Minggu, 05 Agustus 2012

Jujurlah Matahariku pada Ayah dan pada Dunia


Judul : Jujurlah Matahariku
Penulis : Kamiluddin Azis, Komala Sutha, dkk
Tebal : xxxvi + 247 hlm
Harga : Rp. 54.400,-
ISBN : 978-602-225-459-1

Sinopsis:
Membaca Antologi Cerpen Jujurlah Matahariku ini, membuat saya seolah sedang menyelami lebih dalam tentang kehidupan anak-anak di negara subur makmur ini. Kehidupan yang sangat ironis. Pada era digital yang dengan mudah orang, -termasuk anak-anak- mengakses berbagai informasi, masih saja ditemui keterbelakangan, kesulitan untuk mendapatkan perlakuan yang adil, terlebih gagap teknologi. Sebagian besar anak-anak Indonesia masih disibukkan dengan keharusan mereka memenuhi kebutuhan perutnya sendiri, bahkan tidak sedikit yang kemudian menjadi tulang punggung dan bertanggung jawab mengisi bakul nasi keluarga setiap hari. Kehidupan yang sangat keras, penuh liku perjuangan, harapan, juga keputusasaan. Perlakuan diskriminatif, eksploitasi terhadap anak, trafficking, kekerasan dalam rumah tangga, bullying menjadi PR bukan saja Komnas Perlindungan Anak, tetapi kita semua, segenap komponen bangsa ini.

Mungkin hanya sekelumit saja yang bisa diungkap. Kisah yang mengharu-biru, cerita sedih tentang kemismikan yang mendera, juga harapan-harapan sebagian besar anak yang tidak mampu mereka raih. Banyak kisah yang lebih dramatis memang, juga kisah-kisah membanggakan yang seharusnya muncul dan menjadi gambaran betapa kompleksnya dunia anak. Begitu luas, sangat jauh, dan kerap sering kita jadikan alasan saat kita tidak mampu memecah semua persoalan yang timbul. Tetapi 23 Kisah dalam buku ini setidaknya menjadi awal untuk kita membuka mata, mengenal dan memahami dunia anak jauh lebih dalam untuk kemudian lebih mencintai anak-anak kita. Anak-anak Indonesia. Generasi penerus yang di pundaknya kita letakkan masa depan bangsa dan negara ini.


Ps : Buku ini sudah bisa dipesan sekarang via website www.leutikaprio.com, inbox Fb dengan subjek PESAN BUKU, atau SMS ke 0819 0422 1928. Untuk pembelian minimal Rp 90.000,- GRATIS ONGKIR seluruh Indonesia. Met Order, all!!
juga bisa dipesan di Rumah Buku Pustaka Ilmu

CERPENKU : SANGGUPKAH MAAF SEMBUHKAN LUKA?

Judul: Sebening Oase Kalbu

Penulis: Novela Nian, Risty Arvel, Lina Khoirunnisa, Kamiluddin Azis, dkk

Penerbit: Pustaka Jingga
ISBN: 978-602-18430-8-6

Tebal: 172 hlm
Ukuran: 14x20
Harga: 35.000 (belum termasuk ongkir)

Sinopsis:
Hati ini memang tak dapat diraba. Kata maaf memang tak semudah itu terucap. Namun di akhirnya, pasti akan bertemu keindahan di balik segala peristiwa jika kita mampu mengalahkan dentuman amarah kita. Dendam yang berdebam, amarah yang membara, pun dengki yang teramat pedih akan menjadi penyakit tersindiri di hatimu.

Hancurkan semua keegoisan hati, yakinlah luka itu kan mengering pelan-pelan, walau bekasnya takkan tiada.

Karena sesungguhnya hati ini tak seputih salju, tapi tempias salju sudah mampu memupuskan kembara dendam tak berkesudah. Hati ini tak sejerih air telaga, tapi kesejukannya sudah mampu menyentuh bara yang mengakar di sana.

Hati ini tak sebening oase, tapi keindahannya sudah mampu mengikis pedih di hati.
Jadikanlah hati seputih salju, sejernih telaga atau sebening oase dengan ikhlas mengurai maaf.

-Risty Arvel & Novela Nian-

Buku ini sudah bisa dipesan melalui sms ke 0856 4545 9192 dengan format pesan SOK#nama lengkap#alamat lengkap#jumlah buku#no hp

Sabtu, 04 Agustus 2012

Jujurlah Matahariku - 23 Kisah Inspiratif untuk Memperingati Hari AnakNasional


Mengagumi Semangat Anak Bangsa

Sekolah adalah … tempat yang mengubah anak kecil menjadi laki-laki dewasa
The Time and the Place

Membaca Antologi Cerpen Jujurlah Matahariku ini, membuat saya seolah sedang menyelami lebih dalam tentang kehidupan anak-anak di negara subur makmur ini. Kehidupan yang sangat ironis. Pada era digital yang dengan mudah orang, -termasuk anak-anak- mengakses berbagai informasi, masih saja ditemui keterbelakangan, kesulitan untuk mendapatkan perlakuan yang adil, terlebih gagap teknologi. Sebagian besar anak-anak Indonesia masih disibukkan dengan keharusan mereka memenuhi kebutuhan perutnya sendiri, bahkan tidak sedikit yang kemudian menjadi tulang punggung dan bertanggung jawab mengisi bakul nasi keluarga setiap hari. Kehidupan yang sangat keras, penuh liku perjuangan, harapan, juga keputusasaan. Perlakuan diskriminatif, eksploitasi terhadap anak, trafficking, kekerasan dalam rumah tangga, bullying menjadi PR bukan saja Komnas Perlindungan Anak, tetapi kita semua, segenap komponen bangsa ini.
            Mungkin hanya sekelumit saja yang bisa diungkap. Kisah yang mengharu-biru, cerita sedih tentang kemismikan yang mendera, juga harapan-harapan sebagian besar anak yang tidak mampu mereka raih. Banyak kisah yang lebih dramatis memang, juga kisah-kisah membanggakan yang seharusnya muncul dan menjadi gambaran betapa kompleksnya dunia anak. Begitu luas, sangat jauh, dan kerap sering kita jadikan alasan saat kita tidak mampu memecah semua persoalan yang timbul. Tetapi 23 Kisah dalam buku ini setidaknya menjadi awal untuk kita membuka mata, mengenal dan memahami dunia anak jauh lebih dalam untuk kemudian lebih mencintai anak-anak kita. Anak-anak Indonesia. Generasi penerus yang di pundaknya kita letakkan masa depan bangsa dan negara ini.
            Sebagian besar kisah dalam antologi ini menunjukkan betapa besar perjuangan yang harus dilewati anak-anak untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan. Bahkan untuk mendapatkan hak mereka berupa pendidikan pun, mereka memburunya dengan kerja keras,  seolah itu adalah sebuah kewajiban mereka dan setelah itu terlunasi baru kemudian boleh menerima apa yang menjadi hak mereka. Menyedihkan, sekaligus membanggakan, karena hanya dengan kerja keras dan perjuangan saja, kegigihan anak bangsa ini tertempa. Kesungguhan merupakan pijakan pertama bagi anak-anak untuk menjadi lebih mandiri. Ketangguhan dan kemandirian anak-anak Indonesia merupakan sebuah aset besar yang bisa menjadi pondasi kokoh dalam  pembangunan negeri ini.
            Sebut saja Parjo dalam cerpen Parjo karya Zahra Qomara, atau Putra dan Ryan dalam Sebuah Gang Sebuah Cerita karya Junita Susanti, juga anak-anak yang menjadi Ojek Payung Malioboro  karya Nanakoha dan Bocah Bintan buah karya Riana Yahya, mereka semua adalah anak-anak kurang beruntung yang karena ketidakberuntungannya itu menjadikan mereka anak-anak yang tangguh dan memiliki semangat hidup yang besar. Belum lagi Catatan Ganef untuk Langit yang merupakan kegelisahan Endang SSN melihat mimpi anak jalanan yang begitu tinggi, ketegaran Teguh dalam Biji Tasbih Bara Aspal hasil potret Sandza dari kacamata tulisnya dan Kotak Amal-nya Johar Dwiaji Putra adalah replika hidup ‘semangat dan harapan’ anak-anak Indonesia. Mereka semua adalah generasi-generasi unggul yang bangsa ini miliki. Semestinya kita malu dengan semangat mereka. Semestinya kita menyediakan banyak ruang dan mempermudah langkah mereka untuk mengecap pendidikan yang layak tanpa harus mengumpulkan rupiah demi untuk membiayai hidup dan sekolah mereka.
            Kita juga akan dihadapkan pada permasalahan yang lebih pelik saat membaca Angan yang Terkoyak buah pikir Komala Sutha, serta Ajari Anakmu dengan Sastra goresan pena Remunggai M, yang menyentil dunia pendidikan di negara ini. Tentang kurikulum, tentang perlakuan tidak adil guru terhadap murid, juga tentang program pemerintah yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Atau kisah Bahar dalam Mimpi yang Hilang, yang ditulis oleh seorang guru muda bernama Sukamto Prasetyo yang mendedikasikan dirinya di negara tetangga demi mengajar anak-anak Indonesia di sana. Begitupun dengan kisah-kisah seperti Kenapa Jagoanku Berbeda karya Petra Shandi atau Wanita Sempurna karya Ayesha Syarif yang keduanya menjadi cerpen favorit dewan juri, Berjanjilah pada Ibu, Nak! karya Aimatul Hidayah, dan Aida Sayang Mama Ariany Primastutiek, serta cerpen saya yang berjudul Jujurlah Matahariku yang kesemuanya membuka mata para orangtua bagaimana mereka seharusnya merawat dan mendidik putra-putri mereka di rumah.
            Mengagumi semangat anak bangsa menjadi sebuah wacana praktis untuk kita menciptakan sebuah agenda yang mampu menata kembali bagaimana kita membesarkan bangsa ini dengan memulainya melalui peningkatan kualitas hidup anak-anak Indonesia. Jangan sampai kita terlena dan membiarkan perjuangan keras mereka di jalanan menjadi sia-sia. Jangan biarkan anak-anak Indonesia tidak mendapatkan haknya untuk hidup layak sebagaimana anak-anak  pada usianya, hak pengasuhan dan perlindungan, serta hak mendapatkan pendidikan dan perlakuan yang adil. Semangat anak bangsa menjadi landasan pertama bagi pemerintah untuk memberikan ruang dan perlakuan khusus ‘melebihi’ apa yang mereka butuhkan, karena yakin anak-anak Indonesia bisa memberikan ‘jauh lebih’ dari sekedar yang diharapkan bangsa ini.
            Jujurlah Marahariku mengajak kita semua untuk selalu jujur dalam mendidik anak-anak kita, membimbing dan mencintai mereka agar kelak cinta di hati mereka mampu mendamaikan bumi ini. Buku ini hadir sebagai sebuah harapan besar, juga doa, semoga anak-anak Indonesia membawa bangsa ini pada sebuah kemajuan pesat, subur makmur dan adil sejahtera. Amin..
Bandung, 23 juli 2012

Kamiluddin Azis

Kamis, 02 Agustus 2012

KUMCER ANAK : Sepatu Roda Impian Naifa

Penerbit : deKa Publishing
ISBN : 978-602-18496-4-4
Tebal : vi + 139 hlm. ; 13 x 19 cm
Harga : Rp 32.000,-

Insya Allah, terbit minggu kedua bulan Agustus 2012..!!

Sinopsis :
Menikmati khayalan dengan berangan-angan sangatlah mengasyikkan. Apalagi, jika berkhayal bak sosok orang dewasa. Begitulah yang dirasakan anak-anak dalam cerita buku ini. Apa yang terjadi ketika anak usia dini harus berkhayal terlalu tinggi?

Memperingati Hari Anak Nasional, yang diperingati tanggal 23 Juli, dengan rasa syukur kami mempersembahkan sebuah buku cerita dengan pesan yang mendalam. Mengajak kita untuk mengembalikan angan-angan mereka sesuai dengan anak pada usianya.

Membeli buku ini, sama saja memberikan sebagian rezeki kita kepada anak yatim. Karena, seluruh royalti akan disumbangkan ke Yayasan Panti Asuhan. Semoga buku ini bermanfaat untuk orang yang membutuhkan.

***

Kontributor :
Addien Sjafar Qurnia | Anung D'Lizta | Asni Ahmad Sueb | Aya Maulina | Cut Irna Setiawati | Dedul Faithful | Diani Ramadhaniesta | Deanitha Rizky | Fitriana Puspitarani | Juliana Wina Rome | Kamaluddin Aziz | Mulyoto JJ | Nay Riskara | Nenny Makmun | Nia Sunarti | NuraRisala Kerinduan | Nurul Kartikaningsih | Radindra Rahman | Rivty Arvel | Rivyana Intan Prabawati | Riyan Haqiqi Anshor S.W. | Sandza | Shree Ningsih Christianty | Vinny Erika Putri | Zainal Saiful Amir | Zahra Qomara
— bersama Nessa Kartika, Said Mahyiddin Muhammad, Radindra Rahman II, Nyi Penengah Dewanti, 'Ade Capricornidas', Dee Ann Rose, Nenny Makmun, Rizki Mula Saputra, Alif Nanang Zulfiqar, Om Dompet, Rini PL, Zahrah Satifa, De Lizta, Dang Aji Sidik, Dwi Suwiknyo, Mochamad Ichsan Effendi dan Ukhty Fia.

Selasa, 31 Juli 2012

Sukabumi, Kota Kenanganku... dalam Cerpen Setangkup Asa

Salah satu Kenangan hidupku, tertuang dalam antologi ini ....

Judul : Kota Kenangan
Penulis : Sariak Layung, Langga Gustanto, Aditya D. Sugiarso, dkk
Jmlh Hal : v +159 hlmn ; 13x19 cm
Penerbit : Ae Publishing

Cuplikan kisahku :
Semilir angin menyapu wajahku. Wangi asap pembakaran sate ayam menyeruak ke arahku dan guru-guru lain yang duduk bersila mengelilingi sebuah meja besar di kafe tenda pinggir jalan kota Sukabumi. Malam yang dingin terasa hangat oleh canda dan tawa kami. Mengingat bagaimana kenangan tercipta diantara kami dan murid-murid sekolah kami menjadi hiburan malam itu. Kenangan sesaat, tetapi sangat berkesan buatku.
“Wah jarang loh, ada guru muda, tampan, pintar dan disenangi anak-anak. Dalam satu pertemuan saja, debut Pak Azis langsung melejit, mengalahkan saya yang sudah menyandang guru favorit selama tiga tahun,” kelakar Pak Taufan disambut tawa cekikikan dari Ibu-ibu guru yang sepertinya kurang setuju. Hehe, maaf! Pak Taufan, guru yang berbadan agak lebar dan mengajar materi Food & Beverage itu memang sempat menjadi guru idola murid-murid. Itu yang pernah aku dengar dari anak-anak waktu mereka berkerumun di depan tendaku, saat acara berkemah ke Gunung Salak. Di sela curhat khusus bergilirannya, mereka juga mengungkapkan perasaan suka dan senang diajar olehku. Bahkan -entah ini penting atau tidak-, julukan guru idola berulang kali mereka lontarkan. Julukan yang membuat pipiku memerah dan hidungku kembang kempis tak karuan.

Hemh... gimana ya rasanya jadi guru semusim yang bukan cuma mengajar tetapi juga jadi tempat curhat murid-murid yang masih ABG itu.

Baca kisah serunya lebih lengkap di buku ini bersama cerita-cerita menarik lainnya.

Nama Kontributor Buku Antologi Kota Kenangan :

Langga Gustanto, Nenny Makmun, Endah Wahyuni, Larasati Nia, Niken Kinanti, Bondan Al-Bakasiy, Awiek Libra, Kamiluddin Azis, Boneka Lilin, Sandza, Mei Rizqia-na, Nina Rahayu Nadea, Muhammad Dede Firman, Fanny YS, Za-hara Putri, Syifa Enwa, Roma DP, Is Susanti, Peri Bulan, Nur Rokhanah, Mulyoto JJ, Alin You, Setya Ai Widi, Fuatuttaqwiyah El- Adiba, Nimas Kinanthi, Rayhan M A, Cut Zamharira, Zahra Qomara, Iruka Danishwara W.

Buat yang mau pesan caranya gampang, kirim sms
Ketik: KK # NAMA LENGKAP # ALAMAT LENGKAP # JUMLAH # NO TELP
Kirin ke : 085732631400

Nanti Anda akan mendapatkan SMS No.Rek dan jumlah yang harus dibayarkan.

Harga : Rp. 39.000 (belum termaksud ongkos kirim)

Cerpen dewasa : Aku Ingin Pulang



AKU INGIN PULANG
Kamiluddin Azis



Malam Gulita. Kegelapan menghimpitku, membuatku semakin terpuruk dalam sesak. Aku tak mungkin bisa bangkit lagi. Tidak mungkin, karena tak ada setitik pun cahaya yang sanggup menuntunku kembali. Tidak ada secercah pun harapan yang sanggup membimbingku keluar dari lorong lembab, penuh lumpur dan bau ini. Dan kini, aku terjebak tanpa ada satu pun kesempatan untuk lari. Dalam pekat.
            Kusibakkan sedikit kain penutup malamku yang dingin. Setetes air mata bergulir setiap kulihat diriku lemah tanpa mampu berontak. Ataukah aku justru menikmati saat-saat kegelapan itu menguasai hidupku, saat semua cahaya redup yang ada perlahan sirna? Tuhan, aku ingin pulang. Aku tidak ingin di sini.
            “Kenapa?” selalu pertanyaan itu yang mencuat. Pertanyaan yang ia ajukan setiap kali melihatku gundah setelah lelah memenuhi hasrat kelelakiannya.
            “Tidak  apa-apa,” aku menggeleng seraya melempar seulas senyum dengan tatap sayu. Lelaki itu tidak akan pernah bisa membaca mataku. Membaca hatiku. Membaca keinginanku untuk pulang..
-o0o-
            “Nearly…. dipanggil Mami tuh!” bisik Delia sambil menyikut pinggangku, dan berlalu dengan handuk menutupi kepalanya yang basah. Jantungku berdegub kencang. Aku tahu, kemungkinan besar, Mami, perempuan paruh baya yang selalu berdandan nyentrik itu akan menegurku.
            Mami menungguku di sebuah kamar remang dengan asap tebal berseliweran memenuhi setiap sudutnya. Setelah mengetuk pintu, aku mendengar suara Mami menyuruhku masuk. Dadaku bergemuruh hebat.
            “Mami tidak tahu apa yang ada dalam pikiran kamu, Near,” tanpa tedeng aling-aling Mami langsung menyudutkanku, membuatku merasa seperti tertuduh dalam sebuah sidang kejahatan. Aku merasakan detak jantungku tiba-tiba berhenti sejenak.
            “Seharusnya malam tadi kamu menemani kolega Mami yang sudah datang jauh-jauh dari Surabaya, bukan keluyuran sama si pemabuk kampung itu. Dapat apa kamu dari lelaki kere macam dia?” hentaknya sambil mengepulkan asap tebal dari mulutnya.
            “Maaf, Mam. Tapi Near nggak bisa. Near sudah ingin….”
            “Pulang? Begitu?” potong Mami dengan nada suara meninggi.


.....
 Kisah Selanjutnya bisa dibaca antologi Simfoni Rindu

Jumat, 27 Juli 2012

CERPENKU : AKU INGIN PULANG

Telah terbit! Kumpulan kisah dengan berbagai pergumulan hati yang tengah dilanda rindu. Sebuah rasa yang yang tak bisa disembuhkan kecuali hanya dengan pertemuan



Judul : Simfoni Rindu

Penulis : Marsus banjarbarat, Heny Atika, Achmad Arifin, Kamiluddin Azis, dkk

Penerbit : Pustaka Jingga
ISBN : 978-602-18430-4-8
Tebal : 163 hlm
Ukuran : 14x20
Harga : 31.500

Sinopsis :

Rinduku sebagaimana lolong anjing yang setia menjadi penunggu rumah milik majikannya.

Rindu ini seperti Nil, tidak tahu di mana ujungnya.

Rinduku adalah rindu yang melebihi ambang batas tak tentu.

Rinduku ini rindu kronis, karena telah berlangsung lama gejala terpendamnya perasaanku dan tak akan pernah berhenti hingga nanti.

Rinduku rindu kronis, yang akan berbahaya jika aku terus menahan gejala cinta seperti ini.

Dan aku tidak akan pernah bisa memaksa mengobati penyakit ini meski aku seorang praktisi kesehatan, kecuali kamu!

Sabtu, 30 Juni 2012

Cerminku Bicara

Ada beberapa cerita mini yang kutulis di sini bersama sahabat-sahabat inspirasiku. Cerita yang bisa mengajak kita semua bercermin diri, menatap bukan saja replika yang ada di hadapan kita, tetapi juga bayangan orang lain yang mungkin bisa menuntun kita untuk menyelami hidup ini dengan lebih baik.

Selasa, 26 Juni 2012

KETIKA : Saat Cinta Bersilangan



A novel by Aiman Bagea
Bukune, Mei 2012

Review-ku untuk sebuah karya indah adikku 

Saat mengetahui akan terbit sebuah novel karya penulis muda dari Kabaena yang namanya saya kenal di sebuah grup kepenulisan terkenal di jejaring sosial, saya sudah tidak sabar menunggu untuk segera membacanya.. Bukan karena ia –Aiman Bagea- yang sempat berbincang dan saling memberi semangat untuk berkarya, melainkan karena cerpen –cerpennya yang pernah saya baca selalu membuat decak takjub. Saya berpikir, pasti novel ini akan sangat indah karena lahir dari tangan dan buah pikiran Aiman Bagea (AB) yang segar.

Seperti yang saya kenal lewat karya-karyanya, AB konsisten meramu setiap adegan, dialog dan deskripsi dari apa yang dilihat dan dirasakannya ke dalam sebuah bahasa yang indah. Bahasa puitis dengan metafora-metafora dan analogi-analogi yang jarang digunakan penulis lain. Sepanjang membaca novel ‘KETIKA’ saya seperti sedang membaca sebuah puisi naratif yang sarat akan makna, tetapi memiliki plot cerita yang jelas dengan kemasan yang unik dan berbeda.

AB berhasil membuka tabir rahasia cinta.  Berulang kali ia membeberkan bagaimana cinta itu bekerja. Bagaimana cinta telah memutarbalikkan hati, membuat jiwa melompat-lompat dan raga meringis karenanya. Cinta bekerja merubah ketakutan menjadi sebuah keberanian yang maha dahsyat. Cinta membelah keraguan menjadi sebuah keyakinan yang menguatkan. Cinta telah menyuburkan semangat menggapai segala mimpi. 

Saya merasa iri dengan mimpi besar yang ia semat dalam karyanya. Saya yakin di balik karya perdana yang memesona ini AB juga memiliki mimpi yang sama hebatnya dengan mimpi Aji dan Naira, tokoh-tokoh yang ia ciptakan dalam ‘Ketika’. Saat Aji dan Naira merajut mimpi mereka dengan bumbu cinta yang saling melengkapi, saat anak-anak jalanan yang dengan penuh semangat belajar di bawah fly over diajaknya menggantungkan mimpi setinggi angkasa, saya pun turut menerbangkan mimpi saya di situ, menggantungkannya bersama mimpi-mimpi yang berkerlip bersama bintang.

Aiman Bagea, kamu pandai mengaduk-ngaduk perasaan orang. Ikut terlibat dan merasakan kepedihan hati dua sahabat saat cinta yang hadir membelenggu hubungan mereka. Kamu telah memorak-porandakan puzzle yang sudah kususun apik menjadi kepingan-kepingan lain yang harus ditata kembali karena salah letak.

Setiap berhasil melumat 1 halaman, ramuanmu berhasil menyihirku untuk menikmati halaman-halaman berikutnya hingga tandas. Hingga dada ini sesak lantaran kisah pilu yang kamu suguhkan menyayat sukma, tetapi dalam waktu yang bersamaan kamu suguhkan pula jamuan semangat ber-topping cinta.   

Sukses untuk karya perdanamu. Satu tangga telah kamu tapaki, tak perlu berlari untuk mencapai puncaknya karena tangga berikutnya dengan sendirinya akan kau lewati. Tapi sekali-kali tengoklah aku di belakang, saat langkah ini tertatih, hembuskan semangat bajamu, hingga langkah terseret ini berani melompat.

Two tumbs. Bangga AB!

Sabtu, 16 Juni 2012

HABIBIE PAHLAWAN INSPIRASIKU



Oleh Kamiluddin Azis


Barahuddin Jusuf Habibie, begitu nama besar itu disebut rasanya bergetar seluruh tubuhku. Bagaimana tidak, langsung terbayang di benakku sosok beliau yang rendah hati dan bersahaja. Tutur katanya yang memukau laksana siraman batin yang sarat dengan makna dan spirit. Tatapan mata Pak Habibie yang tajam menunjukkan optimisme yang besar dengan pandangannya yang jauh menjangkau angkasa. Beliau seperti bisa membaca masa depan dengan otaknya yang genius. Pantas saja kalau Majalah Military Technology menyampaikan komentar bahwa beliau adalah manusia yang sangat genius yang mungkin hanya ada di antara 130 juta penduduk. Kita patut bangga memiliki seorang pahlawan bangsa yang membawa negeri ini tinggal landas dengan cepat dan melesat melebihi negara-negara berkembang lainnya dengan kemampuan sendiri.
            Rasa kagumku terhadap Mantan Presiden RI  ini, bukan tanpa sebab. Pada pertengahan tahun 1993, saat aku masih duduk di bangku SMU, sekolahku mengadakan kunjungan wisata ke PT. IPTN di Bandung. Kami melihat protype pesawat CN-235 yang mengagumkan itu. Kami juga melihat proses pembuatan pesawat mutakhir yang diprakarsai langsung oleh Bapak B.J. Habibie, yaitu N-250 yang setahun kemudian membuat decak kagum banyak negara, terutama yang sebelumnya sempat meremehkan Bapak B.J. Habibie. Dengan terbangnya pesawat N-250 di udara membuktikan bahwa bangsa ini mampu bersaing dalam industri pesawat terbang komersil di dunia. Bahkan N-250 bisa  disejajarkan dengan Airbus A340 dan Boeing 777 kendati kedua pesawat ini berkapasitas lebih besar.

            Ada petuah Bapak B.J. Habibie dalam tayangan itu yang tidak pernah aku lupa, yaitu : “Mulailah dari yang terakhir”. Makna petuah Bapak yang sangat sulit diartikan itu mungkin bisa ditermahkan sebagai ‘ciptakanlah sesuatu yang besar, tentukan hasil akhirnya terlebih dahulu, maka dengan sendirinya kita akan mempersiapkan hal-hal detail yang menunjang pencapaian itu’. Bapak Habibie memiliki cita-cita yang sangat besar yaitu bisa menciptakan sebuah pesawat terbang yang diproduksi oleh anak-anak bangsa, maka ia pun menciptakan pesawat terbang itu. Lalu secara mundur, ia melakukan berbagai upaya agar untuk mewujudkan cita-citanya itu. Bapak tidak memulai dari pembuatan komponen-komponen pendukung pesawat terlebih dahulu , tetapi ia langsung memprakarsai pembuatan pesawat besar. Maka dengan sendirinya berbagai komponen yang dibutuhkan diproduksi pula, jika belum ada SDM yang mampu menciptakan, maka diupayakan sehingga mampu.

            Ketika aku menerapkan prinsip Bapak Habibie itu, banyak sekali perubahan besar yang terjadi dalam hidupku. Sebagai contoh kecil aku tidak perlu mengikuti kursus menulis terlebih dahulu agar aku bisa membuat sebuah prosa, misalnya,  tetapi aku langsung saja membuat sebuah cerpen. Ketika cerpen itu dibaca oleh guru Bahasa Indonesia-ku dan ternyata masih memerlukan banyak perbaikan di sana-sini, barulah aku pelajari segala kekurangan itu. Setelah itu hasil karya aku pun bisa dimuat di berbagai surat kabar. Bayangkan berapa lama waktu yang terbuang jika aku mengikuti kursus terlebih dahulu baru kemudian mulai berani mengirimkan karya ke media. Sedangkan orang lain sudah semakin mahir dan terkenal.
            Kehebatan Bapak B.J. Habibie dan semangat juangnya yang tidak pernah mati membuat aku tidak berhenti berdecak kagum dan hormat pada beliau. Perjalanan hidupnya tidaklah mudah. Kesulitan yang ia hadapi selama menjadi mahasiswa di Aachen ia lewati tanpa keluhan dan beban sedikitpun. Mungkin tidak akan pernah ada yang membayangkan bagaimana beliau berjalan kaki sejauh 15 km dari rumah menuju tempat kerjanya, sampai-sampai sepatunya berlubang dan baru bisa ditambal menjelang musim dingin. Ketegaran, semangat, dan energi yang dimilikinya itu seperti tidak ada habisnya. Dan itu yang ingin aku contoh dari beliau.
            Belum lagi sifat patriotisme dan nasionalismenya yang tinggi terhadap kemajuan bangsa ini patut diacungkan jempol. Selama berada di rantau, pikiran Bapak Habibie sebenarnya hanya untuk Indonesia. Ia rela menimba ilmu bertahun-tahun jauh dari sanak saudara dan siap kembali ke tanah air demi sebuah pengabdian besar untuk kemajuan bangsa dan negara ini. Sungguh sangat patriotik.
            Kembali ke masa SMU di tahun 1993. Masa saat semangat belajarku sedang menggebu. Semangat yang ditularkan oleh Bapak B.J. Habibie yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia. Pada saat itu ICMI mengadakan Lomba Karya Tulis Tingkat SMU se-Indonesia. Dan aku mengikuti salah satu tema diangkat. Semula aku ragu, tetapi kembali aku terngiang prinsip hidup yang disampaikan beliau waktu itu. Maka aku memberanikan diri mengikuti Lomba itu. Dan di luar dugaanku aku masuk sebagai salah seorang pemenang dan mendapatkan hadiah berupa beasiswa selama 1 tahun plus sebuah piagam yang ditandatangani langsung oleh Ketua ICMI saat itu, yaitu Bapak B.J. Habibie. Bangganya aku bisa meraih itu semua.
            Meskipun aku belum pernah bertemu dengan beliau tetapi aku merasa Bapak B.J. Habibie selalu memberiku spirit untuk melakukan hal-hal yang terkadang musykil bisa aku lakukan. Aku tidak berbakat di bidang aerodinamika dan sejenisnya, tetapi nilai-nilai eksaktaku selalu di atas rata-rata dan bahkan aku menjadi siswa teladan di sekolahku. Aku juga sempat mewakili sekolahku dalam Lomba Cepat Tepat tingkat Nasional meskipun team kami tidak mendapat predikat. Dan beberapa prestasi gemilangku di bidang akademik berturut-turut aku raih selama dua tahun terakhir di SMU. Semua itu karena aku selalu bercermin pada kegigihan dan semangat juang Bapak Habibie.
            Aku yakin, bangsa dan negara ini tidak akan pernah tertinggal jika semangat juang dan nasionalisme tinggi seperti yang dimiliki oleh Bapak B.J. Habibie itu juga dimiliki oleh semua komponen bangsa ini. Generasi muda sudah selayaknya menjadikan Bapak B.J. Habibie sebagai panutan dan acuan dalam memperoleh prestasi di bidang apapun.
            Selama Bapak Habibie memimpin negara ini, banyak perubahan yang sedianya terjadi. Tetapi kesempatan beliau untuk menunjukkan dan membawa bangsa ini ke arah yang lebih maju          kandas di tengah jalan karena kondisi politik yang saat itu tidak memungkinkan. Namun demikian aku yakin Bapak masih memiliki sebuah integritas yang tinggi untuk membawa bangsa ini jauh ke depan. Beliau adalah Bapak Teknologi dan Demokrasi milik bangsa ini satu-satunya.
            Berkat beliau, pelajar dan mahasiswa-mahasiswa kita semakin berani menunjukkan kebolehannya di mata dunia. Berbagai Olimpiade tingkat internasional seringkali dijuarai anak-anak bangsa yang cerdas, generasi penerus dari Prof. B.J. Habibie. Bahkan belakangan ini dunia pendidikan dan teknologi kita sedangh melirik ide pembuatan mobil yang diprakarsai anak-anak SMK dari Surakarta. Mobil Esemka yang spektakuler itu pun semakin mendapat sambutan dari pemerintah. Apalagi putra Prof B.J. Habibie, yaitu Dr. Ilham Habibie mendukung sepenuhnya industrialiasi mobil Esemka itu.                     
            Kehadiran mobil Esemka sudah menyuntikkan semangat baru dan ini bisa dijadikan sebagai momentum penting untuk dapat menciptakan sebuah industri mobil dalam negeri tanpa harus tergantung kepada bangsa lain. Masyarakat selayaknya mendukung agar mobil Esemka layak diproduksi secara massal. Aku yakin Indonesia memiliki banyak sekali anak bangsa yang genius seperti Bapak Habibie. Hanya saja kesempatan bagi mereka yang belum terbuka lebar. Aku ingin sekali anak-anakku kelak bisa menjadi seperti sosok Habibie yang pintar, pantang menyerah, selalu mengabdi kepada bangsa dan negara serta mampu membawa bangsa ini menuju perabadan baru yang lebih melek teknologi.
            Aku melihat senyum tulus dari wajah lelaki yang penuh semangat itu pada sebuah poster besar yang ditempelkan di dinding kamarku. Seorang Bapak Demokrasi dan Teknologi. Seorang inspirator dan  motivator yang membawa bangsa ini lepas landas dengan sumber daya dan kemampuan sendiri. Mantan Presiden RI tercerdas yang menuntun bangsa ini meninggalkan peradaban lama menuju peradaban baru yang jauh lebih modern. Mendukung semua industri yang berbasis teknologi, dan penggerak anti buta teknologi di semua kalangan masyarakat.

--oo000oo—