang rendah hati dan bersahaja. Tutur katanya yang memukau laksana siraman batin yang sarat dengan makna dan spirit. Tatapan mata Pak Habibie yang tajam menunjukkan optimisme yang besar dengan pandangannya yang jauh menjangkau angkasa. Beliau seperti bisa membaca masa depan dengan otaknya yang genius. Pantas saja kalau Majalah Military Technology menyampaikan komentar bahwa beliau adalah manusia yang sangat genius yang mungkin hanya ada di antara 130 juta penduduk. Kita patut bangga memiliki seorang pahlawan bangsa yang membawa negeri ini tinggal landas dengan cepat dan melesat melebihi negara-negara berkembang lainnya dengan kemampuan sendiri.
            Rasa kagumku terhadap Mantan Presiden RI  ini, bukan tanpa sebab. Pada pertengahan tahun 1993, saat aku masih duduk di bangku SMU, sekolahku mengadakan kunjungan wisata ke PT. IPTN di Bandung. Kami melihat protype pesawat CN-235 yang mengagumkan itu. Kami juga melihat proses pembuatan pesawat mutakhir yang diprakarsai langsung oleh Bapak B.J. Habibie, yaitu N-250 yang setahun kemudian membuat decak kagum banyak negara, terutama yang sebelumnya sempat meremehkan Bapak B.J. Habibie. Dengan terbangnya pesawat N-250 di udara membuktikan bahwa bangsa ini mampu bersaing dalam industri pesawat terbang komersil di dunia. Bahkan N-250 bisa  disejajarkan dengan Airbus A340 dan Boeing 777 kendati kedua pesawat ini berkapasitas lebih besar.

            Ada petuah Bapak B.J. Habibie dalam tayangan itu yang tidak pernah aku lupa, yaitu : “Mulailah dari yang terakhir”. Makna petuah Bapak yang sangat sulit diartikan itu mungkin bisa ditermahkan sebagai ‘ciptakanlah sesuatu yang besar, tentukan hasil akhirnya terlebih dahulu, maka dengan sendirinya kita akan mempersiapkan hal-hal detail yang menunjang pencapaian itu’. Bapak Habibie memiliki cita-cita yang sangat besar yaitu bisa menciptakan sebuah pesawat terbang yang diproduksi oleh anak-anak bangsa, maka ia pun menciptakan pesawat terbang itu. Lalu secara mundur, ia melakukan berbagai upaya agar untuk mewujudkan cita-citanya itu. Bapak tidak memulai dari pembuatan komponen-komponen pendukung pesawat terlebih dahulu , tetapi ia langsung memprakarsai pembuatan pesawat besar. Maka dengan sendirinya berbagai komponen yang dibutuhkan diproduksi pula, jika belum ada SDM yang mampu menciptakan, maka diupayakan sehingga mampu.

            Ketika aku menerapkan prinsip Bapak Habibie itu, banyak sekali perubahan besar yang terjadi dalam hidupku. Sebagai contoh kecil aku tidak perlu mengikuti kursus menulis terlebih dahulu agar aku bisa membuat sebuah prosa, misalnya,  tetapi aku langsung saja membuat sebuah cerpen. Ketika cerpen itu dibaca oleh guru Bahasa Indonesia-ku dan ternyata masih memerlukan banyak perbaikan di sana-sini, barulah aku pelajari segala kekurangan itu. Setelah itu hasil karya aku pun bisa dimuat di berbagai surat kabar. Bayangkan berapa lama waktu yang terbuang jika aku mengikuti kursus terlebih dahulu baru kemudian mulai berani mengirimkan karya ke media. Sedangkan orang lain sudah semakin mahir dan terkenal.
            Kehebatan Bapak B.J. Habibie dan semangat juangnya yang tidak pernah mati membuat aku tidak berhenti berdecak kagum dan hormat pada beliau. Perjalanan hidupnya tidaklah mudah. Kesulitan yang ia hadapi selama menjadi mahasiswa di Aachen ia lewati tanpa keluhan dan beban sedikitpun. Mungkin tidak akan pernah ada yang membayangkan bagaimana beliau berjalan kaki sejauh 15 km dari rumah menuju tempat kerjanya, sampai-sampai sepatunya berlubang dan baru bisa ditambal menjelang musim dingin. Ketegaran, semangat, dan energi yang dimilikinya itu seperti tidak ada habisnya. Dan itu yang ingin aku contoh dari beliau.
            Belum lagi sifat patriotisme dan nasionalismenya yang tinggi terhadap kemajuan bangsa ini patut diacungkan jempol. Selama berada di rantau, pikiran Bapak Habibie sebenarnya hanya untuk Indonesia. Ia rela menimba ilmu bertahun-tahun jauh dari sanak saudara dan siap kembali ke tanah air demi sebuah pengabdian besar untuk kemajuan bangsa dan negara ini. Sungguh sangat patriotik.
            Kembali ke masa SMU di tahun 1993. Masa saat semangat belajarku sedang menggebu. Semangat yang ditularkan oleh Bapak B.J. Habibie yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia. Pada saat itu ICMI mengadakan Lomba Karya Tulis Tingkat SMU se-Indonesia. Dan aku mengikuti salah satu tema diangkat. Semula aku ragu, tetapi kembali aku terngiang prinsip hidup yang disampaikan beliau waktu itu. Maka aku memberanikan diri mengikuti Lomba itu. Dan di luar dugaanku aku masuk sebagai salah seorang pemenang dan mendapatkan hadiah berupa beasiswa selama 1 tahun plus sebuah piagam yang ditandatangani langsung oleh Ketua ICMI saat itu, yaitu Bapak B.J. Habibie. Bangganya aku bisa meraih itu semua.
            Meskipun aku belum pernah bertemu dengan beliau tetapi aku merasa Bapak B.J. Habibie selalu memberiku spirit untuk melakukan hal-hal yang terkadang musykil bisa aku lakukan. Aku tidak berbakat di bidang aerodinamika dan sejenisnya, tetapi nilai-nilai eksaktaku selalu di atas rata-rata dan bahkan aku menjadi siswa teladan di sekolahku. Aku juga sempat mewakili sekolahku dalam Lomba Cepat Tepat tingkat Nasional meskipun team kami tidak mendapat predikat. Dan beberapa prestasi gemilangku di bidang akademik berturut-turut aku raih selama dua tahun terakhir di SMU. Semua itu karena aku selalu bercermin pada kegigihan dan semangat juang Bapak Habibie.
            Aku yakin, bangsa dan negara ini tidak akan pernah tertinggal jika semangat juang dan nasionalisme tinggi seperti yang dimiliki oleh Bapak B.J. Habibie itu juga dimiliki oleh semua komponen bangsa ini. Generasi muda sudah selayaknya menjadikan Bapak B.J. Habibie sebagai panutan dan acuan dalam memperoleh prestasi di bidang apapun.
            Selama Bapak Habibie memimpin negara ini, banyak perubahan yang sedianya terjadi. Tetapi kesempatan beliau untuk menunjukkan dan membawa bangsa ini ke arah yang lebih maju          kandas di tengah jalan karena kondisi politik yang saat itu tidak memungkinkan. Namun demikian aku yakin Bapak masih memiliki sebuah integritas yang tinggi untuk membawa bangsa ini jauh ke depan. Beliau adalah Bapak Teknologi dan Demokrasi milik bangsa ini satu-satunya.
            Berkat beliau, pelajar dan mahasiswa-mahasiswa kita semakin berani menunjukkan kebolehannya di mata dunia. Berbagai Olimpiade tingkat internasional seringkali dijuarai anak-anak bangsa yang cerdas, generasi penerus dari Prof. B.J. Habibie. Bahkan belakangan ini dunia pendidikan dan teknologi kita sedangh melirik ide pembuatan mobil yang diprakarsai anak-anak SMK dari Surakarta. Mobil Esemka yang spektakuler itu pun semakin mendapat sambutan dari pemerintah. Apalagi putra Prof B.J. Habibie, yaitu Dr. Ilham Habibie mendukung sepenuhnya industrialiasi mobil Esemka itu.                     
            Kehadiran mobil Esemka sudah menyuntikkan semangat baru dan ini bisa dijadikan sebagai momentum penting untuk dapat menciptakan sebuah industri mobil dalam negeri tanpa harus tergantung kepada bangsa lain. Masyarakat selayaknya mendukung agar mobil Esemka layak diproduksi secara massal. Aku yakin Indonesia memiliki banyak sekali anak bangsa yang genius seperti Bapak Habibie. Hanya saja kesempatan bagi mereka yang belum terbuka lebar. Aku ingin sekali anak-anakku kelak bisa menjadi seperti sosok Habibie yang pintar, pantang menyerah, selalu mengabdi kepada bangsa dan negara serta mampu membawa bangsa ini menuju perabadan baru yang lebih melek teknologi.
            Aku melihat senyum tulus dari wajah lelaki yang penuh semangat itu pada sebuah poster besar yang ditempelkan di dinding kamarku. Seorang Bapak Demokrasi dan Teknologi. Seorang inspirator dan  motivator yang membawa bangsa ini lepas landas dengan sumber daya dan kemampuan sendiri. Mantan Presiden RI tercerdas yang menuntun bangsa ini meninggalkan peradaban lama menuju peradaban baru yang jauh lebih modern. Mendukung semua industri yang berbasis teknologi, dan penggerak anti buta teknologi di semua kalangan masyarakat.

--oo000oo—

Kamis, 31 Mei 2012

TEMBAKAU TERAKHIR



TEMBAKAU TERAKHIR

Dialah lelaki yang tidak pernah mengeluarkan sepatah katapun. Tidak kata ‘iya’ ataupun kata ‘tidak’. Hanya anggukan kecil atau tatap kosong yang menjawab setiap pertanyaan ku. Kadang sebening embun menggenang di pelupuk matanya, menjadi cermin setiap ekspresi wajah orang-orang yang terpaku menatapnya. Begitupun dengan aku. Tidak sedetik pun aku lepas dari gerak mata yang seolah bicara dan menungguku bertanya kembali.
            Dalam diam, akhirnya tetesan embun itu bergulir menelusuri lekuk hidungnya yang bengkok. Jatuh dan berhenti sejenak di sudut bibirnya yang mengering sebelum akhirnya merembes diantara retakan bibir biru yang terluka. Tidak ada isak ataupun rintihan. Hening menyelimuti hati dan jiwanya. Aku pun hanyut dalam momentum yang sulit diartikan. Seperti saat kita terpaku diantara benda-benda yang berseliweran dan bergerak sangat cepat. Atau Mendadak tuli diantara aneka suara bising di pusat keramaian yang penuh orang.
            Lelaki itu tertunduk, menumpahkan resah dan marah. Hanya gerakan tangan ritmisnya yang bisa membelah hati yang beku menjadi kepingan-kepingan es yang akan mencair dengan mudah. Dengan sigap tangan-tanagn itu melinting tembakau berserat kasar di dalam kertas rokok yang ujung-ujungnya sudah basah oleh liur sebagai pengganti lem. Waktu kecil dulu, aku pernah sekali menjilat ujung kertas tipis yang biasa disebut pahpir itu. Rasanya manis dan mengundangku untuk mencoba menjilat kertas-kertas pahpir lainnya. Apakah rasanya akan selalu sama, itu pertanyaan yang tidak pernah bisa kujawab sebelum semua kertas pahpir basah dan Bapak menjadi marah karena ia tidak bisa melinting tembakau untuk dijadikan rokok.
            Tetapi lelaki itu tidak akan pernah marah. Dan aku sudah tidak berminat dengan pahpir pembungkus tembakau itu. Satu lintingan berhasil ia buat. Kini ia siap menyulut rokok buatan tangan itu dan menikmati rasa tembakau paling alami. Lalu asap tebal akan keluar dari mulutnya. Membuat bibir keringnya seperti terbakar perih.
            Aku menatapnya. Dan ia balas menatapku. Hampa. Aku akan segera pulang setelah semua orang meninggalkan lelaki itu di dalam kamarnya yang sempit. Dan tentu saja dengan bau asap tembakau menyeruak di manapun orang berusaha menghirup udara untuk bernapas.
            “Saya pulang ya, Mas,” sudah waktunya aku pamit. Sepertinya lelaki ini tidak akan nekat lagi seperti tadi. Setidaknya setelah ia mendapatkan sebungkus tembakau dariku.
            Kembali tatapan kosong itu sebagai jawabannya. Aku berusaha tersenyum, membuang kalut dan khawatir dengan apa yang akan terjadi pada lelaki itu.
            Lelaki itu bernama Satrio. Tubuhnya memang sudah tidak seperkasa namanya. Aku pernah melihat foto Mas Satrio waktu masih gagah dulu. Badannya tegap dengan bahu lebar dan dada bidang. Sorot matanya tajam dan senyum selalu mengembang di berbagai kesempatan yang berhasil diabadikannya dalam Polaroid.  Aku pernah melihat Mas Satrio berdiri di atas batu sambil bergaya penuh percaya diri. Ada juga foto Mas Satrio bersama teman-temannya. Rambut keritingnya masih gondrong waktu itu. Dan ini yang membuat Mas Satrio mudah ditemukan saat aku mencarinya dalam keruman orang-orang yang berfoto dengannya.
            Tumpukan foto-foto masa lalu Mas Satrio itu aku temukan dalam kotak usang yang hampir diangkut pemulung. Suatu waktu -aku lupa kapan tepatnya- aku melihat Mas Satrio mengamuk dan melempar semua barang yang ada di kamarnya. Tapi beberapa saat kemudian tiba-tiba aku melihat ia dengan tenangnya memindah-mindahkan barang-barang dari satu tempat ke tempat lain. Lalu membawa tumpukan kotak dan menaruhnya di bak sampah. Aku menyaksikan semua itu di dalam loteng kamarku yang tepat lurus dengan kamar Mas Satrio di loteng seberang rumah. Dan karena begitu penasaran, aku mengendap-endap untuk memungut barang-barang yang ia buang tadi.
            Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Kotak-kotak yang aku pungut itu adalah barang-barang berharga -jika itu adalah milikku: Ijazah sekolah mulai dari sekolah dasar, SMP sampai SMU, ada juga beberapa transkrip nilai dari sebuah perguruan tinggi terkenal di Jakarta. Tapi aku tidak menemukan ijazah perguruan tinggi itu. Mungkin Mas Satrio belum menyelesaikan kuliahnya, atau ia menyimpannya di tempat lain.
            Dalam kotak lain aku menemukan foto-foto itu. Foto-foto yang dicetak dalam bentuk polaroid di beberapa tempat wisata, dan foto-foto lain yang dicetak di kertas foto biasa. Aku bahkan mencuci film negatifnya hanya karena rasa penasaranku yang besar. Dan aku mendapatkan petunjuk baru tentang siapa Mas Satrio sebenarnya. Aku seperti sedang melakukan riset atau mempersiapkan pembelaan jika suatu waktu warga marah karena ulah Mas Satrio yang kurang menyenangkan, lalu mengusirnya keluar dari perkampungan warga sini.
            Beberapa waktu lalu masyarakat memang kerap geram dengan apa yang dilakukan Mas Satrio akhir-akhir ini. Mengamuk tanpa sebab seperti orang kesurupan makhluk halus. Marah-marah dan Menendang apapun yang ia temukan di jalan. Anak-anak menangis ketakutan kalau melihat ia mendekat, sehingga ibu-ibu berfikir lelaki itu akan melakukan hal-hal yang tidak wajar. Tetapi di lain kesempatan Mas Satrio tampak seperti orang biasa : berperilaku wajar dan bertindak santun. Ia tidak banyak bicara, dan orang yang jarang melihatnya akan berfikir lelaki ini adalah pemuda pendiam yang ramah.
            Tetapi tanpa sebab yang jelas ia bisa tiba-tiba saja  menjerit dan melempar barang-barang yang ada di kamarnya. Warga sekitar tentu saja kaget dan merasa sangat terganggu. Lalu tidak begitu lama kemudian suasana kamarnya mendadak sepi, sampai-sampai orang-orang berubah menjadi khawatir sekaligus takut, jangan-jangan lelaki aneh itu sudah mati bunuh diri. Tapi aku tahu apa yang sedang ia lakukan. Dalam keadaan yang mendadak sunyi itu, ia pasti sedang melinting pahpir dan tembakau, lalu menghisapnya dalam-dalam. Kalau sudah begini tampaknya permasalahan yang ia hadapi sebelumnya seperti terbang bersama kepulan asap tembakaunya. Aku melihatnya dengan jelas seperti sedang menyaksikan film di depan televisi.
            Mas Satrio adalah lelaki muda berusia dua puluh enam tahun. Tiga tahun lebih tua daripada aku. Dengan postur tubuhnya yang tinggi besar orang kadang salah menduga kalau ia sudah berusia di atas tiga puluh dan sudah berkeluarga. Ia baru pindah sekitar dua bulan yang lalu dan mengisi kamar kontrakan tetanggaku di lantai dua. Hanya ada tiga kamar di lantai dua. Dan kebetulan dua kamar lainnya tidak berpenghuni.
            Waktu pertama datang, akulah yang membantu Mas Satrio  membawa koper-kopernya. Waktu itu kebetulan aku baru pulang kuliah dan melihat ia kerepotan membawa barang bawaannya yang lumayan banyak. Aku tidak banyak bertanya waktu itu. Yang aku tahu Mas Satrio berasal dari Jombang. Ia meninggalkan perkebunan tembakau milik keluarganya. Seiring berjalannya waktu, aku jadi sering bertemu dan punya banyak kesempatan untuk ngobrol dengan Mas Satrio.
            Ternyata Mas Satrio datang ke Jakarta bukan untuk mencari pekerjaan. Setidaknya itulah kesimpulanku karena aku tidak  pernah melihat ia keluar kamarnya dengan mengenakan pakaian yang umumnya dipakai orang untuk melamar pekerjaan, menjalani test atau interview kerja. Tapi aku tidak begitu ambil pusing, yang penting aku bisa berteman dengan Mas Satrio. Aku sering bertukar  pikiran, apalagi kalau aku lagi sumpek dengan permasalahan di kampus  dan hubungan dengan teman-teman atau dosenku. Mas Satrio sering memberikan aku wejangan dan nasehat. Ngobrol dengan Mas Satrio, aku seperti memiliki kakak lelaki sendiri. Maklum aku anak tunggal, jadi mendapat teman seperti Mas Satrio membuat aku merasa punya tempat untuk mengadu.
            Tetapi belakangan ini sejak aku sibuk menyusun skripsi dan sering pulang malam,  aku jadi jarang main ke kostan Mas Satrio. Hanya saja, dari awal perkenalan dengan Mas Satrio aku memang sering memperhatikan kegiatan Mas Satrio selama di kamar kostnya. Dari seberang kamarnya, tepatnya di kamarku sendiri, aku bisa melihat sekilas apa yang Mas Satrio lakukan. Apalagi jendela dan pintu kamarnya jarang ditutup. Jadi setidaknya aku tahu kalau ada hal janggal yang sering ia lakukan.
            Aku tidak tahu pasti apa yang menimpa lelaki itu. Mas Satrio tiba-tiba saja menjelma menjadi seseorang yang tidak aku kenal. Atau mungkin aku memang belum mengenal dia lebih jauh. Aku hanya tahu bahwa sejak kecil Mas Satrio hidup dan tinggal di perkebunan tembakau di Jombang, tempat bapaknya dipercaya oleh pemilik tanah perkebunan itu. Sebagai anak kecil yang selalu terlibat dengan kegiatan orangtua mereka yang sibuk bekerja di perkebunan, Mas Satrio tumbuh menjadi anak yang tidak memiliki cukup waktu untuk bermain dan menikmati masa kanak-kanaknya. Ia pernah bercerita ingin sekali memiliki mobil mainan seperti yang dimiliki anak majikannya. Tetapi bapaknya tidak mungkin bisa membelikan mainan serupa yang harganya pasti sangat mahal.
            Meskipun nasib baik kemudian berpihak ke keluarga Mas Satrio sejak bapaknya dipercaya mengelola sendiri salah satu perkebunan yang baru dibuka di daerah lain, tetap saja kehidupan Mas Satrio tidak berubah banyak. Keadaan ekonomi memang sudah jauh lebih baik dibandingkan dulu, tetapi Mas Satrio tidak berusaha menebus apapun yang dulu sempat ia inginkan. Ia terlanjur menjadi anak penakut yang tidak pernah yakin bisa memiliki sesuatu yang ia inginkan.
            Karenanya Mas Satrio keluar dari zona yang membuat mentalnya semakin lemah itu. Ia sedang berusaha mengejar sesuatu yang aku sendiri belum tahu apa itu. Dan ia meninggalkan Jombang untuk mendapatkan itu di Jakarta.
            ‘Sebuah perjalanan’, itu adalah judul blog yang tanpa sengaja  aku baca karena kebetulan laptop Mas Satria masih terbuka waktu aku hendak pamit pulang tadi. Aku menanyakan apakah harus aku matikan laptop Mas Satrio atau tidak. Tetapi Mas Satrio kelihatan sudah tertidur. Hanya dalam hitungan menit sejak ia menyalakan tembakaunya, ia  sudah berubah menjadi bayi yang lelap tertidur. Aku pun mengurungkan niat untuk meninggalkan Mas Satrio dalam keadaan seperti ini. Setidaknya aku bisa menemani Mas Satrio sambil membaca isi blog yang masih online itu.
            Ternyata ini adalah blog pribadi Mas Satrio. Banyak foto dalam postingan blog itu yang aku kenal. Kebanyakan postingan berisi tulisan biasa dan bukan artikel yang membahas tentang materi tertentu. Malah, kelihatannya ini blog yang berisi curahan hati pemiliknya. Ya, Mas Satrio mengisi blog ini setiap hari dengan berbagai keluh kesah dan beragam cerita. Tapi yang menarik perhatianku tentu saja postingan yang sudah lama, beberapa bulan yang lalu misalnya. Dengan membaca tulisan-tulisan lamanya, aku akan bisa mengenal Mas Satrio lebih jauh lagi.
            Dalam diary maya-nya Mas Satrio menulis kisah masa lalunya. Masa kecil yang diisi dengan kegiatan membantu orangtuanya mengiris tembakau, menjemur, sampai mengangkut hasil panen ke pabrik. Kebanyakan anak-anak di Jombang melakukan kegiatan yang sama, yaitu membantu para orangtua menjadi buruh di pabrik tembakau di daerah mereka. Begitupun dengan Mas Satrio. Sepulang sekolah ia langsung sibuk mengerjakan tugas-tugas yang sama dengan yang dilakukan ayahnya.
            Kehidupan keluarga Mas Satrio termasuk agak sulit. Dengan tiga orang anak, kedua orang tua Mas Satrio berusaha membesarkan anak-anak mereka dengan bekal pendidikan yang cukup. Mas Satrio sendiri lulus dari sekolah menengah atas di kecamatan. Tetapi namanya juga anak-anak, banyak keinginan yang menjadi impian Mas Satrio. Membeli mainan baru, bermain bersama teman-temannya tanpa harus memikirkan beban pekerjaan yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya. Sampai menginjak remaja ia juga ingin menikmati masa remaja seperti kebanyakan anak-anak lainnya.
            Tetapi nasib selalu berbeda. Ia yang hanya anak buruh biasa, tidak mungkin bisa mengalami nasib yang sama dengan anak majikannya. Adalah Danang, anak majikannya yang selalu menjadi patokan cita-cita Satrio kecil. Saat Danang memperlihatkan mainan barunya berupa mobil-mobilan yang pintu-pintunya bisa dibuka dengan remote control dari jarak jauh, malam harinya Satria bermimpi bisa memiliki mainan serupa. Waktu Danang memamerkan sepatu roda barunya, Satrio bertekad untuk bisa memiliki sepatu roda entah dengan cara bagaimanapun. Tetapi cita-cita dan keingin Satrio tidak lantas bisa cepat terwujud. Atau mungkin malah terjebak dalam kantong angan-angannya saja.
            Beruntung Danang selalu mau berteman dengan Satrio, dan kerapkali meminjamkan mainannya. Meski kadang-kadang anak-anak kecil tiba-tiba saja berubah menjadi saling bermusuhan, tetapi keduanya kemudian tertawa bersama-sama lagi seolah tidak pernah ada yang menyakiti ataupun tersakiti. Tetapi lain ceritanya ketika kedua anak berbeda kasta ini beranjak remaja, perbedaan tidak kemudian menyatukan mereka menjadi dua sahabat yang saling melengkapi. Tidak untuk urusan yang satu ini.
            Seorang gadis, seolah merupakan  permainan baru yang memunculkan kompetisi diantara kedua anak baru gede berbeda nasib itu. Tetapi sang gadis tidak bisa memilih keduanya sekaligus. Mungkin tidak juga salah satunya. Danang berusaha sekuat tenaga dengan berbagai maneuver yang menunjukkan statusnya sebagai anak orang kaya untuk mendapatkan hati sang gadis. Begitupun dengan Satrio yang dengan kesederhanaannya berusaha membeli hati sang gadis dengan menjual sikap manis dan penuh perhatiannya. Mungkin dengan puisi dan kata-kata romantis yang biasanya meluluhkan para gadis..
            Lara, sang gadis pun jatuh cinta pada Mas Satrio. Tetapi kisah cinta mereka tidak semulus jalan tol yang baru dibangun waktu itu. Ayah Danang yang sangat jeli dalam berbagai urusan bisnis, membuka kembali jalan cinta Danang yang sempat tersendat. Ia meminta ayah Lara yang juga salah satu staf kepercayaannya untuk menjodohkan anak mereka. Dan untuk menutupi semua itu –setidaknya yang menjadi perkiraan Mas Satrio, ayah Mas Satrio dipindahtugaskan untuk mengelola satu perkebunan baru yang kurang produktif. Konon ayah Mas Satrio menyanggupi ini sebagai sebuah tantangan dalam karier hidupnya.
            Waktu berjalan cepat, Danang dan Lara pun menikah. Entah dengan dasar cinta yang kemudian tumbuh, ataukah hanya karena sebuah  keterpaksaan, Lara tidak bisa menolak nasib yang sudah digoreskan. Ia melupakan cinta yang pernah tumbuh di hatinya untuk Mas Satrio, dan bahkan membiarkan cinta Mas Satrio mengering untuk kemudian mati merana.
            Dalam postingan beberapa bulan kemudian, Mas Satrio menceritakan keresahan dan sakit hati atas perlakuan nasib terhadap dirinya. Aku tidak tahu apa yang sudah diperbuatnya sampai-sampai ia menulis begitu banyak puisi tentang kesedihan dan dendam. Ia ingin melupakan semuanya, tetapi ia tidak bisa melepaskan masa lalunya yang terikat kuat dengan dunia tembakau. Dunia yang sudah membesarkan sekaligus menghancurkan hidupnya.
            Karenanya Mas Satrio meninggalkan kota tempat kelahirannya. Ke mana saja, asalkan ia jauh dari Jombang, Lara dan Danang, juga tembakau. Mungkin ia pernah tinggal di beberapa kota sebelum akhirnya menetap di sini. Tetapi di manapun ia tinggal, ternyata ia tidak pernah bisa melupakan semuanya. Terutama tembakau. Setiap hari ia menghisap puluhan linting tembakau untuk mengenang sekaligus membangkitkan kembali dendam di hatinya. Kalau sedang kalut dan marah, ia tidak akan menghisap tembakau itu, tetapi ia akan membakar bertumpuk-tumpuk tembakau dan membiarkan asap memenuhi kamarnya, menyesakkan dadanya, dan membuat matanya berair sampai pagi. Lalu ampas tembakau yang tidak terbakar akan ia seduh bersama kopi kentalnya, dan dihirup hingga tandas. Setelah itu akan merasa sangat puas karena dengan begitu  ia bisa melupakan cintanya yang kandas.
            Seperti apa  yang sudah ia lakukan beberapa hari yang lalu rupanya. Dan saat ini aku masih bisa merasakan aroma tembakau terbakar di mana-mana, seperti bau pembakaran jerami atau sampah kering. Tetapi ada bau khas yang memabukkan dan lebih menyesakkan dibanding asap knalpot bajaj ataupun bis tua. Bau yang kemudian bisa saja membunuh saraf-saraf siapapun yang berlama-lama menghirupnya.
            Aku memeriksa denyut nadi Mas Satrio. Lemah. Dalam keadaan panik aku segera menelpon rumah sakit dan meminta ambulan menjemput Mas Satrio. Untungnya tidak lama berselang ambulan yang ditunggu datang. Bersama-sama dengan beberapa teman, pemuda warga sini dan petugas medis rumah sakit, aku mengangkat tubuh Mas Satrio yang lemah dan membawanya ke dalam ambulan. Jerit ambulan menarik perhatian warga sehingga mereka berkerumun dan kasak kusuk setelah melihat apa yang terjadi.
            Aku mengantarkan Mas Satrio sampai rumah sakit, mengurus administrasi dan berbagai keperluan lainnya.  Dan di sinilah aku sekarang, menjaga Mas Satrio, orang yang belum lama aku kenal tetapi sudah memberikan cukup banyak pelajaran berharga dari pengalaman hidup  yang dilaluinya.
            Menurut diagnosa dokter, Mas Satrio mengalami keracunan tembakau. Bukan tembakaunya yang mengandung racun, tetapi dosis yang ia konsumsi melebihi kapasitas tubuh manusia dalam menerima asupan zat nikotin dan karbondioksida dari hasil pembakaran tembakau. Kalau saja Mas Satrio terlambat dibawa ke rumah sakit, aku tidak akan pernah tahu bagaimana nasibnya.
            Beberapa hari kemudian Mas Satrio sudah mulai pulih. Meski selang infus masih bergelantungan di kiri kanan tangannya, tetapi Mas Satrio sudah diperbolehkan duduk tegak. Tabung oksigen yang sebelumnya menjadi gantungan hidup Mas Satrio, kini hanya dipasang sesekali saja. Dan dokter tidak melarang ia menggunakan laptopnya kembali.
            “Makasih ya, Gilang, kalau tidak ada kamu, saya mungkin sudah lewat,” Mas Satrio menepuk punggung tanganku. Tatapan matanya mulai bersinar, tidak kuyu seperti sebelum dirawat.
            “Sama-sama, Mas. Saya minta maaf karena sudah lancang membuka laptop Mas Satrio malam itu,” balasku, mengingat kelancanganku yang sudah membaca catatan pribadi Mas Satrio.
            “Tidak apa-apa. Kalau kamu tidak buka laptopku, mungkin kamu sudah pulang, dan besoknya mendengar kabar kalau Aku sudah mati,” Mas Satrio menyeringai. “Aku tidak tahu, kenapa aku begitu bodoh. Bagaimana cinta yang tidak berujung ini bisa membutakan hati dan pikiranku pada dunia yang sebenarnya masih menyebarkan banyak cinta. Heran, aku kok bisa ya kerasukan tembakau, hahaha”
“Iya, Mas. Tapi semua ini pasti ada hikmahnya. Yang penting sekarang, Mas Satrio harus nurut apa kata dokter.” Mungkin ini yang lebih baik aku katakan sekarang ini.
“Iya, aku berjanji, tidak akan mengkonsumsi tembakau lagi. Apalagi membakar dan memakannya, haha bodohnya aku…” kembali Mas Satrio menyeringai seolah rasa sakit sudah benar-benar lenyap dari tubuhnya.
            Mungkin tembakau terakhir malam itu yang menyadarkan Mas Satrio bahwa terus-terusan terbelenggu dengan masa lalu itu sama sekali tidak ada gunanya. Lebih baik menatap masa depan dan melangkah untuk menggapai impian dan harapan.
            Beberapa bulan sejak kejadian itu Mas Satrio meninggalkan kontrakannya. Aku tidak tahu persisnya ke mana ia akan pergi. Tetapi setahun setelah itu, tepat sehari setelah hari wisudaku, ia datang menemuiku. Penampilannya sangat jauh berbeda. Dengan potongan rambut pendeknya ia sangat tampan dan berwibawa. Kemeja dan dasinya licin sekali. Laiknya seorang executive muda, ia turun dari sebuah mobil mewah. Aku sangat pangling dibuatnya.
            “Mas Satrio?” aku tercengang. Dan yang lebih mencengangkan, ia sengaja datang menemuiku untuk mengajakku bekerja di perusahaan yang baru dibukanya. Tidak tanggung-tanggung aku ditawari menjadi seorang manager marketing, sangat relevan dengan gelar yang sekarang aku sandang, sarjana ekonomi.
            “Kalau ada gadis yang perlu kamu kasi kabar, segera kabari, karena tugas kamu lumayan berat. Mungkin baru sebulan sekali kamu bisa nengok pacar kamu itu.” Ucapnya. Perusahaan yang Mas Satrio kelola bergerak di bidang industri rokok. Meskipun masih ada kaitannya dengan tembakau rupanya, tetapi Mas Satrio bilang, malam itu adalah tembakau terakhirnya, ia benar-benar sudah tidak merokok lagi, kecuali untuk urusan test rasa.
            “Saya tidak punya cewek, Mas,” kataku malu-malu.
            “Kebetulan kalau begitu, istriku punya adik perempuan yang ayu. Siapa tahu kalian berjodoh,” derai tawa kami melengkapi kebahagiaanku mendapatkan rezeki nomplok pekerjaan ini. Alhamdulillah. Teman-temanku yang fresh graduate mungkin tidak akan semudah ini mendapatkan posisi jabatan sebagai manager. Tetapi aku.. Tuhan memang Maha Bijaksana. Terima kasih Tuhan.
-oOOo-