Senin, 20 Juni 2011

CINTA INI UNTUK SIAPA



CINTA INI UNTUK SIAPA

Aku sama sekali tidak paham dengan jalan pikiran kedua orangtuaku. Ketiga kakak perempuanku semuanya menikah karena dijodohkan dengan lelaki pilihan mereka, atau rekomendasi, kalau tidak dari saudara ayah, ya dari saudara ibu. Seperti Kak Narti, menikah dengan Kak Dayat itu karena dijodohkan oleh Tante Cindy, tantenya Ayah, adik dari almarhum kakek. Kak Atik juga begitu, dijodohkan dengan Kak Mahmud oleh Tante Cindy juga. Lalu Kak Eny, dipaksa menikah dengan Kak Agung, lelaki yang baru dikenalnya seminggu sebelum akad nikah dilangsungkan, yang kata Om Handi, sang rekomendator, ialah pemuda yang sudah matang dan siap memberikan masa depan yang gemilang.
            Zaman memang sudah berubah sejak lama. Tapi tradisi jodoh menjodohkan seperti masa Siti Nurbaya masih saja terjadi. Terutama di keluarga besarku. Dan kini menginjak usiaku yang sudah masuk dua puluh tiga, aku terancam mengalami nasib yang sama. Padahal aku anak lelaki, dan jelas-jelas selalu menentang adanya perjodohan sepihak itu. Heran juga kenapa Kak Arman, kakak lelakiku pun mau saja menerima dijodohkan dengan perempuan yang mungkin baru disukainya setelah malam pertamanya.
Dan lagi-lagi Tante Cindy yang memegang kendali. Tante Cindy memang paling doyan jodoh-jodohin orang. Tidak tahu apa untungnya buat dia sendiri. Sang makelar jodoh yang satu ini seperti tidak bisa berdiam diri melihat anak-anak keponakannya yang beranjak dewasa tetapi masih santai-santai saja belum menikah. Ia terus mengunjungi saudara-saudaranya dan menyebarkan virus perjodohan ke mana-mana. Dan virus itu ternyata sangat ampuh menulari pikiran ayah dan ibuku.
Untuk urusan masa depan, aku sempat bertekad untuk tidak menerima apapun bentuk intervensi yang dilakukan oleh kedua orangtuaku. Pemilihan pasangan hidup bagiku bukan saja menyangkut masalah bibit bobot dan bebet, tetapi peranan cinta juga sangatlah penting. Memang, konon katanya cinta bisa tumbuh setelah ikrar pernikahan dilangsungkan. Perasaan  saling mengerti dan memahami satu sama lain menjadi bibit tumbuhnya cinta itu setelah kehidupan rumah tangga dijalankan. Dan perjodohan pun tidak lagi menjadi sesuatu yang membuat mereka yang mengalaminya menyesal. Aku tidak mengerti, bagiku cinta yang lahir karena keterpaksaan tidak akan kekal.
Hari ini adalah ulang tahunku yang ke dua puluh tiga. Tidak pernah ada perayaan untuk hari spesialku ini. Tetapi Ibu tidak pernah absen membuat masakan yang berbeda di hari ulang tahun anak-anaknya. Dan Ibulah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan kado kecil yang tidak pernah aku lupakan. Bagiku apapun bentuk perhatian dari Ibu semuanya terasa sangat special karena pasti diberikannya dengan landasan cintanya yang tulus.
“Makasih ya, Bu,” aku mengecup tangan Ibu setelah beliau mencium keningku dan meniupkan doa ke ubun-ubunku. Aku mengamini setiap doa yang terucap dengan perasaan haru.
Lalu Ayah, dan adik-adikku bergantian mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Dan kami mulai menikmati makanan special masakan Ibu. Sampai tiba-tiba, seseorang muncul dan memecah kesunyian di rumah kami.
“Hallow…. Selamat ulang tahun….” teriaknya heboh. Seperti kebiasaannya, Tante Cindy, nenek-nenek genit itu muncul tiba-tiba sambil menenteng sebuah bungkusan berbentuk kotak. “Cucu Tante sudah bujang rupanya, happy birthday ya, Ganteng,” ia lalu mencium kepalaku sambil mencomot tempe goreng di piring adikku. Sikap yang aneh. Adikku mendelik pasrah.
“Makasih, Tante,” balasku dengan sopan. Meskipun Tante Cindy itu tantenya Ayah, tapi kami semua, anak-anak Ayah dan anak-anak keponakan Tante Cindy yang lain memanggilnya dengan sebutan tante juga, bukan nenek seperti seharusnya. Mungkin karena pembawaannya Tante Cindy yang selalu ramai, heboh, dengan penampilan yang selalu happening.
“Ini Tante bawain kue tart buatan Tante sendiri, loh. Khusus buat anak ponakan Tante yang ulang tahun hari ini,” Tante Cindy membuka kotak putih itu yang ternyata isinya kue tart. Heran, kok ada ya nenek-nenek yang hafal banget kapan cucu-cucunya ulang tahun. Padahal aku ini kan hanya anak dari keponakannya, dan bukan cucunya secara langsung. Ah, emang gue pikirin, yang penting ada yang sudah ingat hari ulang tahunku itu saja, sudah cukup menyenangkan bagiku, dan kesan menyebalkan Tante Cindy hari ini aku kesampingkan dulu melihat kue tart yang sangat menggoda itu.
Puding mangga buatan Ibu yang super lezat sudah habis aku lahap. Dan kini giliranku mencoba kue tart dari Tante Cindy. Tapi sebelumnya aku berkomat-kamit dulu membaca doa. Takutnya ada bumbu mistis yang mengandung virus berbahaya. Haha, maaf ya, Tan!
Tante Cindy tak berkedip, menunggu reaksiku. “Enak, Tante,” pujiku. “Kue ini tidak dijampi-jampi kan, Tante?” candaku mengundang delik Ayah di seberang meja.
Adikku yang kecil tertawa geli. “Kalau membuat Kak Imbang  jadi tambah ganteng dan disukai banyak cewek, gak apa-apa kali, Kak,” godanya. Aku menyeringai, tak bisa membalas banyolan adikku.. Iya kalau disukai cewek-cewek yang emang aku suka, nah kalo dikejar-kejar koleksi jomblonya Tante Cindy, ih tart dulu kali. Maksudnya entar-entar,  jangan sampe dehh..!!
Mungkin apa yang dilakukan Tante Cindy di hari ulang tahunku itu, merupakan salah satu metode pendekatan untuk meluluhkan hatiku. Semua sudah tahu jam terbang Tante Cindy. Ia pasti akan melakukan manuver-manuver yang tidak disadari calon korbannya. Kecuali aku kali, yang sudah jeli dan mengamati setiap pergerakan yang Tante Cindy lakukan di belakangku sekalipun.
Seperti sore itu, aku mendengar ibu berbisik-bisik saat menerima telepon. Aku sih curiganya itu telepon dari Tante Cindy. Dan ternyata emang benar, karena setelah ibu menutup telepon, aku langsung dipanggilnya.
“Iya, Bu,” sahutku malas, lalu duduk di hadapan ibu dan ayah yang sudah sedari tadi melipat Koran sorenya.
“Jadi gimana?” tanpa tedeng aling-aling ibu bertanya, entah bagaimana apa yang ibu maksud.
“Bagaimana apanya, Bu?” tanyaku tidak mengerti.
“Loh, emang Ayah belum ngomong sama Imbang?” ibu beralih ke Ayah.
Ayah menurunkan kacamatanya, dan meletakkannya di atas meja dengan muka ditekuk.
“Ibu saja yang ngomong. Ayah sudah tahu jawabannya.”
“Sudah tahu gimana, nanya aja belum,” bantah Ibu.
“Tanya apa sih, Bu?” aku menengahi. Paling malas kalau sudah mendengar Ayah dan Ibu adu mulut. Hal sepele aja bisa jadi rame.
“Itu loh, Mbang… Tante Cindy tuh mau kenalin kamu sama anaknya Tantenya Rosa, sepupu ibu dari jauh. Jadi waktu itu tuh Tante Cindy ketemu sama Dhienar, di arisan keluarga dari pihak neneknya Ibu, nah Tante Cindy tuh yang ngurus cateringnya….”
“Kirain cuma bisa ngurus perjodohan doang, Bu,” potongku sambil nyengir kuda.
“Kamu ini, nggak sopan motong omongan orangtua. Sampai di mana tadi Ibu, oh, iya, Dhienar itu baru lulus S1 Fakultas Hukum Trisakti, dan sebentar lagi mau ambil S2 juga. Tapi dia masih sendirian gitu, maklum serius kuliah jadi tidak ada waktu cari pasangan, katanya. Nanti Ibu mintain fotonya deh,” lanjut Ibu.
“Iya, Bu. Terus hubungan dengan Imbangnya apa? Kenapa Imbang harus kenal sama siapa tadi, Dhienar, itu segala?” tanggapanku.
“Ini anak! Tuh anakmu, Yah… Cuma kenalan aja, kok, Imbang!” lanjut ibu sepertinya mulai kesal.
“Malas, ah. Kalo selama kuliah aja tuh cewek nggak bisa ketemu satu cowok pun yang cocok, berarti dia tuh kuper, Bu. Masa Ibu mau punya menantu kuper?” ledekku. Sebenarnya sih bukan benar-benar meledek. Tapi aku cuma mau tunjukkan ke Ibu dan Ayah kalau aku tuh paling nggak suka diatur-atur. Pertamanya sih iya kenalan, tapi lama-lama Tante Cindy bakal menentukan pertemuan-pertemuan berikutnya. Ia kan paling jago bikin skenario dan membuat sesuatu tuh terjadi seolah-olah kebetulan. Sudah hafal aku taktik seperti ini.
Tapi demi menghormati orangtuaku, aku mau saja dikenalkan dengan Dhienar. Dan ternyata anaknya tidak sekuper tampangnya. Wajah dan tubuhnya tidak jelek-jelek amat. Tapi masa sih model cewek kayak begini nggak ada yang melirik. Minimal dosen yang masih bujangan atau malah yang sudah menjadi duda mungkin. Atau dia termasuk mahasiswi yang nilainya tinggi, jadi cowok-cowok malas mendekati dia karena takut dites soal-soal ujian gitu. Haha, tapi nggak ada salahnya juga sih, kalau cuma kenal doang.
Dhienar berbeda usia 2 tahun denganku. Kepribadiannya lumayan menyenangkan. Meskipun untuk mendengar suaranya kita harus memancingnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin bisa dia jawab tidak hanya dengan kata ‘iya’ atau ‘tidak’ seperti di meja hijau. Konon katanya Dhienar ini calon pengacara. Dan seperti umunya pengacara, Dhienar kelihatan sangat cerdas, pantas saja dia mendapat predikat cumlaude. Hanya saja entah karena di dekatku saja cewek ini begitu pendiam, atau kebetulan lagi sariawan? Hadoh!
Pada pertemuan pertamaku dengan Dhienar aku langsung bilang kalau aku tidak suka dijodoh-jodohkan. Tentu saja aku tidak bilang kalau aku tidak mau dijodohkan dengan Dhienar. Gila aja, nanti disangkanya aku ini geer. Aku hanya mengemukakan pendapatku soal jodoh menjodohkan, termasuk pendapatku soal Mak Comblang kawakan itu. Ternyata Dhienar sependapat denganku. Dan dia malah menganggapku sebagai kakaknya. Maklum dia anak satu-satunya di keluarganya.
Aku jadi penasaran dengan Dhienar. Bukan, aku bukannya mulai tertarik dengan cewek yang satu ini. Malah aku berencana memperkenalkan Dhienar dengan temanku yang sudah kebelet pengen meried. Kali aja mereka cocok. Aku sendiri sih belum kepikiran sampai ke sana. Apalagi sampai dengan saat ini aku masih sedang melakukan pendekatan dengan cewek gebetanku, Ranti namanya. Maka aku ajak Dhienar ke café tempat aku dan teman-temanku biasa ngumpul.
“Kenalin nih, Dhienar, sepupu jauh gue,” aku memperkenalkan Dhienar pada teman-temanku. Tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan, yang kesemuanya tuh teman-teman kuliahku dulu yang sekarang sudah pada sukses. Kami biasa ngumpul untuk sekedar sharing atau ngobrol ngalor ngidul ngusir kepenatan karena kerjaan.
Ada Barong yang aku sudah koling untuk berkenalan lebih jauh dengan Dhienar. Dan ternyata dengan cowok gondrong itu, Dhienar kelihatan lebih cair. Tidak kaku seperti kalau berbicara dengan aku. Mungkin karena pengaruh ikatan yang diciptakan Tante Cindy yang membuat ia begitu. Tetapi dengan Barong, aku bisa mendengar derai tawa Dhienar sesekali. Manis juga kalau melihat dia seperti itu. Pendek kata aku berhasil mendekatkan Barong dengan Dhienar. Sial,jangan-jangan kutukan Tante Cindy menurun padaku, wkwkwk
Dhienar bilang, senang bisa berteman dan bergaul dengan teman-temanku tadi. Ia juga bilang Barong tuh lucu. Sepertinya Dhienar mulai menyukainya. Haha, kena umpan dia. Malamnya aku telepon Barong. Cowok itu malah ketawa begitu aku tanya bagaiamana perasaan dia sama Dhienar.
“Pokoknya dia mau ajak gue ke tempat biasa dia sama teman-temannya nongkrong. Lo juga diajak, katanya di sana juga banyak cewek, yang siapa tahu ada yang cocok juga dengan Lo,” ucap Barong di ujung telepon.
“Juga?, wah berarti Lo beneran udah cocok dong dengan Dhienar?” simpulku.
Barong kembali tertawa. Dan itu sudah cukup menjawab pertanyaanku tadi. Aku senang mendengarnya. Wah ternyata seru juga ya jadi Mak Comblang. Hahaha… kalau ketahuan Tante Cindy, bisa diangkat jadi penggantinya nih kalau dia pensiun, hixhix.
Seminggu kemudian aku diajak Barong dan Dhienar -yang tanpa sepengetahuanku ternyata sudah jadian-, bukan ke tempat nongkrong seperti yang waktu itu Barong bilang, tetapi menuju sebuah villa kecil di daerah perbukitan. Katanya, Dhienar juga mengajak teman-temannya buat ngumpul di sana.
Sepertinya Barong dan Dhienar sudah pernah ke tempat ini sebelumnya. Aku melihat mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Mesra banget, bikin aku ngiri aja. Dhienar tampak begitu bahagia,  dan entah kenapa aku mendadak jadi cemburu sendiri. Hehe, Aneh!
Tiba-tiba aku teringat dengan Ranti, cewek yang sedang aku dekati. Ranti berbeda jauh dengan Dhienar. Kalau Dhienar pada awalnya pendiam, dan setelah cukup akrab ternyata menyenangkan berteman dengannya, sedangkan Ranti sampai sekarang masih bersikap tertutup. Bukannya aku geer, tapi menurut cerita teman-temannya sebenarnya Ranti tuh menaruh hati juga sama aku. Makanya aku berani maju dan mencari celah untuk nembak dia. Tapi ternyata Ranti benar-benar sulit untuk ditaklukkan. Dia selalu menghindar, dan aku seperi sedang main kucing-kucingan saja dengan dia.
Beberapa kali aku mengajak Ranti jalan, hanya sekali ia mau menuruti setelah sebelumnya beralasan yang macam-macam untuk menolakku. Awalnya aku pikir mungkin ia sedang menguji kesabaranku, tapi lama-lama, koq kayaknya buang-buang waktu saja mendekati cewek seperti Ranti. Pintar iya, supel, sepertinya begitu, tapi kenapa begitu berdekatan dengan aku, semua kesan itu jadi memudar. Ranti seperti menjelma menjadi pribadi yang lain dan asing di mataku.
Hanya karena aku masih menyimpan perasaan penasaran saja -apakah benar ia suka sama aku atau tidak- yang menyebabkan aku gencar mendekati dia. Setiap kali aku dekat, rasanya jarak aku dengan Ranti semakin jauh. Tetapi semakin aku berusaha melupakan dia karena aku merasa sia-sia saja mengejarnya, koq rasanya perasaan ini malah semakin terikat dan selalu saja menarikku untuk terus mendekati Ranti. Aneh, apa ini yang dinamakan cinta. Tapi buat apa aku memperjuangkan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Apalagi melihat sifat Ranti yang super cuek seperti itu.
Karena aku sedang berusaha setengah mati melupakan upayaku untuk menjadikan Ranti pacarku, makanya aku mau saja diajak Dhienar dan Barong ke sini. Aku jadi penasaran juga, cewek mana yang mau dikenalkan Dhienar padaku. Apakah ia setipe dengan Dhienar yang jinak-jinak merpati, atau tidak jauh berbeda dengan Ranti. Aku tidak terlalu menaruh harapan besar untuk bisa dekat dengan cewek manapun lagi. Setidaknya dalam waktu dekat ini.
-o0o-
Villa mungil itu begitu asri. Di sekelilingnya berbagai jenis tanaman tumbuh dan berkembang dengan baik. Bunga-bunga bermekaran dengan indahnya. Di depan villa ada arena bermain anak-anak seperti halnya di sebuah taman kanak-kanak. Kata Dhienar, ini villa keluarga besarnya. Dan di tempat ini, ia bersama keluarga, termasuk ponakan-ponakannya biasa ngumpul. Meskipun kecil, villa ini bisa muat 5 keluarga.
Ternyata benar, di sana sudah berkumpul teman-teman Dhienar. Mungkin mereka malah sudah menginap dari kemarin. Dhienar dan Barong yang sudah sampai duluan meneriaki aku yang masih jauh di belakang supaya berjalan lebih cepat.
“Ini temen-temen gue,” ucap Dhienar begitu aku sampai dengan ngos-ngosan di depan pintu. Aku melihat sekeliling. Ada tiga orang cewek dan dua orang cowok yang sedang santai. Mereka say hello padaku. Seseorang malah menyalami dan menyuruhku masuk.
“Ada lagi sih, satu cewek lagi yang mau gue kenalin ke Elo, Mbang. Tapi dia lagi di kamar mandi,” lanjut Dhienar.
Aku masuk villa yang ternyata besar itu, melepas sepatu dan jaket yang membuatku terasa gerah. Lalu bergabung dengan teman-teman Dhienar sekedar untuk berbas-basi. Tidak lama aku pun mencari tempat menyendiri, dan mendapati sebuah sofa di pojok ruang keluarga yang kelihatannya nyaman.
“Ini dia,” Dhienar menunjuk seorang cewek berambut sebahu yang baru keluar dari kamar mandi.
Aku dan cewek itu berbarengan melongok. Dan kami sama-sama  melongo setelahnya.
“Imbang?” sapa cewek itu. Ia melirik sekilas ke Dhienar, membuat kening Dhienar berkerut seolah menyimpan tanda tanya besar, koq bisa temannya itu kenal dengan aku.
“Ambar? gimana kabarnya?” balasku tidak bisa menyembunyikan rasa kaget yang sama. Dia Ambar, mantan pacarku waktu di SMU dulu. “Koq bisa ada di sini?” aku pun kebingungan mencari pertanyaan apa yang pantas aku ajukan.
“Kalian sudah saling kenal?” tanya Dhienar sembari melirik ke arahku, lalu ke Ambar.
Kemudian aku menjelaskan kalau aku sama Ambar dulu pernah satu sekolah dan sama-sama aktif di kegiatan Osis dan paskibra. Untung Dhienar tidak bertanya lebih lanjut, dan ia membiarkan aku dan Ambar bernostalgia masa smu dulu. Dhienar lebih senang meninggalkan kami dan tentu saja untuk menemani Barong yang sedang asyik dengan teman-teman Dhienar lainnya.
Tidak bisa dipungkiri, dadaku deg-degan juga begitu ketemu dengan Ambar. Bagaimana tidak, aku sama Ambar pacaran lebih dari 2 tahun. Dan kami putus hanya karena tidak mau menjalani hubungan long distance. Ambar waktu itu harus melanjutkan kuliah di Jepang sedangkan aku di Jakarta. Jadi boleh dibilang, mungkin perasaan cinta itu belum berubah seratus persen. Bisa jadi benih-benih cinta yang ada di dadaku, dan -aku juga berharap- di dadanya masih ada.
Ambar menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Aku tahu mata itu menyimpan kerinduan yang dalam. Seperti juga rasa kehilangan yang sudah sejak lama bersemayam di hatiku. Dan kini tanpa aku duga, aku seolah menemukan kembali mutiaraku yang hilang. Kalau ada cermin di depanku, mungkin aku bisa melihat garis melengkung ke atas di bibirku. Wajahku pasti bersinar karena bahagia. Seperti juga aku melihat rona wajah Ambar yang berseri.
“Aku kangen banget,” bisik Ambar.
Aku menggenggam tangan Ambar, seolah tidak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya. Ambar membalas dengan genggaman yang lebih erat. Sudah lama perasaan damai seperti ini tidak aku rasakan. Sudah bertahun-tahun aku mencoba membagi perasaan cinta ini pada beberapa perempuan, dan aku tidak pernah merasakan kehangatan seperti yang Ambar pancarkan.
“Aku juga, “ balasku lirih. Ambar tersenyum. Setitik air bergulir di matanya, dan aku tidak tahu makna dari tetesan air mata itu sampai seseorang datang, dan membuat Ambar terlonjak seraya melepaskan genggaman tangannya dariku.
“Makanan udah siap, honey,” tanpa memedulikan apa yang ia saksikan barusan, orang itu memeluk pundak Ambar dan mencium kepalanya. Ambar lalu berdiri sambil mengusap kedua kelopak matanya dengan jari-jari manisnya dan bertingkah seolah hendak mengikat rambutnya. Aku melihat sebuah cincin melingkar di jari manisnya itu.
“Ayo, Mbang, kita makan bareng,” ajak Ambar.
Aku mengangguk, mempersilakan mereka ke meja makan duluan.
Aku menghela napas berat. Heran, aku koq merasa belakangan ini Tuhan sedang mempermainkan perasaanku. Apa maunya Tuhan, aku sama sekali tidak mengerti. Apa yang sedang Tuhan rencanakan dengan hidupku. Akan dibawa ke mana kisah cintaku ini. Tapi apapun yang sudah Tuhan tulis dalam skenarionya, aku yakin pasti jalan cerita yang paling indah yang bakalan aku dapatkan. Semoga membahagiakan pada akhirnya, meskipun aku belum tahu pasti Cinta Ini Untuk Siapa.
Pertengahan tahun 2011

-oOOo-

Selasa, 01 Februari 2011

Lima Belas Hal yang Harus Diketahui Pemasar Super


Kalau Anda sudah membaca buku 'StrategeniuS' karangan Jeffrey J. Fox, pasti Anda akan temukan materi ini pada Bab 16 halaman 95.

Lima Belas Hal yang Harus Diketahui Pemasar Super
  1. Unsur tunggal yang paling penting bagi keberhasilan bisnis adalah memiliki konsumen. Konsumen lebih penting daripada ide bisnis, teknologi, keuangan, manajemen, atau hal lain. Para superstar pemasaran mendapatkan dan menjaga konsumen.
  2. Konsumen (orang) membeli agar merasa nyaman, atau untuk memecahkan persoalan. Konsumen menilai solusi persoalan dengan dua cara: sebagai pencegah kerugian, atau sebagai potensi memperoleh keuntungan. Kerugian yang dihindari atau keuntungan, dapat selalu dinyatakan dalam nilai dolar. Jadi, buiatlah orang merasa nyaman; beri mereka nilai dolar riil dan nyata yang lebih besar daripada harga Anda. Dengan begitu, niscaya Anda menjual sebanyak yang Anda hasilkan
  3. Orang tidak membeli produk. Mereka membeli apa yang mereka peroleh dari produk. Orang tidak membeli gergaji, mereka membeli fungsi pemotong. Orang tidak membeli klorin, mereka membeli kolam yang bersih. Juallah nilai dolar dari pemotongan yang akurat dan kolam yang bersih.
  4. Adalah tanggung jawab pemasaran untuk mendolarisasi nilai setiap manfaat produk dan setiap titik perbedaan (keunikan) produk.
  5. Pasar (konsumen) adalah siapa yang membeli.Produk adalah apa yang mereka beli. Aplikasi (manfaat dan kegunaan produk) adalah mengapa mereka membeli. Oleh karena itu, setiap strategi dan program pemasaran hars mengarahkan ketiga elemen siapa, apa, dan mengapa.
  6. Cara terbaik untuk memilah dan menyegmentasi konsumen untuk arah pemasaran adalah dengan mengelompokkan mereka sebagai 'pengguna yang tahu [produk kita]', 'nonpengguna yang tahu', dan 'mereka yang tidak tahu'. Cara terbaik adalah dengan bertanya kepada pengguna yang tahu (aware) mengapa mereka membeli, dan bertanya kepada nonpengguna yang tahu mengapa mereka tidak membeli. Kemudian rangkai jawaban-jawaban tersebut menjadi strategi untuk menjaga pengguna yang tahu, untuk mengubah nonpengguna yang tahu [menjadi pengguna yang tahu], serta untuk menarik dan mendapatkan mereka yang tidak tahu.
  7. Kualitas produk adalah tanggung jawab pemasaran
  8. Arahan dalam riset dan pengembangan adalah tanggung jawab pemasaran
  9. Penjualan adalah tanggung jawab pemasaran. Tugas pemasaran adalah menunjukkan pada tenaga penjualan ke mana mereka harus melangkah dan mempersenjatai mereka agar bisa menjual. Tugas manajemen penjualan adalah memastikan tenaga penjualan bergerak. Rekrutlah tenaga penjualan yang "berlari"
  10. Anda dapat meningkatkan pendapatan Anda hingga tak terbatas jika Anda melatih tenaga penjualan Anda merencanakan telepon penawaran, bagaimana mendengarkan jawaban konsumen setelah setiap pertanyaan diajukan.
  11. Tenaga penjualan akan sangat meningkatkan penjualannya jika melakukan  dua hal: (a) selalu tunjukkan pada konsumen nilai dolar dari manfaat produk selama penggunaan produk tersebut, dan (b) pada setiap telepon penawaran. mintalah pesanan, atau komitmen yang mengarah kepada pesanan.
  12. Tiga kata paling penting dalam strategi pemasaran adalah:eksekusi, eksekusi, dan eksekusi. Ide pemasaran adalah penting, begitu pula setiap detail dalam eksekusi ide tersebut.
  13. Merek adalah aset intelektual, sering kali lebih penting daripada aset nyata. Merek Coke, misalnya, lebih berharga daripada semua pabrik fisik dan aset perlatan Coca-Cola Company. Perlakukan merek besar seperti lukisan maestro; merek besar sangatlah berharga.
  14. Setiap produk diberi merek. Merek bisa berupa A280-16-2PD, nama merek yang buruk, tetapi tetap nama. Selalu gunakan nama merek yang baik, teruji oleh konsumen, dan sesuai strategi.
  15. Teknologi tidak menjual; pemasaran yang menjual. Persamaan untuk kesuksesan produk baru berbasis teknologi adalah 2% teknologi dan 98% pemasaran. Jangan bergantung pada teknologi baru yang fabtastis untuk dapat menjual dengan sendirinya. Tidak ada apa pun yang dapat menjual dengan sendirinya.
**
Untuk mengetahui strategi-strategi genius lainnya Anda bisa membaca dalam buku 'StrategeniuS' http://kamiluddinazis.blogspot.com/2011/01/strategenius-bikin-kamu-makin-jenius.html

Selasa, 25 Januari 2011

BUKAN PESTA BUJANG BIASA



BUKAN PESTA BUJANG BIASA


Xesofmine@yahoo.com, lalu kuketik 6 huruf lain yang segera berubah menjadi tanda bintang di layar komputer sebagai passwordnya. Setengah menit kemudian baru aku bisa melihat ada sekitar 7 email baru yang belum aku baca. Kucari tanggal paling akhir. Klik! Muncul deretan huruf italic :

Dear BX,
Gua gak sabar pengen cepet ketemu dan ngabisin malam sama elo. Kabari gua di 0812xx1260 malam ini juga, ya!
Da…
Kalau Cuma segitu, kenapa gak pake fasilitas inbox message di fs aja sih. Lalu aku beralih ke email lainnya.

Hallo BX,
Aku udah ikutin saran Kamu. Tokcer abis! Cewekku minta nambah! Makasih banyak, ya …!
Oya, kalo Kamu kasi alamat rumah or no telp Kamu, akan aku kirim gift. Itung-itung tip sebagai tanda terima kasih.
Kutunggu,
Mitos
Hemh, aku menelan ludah.  Rasanya tak ada yang pernah kulakukan sampai aku harus menerima ucapan terima kasih dari orang iseng seperti itu. Mana ya … batinku terus mencari satu-satunya email yang aku tunggu sejak seminggu kemarin.
Lalu aku iseng mengklik icon send/Recv dan satu detik memberiku keajaiban.
            Yess, gumanku!

BX, I miss U. I can’t stop loving U  …………….
Aku bener-bener gak tau harus ngapain waktu Kamu gak ada.
Aku.. aku...  MENCINTAIMU.
KTP2nait.
            Tanpa pikir panjang, kuarahkan mouseku ke kotak reply.

Hi,  Mulai besok, aku akan berkeeeelana ke tempat lain. Mungkin sesekali aku akan buka email dari Kamu. Tapi maaf aku tidak bisa membalasnya. Dan ini mungkin yang terakhir. Jadi setelah ini, Kamu boleh panggil aku XBX.
Oke!

            Lega rasanya. Melepas masa lajang dengan memberi tahu semua teman kencanku di internet. Aku bisa menghirup udara banyak-banyak, lepas dari penat yang selama ini menyesakkan.  Aku bisa teriak, lepas dari parau yang selama ini gatal.

            Besok aku akan menikah. Aku akan menjadi orang lain dengan melepas semua my crazy identity. Gila, Jova punya gelar baru: Suami, calon bapak, dan, ha..ha..ha.. XBX!        

            EGE: Emang Gua E G E!
            BX adalah singkatan dari ’Bujangan Keropos’ Biar lebih keren huruf K diplesetkan menjadi X, dalam situs pertemanan friendster orang mengenalku sebagai Mister BiEks, dan menobatkan aku sebagai problem solving, tempat mereka curhat berbagai macam persoalan, termasuk urusan cinta dan hubungan intim dengan pasangan. Untuk urusan terakhir ini kadang aku mengandalkan curhatan teman-teman lain yang sudah menikah seputar hubungan mereka dengan pasangannya. Medianya bisa melalui chatting, message box, atau jika pengen berkeluh kesah sehalaman penuh, kebanyakan dari mereka kirim aku email ke alamat yahoo-ku. Termasuk teman-teman kencanku di dunia maya tadi.
Dan karena aku sudah sangat jengah menghadapi banyak banget persoalan orang lain, aku memutuskan untuk hengkang dari dunia maya yang sebenarnya tidak terlalu memberikan manfaat yang berarti buatku. Good bye Xesofmine@yahoo.com, gue punya kandang baru, U’re death from now!
Bulan September, udara mulai dingin. Musim hujan akan segera tiba. Guyonan tentang kawin di musim hujan beberapa kali dilontarkan teman-teman kepadaku. Bagiku motivasi menikah bukan karena musim, atau sex yang sama sekali tidak ada relevansinya dengan itu. Pernikahan adalah suatu komitmen. Komitmen aku dan calon istriku untuk memulai hidup baru. Melupakan dan meninggalkan masa lalu. Sekelam apapun.
Pagi ini aku terima banyak sms dari teman lamaku. Entah dari siapa mereka tahu kalau aku akan menikah. Kebanyakan dari mereka mempertanyakan kesiapan aku, terutama kesiapan mentalku sendiri. Lucu, mereka sepertinya sedang bertanya pada diri mereka sendiri. Aku yang mereka kenal sebagai sosok konselor, malah diragukan!
“Jo, jadi entar malam ke New Puri? Anak-anak udah siapin pesta buat elo!”  Agil berteriak lewat ponselnya. Suara rem menderit terdengar di kejauhan. Disusul teriakan dan makian entah dari siapa. , Kampret, sompret, kemudian daftar penghuni kebun binatang diabsen satu-satu.
“Ogah ah, gua masih ada urusan. Gedung yang kemaren si Budi booking gak cocok buat acara gua. Jadi gua mesti cari lagi yang lebih oke,”  aku mencari alasan supaya selamat dari perbuatan jahil teman-temanku. Aku jadi ingat Jakarta Undercovernya  Moammar Emka. Pada satu bagian buku itu diceritakan tentang sebuah pesta yang diadakan oleh sekelompok remaja untuk melepas masa lajang salah seorang temannya. Ceritanya seru banget sekaligus menjijikan. Dan aku enggak mau menjadi korban, karena sudah bisa dipastikan teman-teman bakal mempersiapkan sebuah pesta gila untukku. The Crazy Bachelor’s Party.
“Payah, Lo, Jo! Temen-temen bisa marah, tau! Gini aja, gua jemput Lo jam sembilan, oke!”
Tut, telepon langsung mati.
“Siapa Mas?” Sambil menyodorkan secangkir teh hangat Anita menatapku penuh tanya. Anita adalah calon istriku. Calon menantu idaman setiap orang tua.
“Biasa, siapa lagi sih yang telepon aku, kalau bukan si Bayan, Mayong, paling si Agil. Gimana, enggak apa-apa dicancel?” aku mengalihkan pembicaraan ke topik lain.
“Mas kan sudah janji. Nggak bakalan jalan sama mereka lagi,” Anita kelihatan kecewa. Ia menyibakkan rambut depan yang menutupi sebagian wajahnya yang masih menyimpan curiga.
“Iya… Lagian aku kan udah bilang, aku udah bosan keluyuran gak puguh. Buktinya  barusan aku tolak ajakan Agil,” balasku gak kalah kesal.
Anita berubah menatapku lembut. Di bola matanya, Tidak sedikit pun kulihat keraguan. Ia bahkan sering mengingatkan aku untuk tidak selalu foya-foya. Apalagi dia banyak tahu tentang aku dari teman-temanku yang super ember.
Aku bertemu dengan Anita dua tahun yang lalu. Tetapi perasaan cinta baru tumbuh beberapa bulan belakangan ini. Dia adalah wanita yang mandiri, cerdas, supel, Kartini masa kini bagiku. Selain cantik, aku menyukai dia karena ia juga enak diajak ngobrol, tidak sombong, dan suka membantu orang lain. Anitalah yang membuka mata hati dan pikiranku untuk melihat masa depan.
“Mas, Mas tahu kenapa saya memilih Mas?” tanya Anita suatu waktu ketika kami baru beberapa bulan jadian. “Saya suka Mas karena Mas orangnya rame, ceria, nggak pernah kelihatan murung. Tapi juga cuek, gak peduli apa kata orang, pede abis pokoknya. Mas pinter, mandiri, selalu mendahulukan kepentingan keluarga. Aku salut sama Mas!” membuat hidungku kembang kempis menahan sipu.
“Kamu enggak takut sama aku? Kamu kan tahu bagaimana aku dulu,“ sempat tertahan pertanyaan itu di dadaku sampai akhirnya aku berani bertanya juga.
“Apapun yang teman-teman Mas atau orang lain katakan tentang Mas, aku gak begitu peduli. Yang penting Mas selalu setia, jujur dan sayang sama aku.”
Anita begitu sempurna, sehingga aku tidak perlu berpikir panjang untuk segera menyuntingnya. Yang lebih banyak aku pertimbangkan ialah bagaimana aku berusaha berubah untuk memperbaiki kelakuanku, kebrutalan dan keerroran sifat yang sedari dulu bebal. Barangkali ini akan menjadi bagian yang  paling sulit jika aku kelak hidup berumah tangga dengan Anita. Hanya Anita motivasiku untuk berubah. Cintanya yang begitu besar telah menghancurkan hatiku yang membatu.
-oOo-

Sebuah gudang tua. Aku pikir Agil akan mengajakku ke discotek tempat biasa kami dulu menghabiskan malam.  Paling tidak café tenda supaya bisa ngecengin ABG yang masih pake seragam putih abu-abu. Ternyata aku malah diajak ke tempat yang kotor dan lembab ini.
Tidak ada yang mencurigakan. Gudang ini sepertinya bekas pabrik penggilingan teh atau rempah-rempah semacamnya. Setelah aku masuk, kulihat banyak mesin tua yang sudah berkarat diselimuti sarang laba-laba tebal. Kalau siang hari barangkali kita bisa melihat debu bertebaran. Aku menyorotkan senter kecilku ke arah lain. Di sebelah kanan, kira-kira lima meter dari pintu masuk utama ada sebuah tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai di atasnya.
Ternyata lantai kedua juga dipenuhi mesin-mesin besar dengan tali-tali karet yang juga besar bergelantungan di sana sini. Hati-hati kunaiki tangga yang hanya terbuat dari kayu yang hampir lapuk . Aku semakin tidak mengerti mengapa Agil menyuruhku ke sini. Atau apa aku yang salah alamat?
“Agil……. Don ….. Doni …..” aku berteriak pelan memanggil teman-temanku. sambil terus mengarahkan senter ke sekeliling. Keringat dingin tiba-tiba membasahi badanku. Mudah-mudahan tidak ada kelelawar yang menabrakku. Atau …. Aku enggak tahu sejarah gudang tua ini, tetapi firasatku mengatakan ada yang aneh dengan tempat ini. Jangan-jangan ada penunggunya .. Hiyy…. Aku begiidik sendiri.
Dari pada berpikir yang tidak-tidak, aku memutuskan untuk kembali ke mobilku. Aku melompati tangga dua-dua, sehingga tanpa kusadari pijakanku meleset dan membuat tubuhku terpelanting ke bawah. Berbarengan dengan itu tangga kayu itu runtuh dan menimpa tubuhku. Aduh …. Punggungku sakit sekali.
Sialan, Agil gila! makiku. Mana senterku? tanganku meraba-raba lantai tempat aku terjatuh. Tanganku berhenti meraba karena benda yang tadinya kukira senter, terasa lembut dan dingin.
“Ngapain Lo di sini?” Sebuah suara serak terbata membuat detak jantungku semakin kencang. Aku mencari arah suara yang di kupingku terdengar seperti desahan seorang wanita yang kesakitan.
“Mey?” aku segera bangkit dan hampir tidak percaya dengan apa yang telah kulihat. Mey menatapku dengan mata menyala. Bukan seperti mata Mey yang pernah kukenal. Kali ini matanya seperti menyimpan kebencian yang sangat dalam.
Rambut Mey terurai. Sama seperti pada saat aku membelainya dua tahun yang lalu. Saat itu aku terpaksa harus meninggalkan Mey. Bukan sepenuhnya salahku, karena aku juga tahu kalau Mey sudah tidak mencintaiku lagi. Tetapi rambut Mey yang dulu tidak bercahaya seperti sekarang.
Aku mundur beberapa langkah karena aku yakin perempuan ini bukan Mey. Entah siapa. Yang penting aku harus menghindar darinya.
Tangan Mey menggapai-gapai berusaha meraihku. Ia diam di tempatnya, tetapi tangannya terus mengikuti aku, semakin panjang, dan panjang. Aku berlari ke arah pintu masuk tadi, tetapi pintu itu tiba-tiba tertutup dan menimbulkan  suara yang sangat mengagetkan. Dan yang lebih mengagetkan lagi, di balik pintu itu sudah berdiri seorang perempuan dengan pakaian dan wajah yang serba merah. Matanya, pipinya, bibir, juga rambutnya, semua merah. Gaun yang dikenakannya begitu panjang hingga menyapu hampir semua lantai gudang ini.
“Jova, masih ingat aku?” bisiknya.
Marina! Pekikku dalam hati. Marina adalah gadis tionghoa yang aku pacari selama pesta perayaan tahun baru imlek, kapan ya? Emh.. waktu aku masih duduk di bangku SMU. Tujuh tahun yang lalu. Bisa dibilang ia cinta pertamaku sejak aku bosen mengenyam cinta monyet di SMP. Tetapi kenapa ia ada di sini, dengan pakaian dan dandanan seperti itu, lagi.
“Marina, bukannya Kamu lagi ada di Singapore?” tanyaku tergagap. Marina tidak menunjukkan ekspresi sedikit pun. Dia malah pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Aku menepuk-nepuk dan mencubiti pipiku. Apakah aku sedang bermimpi? Aku bisa merasakan sakit, berarti aku tidak sedang bermimpi. Tolong…. Tolong ….. Agil …. Mayong …..  aku terus berteriak walau suaraku terasa habis. Tanganku berusaha menggapai apa saja, karena seperginya Marina gudang menjadi gelap kembali.
Aku kembali dikagetkan oleh suara gaduh. Kali ini berasal dari luar gudang. Aku melihat sedikit cahaya. Aku mendapatkan peti kayu dan aku gunakan peti itu sebagai tangga, sehingga aku bisa berdiri dan mengintip apa yang terjadi di luar dari balik ventilasi. Rupanya cahaya itu berasal dari api pembakaran ban. Ya Tuhan, siapa mereka? Aku menghitung dalam hati tujuh orang Apa yang sedang mereka lakukan di atas mobilku. Ban mobilku ….
Aku mencium bau asap yang semakin menyesakkan. Seseorang sambil memegang botol minuman melemparkan sebuah ban lain ke arah temannya untuk ditumpuk di atas ban yang sudah hampir meleleh. Tidak lama kemudian api itu  semakin besar. Hey … hey … aku sama sekali tidak bisa berteriak. Tetapi sepertinya mereka mendengar teriakanku. Beberapa orang melambaikan tangannya ke arahku.
Sebentuk bibir perempuan seperti sedang mengucapkan kata sayang, Jova, sayang, Jova  terus seperti itu berulang ulang. Aku melihat pria dengan setelan jas mengacungkan gelas minumnya ke arahku. Mari bersulang sobat! Itu kata-kata yang biasa diucapkan Rivan. Ya benar itu Rivan!  Rivan … buka pintu, Lo lagi pada ngapain?
Aku terus menggedor-gedor pintu gudang yang terkunci sampai pintu itu tiba-tiba terbuka sendiri. Tetapi ketika aku  hendak berlari keluar gudang, kepalaku membentur sebuah benda yang menggantung. Bukan, bukan sebuah benda, tetapi tubuh seseorang yang tergantung. Aku berteriak sekencang aku mampu, tetapi tidak ada siapapun di sekitarku. Ke mana orang-orang yang tadi berpesta di atas mobilku. Kemana Rivan dan orang-orang itu.
“Jova… ini aku Ariska ….” pekik perempuan yang melayang di atas kepalaku.
Tidaaaaaaaakkkkkk. Aku berteriak sampai pita suaraku terasa putus.
Gelap masih memenuhi penglihatanku.
“Mas … mas… kenapa …..?” Anita memeluk tubuhku yang penuh dengan keringat. Kemudian dengan sigap ia memberiku segelas air putih hangat. “Minum ini Mas, biar tenang!” pintanya dengan lembut.
Aku masih merasa tegang. Kejadian yang aku alami tadi belum sepenuhnya hilang dalam ingatanku. “Aku ..  aku .. bermimpi Anita, maafkan aku…!”
“Mas pulang malam sekali. Mabuk lagi! Untung Mas Bas mau nganterin Mas pulang,” balas Anita.
“Bas, Basuki maksudmu …Bagaimana .. aku,  berarti aku tidak bermimpi, Anita.” Aku tidak percaya dengan apa yang sudah kualami semalam.
“Sudahlah Mas, sekarang Mas mandi, teman-teman Mas sudah menunggu di ruang tamu. Kita makan bersama. Kata mereka sih ini pesta lajang kita, karena semalam Mas tidak mau diajak pesta sama mereka.”
Ha…? Aku tidak langsung ke kamar mandi seperti yang disarankan Anita, tetapi segera ke ruang tamu untuk menemui teman-temanku.
Surprisse!!!” teriakan kompak membuatku tercengang.
“Halo Stupid!”
“Hai Jagoan....”
“Apa kabar penakut!”
“Agil sayang, masih ingat aku?”
Gila… ulah siapa ini! Dari mana makhluk-makhluk aneh ini semua datang. Agil, Mayong, Doni, Rivan, teman lamaku. Ariska, Marina, Lutie, Mey, dan banyak lagi, cewek-cewek yang pernah jadi pacarku semuanya ngumpul di ruang tamu.
“Udah .. udah… yang lain makan duluan deh kalau udah lapar. Kalau mau nunggu calon penganten kita, minum aja dulu, atau ngapain deh terserah. Biarin Jova, calon raja sehari kita narik napas dulu biar bisa mandi dan nemenin kita. Okey!”
Agil menarik lenganku sambil tertawa cekikikan. “Sorry Friend, Lo pasti kaget setengah mati…… abis lo nolak ajakan gua ke dugem sih! Padahal Lo tau itu untuk yang terakhir kali. Minggu depan gua udah masuk Fakultas Studi Islam di Quwait. Maafin gua ya ….. masih kerasa merindingnya? Ha .. ha.. ha… ” Agil terus nyerocos membuat kupingku berdengung.
”Tapi gua udah ada izin dari Anita lho!” Agil menunjuk calon istriku dengan sudut kelopak matanya yang agak sipit.
Anita menghampiriku. “ini handuknya, Sayang. Mau sekalian aku mandiin untuk menebus rasa salahku?” sebuah kecupan manis mendarat di pipiku.
“Ehem …. Gak bau tuh!” ledek Rivan sambil melempar kulit kacang goreng ke arahku. Anita menggiringku yang super bete ke kamar mandi.

* * 2003**
Saat facebook belum seheboh sekarang..

-oOOo-