Rabu, 13 November 2013

Berbagi Apapun yang Kamu bisa Bagi

Senyum itu Ibadah, karena memberikan senyum saja sudah bernilai sedekah. Petuah orangtua itulah yang selalu saya ingat sejak kecil. Karenanya saya tak pernah lepas tersenyum saat berpapasan dengan orang lain. Terutama teman atau tetangga yang jelas-jelas kenal dengan kita.

Yeah, apa lagi yang bisa kita bagikan saat sesuatu untuk dibagi saja tidak ada. Dalam keadaan lapang maupun sempit, ajaran agama mengajarkan kepada kita untuk tetap bersedekah. Apapun itu bentuknya. Bahkan kebaikan kecil saja, yang kita sangka tak akan memberi manfaat apapun bagi orang lain, ternyata bisa berimbas kebaikan yang berlipat-lipat manfaatnya.

Contoh gampangnya saja, saat melakukan interaksi di dunia maya, tiba-tiba ada postingan orang yang membutuhkan bantuan atau mengajak orang untuk mendonasikan sesuatu untuk sebuah komunitas atau membantu orang lain yang sedang ditimpa musibah, maka kita yang misalkan saja tidak bisa turut membantu langsung, bisa berpartisipasi dengan membagikan info tersebut kepada orang lain. Dan nyatanya, semakin banyak info itu tersebar dan dibaca orang lain, maka semakin banyak juga bantuan yang akan terkumpul.

Jadi, apa yang sudah Kamu share hari ini kepada orang lain?
Bagikan apa yang kamu bisa berikan kepada dunia : informasi penting tentang keadaan lingkungan, lalu lintas, ajakan untuk melakukan go green, dan masih banyak lagi.

salam
ka

Rabu, 30 Oktober 2013

Temu Penulis : Asyik Banyak Ilmu




oleh : Fathulaidi
(Relawan Rumah Baca Pustaka Ilmu)

Pada Minggu, 27 Oktober lalu, para relawan Rumah Baca Pustaka Ilmu (RBPI) berkesempatan bertemu dengan seorang penulis best seller, yaitu Mbak Aida Ahmad. Dengan jamuan yang sederhana, beliau berkenan hadir dalam kegiatan yang tidak formal itu.

Tentunya banyak sekali ilmu yang relawan dapat. Mulai dari tips menulis secara teknis sampai trik tembus penerbit. Mbak Aida, panggilan akrab beliau, adalah penulis tetap Penerbit Bentang. “Gebrak vakum!” kata mbak Aida. Maksudnya keluarlah dari hal yang biasa. Buatlah sesuatu yang berbeda. “Sebenarnya menulis itu mudah. Kata-kata itu mengalir dengan sendirinya,” jawab mbak Aida menanggapi pertanyaan Elly, salah seorang relawan.






Ada tiga tips pokok yang diberikan oleh penulis yang baru saja meluncurkan  buku berjudul “Ketika Cinta Harus Pergi” ini. Pertama, Carilah ilmu di manapun dan dari sipapun dan segera mulai menulis. Kedua, bergabung dengan komunitas menulis yang memberikan motivasi untuk terus berkarnya. Ketiga, tetaplah menulis dan terus melakukan perbaikan.
Mudah-mudahan pertemuan dan semua ilmu dapat menjadikan para penulis pemula-relawan- lebih termotivasi untuk segera melahirkan karya yang berkualitas dan berkontribusi untuk masyarakat, lebih giat berkampanye “Cinta Nulis, Cinta Baca.” [Fathulaidi]

Senin, 21 Oktober 2013

FAMILY GATHERING


ALAM WISATA CIMAHI (AWC)


 20 Oktober 2013

Cape tapi Seru


Di Gerbang Mini Golf
Mengikuti Family Gathering yang diadakan oleh perusahaan tentu menjadi sesuatu yang ditunggu. Apalagi untuk anak-anak dan keluarga yang memang termasuk jarang sekali pergi tamasya (heuheu... istilahnya meni jadul ginih!).

Namun sebagai peserta gathering sekaligus juga panitia (ditunjuk jadi seksih acara itu, hemh... rada-rada abot juga!) hari H menjadi tanggal penting yang tidak akan pernah dilupakan. Masalahnya, segala persiapan sudah tentu menjadi agenda wajib bagi panitia. Kesuksesan acara adalah segalanya.

Pemilihan lokasi merupakan hal sangat penting. Setelah melalui berbagai seleksi dan pertimbangan, Alam Wisata Cimahi menjadi pilihan terbaik. Tour keluarga karyawan yang terdiri dari seluruh karyawan PT. Sinar Sosro Kantor pusat Jawa Barat Selamat, beserta keluarga adalah hal yang sudah lama tidak dilakukan. terakhir tahun 2005 ke lokasi wisata Paku Haji yang juga berada di Cimahi.

Salah satu sudut AWC


Sebagai seksi acara yang juga didaulat menjadi MC, saya agak keteter membagi waktu antara mengatur acara sambil menahan anak-anak supaya tidak nyebur dulu ke kolam renang (heu heu...). Berkali-kali anak-anak (pasukan kunyit, naik panggung dan ikut-ikutan jadi pengatur acara, hiahhh)

Undian Door Prize

Joget Cesar


Meskipun tidak terlalu banyak hiburan (yg penting ada Cesar-nya), tapi semua karyawan puas karena semuanya kebagian hadiah. Tapi... jangan tanya aku kebagian door prize apa ya, xixi... tidak sesuai harapan soalnya!

Bersama Sahabat Senasib (dapat Panci, xixi)

Ibu-ibu juga mau eksis



Air di kolam renang tidak terlalu dingin. Segar pokoknya. Bersih dan aman untuk anak-anak dan keluarga.






Kolam Renang Keluarga

Banyak wahana yang bisa dikunjungi. Ada kandang Rusa, kandang kelinci, kandang Kambing, Kandang Kura-kura, Wahana Tarzan, juga ada Jembatan Goyang.

Jembatan Goyang

 Saat kaki berpijak ke jembatan goyang ini, selusuh badan jembatan spontan bergoyang. Kaki sampai gemetaran karenanya. Anak-anak berteriak saking serunya.


Flying Fox


Buat yang suka tantangan, kalian juga bisa naik Flying Fox dengan ketinggian yang bisa bikin bulu kuduk kalian meremang... hiyyyy... jauhh banget lho... Liat aja video-nya di sini...

Nah, kalau kalian penasaran dengan Alam Wisata Cimahi, datang aja ke sini ya. Pasti puas.

Sabtu, 17 Agustus 2013

Wajah Cemong spesial untuk 17 Agustus 2013


Wajah anak-anak yang pagi tadi cantik dan ganteng, tiba-tiba menjadi cemong-cemong saat menjelang siang. Wah, kenapa ya?
Rupanya kecap yang dicampur dengan tepung terigu menjadi cairan penyebab wajah mereka belepotan.

Pada acara peringatan HUT RI ke 68 di RW 21 Desa Margaasih, anak-anak antusias mengikuti berbagai kegiatabn lomba khas 17 Agustusan. Ada lomba makan kerupuk, menangkap belut, memasukkan paku ke dalam botol, dan banyak lagi. Yang paling mereka sukai tentu saja lomba menggigit koin yang ditancapkan pada kulit jeruk bali, ataupun pepaya. Tapi, eit, tidak semudah itu mereka bisa menggigit dan membawa koin hasilk buruannya. Ada tantangan yang harus mereka lewati.

Anak-anak yang akan mengikuti lomba menggigit koin,hanya boleh melakukannya dengan gigi dan mulut saja. Tangan mereka diikat dengan karet dan di belakang punggung. Pepaya yang digantung dan ditancapi koin itupun dilumuri oli yang terbuat dari kecap dan campuran tepung terigu dengan uang. Itulah kenapa wajah mereka menjadi belepotan setelah mengikuti lomba ini.

Wah ternyata susah juga mendapatkan koin, karena selain tertancap cukup dalam, pepaya yang digantung itu selalu bergoyang setiap kali peserta yang mengerubutinya menggerakkan kepala mereka untuk menggigit koin incaran. Xixi, lucu melihat wajah anak-anak ini.

Tapi di akhir acara semua anak merasa senang karena koin yang mereka dapatkan cukup banyak. Lumayan buat jajan siang ini. Apalagi 17 Agustus kali ini masih dalam suasana lebaran. Itung-itung dapat angpau tambahan deh... hehe

Bagaimana keseruan acara 17 Agustusan di daerahmu?
Yok kita lestarikan kegiatan seperti ini agar anak-anak memiliki kenangan indah dan makna yang dalam tentang kemerdekaan.

merdeka!
ka

Selasa, 23 Juli 2013

Resolusi dalam Hati

Ngumpet ...

Tahun ini sengaja aku sembunyikan tanggal ultahku di akun facebook, juga nggak pasang status yang berkaitan dengan miladku ini. Bukan apa-apa, aku lagi agak malas aja melihat pergerakan mundur angka umurku. Bukan tidak bersyukur atas nikmat dan karunia yang Tuhan berikan. Hanya saja, aku merasa sudah tidak penting lagi berapa umurku sekarang, tapi berapa banyak yang sudah aku lakukan selama setahun kemarin ini. Dan apa rencanaku ke depan. Sekalian, aku pengin ngetes teman-teman mana saja yang masih ingat dengan tanggal ultahku.

Mengingat dan merayakan hari ulang tahun memang tidak ada salahnya. Tapi yang lebih penting ialah kita bisa bermuhasabah diri, melakukan instropeksi diri atas apa saja yang sudah kita lakukan  sejauh ini. Dan yang tak kalah pentingnya ialah mempersiapkan sebuah resolusi.

Resolusiku apa ya...
Yup... sudah disimpan di dalam hati dan buku khusus. Nggak di sini ah, kan katanya nggak perlu diworo-woro sembarangan. 
Semoga tercapai... aminnn

Sabtu, 22 Juni 2013

Novel Kedua : My Lovely Beetle

 Judul : My Lovely Beetle 
(Lima Metamorfosa, Satu Hati Penuh Cinta)
Penerbit : Plot Point
ISBN : 9786029481396
Rp. 48.000,-

Sinopsis :
Diputusin dan dibuat tersesat di tengah hutan, sudah cukup membuat Yuki memasukkan nama Abimanyu ke dalam daftar hitam di hidupnya. Namun, siapa sangka ulah Abimayu ini membuat Yuki, Vey, Indri, Nola, dan Nadia bertemu dengan cowok yang punya nama sama dengan pemain bola dari Brazil, Kaka.

Nama boleh mirip dengan Kaka si pemain bola, tapi urusan hobi mereka beda. Kaka versi Yuki and cs ini mereka temui di tengah sawah, dan hobinya mengoleksi kumbang. Unik dan menarik! Nggak heran kalau Yuki dan empat sahabatnya ini siap bersaing memperebutkan hati Kaka dengan menjadikan kumbang sebagai taruhan cinta.

Ini kali pertama persahabatan mereka berubah menjadi persaingan. Ini kali pertama kelima cewek itu terpikat dengan satu cowok yang sama. Kehadiran Kaka membuat metamorfosis persahabatan kelima cewek ini tak sesempurna metamorfosis kumbang koleksinya.

Ini kisah mereka. Kisah persahabatan dan cinta yang dipertemukan di tengah alam bebas. Juga tentang kegalauan Yuki di tengah-tengah dua kumbang jantan dalam hidupnya.

Kisah renyah tentang cinta dan persahabatan Ɣªήğ akan membuatmu senyum-senyum sendiri saking asyiknya.

Dapatkan novelnya di Toko Buku Gramedia dan Togamas di kotamu, Online bookstore langgananmu, atau bisa order langsung ke penulisnya.

Jumat, 24 Mei 2013

Perjalanan Mengejar Mimpi



"Hiahhh, judulnya lebay banget ya...?!"
Tapi nggak apa-apa, yang penting niatnya ‘benar’. Seperti kata Pak Ustadz, Inna A'malu binniat. Jadi kalau niat ikut pelatihan menulis ini ialah sebagai jalan untuk meraih mimpi, maka Insya Allah mimpi itu akan terwujud . Amin....

Adalah Petra Shandi alias @ezarsatria, novelis dari (dia nggak mau disebutin nama daerahnya) Subang,  yang mengajak saya untuk ikut seleksi Kampus Fiksi yang diselenggarakan oleh Diva Press. Mulanya saya ragu karena nggak percaya dengan kemampuan sendiri. Tapi karena penasaran dan sekalian untuk menjajal kebisaan, saya pun daftar. Dan Alhamdulillah lolos, kebagian gelombang II tanggal 25-26 Mei 2013, satu angkatan dengan Petra juga.

Setelah melakukan berbagai persiapan : pesan tiket, ngerjain tugas, ikhtiar cari laptop teman yang bisa disewa (ssttt, no comment!) dan tentu saja ngajuin cuti jauh-jauh hari, akhirnya saya bareng Petra, yang memang sudah lama kenal dan sering ketemu, siap berangkat ke Yogyakarta.

Dan dari sinilah cerita ini bermula.

Ini adalah perjalan pertama saya pergi sendiri (eh, nggak deng… kan sama Petra) jauh-jauh tanpa pengawalan (haha, emang presiden dikawal, Kang!). Orang Sunda bilang saya ini termasuk ‘kurung batokeun’ alias jarang pergi ke mana-mana. Bisanya ngendon aja! (pantes Persib jago kandang? Huss ah!! #gaknyambung) Kalau bukan untuk urusan ‘menulis’ yang selama setahun belakangan ini saya tekuni lagi, saya nggak bakalan maksain diri. Makanya saya serius mempersiapkannya. Saya sampai-sampai nggak bisa tidur karena takut kesiangan. Bukan apa-apa, kalau sampai telat ke stasiun, tiket yang sudah dipesan bisa angus, kan? Mana saya ketitipan punya Petra juga, #berat bebankuh!, haha… (konsekuensi ketitipan beli tiket, soalnya lagi bokek, jadi pake bekel Petra dulu, wkwkwk… sssssttt ah!)

Jumat, 24 Mei 2013. Perjalanan dari Stasiun Bandung  dimulai pukul 8 pagi lewat beberapa menit. Lumayan lama juga menunggu, karena menurut jadwal, kereta Lodaya pagi jurusan Solo itu berangkatnya jam 7.00. Nggak apa-apa lah, kan acaranya juga baru dimulai besok dan peserta maksimal harus sudah sampai lokasi jam 9 malam. Perkiraan sampai stasiun Yogyakarta itu pukul 4 sorean.

Selama dalam perjalanan, banyak hal yang saya dan Petra perbincangkan. Mulai dari hal-hal sepele soal status-status di facebook dan twitter, membahas proyek yang sedang dikerjakan masing-masing, sampai resolusi masa depan, hahay… Tentu saja sambil menghabiskan bekal cemilan seabreg yang ada di kantong masing-masing plus... bernarsis ria!
Dan semuanya itu selalu diselingi candaan dan tawa yang cetar membahana. Sampai-sampai penumpang lain bolak-balik lewat seat kami (soalnya mau ke toilet, emang mesti lewat tempat duduk kami, wew!).

Pura-puranya lagi bingung, padahal iya...


Tak terasa waktu berlalu. Kesal hilang, capek juga lenyap. Saat kereta berhenti di Stasiun Yogya, kesal hilang, capek juga lenyap. Yogya … Yogya … Kami sudah janjian dijemput oleh panitia. Mbak Ve BBM nunggu di bawah jam yang bertuliskan Yogyakarta. Ya elah… jamnya aja ngumpet, celingukan lah saya sama Petra. Untung Mbak Ayun nyapa duluan.  Sambil menunggu mobil jemputan yang kejebak macet, kedua editor Diva yang ngakunya masih berjiwa teenager itu mengurai cerita yang lumayan rame dan bikin lupa laper. Untungnya, beberapa menit kemudian sebuah mobil ijo yang isinya juga serba ijo datang. Kami pun berangkat menuju  Kampus Fiksi di Jalan apa, #lupatanya. Ternyata eh ternyata, masih ada 1 orang lagi yang harus dijemput. Namanya Arif siapa lupa (ke sini-sininya dapat julukan Mika, tau tuh Mika ambon atau Mikariayam…) masih 18 taun, tapi bongsor dan makan tempat. Jadinya Mbak Ve ngalah pindah duduk yang asalnya di depan, ke kursi penumpang di belakang.  Hemhhh… untung saya kuyus bin cungkring (kalo kalian liatnya sambil ngantuk2!) jadi nggak masalah duduk di kursi penumpang berempat : Saya, dua cewek super heboh itu, dan Petra yang kalian tahu sendiri-lah, bodinya makan tempat (hgehe sorry ya Pet!). Untung jarak stasiun Tugu dan Kampus Fiksi tidak terlalu jauh. Ditambah pemandangan Jalan malioboro di sore hari, lupa deh kalau badanku kedempet-dempet.

Tiba di Kampus Fiksi ternyata sudah banyak peserta yang datang (Ohya, peserta Kampus Fiksi itu 30 orang per-angkatan), bahkan katanya ada yang sudah datang dari kemarin juga. Hebat !

“Kang Aming, ya?” seorang pemuda (katanya sih masih muda) menyapa dengan yakin.

“Adi, ya?” malah Petra yang balik nanya ke anak itu (ternyata masih anak-anak, hehe!)

Kami pun berkenalan. Iya, dia Adi Nugroho, seorang Guru Matematika dari Blitar (iya tho, Di?), yang katanya murah senyum dan suka ngorbal tawa, hahaha … Adi ini yang paling getol mention di twitter sejak jauh-jauh hari sebelum ketemuan di Kampus Fiksi. Makanya kami langsung akrab. Apalagi ketawanya yang menggelegar membabi buta itu langsung menyedot perhatian siapa saja yang mengenalnya.

...... Eh, bentar ya… keburu Maghrib… ntar disambung lagi dengan cerita yang lebih seru.

Selasa, 21 Mei 2013

Gunung Kasur


Orang-orang menyebut bukit kecil itu Gunung Kasur.  Di tengah-tengah bukit hijau itu tergeletak sehamparan batu berbentuk kasur, lengkap dengan sepasang bantal dan sebuah guling di tengahnya.  Dulu, aku sering  menggali tanah liat atau mencari rotan di Gunung Kasur untuk tugas sekolah. Menelusuri jalan setapak dengan belukar ilalang setinggi kepala sambil berlomba mencapai puncak gunung itu, menjadi kegiatan rutinku bersama teman-teman SD setiap Minggu pagi.  Tak peduli panas, atau rinai memayungi langkah kami. Memaku kincir sambil menatap Istana Presiden yang berdiri megah dari kejauhan.
Langkahku terhenti di depan sebuah rumah kayu yang nyaris lapuk termakan usia. Satu-satunya rumah yang selalu kusinggahi jika hendak naik ke Gunung Kasur. Pemilik rumah ini, Pak Mur. Laki-laki setengah baya, berkulit belang putih susu dan coklat, menyerupai kulit yang baru sembuh dari luka tersiram air panas. Namun, setelah lebih dari dua puluh tahun terlewati, apakah Pak Mur masih ada?
Punten[i]” Kuketuk daun pintu yang tak tertutup sempurna itu. Tak ada sahutan. Hening. Yang terdengar hanya suara tonggeret dan desau angin gunung yang menggelitik telinga.
Sambil menunggu seseorang membukakan pintu, kuedarkan pandangan. Tidak banyak yang berubah. Dari tempatku berdiri, ada jalan setapak yang menurun, menuju sebuah tambak ikan berair dangkal. Pepohonan buah-buahan menjadi pagar pembatas sungai jernih yang mengalir di sampingnya. Ada saung kecil beratap jerami di pinggir balong[ii]. Dulu aku dan teman-teman diperbolehkan tidur siang di sana setelah lelah bermain di atas bukit.  Aku tersenyum mengingat masa-masa menyenangkan itu.
Milari saha, nyak?”[iii] sebuah suara berat  mengagetkanku. Seorang lelaki berdiri tepat di depanku. Garis wajahnya yang tegas dengan rahang kokoh tanpa senyum menyita ingatan masa kecilku.
Kuamati mata kelereng laki-laki itu. Tak salah lagi, “Dulah?” pekikku. Kuukir sebuah senyum yang sedari tadi tertahan. Ini pasti anak Pak Mur, yang juga kakak kelasku di SD.
            Sanes,” [iv]timpalnya, sambil menyidikku dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Kang Kamal?” ia balik memekik. Lalu terkekeh, yakin akan dugaannya.
            Aku mengangguk heran. Aku kenal betul tawa jahil itu.
            “Arif, Kang. Ini Arif,” terangnya.
Mataku membulat. Baru ingat, Dulah punya adik yang mirip sekali dengannya. Beda umurnya sekitar dua tahun.
“Arif? Kamu sudah segede ini?”
            “Iya atuh[v], Kang, kan dikasi makan sama Emak…”
            Tawa kami pecah. 
            “Bapak sudah meninggal lima tahun lalu. Kang Dulah bekerja jadi supir di Saudi. Saya sendiri tidak bisa ke mana-mana, sebab Emak sudah mulai sakit-sakitan,” papar Arif setelah mempersilakan aku masuk dan duduk di ruang tamunya yang sederhana.
            “Oh begitu,” balasku, sedih karena baru tahu Pak Mur sudah tiada. Kesibukanku kerja di Jakarta hanya menyisakan pulang sehari dalam dua atau tiga bulan saja. Aku tidak pernah sempat mengunjungi orang-orang yang dulu berjasa dalam hidupku. Termasuk Pak Mur.
            Laki-laki kuat itu yang mengajariku bagaimana menebang rotan dan mengubahnya menjadi sebuah bingkai foto, atau anyaman keranjang. Bilah rotan yang tak terpakai, diubahnya menjadi sebuah lukisan. Pak Mur juga mengajari aku dan teman-teman membuat sebuah kendi dan benda-benda lain dari tanah liat. Karyaku dan teman-teman sekelompokku menjadi juara saat diikutsertakan dalam lomba Kreasi Bumi antar sekolah. Bukan cuma itu, Pak Mur dengan sabar selalu menyelipkan petuah agar kami taat beribadah, menghormati orang tua dan guru-guru, juga sayang terhadap sesama, terutama kawan karib, dan alam semesta.
            Karena dedikasinya, Pak Mur diangkat warga sebagai kuncen Gunung Kasur.
            “Tapi, Bapak selalu ada kok untuk menjaga Gunung Kasur,” bisik Arif sambil memicingkan mata bulatnya. Berkilatan bening diantara remang cahaya lampu rumah yang seadanya.
            “Maksudmu?”
            “Iya, orang-orang yang berusaha merusak Gunung Kasur dibuatnya lari tunggang langgang,” kekehnya pelan.
            “Memang ada ya orang-orang yang ingin merusak?” keningku berkerut.
            “Banyak. Pengembang itu. Mereka mendirikan vila-vila di kaki bukit dan menghalangi jalan menuju  gunung. Menggali dinding bukit, bahkan menebangi hutan. Banyak yang celaka.” Gigi Arif bergemeletuk. Geram.
            Arif lalu bercerita tentang kematian para pekerja yang membangun vila-vila mewah di bibir bukit. Juga para pengebor,  dan mandor yang selalu berteriak jika melihat anak buahnya berleha-leha kelelahan. Menurutnya, Pak Mur tak suka mereka melukai bukit yang sejak laki-laki itu muda, setia dijaganya. Pak Mur tak ingin orang-orang yang hendak melihat batu kasur dari dekat urung pergi lantaran pintu masuknya tertutupi benteng beton setinggi kepala orang dewasa. Sedangkan jalan setapak lain, harus melewati sungai yang belakangan santer dikabarkan dihuni buaya jadi-jadian. Petani-petani  di perkampungan di balik bukit yang selama ini melewati jalan utama juga mengeluh karena kesulitan jika harus melewati sungai tanpa jembatan saat ia membawa hasil panen untuk dijual ke pasar Cipanas.
            Aku mengakhiri obrolan panjangku dengan tengkuk meremang. Niat untuk menyusuri jalan setapak menuju batu kasur dan menyentuhnya dari dekat, urung. Bagaimana kabar guling kesayanganku? Mungkin pada kunjungan berikutnya, aku akan ke sana, memasang tiang tinggi yang telah dipasangi kincir angin, lalu setelah lelah berlarian, aku akan berpura-pura tidur di atas kasur batu itu, sambil berharap impianku akan terwujud kembali. Seperti dulu. Tanpa saar aku tersenyum sendiri.
            “Akang kenapa?”
            “Tidak, Rif. Oh iya, kamu mau kan kalau menemani saya naik? Saya ingin foto-foto dengan Gunung Kasur.”
            “Siap, Kang.”.
            Pada kunjungan kali berikutnya, Arif menemaniku jalan menuju puncak Gunung Kasur. Hanya menapaki jalan setapak yang dipenuhi ilalang dan belukar rotan, serta aneka pohon rambat berduri.  Tidak banyak yang berubah. Jalanan terjal licin karena mengandung tanah liat yang diguyur hujan semalam, membuat sol sepatuku menebal. Langkahku semakin berat. Arif sesekali berlari dan menantangku balapan. Aku hanya mengeluh sambil meletakkan kedua lenganku di pinggang. Perjalanan menanjak tiga kilometer kali ini sangat berbeda dengan yang pernah kulakukan semasa kecil dulu. Keringat mulai membanjiri kemejaku. Aku semakin payah.
            Desau angin menyambut saat kaki ini pertama kali menginjak puncak gunung. Dua puluh tahun, cukup lama untuk setia menyimpan semua yang pernah Gunung Kasur berikan padaku. Kenangan indah, rangkaian puisi yang kutulis di dahan pohon pinus dengan pisau lipat, aneka bingkai foto berotan yang menghiasi poster Presiden-Wakil Presiden dan burung Garuda di dinding ruang kelas, serta macam-macam keramik buatan tangan sendiri. Dan kini, ide-ide brilian pembangunan rumah modern di tepi bukit menari-nari di benakku.
            “Bapak sakit apa, Rif?” tanyaku sambil bersandar pada dahan pohon pinus. Kuluruskan kaki sambil menarik sebatang ranting di tanah. Kutilik serat kambiumnya. Wangi kuhirup. Dulu aku suka membuat gantungan kunci dari dahan pohon pinus yang digergaji miring, atau diukir berbentuk siluet tumpahan air. Lalu dipernis setelah ditempeli nama orang atau zodiac dari rugos. Lalu kami jual pada pelancong yang tak pernah sepi memburu sayuran segar di daerah Simpang.
            “Orang-orang menyebutnya sebagai kutukan,” suara Arif berubah berat.
            Aku menopang kaki dengan dagu, siap mendengarkan cerita Arif.
            “Sekitar enam tahun lalu, orang-orang kota datang ke mari. Menikmati pemandangan di atas bukit, foto sana foto sini, berceloteh tentang kekaguman mereka terhadap batu kasur. Bapak yang menemani mereka hingga puncak.” Arif menghela napas. Kedipnya sayu, seolah di pelupuk matanya berkilasan fragmen kehidupan Pak Mur.
            “Lalu mereka menjadi sering berkunjung. Dan entah mendapat izin dari mana, orang-orang itu mulai membangun rumah. Mula-mula satu, lalu dua, tiga, hingga akhirnya berjejer rumah-rumah bagus di kaki bukit, sampai ke badan gunung. Saat Bapak bertanya, mereka bilang sedang ada proyek pemerintah, dan itu semua adalah rumah dinas. Entahlah. Bapak tidak banyak bertanya setelah itu. Yang jelas sejak saat itu, Bapak sering mengalami mimpi buruk. Dalam mimpinya, Bapak didatangi harimau besar yang turun dari bukit. Lalu sekawanan burung terbang mengelilingi rumah. Bapak juga mimpi dikejar-kejar sekelompok monyet bertaring. Semua itu Bapak ceritakan kepada kami, seminggu sebelum beliau wafat.”
            “Jadi Bapak tidak sakit dulu?”
            Arif menggeleng. “Bapak jatuh ke sungai. Jasadnya ditemukan sore hari.  Kami pikir seharian itu Bapak sedang pergi ke balai desa. Bapak bilang akan membicarakan hal penting pada Pak Kades.”
            Aku tersentak mendengar cerita Arif. Kasihan Pak Mur. Aku tahu apa yang sedang Pak Mur perjuangkan: bukit berkasur batu yang menjadi tanah kelahiran dan tempat sakral dalam hidupnya. Ia tak ingin ada seorang pun yang menjamah dan merusak kelestarian bukit bersejarah dalam hidupnya itu. Bahkan hingga kini pun, kata Arif, Bapak tidak akan membiarkan siapa pun merusak cagar alam tercintanya. Orang yang melawannya, tak akan pernah selamat.
            Aku bangkit. Dadaku bergolak. Tak kusangka, hidup Pak Mur berakhir. Darahku mendidih. Meletup-letup seperti lahar gunung merapi yang siap dimuntahkan ke angkasa. Tak terasa setitik air hangat mengembun di kelopak mataku. Kubuang pandangan menjauh dari hadapan Arif. Aku tak ingin ia membaca perasaanku lewat mata dan gurat wajahku. Aku tak ingin Arif tahu betapa aku menyesal dan merasa sangat bersalah.
Kuedarkan bola mataku ke arah batu cadas yang menggantung di dinding tebing. Batu yang tak pernah sekali pun aku dan teman-teman berani mendekatinya. Bahkan Dulah dan Arif sekalipun. Tak boleh ada seorang pun yang menyentuh batu itu. Tidak jauh dari kaki batu gantung itu, terhampar batu berbentuk persegi, menyerupai sebuah kasur, lengkap dengan bantal dan guling yang tidak pernah bisa dipindahkan ke manapun. Samar-samar kulihat seseorang tengah duduk di sana dengan kedua telapak tangan membungkus wajahnya yang tertunduk. Kulit lengannya putih dengan loreng-loreng coklat seperti belum lama tertumpahi cat kayu atau lumpur yang baru mengering. Perlahan-lahan laki-laki itu melepaskan tangannya. Lalu wajahnya menengadah dan menatap lurus ke arahku. Deg, jantungku terasa mau lepas. Pak Mur?! Desisku.
*
Sebagian dalam cerpen ini merupakan buah imajinasi penulis. Setting adalah daerah tempat semasa kecil penulis bermain yang kini dijadikan sebagai Situs Budaya Gunung Kasur yang  terletak di daerah Gadog Cipanas, Cianjur.









[i] Punten = Permisi (bahasa Sunda)
[ii] Balong = Kolam Ikan
[iii] Milari saha, nyak? = Cari siapa, ya?
[iv] Sanes = Bukan
[v] Atuh = Dong