Kamis, 28 Februari 2013

Salah satu cerpen dalam Kumcer "Keajaiban Bersyukur"


Saat Syukur, Saat Nikmat Berlipat
Kamiluddin Azis



Aku melipat kertas kecil itu dan memasukkannya kembali ke dalam dompet. Aku tak tahu bagaimana reaksi istriku saat melihat angka-angka dalam kertas itu. Apakah akan tertunduk lesu seperti diriku, atau seperti biasa, tersenyum lalu menepuk pipiku sambil membisikkan kata-kata menyejukkan : ‘Alhamdulillah, Kang, kita harus selalu bersyukur atas semua yang Tuhan berikan pada kita. Ini hasil keringat Akang’ ?
            Setitik air bergulir dari sudut mataku. Kenapa nasib masih belum berpihak padaku. Segala usaha telah kukerahkan, tetapi sepertinya Tuhan masih enggan memberiku kesempatan untuk bisa hidup senang dan membahagiakan keluargaku. Ucapan istriku begitu perih menohok. Ia sangat sabar menghadapi semua cobaan ini, sementara aku, selalu saja merasa sulit untuk menerima. Mungkin benar, selama ini aku kurang bisa mensyukuri apa yang telah kuperoleh.
            “Ayo, anak-anak kita nikmati makan malam spesial ini,”  Neng Maya, Istriku menata masakan di atas tikar dan mengatur tempat duduk kedua anakku sambil menggendong bayi kami yang masih 8 bulan.
            “Spesial apanya, Ummi? Kok cuma telor dadar sama mie goreng doang,” celetuk Rana, anak keduaku yang sudah mulai masuk TPA, sambil mengunyah makanannya.
            “Iya, Ummi, lauknya juga sedikit. Padahal, ini kan tanggal gajian Abi,” tambah Rizky, anak sulungku yang sudah duduk di kelas 3 SD. Sepertinya kedua anakku sudah bosan dengan menu makanan yang itu-itu saja. Hatiku teriris melihatnya.
            “Sudah... sudah... kita harus selalu bersyukur dengan apa yang kita dapatkan hari ini. Orang lain belum tentu seberuntung kita. Kita juga harus berterima kasih kepada Abi karena ini semua hasil kerja keras Abi selama sebulan. Ya, ayo, Bi, kita berdoa dulu!”
            Aku membuka kedua telapak tanganku, menengadahkannya ke atas, lalu mulai memimpin doa. Bukan saja doa makan, tetapi doa syukur atas semua kenikmatan yang masih Tuhan berikan padaku dan keluargaku.
            Anak-anak tentu tidak tahu bagaimana rasanya membanting tulang siang dan malam menjadi pegawai sebuah agen sembako. Keringat tak pernah berhenti mengalir. Belum sempat mengering, aku harus segera menurunkan barang-barang kiriman dari supplier. Sedangkan gaji yang kuperoleh masih harus dipotong kasbon untuk ongkos dan makan siang jika kebetulan istriku tidak sempat membuatkanku bekal.
Sejak diberhentikan dari pekerjanku di sebuah perusahaan tekstil yang mengalami gulung tikar, praktis aku bekerja serabutan, sampai suatu waktu ada tetanggaku yang memberitahu kalau di tempatnya bekerja ada lowongan. Akupun diajaknya menemui Pak Sofyan pemilik grosir sembako itu, dan aku langsung diterima. Kini berbulan-bulan sudah aku bekerja padanya. Tetapi sayang, gaji yang kuperoleh hanya cukup untuk makan sehari-hari, bayar kontrakan dan biaya sehari-hari lainnya. Kalau saja istriku tidak membantu dengan menjadi kuli cuci, tentu anak-anak akan kesulitan mengikuti pendidikan. Istriku memang sangat baik dan pengertian.
“Yang penting Akang, dan kita semua sehat. Itu sudah lebih dari cukup. Dan ini adalah kenikmatan yang sangat mahal yang Tuhan berikan pada kita, Kang.”
Begitulah, istriku selalu mengingatkanku untuk terus berikhitar dan berdoa. Merutinkan sholat malam dan menyempatkan sholat duha itu yang akan membawa barokah dalam hidup kita. Itu semua bentuk syukur kita kepada Sang Pemberi Segalanya.
Selang beberapa minggu kemudian, aku dan istri mendapat penawaran untuk menjalankan bisnis ayam goreng dari tetangga yang selama ini sering meminta bantuan istriku untuk mengurus berbagai keperluan rumah tangganya. Sebuah warung nasi mungil di pinggir jalan pun mulai kami rintis. Dan Alhamdulillah usaha itu berkembang sesuai harapan. Bahkan kini aku bisa mulai menabung untuk masa depan anak-anak.
Begitulah kekuatan Bersyukur. Tuhan akan melipatgandakan apa yang sudah Dia berikan saat manusia menyusukuri nikmatnya. Saat syukur, saat nikmat berlipat.

*




Baca puluhan kisah lainnya dalam buku ini. Sekalian mengoleksi buku bagus, Anda  juga sedang beramal karena royalti buku ini akan disumbangkan untuk penderita gagal ginjal.
Silakan order dan hubungi 083879804181 (Mas Wahyu Prakoso)


Rabu, 27 Februari 2013

Cuplikan Cerpen 'Sesak Rindu Membisu' dalam Surat Kecil untuk Ibu'





Sesak Rindu Membisu
Kamiluddin Azis

Nimas mengelus perutnya yang kian hari terasa keras dan membesar. Sesekali ia meringis menahan sakit yang selalu muncul tak terduga. Mukanya berubah pucat jika tiba-tiba sesuatu seolah menohok dan memelintir dari dalam organ perutnya. Kalau sudah begitu, perempuan tiga puluhtahunan itu hanya bisa menahannya sambil terus berdoa.
            “Terasa lagi, Bu?” dengan cemas Radi, suami Nimas menghampiri istrinya sambil membawakan segelas air putih.
            Nimas mengangguk dengan raut kesakitan.
            “Besok kita ke dokter Dian lagi ya, Bu.” Lalu ia menuntun istrinya menuju kamar,  yang di sana sudah terbaring Aga, anak pertama mereka yang baru berusia empat tahun.
            Sudah dua bulan terakhir ini Nimas divonis terkena penyakit hepatitis C. Mungkin sebenarnya Nimas sudah terinfeksi virus ini sejak lama, tetapi karena kesibukannya bekerja, kerapkali ia tidak merasakan adanya hal aneh dalam tubuhnya. Baru pada suatu malam saat badannya demam tinggi, ulu hatinya terasa sangat sakit.
            Keesokan harinya Radi membawa Nimas berobat ke spesialis penyakit dalam di luar kota. Dan sejak saat itulah Nimas mulai merasakan berbagai keluhan sakit di sekujur tubuhnya.
            “Istri Anda sudah hampir terkena sirosis. Jika dibiarkan terlalu lama, pengerasan hati ini bisa memicu kanker,” ucap dokter Dani sambil memberikan resep dan melanjutkan dengan wejangan agar Nimas mengikuti jadwal pengobatannya secara berkala.           
            Radi terkulai lemas mendengar penjelasan dokter Dani. Ia tahu betul betapa berbahayanya penyakit yang diderita Nimas. Ayah dan Kakak perempuan Nimas juga meninggal karena penyakit yang hampir sama. Tapi Radi berjanji akan memperjuangkan kesembuhan istrinya. Demi cintanya pada Nimas. Juga pada Aga.
            “Ibu harus kuat,” bisik Radi. Seulas senyum menenangkan hati Nimas.
            “Kalau nanti Ibu sembuh, jadi ya, Yah, bulan depan kita pesta khitan Aga. Ibu ingin kita didandani seperti pengantin,” balas Nimas sambil membayangkan dirinya duduk di pelaminan bersama suami dan anaknya. Saat menikah dulu, mereka memang tidak mengadakan resepsi pernikahan seperti kebanyakan pasangan pengantin baru lainnya. Tetapi, kalaupun saat itu mereka memiliki cukup biaya, tentu Nimas akan menggunakan uang itu untuk biaya kuliahnya, agar ia bisa segera diangkat menjadi PNS. Lebih dari sepuluh tahun mengabdikan diri sebagai guru honor tidak lantas membuat Nimas dipertimbangkan menjadi Pegawai Negeri Sipil. Meski begitu, Nimas tetap bekerja dengan sungguh-sungguh, mengabdikan diri pada dunia pendidikan dan anak-anak. Dan prestasi kerjanya selama ini sangat mengagumkan pihak sekolah, dan orangtua murid.
            Hari berjalan sangat lambat, merangkak minggu demi minggu hingga bulan pun berganti dengan enggan. Penyakit Nimas semakin menjadi. Derita yang dirasakan Nimas sudah memengaruhi emosi dan semangat hidupnya. Silih berganti sahabat, rekan kerja, handai taulan, bahkan murid-murid dan orangtuanya menengok dan memberikan semangat pada Nimas. Tetapi itu tidak membuat Nimas semakin membaik. Tidak banyak makanan yang bisa masuk dan dicerna menjadi tenaga. Semuanya keluar lagi dalam bentuk yang berbeda. Kondisi kesehatan Nimas semakin memburuk.
            Semua usaha telah dikerahkan untuk kesembuhan Nimas. Selain berobat ke dokter Dani, Nimas juga dibantu terapi herbal dan alternative. Radi,  Mama Nimas juga kakak dan adik-adik Nimas tidak henti-henti berdoa. Begitupun dengan Neneknya. Pada suatu malam, sepulang berobat dari dokter Dani, Nimas terlihat sehat, bahkan ia berceloteh tentang rencana pesta khitan Aga dan baju pengantin yang akan ia kenakan nanti. Tentang dekorasi gedung, makanan, juga hiburan. Semua menanggapinya dengan antusias. Tetapi selang beberapa jam ia kembali mengeluhkan sakit di perutnya. Bahkan mukanya berubah pucat dan sangat mengkhawatirkan. Radi langsung membawanya ke rumah sakit terdekat.
            Di sebuah rumah sakit umum, Nimas mendapat perawatan intensif dari dokter senior.
            “Yang kuat ya, Bu, nanti kan kita akan mengadakan syukuran khitan Aga, juga mengusahakan pengangkatan Ibu jadi PNS. Ibu mau kan?” Radi menggenggam tangan Nimas yang terkulai lemah. Diperhatikannya alat deteksi jantung di samping brankar Nimas yang bergerak ritmik.
            Dengan sisa tenaganya Nimas mengangguk sambil mengulas senyum. Gerak bibirnya memanggil Aga dan mamanya.
            “Ini Mama, Nimas. Nimas pasti sembuh kok. Besok Mama ajak Aga ke sini ya,” derai air berguguran di pipi Mama Nimas. Ia tak bisa menyembunyikan kesedihan dan rasa takut di hatinya. Nimas pasti sedang sangat kesakitan sekarang, dan mama mana yang tidak ikut merasakan penderitaan anaknya.
            Nimas tersenyum. Setitik air yang semula menggenang di pelupuk matanya, kini luruh perlahan. Mata teduhnya begitu damai menatap suami dan mama tercintanya berdiri di hadapannya. Kepalanya dengan lembut terkulai ke arah kanan. Napasnya terlepas dalam sekali hentakan. Denyut nadinya berhenti bersamaan dengan alat detak jantungnya yang membentuk satu garis lurus.
            “Nimaaaaassss,” pekik Radi yang disusul jerit Mama Nimas. Radi memeluk dan mengguncang tubuh Nimas yang sudah terbujur kaku. Derai air mata tak mampu lagi dibendungnya. Tumpah semua bersama kesedihan dan perasaan kehilangan. Separuh jiwanya seolah lepas, mengantar kepergian Nimas, istri tercintanya. Tubuh Radi nyaris ambruk dalam pelukan Nimas kalau saja dokter dan perawat tidak segera datang dan menenangkannya.
            Mama mencium kening Nimas dengan perasaan teramat perih. Ini adalah kehilangan yang ketiga kalinya setelah suami dan anak keduanya meninggal di rumah sakit yang sama. Kepergian Nimas membuatnya sangat terpukul, apalagi ia memiliki Aga, cucunya yang masih sangat kecil dan memerlukan perhatian ibunya.
*


Baca kelanjutan kisahnya dalam buku Kumcer Surat Kecil untuk Ibu' yang bisa dibeli di Deka Publisher
beserta cerita-cerita lainnya yang sangat menyentuh.
Membeli buku ini sekalian mengisi kesempatan beramal karena royalti akan disumbangkan pada keluarga penderita gagal ginjal.
Ada 6 judul paket buku dalam Here After Saving part II, silakan dicek di sini

 

Cuplikan cerpen 'Muara Insyafku' dalam 'Jantung Untuk Naya'









Muara Insyafku
Kamiluddin Azis


Mestinya aku tidak pernah melakukan hal itu. Dengan alasan apapun, perbuatan itu tetap saja salah. Dosa.
Sore itu, langit tampak muram. Lembayung enggan singgah di ufuk barat karena mendung menggelayut, seolah langit kan runtuh hanya dalam hitungan detik. Petir dan badai tak sabar mengantar rintik hujan menerobos atmosfer bumi.
Aku menengadahkan mukaku yang berlumur darah, berharap hujan akan menjilati perihku. Membasuh noda-noda yang melekat di setiap jengkal tubuhku. Menyucikan kembali setiap dosa yang teramat sulit kulepas.
Tuhan, andai Kauberikan satu saja pilihan untukku, aku tidak ingin terus menerus  berada dalam kubangan kotor ini. Kubangan penuh lumpur dalam labirin hidup yang sulit kulalui. Selalu saja terjebak pada jalan yang sama setelah aku berputar-putar putus asa. Lelah rasanya menghabiskan sisa hidupku yang kelam ini. Lelah dan putus asa.
“Ini malam terakhir. Aku janji, Sayang,” rayu laki-laki biadab itu. Rayu yang juga identik dengan sebuah ancaman. Sebab jika tak kuturuti apa maunya maka sekujur tubuhku bisa lebam tak karuan. Aku tahu, tak pernah ada malam terakhir. Selalu kalimat itu yang terucap. Dan esok, lusa, juga  seterusnya selalu saja ia memperlakukanku seperti binatang tanpa belas kasihan sedikitpun.
Laki-laki itu terus menghantui malamku. Menikam setiap rasa takut dan menghimpitku dalam dinding dingin dengan lengan besinya yang kokoh. Tak bisa kulukiskan lagi bagiamana relung ini tersiksa. Dalam gelap. Mencekam.
Aku ingin menyudahi semuanya.
“Tapi aku ingin menjadikan ini benar-benar sebagai malam terakhir, Pram!” bisikku sesaat setelah jiwa laki-laki itu mengembara dalam lelap. Aku yakin otakku tak lagi bekerja dengan jernih. Hanya bisik setan yang selalu berkawan denganku selama ini. Dan bisik itulah yang menguatkanku untuk menarik sebilah pisau yang sudah kusiapkan di bawah ranjang.
Dan malam ini, semua sudah tertunaikan.
*
Kubiarkan tubuhnya menggelepar dengan sisa darah yang masih mengalir dari celah atas tungkai kakinya. Sebagian tubuh itu tertutup selimut. Kaku dan pasrah. Seperti tubuhku yang menggigil di sampingnya. Pasrah. Kosong. Tak tahu apa lagi yang harus kulakukan
Mestinya aku bahagia, karena rasa sakit ini telah terbayar. Perih yang bersemanyam selama bertahun-tahun luruh perlahan. Sekerat daging bermandikan darah sebanding dengan Penghinaan yang selama ini  ia lakukan padaku. Ternyata semua itu adalah itulah obat mujarabku.
Butiran hujan masih mengguyur sekujur tubuhku. Dingin dan beku.Dalam sekejap dunia mendadak gelap. Tapi gelap ini jauh lebih indah dan sempurna dibanding kegelapan yang selama ini menyelemuti hidupku.
*


Baca kelanjutan kisahnya dalam Kumpulan Cerpen 'Jantung untuk Naya' bersama cerpen-cerpen lain yang sangat menyentuh.
Buku yang sangat bagus, mengiris hati, tetapi membuka hati dan pikiran untuk melakukan perbaikan dalam hidup ini. 
Membeli buku ini, berarti juga membantu saudara yang sedang didera musibah, karena royalti dari hasil penjualan ini akan disumbangkan untuk sebuah keluarga yang salah seorang anggotanya mengalami gagal ginjal.

Rabu, 23 Januari 2013

MEMEDI VESNING


MEMEDI VESNING

Kok ada ya cowok yang tergila-gila dengan warna kuning. Apa saja yang ia pakai mesti mengandung warna kuning. Tas, sepatu, topi, sampai geretan harus ada ornamen yang mengandung warna kuning. Entah berupa strip, buletan atau sekedar gambar-gambar tidak jelas pun tak masalah, yang penting ada unsur warna kuningnya.
            “Aturan ya, yang gue tahu, cowok itu sukanya warna hitam, biru atau coklat. Ini apaan kuning?”  Eko menggerutu saat Monti, cowok si penyuka warna kuning itu mengajaknya hunting motor bekas. Tentu saja Monti mencari motor dengan bodi berwarna kuning.
            “Lo tau, Ko, warna kuning itu seger, cerah, membuat mata melek. Membuat gue kelihatan awet muda dan full imajinasi,” bantah Monti sambil celingukan, menelusuri deretan motor bekas yang dipajang di areal Bursa Kendaraan Bekas di depan gedung TVRI Jogja, jalan Magelang, Yogyakarta.
            “Gue kalo masuk kamar lo yang kuning kaya di tengah sawah itu, nggak pernah tuh ngerasa dapat imajinasi apa-apa. Lo bilang kuning bisa meningkatkan konsentrasi, nggak ngepek tuh ke gue,” elak Eko tidak mau kalah.
            “Itu sih dasar elonya aja kali yang udah ilfil duluan dengan warna kuning. Jadi bawaannya males jadi otak lo lemot. Gue kasih tau, ya. IPK gue mana pernah anjlok coba, selalu di atas 3. Itu lo tau kenapa…”
            “Karena warna kuning itu meningkatkan energi dan  mood belajar, bosen gue dengernya,” potong Eko menirukan kalimat yang sering sekali Monti ucapkan kalau mereka berdebat soal warna kuning. Eko memang kerap dibuat malu kalau jalan dengan sahabatnya ini. Bagaimana tidak, warna kuningnya itu loh yang selalu menjadi pusat perhatian orang-orang. Sudah berapa kali ia dicap sebagai pasangan gay Monti gara-gara ulah Monti yang narsis dan sok kepedean itu.
            “Horee… akhirnya ada juga motor kuning. Terereng….” Monti menunjuk sebuah motor tua dengan seluruh bodi nya berwana kuning mencolok.
            “Gila! Vespa? Ciuz, lo!” Ledek Eko tak percaya kalau temannya sudah semakin gila kuning itu. Ia tidak bisa membayangkan kalau Monti memakai vespa tua kuning itu ke kampus. Orang akan memicingkan matanya  karena silau melihat warna matahari yang terang benderang itu tiba-tiba berjejer diantara motor-motor keren di tempat parkir. Tidaaaak…. Jerit Eko sambil nginjak bumi tiga kali. Hiks.
*
            Jadilah vespa kuning itu pindah garasi ke rumah omnya Monti yang ia dan Eko tempati selama mereka kuliah di Jogja.
            Eko melirik sepeda kuning yang selama ini menjadi teman jalan-jalan sore Monti sudah digantung di pojokan. Padahal itu hadiah ultah dari Eko yang dengan susah payah ia cari di jalan Supeno beberapa bulan lalu.
            “Sori, Ko, sepeda dari lo pensiun dulu yak!”
             “Bodo amat! Hati-hati lo bawa vespa. Lo gowes aja masih sempoyongan. Nabrak truk sayur baru nyaho, lo.” Belum hilang gemetaran Eko saat Monti membawa vespa kuning itu dari TVRI sampai rumah kemarin siang.
            “Di sini aman, Ko, nggak ada geng motor,” kilahnya sambil ngutak-ngatik motor baru tapi bekasnya itu dengan gaya sok tahunya yang selangit itu.
            “Gue gak tanggung jawab kalau ada apa-apa dengan lo.” Eko cuek dengan diktat di tangannya. Besok hari terakhir UTS.
            “Tenang aja, kalau gue mati nyungseb got atau nubruk andong, gue bakalan pura-pura tetep hidup dan nemenin lo, deh. Dan kalo itu beneran kejadian, si Vesning gue warisin ke elo. Lo urus deh, ya, baik-baik!”
            “Sekate-kate, lo. Kualat tau!” Eko merinding membayangkan Monti nabrak becak atau andong, atau kendaran lain yang lebih gede. Amit-amit …. Ia mengetuk-ngetuk jarinya ke kepala.
            “Eh, Ko, anter gue yuk ke Beringharjo. Gue mau cari batik kuning, kan bentar lagi yayang tika gue ultah, gue mau pake batik baru nih,” Monti malah mengalihkan pembicaraan.
            “Ogaaahhh….” Eko buru-buru meraup semua diktatnya dan ngacir ke kamar. Tobat, gue… batinnya.
            Sore itu terpaksa Monti jalan-jalan ke pasar Beringharjo dengan vesning, alias vespa kuningnya sendirian. Dan, sayang sekali… apa yang Eko takutkan ternyata kejadian juga. Monti yang memang belum terlalu mahir mengendarai vespa bertabrakan dengan sebuah truk kuning pengangkut sayuran, saat ia meleng, gara-gara takjub melihat andong yang seluruh roda kayunya dicat warna kuning. Eko yang dihubungi pihak rumah sakit langsung datang dengan perasaan bersalah. Coba gue temani lo, Mon, kejadiannya nggak akan begini, sesal Eko.
            “Teman Anda meninggal di tempat,” jelas dokter dari pihak rumah sakit.    Tangis Eko pecah begitu melihat tubuh Monti yang sudah ditutupi kain putih dengan noda darah di mana-mana.
            “Monti, maafin gue. Gue nyesel nggak nemenin lo pergi…” raung Eko sambil menatap sahabatnya yang sudah terbujur kaku.
            “Ngapain lo nangis? Lo nyesel ya nggak nemenin gue nyari batik kuning?”
            Eko merasa ada suara Monti di belakangnya. Ia lalu menoleh dan seketika itu juga ia terperanjat. “Mon, elo…? Bukannya …?” Eko melihat jasad Eko lagi.
            “Sssttt… biasa aja, kali. Kan gue udah bilang kalau gue mati, gue bakalan pura-pura hidup. Terereng… sekarang gue bisa pura-pura hidup, seru kan?” sosok hantu Monti cengengesan di depan muka Eko.
            Eko yang masih tak percaya kalau sekarang ia bersahabat dengan hantu Monti. Sesuai permintaan Monti, Eko merahasiakan keberadaannya pada orangtua dan saudara-saudaranya. Hantu Monti selalu berada dekat Eko selama Eko mengurusi ini itu yang berkaitan dengan kematiannya. Bahkan saat upacara pemakamannya di Jakarta, hantu Monti berdiri di samping Eko dan menatap jenazahnya dimasukkan ke liang lahat.
            “Lo kok nggak nangis sih, Ko?” bisik Monti saat ia melihat raut wajah Eko tidak menampakkan kesedihan sama sekali, sedangkan saudara-saudara dan teman-temannya yang lain menitikkan air mata melihat tubuh Monti ditutupin tanah.
             Eko mendengus cuek.
            “By the way, kok kain kafan gue nggak kuning sih, Ko?” celetuknya sambil nyengir.
            Gigi lo tuh kuning! Dengus Eko dalam hati.
            “Ko, suruh pelan-pelan dong nurunin badan guenya, ngilu gue takut jatoh!”  lanjut Eko. Ia menutup mata saat melihat jasadnya yang mulai ditimbun tanah merah.
            “Berisik!” Gertak Eko.
            Seorang cewek yang sedang menangis di sebelah Eko, berhenti terisak. Ia melotot kea rah Eko dengan heran. Menyadari hal itu, Eko buru-buru menyingkir dari kerumunan orang-orang di pemakaman. Dan tanpa dikomando Monti mengikutinya dari belakang.
            “Bisa nggak sih, lo nggak ngoceh terus, Mon! Gue bisa jadi pusat perhatian dan disangka nggak waras nih gara-gara elo!” Semprot Eko saat mereka sudah agak jauh dari para pelayat.
            “Iya, iya, sori… Tapi lo janji ya, temenin gue cari batik kuning sampe dapet?”
            “Iya, bawel. Dasar memedi vesning rese, bikin pal ague tambah pening aja, lo!”
            Monti ketawa terbahak mendengar julukan barunya. Memedi Vesning yang berarti hantu vesning, alias hantu vespa kuning. Dari mana coba Eko bisa tahu istilah memedi itu.
*
            Sejak kematian Monti akibat kecelakaan saat mengendarai vespa kuning itu, kehidupan Eko jadi berubah. Ia jadi sering kelihatan bicara sendiri, ketawa sendiri, malah kadang-kadang Eko bertingkah seperti kebiasaan Monti yang ngebet warna kuning. Dan yang lebih mencolok lagi, nilai-nilai ujian Eko selalu paling tinggi. Kamu pasti tahu kenapa…. Iya benar, itu ulah si hantu vesning.
            Memedi penggila warna kuning itu memang selalu membantu Eko mengerjakan soal ujiannya. Mula-mula sih Monti tidak mau membantu Eko berbuat curang dan lebih suka membantunya belajar, tapi karena si Eko yang super malas itu mengancam akan membocorkan keberadaan dirinya dan berhenti menemani Monti jalan-jalan dengan vesningnya, Monti kalah telak.
            “Tapi lo janji ya, nemenin gue ngapel ke yayang gue,” ucap Monti saat Eko minta Monti mengerjakan tugas makalahnya.
            “Iya, gue janji. Waktu itu aja gue mau-mauan  kasrak-kusruk masuk pasar cuma buat nemenin lo cari batik kuning yang langka itu. Gue rela dikatain wong gendeng  gara-gara ngeladenin lo yang bawel ampun,” balas Eko sambil berpikir bagaimana caranya supaya Monti sadar kalau dunianya kini sudah berbeda dengan dunianya dulu. Mana bisa dia pacaran dengan cewek di dunia nyata. Kasihan Tika, kalau sampai dia tahu Monti masih gentayangan, pasti dia tidak akan mau berteman dengan Eko lagi. Mahasiswi paling cantik sekampus itu pasti masih  waras, tidak mungkin ia mau ngobrol dengan bayangan Monti berbentuk casper itu. Meski ganteng-gantengnya masih ada, hantu tetap saja hantu. Tidak akan bisa disentuh apalagi diajak pacaran.
            Ahha… Eko menjentikkan jari. Ada gambar lampu menyala di ekor matanya.
            “Kenape lo?” lirik Monti.
            “Gue tau gimana caranya tuh batik kuning bisa lo pake ngapel ke rumah Tika!” Seru Eko. Ngeles, seperti biasa.
            “Gimana?” Monti antusias saat nama cewek gebetannya disebut.
            “Malam Minggu besok lo coba pake tuh batik kuning baru lo. Terus lo tunggu di Alkid deket pohon beringin,” usul Eko.
            “Terus? Lo mau nyuruh gue jalan lurus dengan mata tertutup lagi sambil berharap gue hidup kembali dan bisa pacaran sama yayang Tika gue, gitu?” ketus Monti. Ia masih ingat kejadian konyol saat awal-awal semester pertama mereka datang ke Jogja. Di Alun-alun Kidul alias Alkid, orang-orang percaya kalau bisa jalan lurus melewati dua pohon beringin kembar yang ada di sana, maka keinginannya akan terkabul. Dan atas saran Eko, Monti melakukan hal itu sambil berharap keinginannya untuk menjadi pacar ratu kampus itu terwujud. Dan Monti memang bisa berjalan lurus melewati kedua beringin itu, tetapi menjadi pacar Tika belum juga kesampaian. Baru saja tahap pedekate, eh keburu ajal menjemput. Padahal segala jurus nyaris meluluhkan hati Tika yang ternyata juga penyuka warna kuning itu.
            “Ya, itu juga kalau lo, mau. Udah waktunya lo sadar kalau lo ini udah nggak ada. Udah koit. Dunia kita udah berbeda. Dunia lo, dunia Tika. Rencananya sih nanti gue mau bilang ke Tika kalau selama ini lo masih gentayangan, gangguin gue, dan masih berharap bisa pacaran sama dia.”
            “Terus gue mesti bilang apa ke Tika nanti?”
            “Lo bilang aja Wow, sambil jumpalitan sana,” jawab Eko sambil berlalu meninggalkan Monti yang terpekur menyelami kenyataan hidup, eh, matinya ini.
            Diam-diam Monti menyesal karena tidak buru-buru menyatakan cintanya ke Tika. Semua ini gara-gara vespa kuning sialan itu. Gara-gara andong beroda kuning sialan itu. Gara-gara batik kuning aneh, gara-gara warna kuning taik itu! Setetes air hangat jatuh dari kelopak mata Monti. Air mata pertama sejak ia menjadi memedi.
            Monti lalu berdiri. Ia berjalan menyusuri jalanan beraspal. Malam itu udara sedang bagus. Langit Jogja sangat cerah. Bintang-bintang bertaburan dengan indahnya. Menghiasi cakrawala seolah seluruh penghuninya tengah berpesta pora.
            Langkah gontai Monti membawanya ke Alun-alun Kidul Jogja. Di sana ramai sekali wisatawan yang bolak-mandir. Ada yang berjalan dengan mata ditutup kain menuju beringin kembar, ada juga yang sudah sampai dan berfoto ria di sana. Ingin sekali Monti nimbrung dan menampakkan diri dengan seringai lima jari ala Indra Bekti-nya, tapi ia takut membuat panik dan kacau suasana. Nanti Alkid malah berubah jadi angker gara-gara ulahnya.
            Sambil bersenandung : Yesterday, all my troubles seemed so far away... Now it looks as though they’re here to stay…  Oh, I believe in yesterday. Monti melihat betapa riangnya pasangan muda-mudi yang sedang naik odong-odong dengan lampu kerlap-kerlip ceria. Ia cemburu dan merasa sangat sial dengan hidupnya. Ingin ia bunuh diri, ah tapi bukannya ia sudah mati duluan.
            Tanpa disadari ternyata Monti tengah berdiri lurus di hadapan pohon beringin kembar itu. Ingin ia melakukannya sekali lagi. Jadi sebenanya, beberapa hari setelah menjadi hantu,  Monti pernah jalan-jalan sendirian di Alkid. Malam itu kebetulan Jumat kliwon. Monti mencoba berjalan lurus melewati beringin itu dengan mata tertutup sambil berharap ia bisa hidup lagi. Ia memang berhasil melakukannya. Tapi saat membuka mata, ia terperanjat mendapati sesosok hantu berwajah kuning. Saat ditanya siapa dia, hantu berbentuk pocong itu malah menyeringai, memperlihatkan sederetan gigi yang juga berwarna kuning. Waktu ditanya lagi kenapa mukanya kuning, hantu itu bilang, ia mati ketindih truk pengangkut tinja yang terguling menimpa motor (bukan vespa kuning) yang dikendarainya. Seketika itu Monti ngacir dan tidak mau lagi keluyuran sendirian.
            Ia tidak menceritakan kejadian itu ke Eko. Ia malah bereksperimen menggunakan tubuh Eko sebagai media arwahnya, supaya ia bisa merasakan hidup dalam tubuh manusia lagi. Lalu menyampaikan perasaan suka ke Tika dan setelah itu terserah Tika mau menerima atau tidak. Untung percobaannya gagal. Coba kalau berhasil, enak saja si Eko yang akan menjadi pacar Tika., si bintang kampus itu.
            Tapi malam ini ia ingin melakukannya lagi. Mencoba keberuntungannya lagi. Mencari tahu apakah Tika akan menerima cintanya atau tidak. Ia ingin sekali saja berubah wujud menjadi manusia. Lalu ia akan memakai batik kuning itu, mengendarai vespa kuning, lalu menemui gadis pujaan hatinya, dan menyatakan cintanya itu dengan sungguh-sungguh. Oh alangkah indahnya hidup, eh mati ini…
            Monti mulai menutupi matanya dengan sebuah syal berwarna kuning. Lalu perlahan-lahan ia berjalan seolah takut tertabrak orang lain yang padahal tidak ada yang bisa melihatnya itu . Monti melangkah dengan penuh konsentrasi. Hingga tanpa terasa ia sudah hampir sampai. Tetapi tiba-tiba tubuhnya seolah menabrak sesuatu. Apakah ini artinya ia bisa merasakan benda-benda seperti saat ia masih hidup? Apakah ia memang sungguhan hidup lagi?  Monti membuka syalnya pelan-pelan. Dan seraut wajah Eko menyeringai nakal di hadapannya.
            “Sialan, lo!” bentaknya. Kedua alis Monti bertaut, heran kenapa Eko bisa berada di sini. Matanya yang sensi terhadap warna kuning mendapati si vesning sudah nangkring tidak jauh dari tempat parkir odong-odong heboh itu.
            “Gue udah ceritain semuanya ke Tika. Gue tunjukin batik kuning lo ke dia, gue kasiin kado ulang tahun lo ke dia, dan gue juga bawa dia ke sini. Dia lagi nangis di sana,” Eko menunjuk salah satu sudut taman. Di sana Tika sedang menangis sambil memegang sebuah buku agenda.
            “Lo, apa-apan sih, Ko? Itu kan diary gue?”
            “Sori, gue nggak sengaja nemuin diary lo. Udah deh, Mon, sekarang Tika udah tahu kok, lo sayang sama dia. Dan dia … mau pacaran sama lo!”
            “Cius? Wow… ” Monti koprol-koprol di lapangan saking girangnya.
            Eko menggaruk kepalanya bingung. Terserah deh, mau percaya atau tidak. Sepertinya memedi Vesning akan bikin ulah yang lebih heboh lagi.
*