Senin, 01 April 2013

KIMI GA DAISUKI DESU


KIMI GA DAISUKI DESU


Aku memasang penutup kepala dari jaket tebal yang kukenakan, saat butiran salju menerpa wajahku. Dingin menusuk hingga ke persendian tulangku.  Tapi aku tetap berdiri dengan khusyu diantara belasan orang yang juga tengah tertunduk dalam doa. Chichi[1] yang berdiri di samping haha[2] melirik ke arahku. Bening matanya seolah bisa menangkap gurat kesedihan yang tergambar di wajahku. Aku membalas tatapannya dengan seulas senyum, lalu kembali larut dalam khidmat doa yang kulantunkan dalam hati untuk obaasan[3] tercinta.
            Dua tahun sudah beliau wafat. Bersama dengan ratusan orang lain, tubuh ringkihnya tak pernah lagi ditemukan setelah tersapu badai tsunami yang melanda Jepang 11 Maret 2011. Saat itu adalah awal musim semi yang indah. Ayah dan Ibu berencana mengajak kami liburan  ke sini. Kami akan merayakan Hari Ekuinoks Musim Semi[4] dan melakukan upacara Shunki Higan-e[5]  di makam okaasan[6]. Tetapi tepat sepuluh hari sebelum botamochi[7] kami sajikan di altar keluarga, bencana dahsyat itu terjadi. Seluruh dunia pasti tahu karena televisi menyiarkannya secara ekslusif siang dan malam. Kami yang berada di Indonesia hanya bisa menangisi kepergian nenek tercinta yang sangat mendadak itu.
            Di sini, di depan sebuah Tugu Peringatan Tsunami di Perfectur Miyagi mataku menggenang. Rintik hangat mulai berjatuhan dari sana, menelusuri palung wajahku yang berusaha tegar setiap mengingat kejadian itu. Kepedihan seperti tak pernah hilang dari diriku. Bayangan wajah nenek selalu menarikku pada masa-masa indah saat beliau masih ada. Saat liburan musim semi ataupun musim gugur yang selalu kami lewati bersama. Tapi, sudah tiga tahun ini kami tak pernah merayakan higan bersamanya. Ayah dan Ibu hanya mengajakku setahun sekali ke Jepang, itupun untuk melakukan ziarah pada leluhur kami yang sudah tiada. Selebihnya, kesibukan mereka mengurus restoran Jepang di Indonesia telah menenggelamkan kehidupan mereka masing-masing.
            “Hana, kamu kenal anak laki-laki itu?” bisik ayah membuat kelopak mataku perlahan membuka, dan mengikuti arah yang ditunjuk dagunya.
            Sedikit kupicingkan mataku, berharap bisa mengingat cowok jangkung dengan rambut coklat lurus agak gondrong, seadainya aku memang pernah mengenalnya. Tapi kepalaku repleks menggeleng, seolah memberikan jawaban atas pertanyaan ayahku.
            “Setahun yang lalu, bukannya dia ngobrol sama kamu di sini?” sambung ayah masih dengan bisik paraunya.
            Aku memutar memoriku sesaat, lalu ingatanku terdampar pada 11 Maret tahun lalu. Iya, cowok itu juga berada di depan tugu ini, berdiri dan khusyu berdoa. Kalau tidak salah, ia kehilangan ayah dan ibunya pada saat bencana itu terjadi. Tapi sepertinya cowok itu sudah banyak berubah. Tambah tinggi, berotot,  dan semakin … hansamuna[8].
            “Hai…,”  suara bernada bass menyedot lamunaku. Aku mendongak dan sedikit tersentak saat cowok itu tiba-tiba sudah berdiri tidak jauh dariku. Ia menyapa dengan senyum lebar yang membuat wajahnya semakin tampan.
            “Kenji Himura?” Entah kenapa nama itu terlontar begitu saja. Nama itu seolah hanya dimiliki oleh satu orang sehingga dengan mudah aku bisa menghafal dan menyebutkannya pada orang yang tepat. Tentu saja, selama lima tahun tinggal di Indonesia, tak ada seorang pun temanku yang memiliki nama seperti itu.
            “Ya, it’s me. Hana-chan, genki desu ka[9]?” tanya Kenji seraya memamerkan barisan gigi putihnya. Matanya menyipit membuatnya tampak semakin cute. Aku tersanjung, karena ternyata ia masih ingat namaku.
            “Aku baik, kamu gimana?” jawabku sekalian bertanya, dalam bahasa Indonesia. Aku ingat waktu itu ia memintaku mengajarkan satu-dua kalimat dalam bahasa Indonesia. Aku yakin Kenji juga pasti ingat itu.
            “Baik-baik…,” nyaris ia menderai tawa senang kalau saja tidak ingat di mana kami berada. “Shibaraku deshita![10]      
            “Iya, setahun nggak kerasa, ya?” bisikku sambil mencuri pandang ke arah Ayah. Ayah menganggukkan kepala, seolah memberi izin kepada kami untuk meninggalkan tugu. Aku dan Kenji lalu berjalan ke arah sebuah pohon sakura dengan bunga-bunga putih dan ungu muda  yang  masih kuncup.     
             “Aku sudah bisa bicara bahasa Indonesia sekarang. Sedikit-sedikit tapi,” lanjutnya girang. Kenji memang  pernah bilang  kalau ia ingin sekali mengambil kuliah sastra Indonesia jika sudah lulus SMA nanti. Dan aku saat itu menyarankan untuk membeli buku-buku berbahasa Indonesia, bahkan aku memberikan novel remaja yang sengaja kubawa untuk teman dalam perjalananku, padanya. Kenji tampak senang sekali. Hanya saja, karena terburu-buru, perkenalanku dengannya tidak berlanjut. Kami lupa saling tukar nomor telepon ataupun akun di situs pertemanan. Tetapi beruntung sekali Tuhan mempertemukan kami kembali di sini.
            Obrolan pun berlanjut hangat. Aku menceritakan bagaimana serunya melewati masa-masa SMA-ku di Bandung, dan Kenji juga bercerita tentang kegiatannya di SMA Yamoto. Sesekali kami tertawa karena mencampur-adukkan bahasa Jepang dan Indonesia dengan bahasa Inggris saat kebingungan mencari kata yang tepat. Tapi karena tampaknya Kenji sangat pintar, jadi ia bisa dengan cepat merespon apapun tema pembicaraan yang aku lontarkan dalam bahasa Indonesia. Kulihat kesedihan di matanya perlahan memudar.
*
Sore harinya kami janji bertemu di depan sebuah kafe, tidak jauh dari hotel tempatku menginap. Dari sini kami akan pergi ke Sendai Mediatheque yang kebetulan bisa diakses dengan berjalan kaki. Aku penasaran dengan cerita Kenji yang selalu membangga-banggakan museum pusat seni dan film terhebat di Miyagi yang luput dari terjangan tsunami saat itu. Sayang, aku hanya mengambil izin sekolah tanggal 11 saja, jadi besok yang kebetulan merupakan hari libur nasional di Indonesia kami harus pulang karena lusanya aku harus kembali sekolah.
            Kenji datang dengan switer putih dan topi rajut coklat menutup kepalanya. Rambut gondrongnya menyembul ke depan dan samping. Senyumnya mengembang saat matanya beradu pandang denganku.
            “Maaf ya, lama,” ucapnya dengan nada menyesal.
            It’s okey. Arukimasho[11]! Nggak jauh kan?” ajakku.
            Chikai desu[12], kita bisa jalan-jalan sambil menikmati cuaca sore ini. Kamu sudah cek ramalan hari ini, kan?” balas Kenji sambil mengiringi jalan di sampingnya.
            “Iya sudah,“ sahutku. “Cuaca sangat mendukung. Mantap!”  lanjutku membuat kening Kenji berkerut. Sepertinya ia tidak begitu paham maksudku.
            Angin lembut memainkan anak rambutku yang menjuntai dari balik topi jaket yang menutupi kepalaku. Sayang aku hanya bisa melewati bangunan segi empat transparan yang terkenal itu, dan tak bisa masuk ke sana. Ayah hanya memberiku izin beberapa jam saja untuk keluar dan menikmati cuaca indah sore ini. Tapi sore ini aku bisa menikmati pemandangan indah bunga sakura yang mulai bermekaran di sebuah taman. Aku tak segan meminta Kenji mengabadikan gambarku diantara bunga-bunga aneka warna indah itu dengan kamera analog yang kubawa. Aku tersenyum lebar dan bergaya ala model. Kenji tertawa melihat kelakuanku yang kekanak-kanakkan. Lalu aku pun meminta ia berfose diantara hujan salju yang luruh perlahan saat ranting-ranting pohon sakura kusenggol dengan tubuhku. Kenji melompat, menghindari butiran salju mengenai tubuhnya. Ia mengejarku karena tak berhasil melakukan hal yang sama padaku. Kami tertawa seperti anak kecil yang sudah lama tak bertemu dan tak ingin berpisah lagi. Setelah lelah saling kejar, kami lalu duduk di atas bangku taman yang dikelilingi pohon sakura berwarna putih kemerahan.
            “Hana… Kamu tahu, sejak pertemuan kita tahun lalu, aku tidak bisa melupakanmu,” ucap Kenji sambil menatap mataku. Di bawah alis tebal yang meliuk sempurna itu aku melihat pancaran bola yang berkilat menyejukkan.
            Aku tersentak mendengarnya. Tak kusangka obrolan singkat kami waktu itu bisa menyimpan kesan mendalam buat Kenji.
            “Bodohnya aku saat itu karena tak sempat meminta nomor teleponmu. Jadi kita bisa saling berhubungan lewat telepon, atau melalui email,” lanjutnya.
            “Aku tidak tahu, kalau saja aku tak bertemu denganmu saat itu, mungkin hari ini aku tidak akan pernah ada di sini. Kata-katamu menguatkanku. Kehilangan bukanlah sebuah perpisahan, Kenji. Tapi itu adalah cara Tuhan agar kita bisa menunjukkan cinta kita dan membalas cinta mereka yang meninggalkan kita. Kehilangan adalah cara terbaik untuk belajar lebih kuat dan tangguh dalam menghadapi hidup ini. Kamu bicara seolah umurmu lebih tua daripada aku. dan aku merasa sangat tak berguna karena sempat berpikir untuk mengakhiri hidupku. Aku tak lagi pernah merasa punya arti bagi siapapun.”
            Aku terpaku mendengar pengakuan Kenji. Kehilangan ayah dan ibu dalam waktu yang bersamaan membuat Kenji sangat terpukul. Apalagi tidak ada sanak familinya yang juga selamat, harta dan tempat tinggal pun musnah. Sejak kejadian itu Kenji tinggal bersama para pengungsi dari Fukushima yang terkena efek radiasi nulkir di daerah Iwate. Ia baru bisa bersekolah kembali setelah setahun berlalu. Tetapi trauma itu masih sulit lepas dari hidup Kenji. Dan pertemuan kami saat itu ternyata sangat berarti baginya.
            “Hana…, aku benar-benar berharap bisa terus bersamamu. Menikmati indahnya musim semi dan kuncup sakura, meramaikan karnaval selama liburan musim panas, atau berfoto-foto di bawah pemandagan momiji yang indah, dan bermain ski saat musim dingin tiba. Tapi itu tak mungkin. Kamu punya kehidupan yang nyaman bersama keluargamu di negeri katulistiwa. Sedangkan aku…,” Kenji tertunduk. Memainkan butiran saldu yang luruh lembut di lahunannya.
            “Kenji,” suaraku sedikit bergetar. Kuraih tangan cowok yang dibungkus sarung tangan lembut berwarna coklat muda itu. “Aku mungkin lupa pernah bilang apa sama kamu mengenai rasa kehilangan, perpisahan, ataupun kesedihanmu. Tapi aku melihat Kamu jauh lebih kuat melebihi bayanganmu sendiri. Sejauh ini, Kamu sudah melewati masa-masa sulit dengan sangat tegar. Aku, atau orang lain belum tentu mampu melakukannya.” Aku berusaha tersenyum, dan mencoba meresapi apa yang Kenji rasakan. Sebuah harapan dan keinginan yang entah dia ataupun aku bisa mewujudkannya. Hatiku tiba-tiba diliputi sebuah perasaan aneh. Pelan, namun pasti, rasa itu seperti merambat  melalui pembuluh darahku. Hangat menyelimuti hatiku. Aku tak tahu apakah Kenji bisa merasakan itu saat ia menatap wajahku tanpa kedip. Aku yakin, rona merah membundar di pipiku.
            “Kamu baru enam belas tahun, sedangkan aku dua tahun lebih tua darimu. Tapi pemikiranmu sudah sangat matang. Aku malu sekaligus salut sama kamu, Hana,” desisnya tulus.
            Aku semakin yakin kalau kini pipiku lebih merah daripada sebelumnya, sebab perasaan panas kembali bergelora di dada ini. Kata-kata Kenji ibarat pujian, rayuan, atau entah istilah apa yang tepat, yang telah membuatku terbuai. Bunga sakura dan rinai salju yang turun menjadi saksi rasa ini. Senyum dan tatap mata Kenji seketika membuat dadaku bergemuruh hebat. Tak pernah aku merasakan semua ini saat aku bersama cowok lain. Aku takut. Aku takut malah membuatnya merasakan kembali kehilangan itu. Atau justru aku yang kini akan merasakannya?
*
            Kenji masih mematung memandangku. Tatap matanya yang sayu dihias senyum sangat menawannya, sungguh menghanyutkanku. Aku tak tahu apakah keindahan bunga sakura di musim semi bisa mengalahkan binar lembut dan senyum merekah di wajah Kenji.
            “Jangan melihatku seperti itu dong,” pintaku tak kuasa menahan malu karena tingkah Kenji selama di taman tadi. Aku merapatkan jaketku, berharap dingin tak lagi mengusikku.
            “Terus terang, aku tak ingin kamu pulang besok. Dan aku tak mau menunggu setahun lagi agar bisa bertemu dengamu,” ucapnya lirih. Bibir tipisnya yang merah bergetar. “ Kimi ga daisuki desu [13], Hana-chan.”
            Dalam sepersekian detik, jantungku berhenti berdetak saat Kenji mengutarakan kalimat itu. Kimi ga daisuki? Apakah ia benar-benar menyukaiku? Apakah ia hanya menebak-nebak perasaanku padanya saja? Aku juga suka sama kamu Kenji. Aku tak tahu apakah makna ‘suka’ sama dalamnya dengan makna ‘cinta’ yang kurasakan? Ini di Jepang, Hana, hatiku berbisik. Tak akan ada cowok yang menyatakan cinta padamu sampai ia benar-benar yakin kamulah yang akan ia jadikan pendamping dalam hidupnya. Tak aka nada aishiteru[14], karena untuk remaja yang sedang dimabuk cinta, kimi ga daisuki atau suki deshita adalah kata-kata paling romantis buat mereka.
            Kalau saja bukan Kenji yang menyatakan sukanya duluan padaku, mungkin aku yang akan melakukannya. Apalagi jika aku dan dia satu sekolah, aku berani meminta daini[15] kedua seragam sekolahnya. Mungkin Kenji tak akan sungkan melepas kancing seragam sekolahnya dan memberikannya. Karena aku yakin dia memang menyukaiku.
            Senja di Miyagi mungkin tak akan seindah ini lagi setelah aku kembali ke Indonesia. Tapi aku janji, Kenji tak akan lagi melewati malam dan dingin seorang diri. Meskipun jauh, kami masih bisa bertukar canda dan tawa. Saling memberi gambar terbaru untuk mengobati rindu manakala kami belum tentu bisa bertemu. Mungkin tahun depan aku akan kembali ke Tugu Peringatan Tsunami di Miyagi dan bertemu dengan Kenji, lalu berjalan-jalan mengitari Sendai Mediatheque dan menikmati setiap karya seni spektakuler yang dipajang di sana. Atau saling lempar butiran salju yang berguguran menerpa wajah dan tubuh masing-masing. Tertawa dan kembali menyatakan suka satu sama lain. Dan merasakan kembali debar-debar indah saat Kenji menyatakan sukanya padaku.
            Atau… mungkin Kenji yang jutru berkunjung ke Indonesia. Ke Dago Bandung dan menikmati minuman hangat dari jahe di sana bersamaku. Aku akan menyuapinya jagung bakar yang sudah dilumuri saus pedas hingga membuat mata indah Kenji mengerjap-ngerjap kepedasan. Tapi sejujurnya, aku ingin kembali ke Miyagi, menikmati indahnya suara Kenji saat bilang Kimi ga daisuki.
*




[1] Chichi = Ayah
[2] Haha = Ibu
[3] Obaasan = Nenek
[4] Hari Ekuinoks = Hari libur resmi di Jepang yang di rayakan pada 20 Maret atau 21 Maret untuk Musim Semi, dan tanggal 23 September untuk Musim Gugur sebagai ucapan rasa syukur kepada Tuhan
[5] Shunki Higan-e = Higan (Ziarah) Musim Semi  ke makam-makam para leluhur
[6] Okaasan = Kakek
[7] Botamochi = Makanan yang terbuat dari beras ketan dan selai kacang merah yang dijadikan sebagai sajen untuk acara higan
[8] Hansamuna = Tampan
[9] Genki desu ka? = Apa kabar?
[10] Shibaraku deshita!=Sudah lama, ya tak bertemu!
[11] Arukimasho = Ayo kita jalan
[12] Chikai desu = dekat
[13] Kimi ga daisuki desu = aku suka sama kamu
[14] Aishiteru =   aku cinta padamu
[15] Daini = Kancing

Minggu, 03 Maret 2013

Cuplikan Novelet "Titisan" karyaku dalam buku "Cinta : Kemarin, Esok, dan Selamanya"



Mata Ketiga


S
unyi terasa sangat menyiksa. Usai pengajian bapak-bapak sekampung di rumahku, suasana rumah yang tadinya ramai dengan bacaan Al-quran dan doa-doa, seketika senyap. Aroma makanan bercampur wangi-wangi pembakaran dupa membuat kepalaku pening. Semakin pening. Aku mencoba merebahkan tubuhku di atas dipan, sambil memegang sebuah benda, yang Baping tunjukkan sebagai benda pusaka berkekuatan gaib. Benda itu tersimpan di dalam kotak hitam, yang Bapak serahkan kemarin sore. Aku tidak berani menatapnya terlalu lama. Aku takut kalau aku akan mengalami kejadian serupa seperti malam kemarin. Tersedot ke dalam cahaya yang menyilaukan, lalu terdampar pada masa silam.
Aku mencoba memejamkan mata, tetapi berkali-kali gagal. Kepalaku masih terasa berat. Kumainkan benda kecil berbentuk batu berwarna hijau ini, dengan ujung jemariku. Aku berhitung mundur dari seratus, berharap otakku kan lelah, sehingga kantung mataku memberat. Tetapi pandanganku malah semakin tak menentu. Tiba-tiba ujung langit-langit kamar seperti menggulung ke arahku, lalu menindih dan membuatku sesak. Dinding kamar serempak menghimpitku dari semua arah. Napasku seolah hendak direnggut dari tubuhku. Aku berusaha mati-matian mempertahankan ragaku, dengan menutup mulut dan menahan napasku. Pikiranku berkecamuk hebat. Apakah ini saatnya manusia hendak dicabut nyawa oleh malaikat. Tapi mana malaikat itu? Aku tidak melihat bayangan putih ataupun hitam di sekelilingku. Aku mencoba menjerit, berharap akan ada orang lain yang mendengar. Mungkin Bapak atau adik-adikku akan datang menolong. Tapi suaraku tercekat, tidak sepatah katapun terucap, apalagi sebuah jeritan. Aku bahkan lupa harus memanggil nama siapa, supaya seseorang bisa datang menolongku.
“Delia….” Akhirnya sebuah nama terucap dengan jelas. Tiba-tiba semua kekacauan itu hilang. Langit-langit tampak kembali menggantung dengan rapi pada tempatnya. Dinding kamar tidak lagi menjepitku. Aku bernapas lega, sambil menyandarkan punggungku ke tembok kamar. Keringat bercucuran dengan derasnya.
Aku tidak tahu kenapa nama Delia yang terucap di saat-saat seperti itu. Apakah ini menandakan kalau gadis porselen itu dewi penolongku? Entah kenapa, aku kembali teringat pada Laila yang memiliki rupa cantik seperti Delia. Kenapa Baping tidak memperjuangkan cintanya, hingga mereka bisa menikah. Apakah aku dan Delia juga memiliki perasaan cinta yang sama seperti mereka. Apakah aku harus menjadikan Delia sebagai pasangan hidupku, agar aku bisa melepas hal-hal mistis yang selama ini melekat dalam tubuhku? Aku ingin bersatu dengan Delia, tapi tidak sekadar agar aku bisa lepas dari kutukan ilmu warisan itu. Delia terlalu baik untuk kujadikan satu-satunya alasan agar aku bisa terbebas dari ilmu-ilmu pesugihan atau apapun namanya itu. Aku hanya ingin menikahinya karena cinta. Atau kalaupun harus meninggalkannya, juga karena cinta.


Delia duduk di hadapanku, dengan lengkung senyum yang mampu meluluhkan hati setiap lelaki yang melihatnya. Tak terkecuali aku. Binar mata dengan kelopak bundar dibingkai bulu mata yang lentik, selalu membuat aku tak berdaya untuk menatapnya lebih lama. Ada desir aneh setiap kali mata kami beradu. Delia, begitupun aku, akan langsung membuang muka jika kedapatan secara tidak sengaja saling melempar pandang.
Daun-daun pohon cemara saling berbisik, seperti menertawakan kecanggungan yang tiba-tiba membelenggu kami. Taman luas ini membisu. Apapun yang ada di sana, dengan hidmat menunggu apa yang akan terjadi: jika dua manusia berlainan jenis duduk berhadap-hadapan di sebuah bangku tua di tengah-tengah mereka.
So, apa yang mau kamu ceritakan tentang nenekmu itu, Del?” tanyaku memecah kesunyian yang tercipta di antara kami. Delia dan aku janji ketemu di taman ini, untuk membahas pembicaraan kami yang belum tuntas malam itu.
Delia menghela napas dan siap bercerita. “Setelah merelakan pernikahan kakekmu, nenekku hidup membujang cukup lama. Suatu waktu, ia bertemu dengan seorang laki-laki keturunan Belanda dan menikah dengannya. Lalu Nenek pindah ke daerah Jawa, dan bersama suaminya mengurus perkebunan teh warisan keluarga. Tapi pernikahan mereka tidak berlangsung lama karena setahun setelah papiku lahir, Kakek meninggal dunia. Nenekku membesarkan Papi seorang diri, hingga akhirnya seluruh perkebunan itu menjadi warisan papiku. Papi pernah bercerita; kalau ia menemukan foto seorang laki-laki yang beberapa waktu kemudian ia ketahui sebagai Baping, mantan kekasih Nenek. Menurut cerita Papi: Nenek bilang, Baping itu orang hebat yang tidak ada tandingannya. Tapi Nenek tidak pernah menceritakan kemungkinan yang terjadi kalau mereka menjadi pasangan suami istri. Hanya saja adik sepupu Nenek yang masih hidup, pernah bercerita kalau Nenek masih menyimpan perasaan cinta terhadap Baping dan ingin terus melindunginya dari pengaruh buruk yang bisa mencelakakannya. Sepupu Nenek bahkan bilang kalau….”
“Kalau apa, Del?” tanyaku saat kalimat Delia menggantung cukup lama.
“Kalau…, ada keturunan Nenek yang berjodoh dengan keturunan Baping, maka kejadian yang sama akan terulang. Salah seorang titisan terpilih Baping akan menjadi penerus ilmunya. Dan kemungkinan keturunannya itu akan mengalami kesulitan hidup yang cukup besar, karena ia menghadapi permasalahan dunia yang jauh lebih berat. Ia tidak akan sanggup melewatinya sendirian, kecuali dia menikah dengan….”
“Cucunya Laila?”
Wajah Delia memerah. Semburat berwarna pink muncul di pipinya. Bola matanya meredup dan ia menggigit bibir bawahnya seperti yang biasa dilakukan seorang gadis, saat  diliputi perasaan cemas, malu, atau merasa ada sesuatu yang salah dengan ucapannya.
“Iya kan, Del?” ulangku.
Delia mengangguk. “Ndra… aku rasa, kita sudah sama-sama dewasa dan memahami apa arti semua ini.”
Sunyi kembali menjadi satu-satunya irama yang menyatukan kedekatan kami. Aku, bahkan tidak tahu apa lagi yang hendak kutanyakan mengenai kehidupan Laila dan keturunannya. Apakah benar kedekatanku dengan Delia merupakan sebuah pertanda kalau kami memang berjodoh. Dia satu-satunya keturunan perempuan Laila yang usianya sebaya denganku. Dan aku, adalah cucu Baping yang mewarisi ilmu kedigjayaan itu. Apakah Delia memang tercipta untuk menjadi pendamping hidupku.
“Aku… Delia, kamu tahu kita sahabatan sejak kecil. Kita sudah sama-sama mengenal sifat dan watak satu sama lain. Apakah kamu merasa kalau dirimu menyimpan sebuah perasaan khusus padaku? Maksudku, apakah akan sama jadinya jika kita menjalani hubungan ini, selain sebagai sahabat?”
Aku bisa mendengar Delia menghela napas, sesaat sebelum jari-jemari lembutnya meraih jemariku. Perasaan hangat menjalar melalui sentuhan kulit, juga lewat tatap matanya yang menyejukkan.
“Aku memiliki perasaan khusus itu, Ndra. Apakah kamu tidak merasakannya?” bisik Delia, nyaris tak bisa kudengar. Suaranya berubah parau. Genggaman jemarinya semakin kuat, seolah itu membuktikan kesungguhan ucapanya.
Aku sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan Delia yang begitu tiba-tiba. Atau apakah aku tidak memiliki perasaan yang sama dengan Delia. Mencintainya bukan hanya sebagai seorang sahabat? Desir-desir aneh merasuki jiwaku. Nadiku bergejolak seirama detak jantungku yang berlompatan.
“Aku…,” berkelebat kembali kenangan-kenangan masa kecil kami. Sepulang sekolah selalu bersama. Sesekali mengerjalan PR sambil menikmati coklat hangat di gazebo rumah Delia. Menikmati hujan dan banjir yang kadang menutupi sebagian taman pinggir sungai, bermain ayunan, dan saling dorong bergantian. Lalu pertemuan yang sedikit jarang, komunikasi lewat telepon seluler dan jaringan internet. Beberapa tahun terakhir ini memang agak lebih intens bertemu. Kami bisa berdiskusi kembali tentang isu-isu sosial yang marak dibicarakan: tentang politik, tentang kecelakaan pesawat, tentang novel-novel yang sedang Delia tulis. Tentang apa saja. Tetapi belum pernah sekalipun kami membahas masalah cinta, rindu, atau perasaan-perasaan khusus satu sama lain. Bertahun-tahun perasaan aneh itu kami jaga, supaya tidak ada seorang pun yang tersakiti karenanya.
Tapi sekarang apa yang terjadi? Masing-masing dari jiwa kami bergejolak, hingga meletup juga perasaan yang tersimpan rapi sekian lama. Apakah ini sebuah awal yang baik bagi hubungan kami selanjutnya? Atau justru titik nol, yang akan menyebabkan aku terjebak dalam kungkungan tradisi yang diwariskan oleh kakekku? Yang karena aku terus bersama Delia, maka aku akan tetap memeliharanya?
“Aku,  tidak ingin hidup bersamamu dengan alasan aneh seperti itu.”
“Raindra, apa kamu tidak pernah bisa mengerti perasaanku, seperti selalu aku berusaha menjinakkan perasaanku sendiri saat jauh darimu? Aku mencintaimu tanpa sebab. Tanpa alasan, dan tanpa perlu penjelasan apapun. Aku ingin hidup bersamamu, dengan atau tanpa embel-embel ilmu apapun yang kamu punya.” Delia menarik tanganku, hingga kedua jari kami saling bertaut lebih erat. Genggaman itu, seolah memberikan separuh kekuatan dalam dirinya, agar aku mampu membaca dan memahami situasi yang tengah kami hadapi.
“Del… aku hanya takut. Seandainya kita bersama, bukankah itu sama artinya dengan aku menerima semua ilmu warisan dari kakekku? Kamu tahu kan kalau aku menolak semua atribut itu sejak dulu. Kamu tahu betapa sangat tersiksanya aku dengan kekuatan six sense yang kumiliki. Lalu kenapa kamu mau membiarkan hidupku semakin berat dengan membiarkan kekuatan itu tetap bercokol dalam diriku?”
“Tidak, Ndra! Aku tidak akan membiarkanmu melewati semuanya seorang diri. Aku juga memiliki apa yang biasa kamu sebut sebagai third eye, mata ketiga itu.” Delia tertunduk, seolah baru saja membuka sebuah rahasia besar yang selama ini disembunyikannya. Selain, perasaan cintanya padaku.
“Jadi, kamu…?” aku tidak pernah sekalipun berpikir kalau Delia memiliki sebuah compass eye, yang bisa melihat dengan sudut berbeda dari mata manusia biasa. Manusia dengan kelebihan ini, bisa membuka pintu ke dimensi lain yang jumlahnya mendapai tujuh dimensi dalam hidup ini. Tapi mengingat Delia adalah turunan dari Laila yang juga memiliki banyak talenta khusus dalam dirinya, itu membuatku tidak terlalu merasa heran.
“Aku pernah bertemu dengan kakekmu, saat ia seusia dengamu. Ia bercerita banyak tentang kelebihan-kelebihan yang ia miliki; yang membuatnya sangat menderita. Sama seperti dirimu sekarang. Tapi kakekmu memiliki sebuah keunikan yang berbeda, dibanding orang-orang yang bisa menerawang masa depan lainnya. Ia bisa berada dalam dua tempat dan dua masa sekaligus. Bahkan Baping  bisa berada di antara dua dunia yang berbeda. Berkelana di alam lain, yang baginya terbuka luas dan bisa dengan mudah ia lalui. Tanpa harus melewati berbagai macam ritual yang aneh-aneh. Tapi semua yang ia miliki tidak lantas membuatnya merasa senang dan hebat. Justru sebaliknya, ia merasa tersiksa dan tidak normal. Itu karena, dia terlalu sering menyaksikan berbagai macam kejadian yang membahayakan hidupnya dan hidup orang banyak. Sebelum meninggal, Baping pernah memintaku untuk selalu menjagamu, Ndra.”
“Del, please. Aku…, aku tidak bisa…”
Kepala Delia tertunduk. Sebutir kristal menetes dari kelopak mata Delia, saat ia berusaha menahan kedipnya. Satu persatu permata bening itu berguguran. 
“Aku tidak bisa memaksamu, Ndra. Hidup adalah sebuah pilihan. Dan manusia hanya bisa memilih mana yang menurutnya baik. Sedangkan Tuhan tidak pernah salah menetapkan mana yang terbaik untuk kita. Mungkin aku bukanlah yang terbaik untukmu.” Delia berdiri dengan derai air mata yang menganak sungai di wajahnya. Lalu ia meninggalkanku tanpa bisa kucegah. Berulang kali kupanggil namanya, tapi Delia tak pernah menoleh barang sedetikpun. Aku mematung di tempatku berdiri. Kakiku terasa begitu berat. Delia sudah berlalu sangat jauh, hingga aku tak mampu lagi mengejarnya.

Sabtu, 02 Maret 2013

Cerdak Maret - Cuma Mejeng di 10 Besar Story



Ilustrasi Cinta
Kamiluddin Azis




“Emang si Jang Shan doang yang bisa gambar trus dimuat di Story? Gue juga bisa kok,” umpat Indri saat hasil karya Jang Shan muncul lagi di Story edisi terbaru yang Saiful tunjukkan padanya.
            Cowok itu prihatin melihat pacarnya yang seringkali bete setiap kali gambar illustrasi yang dikirimnya ke Story tak dimuat. Apalagi belakangan ini, karya Jang Shan, anggota group yang baru bergabung malah sudah ditampilkan di majalah kesayangan remaja itu.
            Ahha… tiba-tiba ia mengernyitkan dahi, seolah baru saja menemukan sebuah ide gila di kepalanya. "Gimana kalo lo gambar aja muka gue?” usulnya sambil nyengir.
            “Gambar muka lo? Yang bener aja? Gue gambar Jaejoong aja ditolak sama Bunda!” dengus Indri tambah kesal. Ia memungut crayon, pinsil warna, spidol, dan teman-temannya yang bergeletakan menyedihkan di lantai.
            “Ya… kali aja Bunda trenyuh liat wajah gue yang memelas ini," goda Saiful lagi.
            “Gue heran, padahal gue selalu majang gambar bagus di group Story, kenapa gak dilirik juga sama Bunda ya?” rutuk Indri sembari menyalakan laptopnya dan membuka google.
            “Harus lebih kreatif, Ndri. Kreatifitas adalah proses. Lo kan masih muda dan semangat, jangan patah arang dong. Ayo, semangat! Gue bantu bacain mantera biar gambar lo lolos di Story!" Saiful tak henti-henti memberi pacarnya spirit.
            Indri tampak putus asa. Ia mulai browsing di internet, dan pikiran yang lebih gila daripada ide Saiful tadi menari-nari di kepalanya. Banyak gambar bagus nih buat gue tiru, pekiknya dalam hati.
            “Jangan bilang lo mau plagiat gambar orang?” tebak Saiful sambil berusaha mencari tahu apa yang sedang dibrowse oleh Indri. Tapi ia gagal karena Indri sudah buru-buru menutup laptopnya.
            “Sembarangan! Udah deh lo balik aja sana!” Indri tiba-tiba berubah marah.
            Saiful diam, dan ia memilih meninggalkan Indri, daripada ujung-ujungnya berantem.
*

Malamnya  Saiful kepikiran dengan apa yang ia ucapkan tadi sore. Pantas Indri marah karena ia sudah menuduhnya yang enggak-enggak.  Gue harus minta maaf, desisnya. Lalu diraihnya blackberry di atas meja, dan ia nge-PING Indri.
            Indri masih uring-uringan di atas kasur, saat lampu bb-nya berkedip-kedip. Sudah 2 jam ia menggoreskan pinsil warnanya di atas kertas gambar, tapi tak ada segaris pun yang ia hasilkan. Ia masih terbayang akan sikap kasarnya pada Saiful tadi sore. Walau bagaimanapun cowok itu hanya berusaha menghiburnya, mencarikan solusi dan meredakan emosinya. Tapi entah kenapa, kalau sudah menyangkut kegagalannya itu, sikap Indri jadi labil.
·         Maafin gue ya
Indri tersenyum membaca bbm dari Saiful. Lalu ia balas.
·         Gue juga. Tapi gue gak jadi nyontek. Ternyata lebih susah :D
·  Haha… ya udah, lo bayangin aja muka gue
·  Rugi banget,  udah potong rambut tapi gak ada yg perhatiin :P
·         Ya ampun, sorry… lo cakepan kok :P
·  Haha, kalo gitu lo ambil pinsil warna sama kertas gambar, lo bayangin wajah gue
·  Trus, lo gambar deh di situ. Gue… pengen tau, lo sayang gak sama gue
·         Ih, apaan sih, but, okey, gue gambar ya…

Indri lalu mulai menggoreskan tangannya di atas kertas gambar. Sesekali ia melamun, membayangkan wajah Saiful, lalu tersenyum, dan kembali mengisi kertas yang mulai terisi siluet dan arsiran itu. Warna-warni crayon menghias seraut wajah berbingkai rambut lurus dengan potongan ala aktor-aktor korea.
Dan, tadaaaa… Gambarnya sudah selesai. Indri tersenyum puas. Baru kali ini ia menggambar illustrasi model cowok sebagus itu. Saiful dengan rambut legam lurus sedang tersenyum. Mata redupnya seolah menatap Indri dengan penuh cinta. Ini maha karya gue yang paling indah, pujinya pada diri sendiri. Besok akan gue kirim ke Bunda Reni. Semoga kali ini ia jatuh hati.

*

Sebulan kemudian, Indri menyodorkan majalah Story edisi terbaru ke Saiful.
            “Buka deh, halaman 17,” pinta Indri sambil ternyum.
            Cowok itu mengamati gambar yang menjadi illustrasi sebuah cerpen romantis di halaman 17. Seorang cowok berwajah oriental dengan model rambut terbaru yang sedang digilai k-popers.
            “Hemh… bagus. Pasti yang gambar ini penggemar berat film-film korea deh,” komentarnya datar. “Tapi kok, dipikir-pikir ini mirip wajah gue ya, Ndri,” Saiful cengengesan ragu.
            “Itu emang gambar lo, lagi.” Indri tersenyum sambil mempermainkan kedua alisnya.
            Saiful mencari-cari siapa nama illustratornya, lalu ia berhenti dan menatap wajah Indri, “Indriana Astuti? Gambar lo dimuat, Ndri?”
            Indri manggut-manggut senang. Ia memang merahasiakan hasil karyanya ini kepada Saiful. Ya, itung-itung surprise kalo dimuat. Tapi kalaupun tidak ia tetap akan menunjukkannya pada Saiful sebagai bukti cintanya.
            “Kita harus merayakannya. Kita pergi ke gunung!" Ajak Saiful antusias.
            "Kok? Ngapain?" balas Indri.
            "Yaelah… masa kita mo tereak kemenangan di dalam empang? Ke tempat tinggi-lah!”
            Hati Indri sudah berteriak-teriak sejak melihat gambar cowok tersayang goresan tangannya akhirnya dimuat di Story. Indri yakin, cinta mengalahkan segalanya. Daripada Plagiat, mending kita curahkan segenap cinta ke dalam karya kita. Hasilnya pasti takkan sia-sia.
*